Sunday, 25 September 2016

Sunday, September 25, 2016 6

Sarapan Berita

Karena kuasa siapa sih yang berhak mengatakan yang ini penting dan yang lain tidak? Kenapa sih kita harus merasa kurang dan ketinggalan zaman kalau tidak mengikuti berita ini dan berita itu? Apakah petani yang sudah mencangkul di sawah jam 05.00 pagi hidupnya kurang berharga kalau tidak tahu World Trade Centre itu apa? Ke manakah perginya kicau burung-burung yang bebas dalam dunia pendengar berita pagi? Siapa yang masih bisa menghargai keindahan warna keemasan kulit kadal dalam cemerlang matahari pagi? (hlm. 146)
Paragraf di atas adalah salah satu kutipan dari tulisan yang berjudul Sarapan Berita, yang saya ambil dari buku Seno Gumira Ajidarma, Tiada Ojek di Paris. Kutipan yang barangkali cukup menohok bagi para orang kota atau masyarakat urban seperti kita.
Masih banyak dari kita yang menyambut pagi dengan menonton TV. Sembari menghabiskan sarapan, kita seperti tidak ingin ketinggalan sebuah berita. Maka menyambung pertanyaan Pak Seno, apakah hidup kita akan kurang dan ketinggalan zaman bila tidak mengikuti berita? Apakah sebegitu pentingnya berita, sampai-sampai kita tidak menyambut cerahnya matahari pagi?

Berita-berita yang cenderung negatif

Sayangnya, kita tahu bahwa semakin ke sini berita-berita yang disajikan lebih sering membuat kita menjadi pemikir berat. Yang ditampilkan media hanya berita-berita yang justru membuat kita terus berpikir negatif. Kalau kata Pak Seno, berita masa kini disampaikan dengan gaya digawat-gawatkan model CNN. Berita penculikan, pembunuhan, pemerkosaan, teroris, hingga berita investasi asing di Indonesia dan sebagainya. Bukankah kita tega pada diri sendiri bila melewatkan pagi dengan - hanya menonton berita-berita macam itu? 

Tidak berbeda jauh dengan dunia media sosial. Belum lama ini saya sempat memikirkan satu hal. Mengapa sekarang banyak sekali akun di media sosial yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan orang lain, mengorek-ngorek aib orang lain, dan mengurus urusan pribadi mereka. Anehnya, akun-akun tersebut banyak sekali pengikutnya dan mereka merasa terhibur. Tapi yang lebih parah adalah saat orang-orang justru memperdebatkan urusan orang lain, yang sudah jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan hidup mereka. Lantas saya ingat, hal seperti itu sudah lebih dulu disajikan dalam infotainment di televisi. Yang mirisnya ditayangkan pada pagi hari pula. 

Ya ya ya. Semakin ke sini kita memang disuguhkan begitu banyak informasi. Tapi bukan berarti kita tidak bisa menyaring mana yang bisa kita lihat, dan mana yang tidak begitu penting untuk kita ikuti. Apalagi hanya melewatkan pagi hari dengan menonton TV atau membuka media berita online yang menampilkan berita-berita 'berat'. Padahal pagi hari sesungguhnya adalah waktu alami. Lingkungan yang masih sejuk. Embun yang menetes. Suara burung yang berkicau. Juga matahari cerah yang sayang bila dilewatkan begitu saja.
Berita penting yang mana pun tidaklah akan lebih penting daripada hidup kita sendiri. Hidup ini indah dan dunia penuh makna, tapi jika diskursus kita terkuasai oleh formasi diskursif media, yang telah bergerak mencengkeram sejak ritus berita pagi - apakah salah jika saya katakan bahwa kita ini orang yang rugi? Padahal kita cuma hidup satu kali. (hlm. 147, Sarapan Berita)
Tiada Ojek di Paris - Seno Gumira Ajidarma
Semoga kita bisa menjadi lebih kritis dan bijak :)

Friday, 23 September 2016

Friday, September 23, 2016 8

Hijrah Movement, Let's Hijrah!

Kalau tidak ada kata pacaran, barangkali tidak pernah ada kata hijrah dalam hidup saya. Ya. Hidup saya sejak dulu memang lurus-lurus saja. Belum pernah saya melakukan kesalahan yang berarti. Karena saya termasuk orang yang jarang melanggar peraturan *bukan sombong tapi polos :v

Tapi berbeda ketika saya lulus sekolah dan bekerja. Saat keinginan untuk pacaran semakin menggebu, saya justru menjadi orang yang lebih berani. Maka terkabullah do'a saya ingin punya pacar saat itu. Sayang, tiga kali pacaran hanya bertahan dalam hitungan bulan. Paling lama hanya dua bulan malah. Mungkin ini suatu bentuk 'hukuman' dari Allah, agar saya tidak menjauh dari-Nya juga tidak menjadi anak yang durhaka pada orang tua.

