Friday, 24 February 2017

Friday, February 24, 2017 5

Undzur Ma Qal, wa Laa Tandzur Man Qal

"Dia kan masih jomblo, tau apa tentang pernikahan?"

"Duh ibu baru kok sok tau banget, ibu yang anaknya 7 kan lebih berpengalaman."

"Pengantin baru kok sok-sok nulis tentang pernikahan."

Tuweewwww. Pernah nggak kita dengar kalimat-kalimat di atas? Atau kalimat lain yang serupa yang intinya, "kalau kita belum berpengalaman nggak usah ngomong deh, atau nggak usah nulis deh."? Memang sih, nyatanya kita pun sering kesal kalau ada orang yang 'di bawah' kita tapi kelihatan 'sok', dan menasihati kita. Tapi apa iya harus orang yang 'di atas' kita atau berpengalaman saja yang boleh berbicara dan menulis yang benar?
Undzur Ma Qal, wa Laa Tandzur Man Qal

Undzur ma qal, wa laa tandzur man qallihat apa yang dibicarakan, jangan lihat siapa yang berbicara.

Ada baiknya seperti itu. Kita memang dianjurkan untuk berbicara sesuai kapasitas dan keahlian kita, supaya terhindar dari berbicara yang kita belum ahli di dalamnya. Tapi saya jadi teringat satu ungkapan "Undzur ma qal, wa laa tandzur man qal" yang artinya, "lihat apa yang dibicarakan, jangan lihat siapa yang berbicara." Ya, tidak penting siapa yang berbicara, tapi yang kita lihat seharusnya "apa yang dibicarakan".

Seringkali kita masih melihat siapa yang berbicara. Kalau kita rasa dia pantas, kita anggap layak. Tapi kalau kita merasa dia belum pantas, kita justru menganggap kita hanya sedang 'dinasihati' oleh orang yang sok tahu dan bukan apa-apa. Padahal, kalau saja kita mau melapangkan hati sedikit, kita bisa mengambil pesan yang orang sampaikan walau mungkin 'derajat' usia dan pengalamannya belum di atas kita.

Terlebih di zaman serba canggih ini, ilmu dan teknologi sudah jauh lebih berkembang. Maka wajar jika kita menemukan banyak informasi, termasuk di internet. Maka untuk menimba ilmu pun sekarang sudah tidak perlu jauh-jauh. Bertebaran artikel tentang pernikahan, bertebaran artikel parenting, dan bertebaran artikel-artikel lainnya, yang semuanya bisa dibaca secara bebas. Bebas inilah yang membuat semua umur bisa membacanya.

Pertanyaannya, apakah selalu yang berpengalaman yang membaca? Tidak kan. Ada single yang rajin membaca artikel tentang pernikahan dan parenting, ada ibu baru yang rajin baca tentang tips-tips parenting bahkan sebelum anaknya lahir. Ketika si single menikah, maka wajar jika ia sudah tahu beberapa hal yang ada dalam pernikahan. Ketika anaknya lahir, wajar si ibu mengerti tentang cara mengasuh dan mendidik anak yang benar. Ya kira-kira seperti itu contohnya. Ditambah jika si single dan ibu tadi baca buku juga, maka semakin bertambahlah informasinya.

So, ketika misalnya si single dan si ibu tadi berbicara atau menulis tentang pernikahan dan parenting, tidak bisa juga dibilang 'sok tahu'. Mungkin mereka memang baru memasuki biduk rumah tangga dan menjadi ibu, tapi ketika mereka hanya menyampaikan informasi, sepertinya tidak ada yang perlu disalahkan. Karena biar bagaimana pun, informasi yang mereka sampaikan tidak mutlak salah, walaupun mereka memang belum berpengalaman.

Bayangkan saja bila yang terjadi sebaliknya. Mungkin pernah juga kita dianggap anak kecil atau orang yang belum mengerti apa-apa oleh orang yang lebih tua atau lebih berpengalaman di atas kita, itu saja pasti kita sudah merasa kesal. Kita berbicara kan juga berdasarkan apa yang kita tahu walau mungkin kita belum berpengalaman. Maka dari itu, kalau sampai kita mengeluarkan kata-kata yang merendahkan orang lain, bukan tidak mungkin orang yang direndahkan pun akan merasa kecil hati dengan pembicaraan kita.

Well, dari sini ada dua sisi yang bisa kita ambil. Pertama, walaupun kita belum berpengalaman, kita tetap harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang kita katakan. Menyebutkan sumber misalnya. Atau bisa juga dengan menerapkan semua yang sudah kita katakan alias membuktikannya. Agar orang yang kita beri informasi bisa lebih menghargai kita dan tidak menganggap kita hanya 'sok tahu' belaka.