Sejak itu saya baru tahu, bahwa putusnya saya dari kata pacaran adalah suatu bentuk saya yang sedang menuju proses hijrah. Hijrah dari pacaran menjadi kesendirian (lagi). Hijrah dari diri saya yang berani menjadi diri saya yang takut. Tentu saja takut akan hukuman Allah. Hijrah dari diri saya yang dulu - yang meskipun pakai kerudung namun memakai pakaian ketat, menjadi berkerudung besar dan berpakaian longgar. Hijrah dari diri saya yang tidak punya kegiatan berarti, menjadi penuh dengan kegiatan positif bersama orang-orang yang positif. 


Apa makna hijrah?

Jadi, apa sesungguhnya makna hijrah? Sependek pengetahuan saya, hijrah berarti pindah. Pindah dari satu tempat menuju tempat lain. Pindah dari satu kondisi satu ke kondisi lain. Hingga hijrah bisa berarti berpindah dari tempat atau suatu yang tidak baik (maksiat), menuju tempat atau suatu yang diridhoi oleh Allah. Ya, dengan kata lain hijrah bisa berarti melakukan segala yang diperintahkan Allah SWT dan meninggalkan segala yang dilarang Allah SWT. 
Hijrah mempunyai banyak arti, salah satunya meninggalkan segala bentuk yang dilarang Allah.
Meninggalkan segala bentuk yang dilarang Allah bisa berarti perpindahan seorang muslim dari kufur kepada iman, dari syirik kepada Tauhid, dari Nifaq kepada Istiqomah, dari maksiat kepada taat, dari haram kepada halal. Atau dengan singkat perpindahan secara menyeluruh seorang muslim dari kehidupan yang serba jahili menuju kehidupan yang serba Islami.
Bisa dibilang pula, hijrah adalah bentuk kedekatan pada kata hidayah. Dan saya selalu percaya. Hidayah bukanlah sesuatu yang ditunggu, melainkan dijemput. Selamanya kita takkan mendapat hidayah jika kita tidak berusaha mencarinya. Berusaha menjadi lebih baik dengan mulai belajar. Mulai mendekatkan diri pada Allah SWT dan berkumpul bersama orang-orang baik dan memilki kegiatan yang positif.
Allah SWT berfirman, “Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(QS. An-Nisa: 100)

Hijrah Movement 

Ialah komunitas Man Jadda Wa Jada Bekasi. Satu dari sekian komunitas positif yang saya ikuti. Bersama mereka saya seperti dibimbing. Bergabung dengan komunitas dakwah ini terasa seperti disiram energi positif. Hingga akhirnya saya berani. Berani menunjukkan bahwa langkah hijrah yang saya ambil adalah benar. Berani untuk menunjukkan bahwa segala komentar negatif orang lain tentang perubahan saya adalah salah. 

Maka jika kalian ingin tahu seperti apa komunitas mereka? Jika kalian ingin mengenal mereka lebih dalam. Dan jika kalian ingin mengerti apa itu hijrah dan bagaimana cara mengaplikasikannya di kehidupan kita? Hingga bagaimana caranya agar hijrah itu bisa diterima di lingkungan? Maka tidak ada salahnya teman-teman mengikuti salah satu kegiatan mereka. Yakni Hijrah Movement. Gerakan hijrah yang tepat, yang dimulai dari hati, pikiran, dan diaplikasikan dalam tindakan.


Percayalah, kegiatan ini pasti akan berdampak positif. Saya pernah menjadi bagian inti dari mereka. Teman-teman bisa melihat salah satu kegiatan sebelumnya yang juga pernah saya posting di sini.

So, tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah. Selama kehidupan masih diberi, selama raga masih sehat dan pikiran masih berjalan, maka hijrah bisa kita lakukan segera. Berhijrah untuk menjadi pribadi yang lebih baik juga diridhoi Allah SWT :)

Come on! Let's Hijrah! ^_^

Wednesday, 21 September 2016

Wednesday, September 21, 2016 6

Membeli Baju Anak, Salah Satu Cara Membahagiakan Anak

Memang benar apa yang dikatakan ibu-ibu kebanyakan. Kalau sudah punya anak, bukan diri sendiri lagi yang diperhatikan. Melainkan anak yang terutama. Untuk beli baju saja misalnya. Saya sendiri, termasuk sudah jarang beli baju. Tapi kalau untuk beli baju anak, saya tidak sayang-sayang. Apalagi anak saya masih bayi. Jadi badannya memang cepat besar. Otomatis kegiatan beli baju pun cukup sering.

But, tidak munafiklah. Sebagai ibu, saya masih suka dengan yang namanya diskonan haha. Melihat kata-kata diskon atau potongan, langsung deh mata berbinar :v Seperti diskon baju anak import MatahariMall misalnya. Yah, namanya juga jiwa emak-emak ya. Yang urusannya dapur, jadi wajar saja potongan itu suatu hal yang berharga walau hanya beberapa rupiah. Jangan salah, karena baju-baju anak sekarang itu harganya sudah lumayan lho. Apalagi yang kualitasnya bagus. 
https://www.mataharimall.com/little-m-long-neck-giraffe-set-t-shirt-kuning-1407658.html
Syukurlah anak saya laki-laki. Jadi tidak terlalu banyak atribut hehe. Paling hanya dalaman, kaus kaki, sepatu, dan topi pelengkapnya. Sisanya baju dan celana biasa. Meski begitu, tetap saja kadang saya tergoda melihat yang lucu-lucu >_< Sudah dilist di rumah mau beli apa saja, begitu tiba di baby shop dan melihat banyak barang, ealah rasanya saya sekuat tenaga harus menahan-nahan untuk tidak lapar mata. Membeli baju atau aksesoris anak yang lucu U_U. 

Belanja Online

Makanya, kayaknya saya memang lebih cocok belanja online deh. Soalnya kalau online, biasanya saya lebih fokus. Mencari baju, ya cari keyword baju. Cari celana ya celana, begitu pun seterusnya. Karena di online, semua sudah dikategorikan dalam satu tempat. Yaiya sih, di baby shop juga begitu. Tapi mata kan tidak bisa bohong. Maunya keliling aja >_< 

Salah satu online shop yang cukup terkenal, mungkin bisa menjadi pilihan saya atau bahkan teman-teman sekalian. Yakni MatahariMall.com. Siapa yang tidak kenal e-commerce ini. Semua serba ada, termasuk baju-baju anak. Sudah begitu, sering ada diskon pula. Cari saja baju anak yang diinginkan. Dan sekarang sedang berlangsung diskon baju anak import MatahariMall. Lumayan, diskonnya mulai 9 sampai 70%!
https://www.mataharimall.com/twist-club-boy-s-printed-t-shirt-kuning-1183875.html
Setiap orang tua, pasti ingin yang terbaik bagi anaknya. Termasuk urusan baju, pasti mencari kualitas terbaik. Di MatahariMall.com, insya Allah sudah teruji kualitasnya. Cek saja di detail baju yang diinginkan. Dari mulai bahan baju, sampai kelebihan semua sudah dicantumkan di sana. Ya tinggal kita yang pintar-pintar memilihnya.

Yah, sepertinya kita tidak punya alasan lagi untuk tidak membelikan baju anak. Selama ada rezekinya, tidak ada salahnya membahagiakan anak. Lagi pula, siapa juga yang tidak diuntungkan jika sang anak tampil dengan pakaian yang baik, selain orang tuanya sendiri. 

Mau mencari yang murah pun, diskon sudah bertebaran di mana-mana. Tidak mau capek-capek jalan, tinggal buka gadget atau laptop, searching deh di online shop MatahariMall.com. Pesan, bayar dan duduk manis menunggu kiriman baju sampai rumah. Jadi deh. Anak kita cakep, ibu senang, ayah bahagia, kantong pun tidak mendadak tipis (selama nggak kalap lho ya) hehe.

Percayalah, membahagiakan anak juga berpahala lho. Anak itu kan titipan ya. Kalo titipan kita diistimewakan, pasti kita senang kan. Maka begitu pula dengan anak sebagai titipan dari-Nya. Belum lagi, kalau kita membahagiakan orang, maka sesungguhnya kebahagiaan itu kembali ke diri kita sendiri. Apalagi membahagiakan anak sendiri ya ^_^
Wednesday, September 21, 2016 30

Menghapus Foto Anak di Media Sosial

Barangkali ada yang menanyakan, mengapa tiba-tiba foto anak saya, Emir (yang sendiri) di media sosial sudah tidak ada? Bahkan di blog ini dan Celoteh Bunda pun tidak ada. Ya, saya memang sengaja menghapus semuanya :) I have no problem. Sebenarnya sudah kekhawatiran sejak lama tentang memajang foto ini. Saya sudah sering membaca kisah-kisah mengerikan tentang dampak dari memajang foto anak di media sosial. Entah ada anak yang diculik, ada orang tua yang ditipu dengan membawa nama anaknya, dan lain-lainnya.

Belum lagi dengan kabar yang baru-baru ini saya dengar. Tentang seorang anak di Amerika sana yang menuntut ayahnya karena memajang foto saat kecilnya di media sosial. Duh, apakah seekstrem itu? Entahlah benar atau tidaknya. Satu yang pasti, saya jadi belajar dari sini. Bukan tidak mungkin pula saat anak kami besar nanti, ia terkejut dan tidak senang menemukan foto-foto saat kecilnya berkeliaran di media sosial, hiks.
https://pixabay.com/id/analog-antik-bukaan-tubuh-kamera-1545405/

Godaan terbesar bernama PAMER

Omong kosong rasanya kalau kita bilang memajang foto anak di media sosial adalah semata untuk mengabadikan. Kalau memang mau mengabadikan, ya di folder sendiri saja. Toh kita semua tahu, bahwa apapun bisa terjadi di media sosial kita. Entah itu diblokir atau dibanned hingga akhirnya bisa hilang begitu saja.

Lantas tujuan sebenarnya memajang foto anak, tidak lain - tidak bukan adalah untuk p-a-m-e-r. Yes, itulah intinya. Pamer ini yang menjadi godaan terbesar setiap orang tua, tidak terkecuali saya.

Besar rasanya keinginan untuk menunjukkan bahwa anak kita sudah lahir. Anak kita sedang lucu-lucunya. Sedang aktif-aktifnya. Sedang cerdas-cerdasnya. Cekrek (foto.red) sana cekrek sini. Klik instagram, klik facebook atau klik media sosial lainnya. Tulis caption, lalu publish. Jadilah foto anak kita terpampang di media sosial. Lalu berdatanganlah komentar-komentar yang berkata anak kita lucu, anak kita manis, anak kita cerdas, dan sebagainya. Ibu dan ayah mana yang tidak senang anaknya dikomentari bagus seperti itu.

Kita tahu bahwa era media sosial memang sudah eranya untuk pamer segala hal. Atas niat apapun, pamer takkan bisa terhindarkan. Maka bukan tidak mungkin saat komentar baik berdatangan, hati kita lantas menjadi jumawa dan kita menjadi ketagihan karenanya :(


Tampil di situs pencarian terbesar

Apalagi kalau bukan Mbah Google. Alasan saya dulu (sebelum menikah.red) tidak memajang foto adalah karena saya takut wajah saya berkeliaran di Google. Lantas bisa jadi dicuri dan disalah gunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Maka tidak ikhlas rasanya, jika foto anak saya sendiri bisa saja disalah gunakan. Saya juga pernah dengar cerita tentang sebuah akun di instagram yang mengambil foto bayi-bayi secara sembarangan dan kemudian diposting dalam akun yang judulnya menjual bayi murah. Naudzubillah. Kurang ajar sekali si pemilik akun.

So, semua yang kita posting di media sosial sudah pasti menjadi milik publik. Itu sebabnya, saya tidak ingin sembarangan. Biarlah cukup saya dan suami saja yang terlanjur eksis. Anak kami jangan. Karena kami tidak ingin terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.

Menjaga lebih baik

Soal menghapus foto anak ini sebelumnya sudah saya diskusikan dengan suami. Dan kami sepakat untuk menghapus foto-foto Emir yang sendiri. Sementara fotonya yang sedang bersama saya dan suami tetap kami biarkan. Karena kami yakin, orang yang iseng mau mengedit foto kami, setidaknya butuh usaha -_- Dan kami juga berusaha untuk - hanya memajang foto yang sangat berdekatan. *biar susah susah deh tuh yang mau iseng meng-crop >_<

Berat memang awalnya. Lagi-lagi karena terkadang hati kami masih dipenuhi godaan untuk pamer. Apalagi sekarang Emir sudah banyak tingkahnya. Sudah tengkurep, sudah mau duduk, dan sudah banyak pose lucunya. Tapi ya itu tadi. Saya tidak ingin fotonya dicuri dan disalah gunakan. Terlepas dari ada atau tidaknya orang yang akan iseng, setidaknya kami sudah menjaga agar hal itu tidak terjadi.

Well, kembali pada pilihan orang tua masing-masing. Memang niat hati manusia tidak ada yang tahu. Tapi menurut kami, inilah pilihan terbaik untuk saat ini. Bahkan selain foto Emir, foto orang tua saya pun sudah saya hapus. Seperti kata Mak Erlisa Karamoy dalam tulisannya Menghapus Jejak Digital, Seberapa Pentingkah? Di sana Mak Erlisa menulis "Kemajuan dunia digital memang memberikan banyak manfaat positif untuk hidup kita. Tapi, sisi negatif tetap ada, karena banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang akan meretas akun digital kita untuk perbuatan jahat." Dan saya sangat setuju dengan hal ini. 

Saya juga ingin mengingatkan untuk para orang tua. Jangan sekali-kali memberi informasi krusial di media sosial. Seperti alamat rumah, alamat sekolah anak, atau sedang berada di mana bersama anak. Kalau memang ingin memosting tentang liburan, lebih baik lakukan saat sudah kembali di rumah. Semua ini demi menjaga keamanan semua keluarga. Sebab kita tidak tahu datangnya kejahatan dari mana. Seperti kata Bang Napi, kejahatan bukan karena pelaku, tapi karena adanya kesempatan.

Semoga kita bisa menjadi orang tua yang bijak :)

Monday, 19 September 2016

Monday, September 19, 2016 12

4 Keuntungan Jika Kamu Tidak Pacaran

Beberapa pembaca setia blog ini *ciye pasti tahu kalau dulu saya sering menulis artikel tentang pacaran. Dari mulai saya yang lepas dari pacaran, alasan-alasan mengapa pacaran ternyata tidak diperbolehkan, sampai akhirnya timbul keinginan untuk menikah dan bertemu sang pangeran *halaaaah. Nah sekarang saya mau ngomongin sesuatu yang lain. Di luar alasan bisa mendekati zina, mengapa sih pacaran tidak diperbolehkan? Dan keuntungan apa yang sebenarnya bisa didapat kalau remaja-remaja muda tidak pacaran? Gimana nanti bisa dapat jodohnya kalau nggak pacaran?

Oke. Setiap manusia pada dasarnya memang punya perasaan jatuh cinta. Yang timbul pertama kalinya saat mulai usia aqil baligh. Makanya saya suka nggak paham, dengan anak-anak SD yang mimpi basah saja belum, yang menstruasi saja belum, tapi sudah pacaran. Ah tidaaaak! Jadi di sini saya akan bahas keuntungan-keuntungan tidak pacaran di luar menghindari zina. Yang nantinya teman-teman bisa menyimpulkan sendiri mengapa akhirnya pacaran seringkali hanya merugikan pelakunya. 

1. Lebih Bebas

Bukan barang baru lagi kalau pacaran hanya membuat pelakunya menjadi terikat. Padahal tidak ada yang mengikat atau dengan kata lain, dia sendiri yang membuat dirinya menjadi terikat dengan seseorang yang belum tentu juga menjadi jodohnya. Berbeda dengan menikah yang memang sudah terikat sah secara aturan agama dan negara. Itu sebabnya orang yang menikah atau lebih tepatnya serius dengan pernikahannya, tidak akan bermain dengan kata-kata putus atau cerai. Tidak akan dengan mudahnya berkata bosan, lalu cerai. Bagaimana dengan pacaran? Kapanpun bisa saja berkata putus. Ya putus tinggal putus saja. Bosan, bisa kok berkata putus. Tapi sayangnya, bagi kebanyakan perempuan, putus pun dirasa tidak mudah. Karena sudah timbul perasaan yang mendalam.

Jadi alih-alih mengungkapkan cinta, pacaran hanya akan membuat pelakunya menjadi galau. Tidak mendapat kabar sebentar, langsung khawatir. Alias perasaannya menjadi tidak plong. Karena sama saja seperti pernikahan, pacaran pun pasti akan selalu ada masalah. Tapi apakah mendapat masalah saat pacaran menjadi keuntungan? Iya, kalau pernikahan itu memang serba-serbi rumah tangga. Tapi berbeda dengan pacaran yang hanya akan menambah beban pikiran yang padahal belum seharusnya juga kita memikirkan dia. Bukannya mikir keluarga sendiri yang lebih penting, malah mikirin orang lain *nah lho?

Dengan tidak pacaran, otomatis perasaan kita hanya tercurah untuk hal yang lebih penting atau katakanlah terhindar dari perasaan-perasaan yang tidak penting atau tidak seharusnya. Iya, memikirkan dia itu BUKAN prioritas kamu. Dia belum tentu menjadi jodohmu. Buat apa buang-buang waktu hanya untuk orang yang belum tentu menjadi jodoh? *upz!


2. Lebih sayang orang tua

Saya percaya, orang-orang yang tidak pacaran biasanya dia yang lebih sayang orang tuanya. Dan saya pernah baca, orang yang pacaran itu karena dia kurang kasih sayang atau perhatian dari ibu atau ayahnya. Jadi semisal laki-laki, berarti dia kurang kasih sayang dari ibu. Perempuan berarti kurang kasih sayang dari ayah. Gimana? Bener nggak? *kalau kamu tidak merasa sih ya tidak usah marah :P

Tapi yang saya rasakan benar sih. Saya kayaknya dulu kepingin mencari perhatian lebih ke laki-laki lain. Pengen disayang. Pengen dimanja. Karena ayah saya, bukan tipe ayah yang selalu ngomong sayang ke anaknya. Dengan kata lain perhatiannya hanya sebatas tindakan. Dan ternyata, saya butuh kata-kata sayang itu. Saya butuh kata-kata perhatian itu.

Semenjak lepas dari pacaran, akhirnya saya sadar. Bahwa bukan laki-laki lain yang saya sayang, yang saya perhatikan seharusnya. Tapi orang tualah yang harus saya perhatikan. Bagaimana mungkin saya lupa dengan kasih sayang dan pengorbanan mereka sejak saya lahir. Pacar saya dulu mah apa sih pengorbanannya? Cuma nganter jemput saya? Cuma nraktir saya ke mall, nonton, trus makan? Cuma ngomong cinta dan perhatian setiap hari tanpa berani melamar saya? *ups. Sementara apa yang orang tua saya berikan itu semuanya jauh lebih besar. 

Jadi keuntungan tidak pacaran, saya menjadi lebih sayang dengan orang tua. Saya jadi lebih sadar bahwa orang tua memang tidak mengucapkan cinta dan perhatian secara langsung. Tapi tindakan-tindakan merekalah yang menunjukkan itu secara tidak langsung.

3. Lebih fokus

Anak sekolah terutama, dia merasa kalau tidak pacaran, dia tidak laku. Tidak seperti teman-temannya yang kelihatannya bahagia karena punya pacar. Hehe ini sih pengalaman sendiri dulu :v Tapi apa yang terjadi sebenarnya? Saya memang tidak punya pacar. Tapi saya bisa fokus memikirkan sekolah. Sedang teman-teman saya yang punya pacar di sekolah, kadang memang bahagia kelihatannya. Tapi tidak jarang mendadak mereka menjadi murung. Seolah-olah sudah ada masalah berat yang menimpa. Setelah diulik, ternyata masalah dengan pacarnya -_- Bahkan ada yang tidak malu menangis depan temannya karena putus dari pacarnya. Bukan sekali dua kali pula saya menemukan teman-teman yang nilainya turun semenjak punya pacar.

Apa artinya? Pacaran bisa membuat pelakunya kehilangan fokus. Seorang pelajar yang pacaran hilang fokus untuk belajar. Seorang mahasiswa yang pacaran hilang fokus untuk menyelesaikan skripsi. Lagi-lagi semua disebabkan karena hubungan pacaran yang tidak selalu mulus-mulus saja. Akhirnya apa, pelaku pacaran tidak sempat memikirkan hal yang lebih penting. Berbeda dengan tidak pacaran, kita akan lebih fokus mendalami bakat atau mengejar cita-cita yang kita impikan. Dengan kata lain, kita fokus untuk mengaktualisasi diri kita.

4. Bebas berkumpul dengan teman-teman atau komunitas

Bedanya dengan poin pertama, poin keempat ini bebas dalam hal pertemanan. Kita tidak takut untuk berkumpul dengan siapa saja teman kita. Tidak perlu meminta izin pacar kalau mau pergi-pergi -_- Lagi pula siapa pula pacar itu yang kita mintakan izin. Kita tidak perlu memberi kabar kita mau kemana. Kita bebas kemana saja asal sudah dapat izin dari orang tua. Yess. Yang terpenting sebenarnya adalah izin orang tua, bukan izin pacar -_-

Tidak akan ada yang melarang-larang kita untuk berteman dengan siapa saja. Tidak akan ada yang melarang kita untuk berkumpul dengan komunitas apa saja. Karena kita sendirilah yang menentukan. Ini juga yang saya rasakan saat lepas dari pacaran. Saya bisa kemana saja tanpa terikat dengan seseorang atau pun jadwal dengan pacar >_<

Nah, bagaimana? Benar tidak, pacaran memberikan keuntungan? :) Kembali ke masing-masing ya. Kalau kita mau merenungi mengapa pacaran bisa merugikan, bukan saja karena mendekati zina dan merugikan pihak wanita. Melainkan - ternyata masih banyak kerugian-kerugian yang bisa saja terjadi pada kita lantaran hubungan yang belum seharusnya terjadi antara pria dan wanita sebelum menikah.

Semoga teman-teman yang saat ini masih pacaran bisa memikirkan hal ini ya. Juga menguatkan tekad untuk segera menghalalkannya dengan menikah, atau bersegera memutuskan pacarnya untuk kembali fokus pada hal yang lebih penting :)

Sunday, 18 September 2016

Sunday, September 18, 2016 20

Makanan-makanan yang Menjadi Kenangan Bagi Saya

Semua hal di dunia ini pasti akan berlalu. Itu sebabnya ada yang namanya kenangan. Termasuk soal makanan. Saya kira setiap orang pasti punya kenangan dengan makanan. Entah karena itu makanan favorit, sering dimakan bareng kekasih halal *iya harus disebut ya halalnya :P*, atau karena salah satu makanan pernah membawa trauma sendiri bagi teman-teman. Ya semuanya punya cerita.

Tidak terkecuali Mak Nisa dalam tulisannya Makanan Buatan Mama. Dan termasuk saya juga. Saya punya beberapa makanan yang akhirnya terbawa menjadi kenangan sampai sekarang. Apa saja makanan kenangan saya? Oh ya, sebelumnya mari kita samakan persepsi dulu. Bahwa makanan kenangan bagi saya, tidak berarti saya suka. Tapi karena makanan tersebut punya cerita yang terus terkenang bagi saya *tsaaah.

Anak Mas dan Mie Kripkrip

Teman-teman yang lahir di tahun 90an pasti mengenal snack yang dua ini. Anak Mas, bentuknya mie yang diremes, dan paling enak menurut saya hehe. Dulu, saya suka membeli Anak Mas setiap sore habis mandi bersama salah satu sahabat karib depan rumah saya. Ya, selalu beli. Hampir setiap hari sepertinya. Kalau zaman sekarang, mungkin sudah diomelin karena kebanyakan makan MSG :)) Dulu harganya 300 perak kalau tidak salah.
http://grosircemilanonline.blogspot.co.id/2012/02/snack-anak-mas-cemilan-jadul.html
Lama saya mencari snack ini. Sampai akhirnya saya menemukan lagi di warung mertua. Whua berasa nemu emas :v Tapi sekarang bentuknya sudah berubah dengan kemasan yang baru. Seperti ini nih. 
http://grosircemilanonline.blogspot.co.id/2012/02/snack-anak-mas-cemilan-jadul.html
Sayangnya sudah tidak ada rasa keju hiks. Tinggal rasa ayam dan jagung bakar. Padahal menurut saya enak yang rasa keju. 

Snack yang satu lagi namanya Mie Kripkrip. Bentuknya kecil dan harganya cuma 50 perak saat zaman saya :') Kalau zaman kakak saya malah 25 perak. Biasanya saya hanya menemukan snack imut ini di kampung saya haha. Saya beli 200 perak biasanya, jadi dapat empat :v
http://grosircemilanonline.blogspot.co.id/2012/02/snack-anak-mas-cemilan-jadul.html

Trakinas

Haha ada yang inget nggak sih cookies atau biskuit satu ini? Sayangnya saya tidak menemukan bungkus versi jadulnya. Tapi ternyata sudah ada kemasan barunya. Aaaa saya belum menemukan tapinya huhu. Padahal saya doyan banget.
https://twitter.com/chekkacuomova/status/588962515431862272
Jadi bentuk wajah gitu biskuitnya. Lucu memang. Rasanya juga enak. Kenapa ada kenangan? Soalnya dulu saat saya umur 4 tahun dan sakit cacar, saya maunya makan biskuit ini setiap hari. Sampai saya inget banget, walapun saya cacar, saya jalan ke samping rumah untuk beli Trakinas ini. Dan saya suka yang rasa stroberi. Dulu setahu saya cuma dua rasa, stroberi dan jeruk. Tapi saya kurang suka yang jeruk :v


Jus Melon dan Chiki Taro

http://www.gudangkesehatan.com/7-manfaat-buah-melon-bagi-kesehatan/
Jus melon bukan makanan ya? Hihi. Trus apa kaitannya dengan makanan kenangan dan chiki Taro? Jadi gini, waktu kecil itu saya pernah beli jus melon dan chiki Taro bersamaan di sebuah warung. Eh, setelah beberapa lama setelah itu, saya langsung muntah-muntah. Saya juga tidak tahu kenapa. Aneh memang. Sampai akhirnya, itu membawa trauma sendiri bagi saya. Percaya atau tidak, butuh waktu bertahun-tahun untuk saya mau memakan kedua itu lagi. Kalau tidak salah ini kejadiannya pas saya masih SD.
http://supermetroemall.com/Taro-Net-Italian-Pizza-40%20gr-%20Snack
Saya baru mau minum jus melon lagi setelah SMK. Waktu itu saya pengen menepis rasa trauma saya. Maka saya belilah jus melon dalam bentuk kemasan Pop Ice. Ealah pas saya minum kok malah enak. Besok-besoknya malah ketagihan beli lagi :v Begitu pun dengan Chiki Taro, sebesar apapun saya ditawari, saya tetap tidak mau. Sampai akhirnya ada seorang teman yang membawa chiki ini dan saya nyobain, eh enak ternyata. Haha. So, pesan dari cerita ini adalah kita harus berani menebas rasa trauma dengan mencobanya kembali :))

Durian

Duh, tadinya saya tidak mau memasukkan buah satu ini >_< Tapi gimana dong, kalau buah ini juga punya kenangan -_-. Ceritanya saat waktu kecil (lagi). Saya pernah ditawari durian oleh ayahnya teman saya. Padahal itu pertama kalinya saya makan durian, tapi tidak butuh waktu lama, saya langsung memuntahkannya. Bah tidak enak rasanya! 
https://image.shutterstock.com/display_pic_with_logo/1944290/413580475/stock-photo-durian-413580475.jpg
Ya, akhirnya sampai sekarang saya tidak pernah suka dengan buah satu ini. Mau dalam bentuk apapun. Mau buahnya langsung kek, mau roti isi durian kek, mau pancake durian yang kata orang enak kek, sampai es krim yang katanya enak. Nay. Mencium baunya saja, saya sudah tidak tahan -_- Makanya, nanti kalau teman-teman ketemu saya dan ada buah durian di dekatnya, jangan heran kalau saya langsung melipir ya :P

Nasi goreng

Ini makanan paling klasik banget dari zaman baheula hahaha. Kenapa punya kenangan, soalnya waktu saya kecil (lagi lagi lagi) setiap kali tidak nafsu makan, ya pasti ditawari nasi goreng dan kemudian saya langsung mau makan lagi dan lahap banget hihi. 
https://pixabay.com/id/nasi-goreng-bob-korea-967081/
Duh kok ya saya malah tergoda dengan yang ada di gambar >_<
Jadi sampai sekarang pun, ini memang masih jadi makanan favorit banget. Eh tapi sekalipun favorit, lidah saya tetap bisa memilih mana yang enak dan kurang enak lho :P Kalau rasanya tidak cocok di lidah ya tetap saja tidak mau makan :))

Hmm, kayaknya itu saja sih makanan-makanan yang paling melekat di ingatan saya. Semuanya memang terbawa dari masa kecil saya. Dan semuanya masih saya ingat hingga saat ini (yaiyalah ya ni terbukti dari tulisan ini -_-)

Nah, kalau makanan yang menjadi kenanganmu apa? Share dong! :D

Friday, 16 September 2016

Friday, September 16, 2016 14

Mengapa Seorang Motivator Masih Ada?

Tempo hari, saya pernah menulis tentang Mentor Kehidupan. Tapi saat beberapa hari lalu kemudian saya membaca tulisan seseorang di sebuah media, saya jadi tergelitik untuk ikut bersuara. Maksud tulisannya kurang lebih mengatakan, bahwa sebaiknya kita tidak perlu percaya pada orang-orang yang berprofesi sebagai motivator. Karena motivator-motivator itu hanyalah profesi yang mengambil keuntungan. Atau garis besarnya, sesungguhnya motivator terbesar adalah diri kita sendiri.

Kesombongan adalah bentuk dari ketidak rendah hatian menerima perbedaan


Motivator terbesar memang ada dari dalam diri sendiri. Tapi tidak serta merta menjadikan kita manusia yang sombong dengan meremehkan atau bahkan menghina orang-orang yang baru termotivasi karena kata-kata atau tindakan orang lain.
https://pixabay.com/id/titik-embun-matahari-pagi-cermin-1373998/
Sering hati manusia berbicara, tapi tidak sedikit yang keras kepala dengan dirinya sendiri. Maka itu sebabnya, ada orang-orang yang karena dipengaruhi oleh seseorang atau suatu kejadian, membuatnya justru berubah menjadi lebih baik yang padahal kata-kata itu sudah sering ia dengar.

Manusia tidak pernah sama

Sayangnya sering kita lupa. Bahwa perilaku dan kebiasaan manusia itu berbeda-beda. Barangkali kita bisa termotivasi karena diri sendiri. Tapi ada manusia di luar sana, yang baru termotivasi saat ia 'dikerasi' oleh orang lain atau suatu kejadian. Saya contohnya. Berapa banyak kalimat yang sudah terngiang-ngiang dalam diri saya namun saya abaikan. Berapa banyak tindakan yang salah akibat kecerobohan saya sendiri. Dan saat kemudian ada yang mendampingi saya. Yang memotivasi saya walaupun hanya dengan kata-katanya, entah kenapa saya justru merasa lebih termotivasi untuk - harus - berubah. 

Ya, saya memang pernah menulis bahwa itu merupakan suatu bentuk penyesalan. Karena ternyata apa yang dikatakan orang lain, sama persis dengan kalimat yang sudah terngiang di dalam diri saya. Tapi ketika justru orang lain yang mengatakannya, barulah saya percaya. Bahwa ternyata diri saya benar. 

Motivator dari luar yang berpengaruh pada diri kita

Maka itu sebabnya. Profesi trainer, psikolog, perencana keuangan, motivator, atau pun mentor-mentor bisnis atau suatu profesi masih ada. Bahkan seorang guru dan ustadz pun yang tujuannya mengajar dan berdakwah, sesungguhnya kehadiran mereka juga untuk memotivasi. Hingga seorang penulis bukan tidak mungkin kehadirannya bisa memotivasi.

Barangkali sudah menjadi tugas mereka untuk memotivasi para awam seperti kita untuk segera bertindak. Agar kita tidak lagi mengabaikan kata-kata yang sebenarnya sudah muncul dari dalam diri tadi. Karena terkadang, kita lebih percaya orang lain. Terlebih orang yang kita rasa lebih baik, lebih bijak, lebih berpengalaman. Hingga akhirnya kita dengan mudahnya terpengaruh. Barulah motivasi yang timbul dari dalam menjadi lebih kuat. Untuk kemudian kita baru bertindak sesuai kata-kata yang sudah dilontarkan oleh para motivator tadi.

Ironi memang. Kita justru lebih percaya pada kata-kata orang lain dibanding diri sendiri. Tapi mungkin itu sebabnya kita diciptakan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Agar pada akhirnya, kita bisa lebih mempercayai diri. Mulai 'menurut' pada diri sendiri. Hingga kita tidak lagi mengabaikan kalimat kebaikan-kebaikan yang sesungguhnya sudah tercipta dalam diri kita.

My Community

kumpulan-emak-blogger Warung Blogger Blogger Perempuan bloggermuslimah.com Blogger Reporter Indonesia