Yang kedua, undzur ma qal wa laa tandzur man qal. Jangan sampai kita jadi tidak menghargai orang hanya karena merasa bahwa usianya di bawah kita atau belum berpengalaman. Sebab, siapa yang berbicara terkadang tidak begitu penting. Tapi bisa jadi apa yang dibicarakannyalah yang bisa memberikan kita informasi atau pengetahuan baru untuk kita :)

Wallahu a'lam bishshawab

Wednesday, 22 February 2017

Wednesday, February 22, 2017 6

Ketika Tombol Share Lebih Mudah

Jangan Kebanyakan Share
👧: "Masa aku share gini aja, responnya nggak enak."
👦: "Emang ngeshare apa?" 
👧: "Share artikel parenting biasa kok. Nih baca deh." 
**Setelah dibaca... 
👦: "Nggak usah kebanyakan share."
👧: "Lho, aku kan ngeshare yang bagus - bagus aja. Ga pernah ngeshare postingan-postingan atau berita hoax." 
👨 "Bukan masalah hoaxnya, masalahnya orang itu udah kebanyakan informasi. Cukup setahun sekali aja ngeshare, atau sebulan sekali."
👧: "Aku ngeshare kan juga buat reminder ke diri sendiri." 
👦: "Kalo buat diri sendiri kan bisa disave." 
👧: "Ah, masa kayak gitu aja jadi masalah. Kalo ga suka ya skip aja. Ngapain dibaca." 
👦: "Ya sekarang dibalik. Apa susahnya buat Ade ga usah ngeshare?"
via Pixabay
Itu sekilas obrolan saya dengan suami minggu lalu. Saat saya tiba-tiba saja merasa 'diserang' karena 'salah ngeshare' di sebuah grup. Saya merenung. Salahnya dimana ya ngeshare yang bagus? Kan maksudnya juga baik, supaya orang juga bisa ambil manfaatnya. Kalau hanya saya simpan sendiri bukankah itu artinya saya egois? 

Tapi kemudian saya paham, media sosial ini memang bebas. Kita bisa berbagi apa saja di sini, tapi satu yang harus dipahami, bahwa tidak semua orang akan sepemahaman kita. Sekalipun itu baik menurut kita, belum tentu sama baiknya di mata orang lain.

Di sisi lain, tidak semua yang kita bagikan itu memang benar adanya. Katakanlah kasus yang baru kemarin mencuat tentang buku yang dikatakan buku anak dan memuat konten kurang pas untuk anak. Padahal, kalau mau diteliti lebih jauh, buku itu memang untuk dipelajari anak, TAPI HARUS dengan pendampingan orang tua. Sayangnya memang belum dicantumkan label bimbingan orang tua, dan untungnya buku itu sudah ditarik. Tapi sangat disayangkan, sebelumnya banyak orang yang keburu 'termakan' postingan dengan halaman buku yang sepotong, lalu tanpa pikir panjang langsung dibagikan begitu saja dimana-mana hiks.


Ketika tombol share lebih mudah

Memang tidak semua orang punya waktu untuk menelaah lebih jauh apa yang dibacanya di media sosial. Kebanyakan orang, atau mungkin juga termasuk saya (?) lebih cepat menekan tombol share ketimbang mencari tahu dulu benar atau tidaknya segala hal yang ada di sebuah postingan. 

Maka ketika tombol share lebih mudah, jadilah kita kebanjiran arus informasi. Apapun yang menurut kita bagus, apapun yang menurut kita informasi tersebut bermanfaat, langsung kita bagikan begitu saja. Tapi pertanyaannya apakah informasi yang kita bagikan sudah bisa dipertanggung jawabkan? Apakah orang-orang benar membutuhkan atau lebih tepatnya membaca semua informasi yang kita bagikan? 

Pernah kejadian, seorang teman suami membaca postingan yang dibagikan temannya. Setelahnya, teman tersebut mencoba memastikannya dengan bertanya langsung pada narasumber yang disebutkan di postingan tersebut, lhadalah ternyata narasumber malah mengaku tidak pernah berkata seperti apa yang sudah dikatakan di dalam postingan tersebut. Inilah yang tidak jarang terjadi. Kalau memang kita tidak bisa memastikan postingan dengan kata-kata "menurut penelitian, menurut dokter ini itu, menurut pakar, menurut siapa siapa" apakah benar yang dikatakan penelitian atau dokter seperti itu atau tidak apalagi dari sumber yang belum jelas, sebaiknya tahan dulu untuk membagikan.
Maka barangkali, sebelum menyuruh orang untuk menjaga, mungkin ada baiknya kita sendiri dulu yang menjaga. Menjaga jari untuk tidak cepat mengetik, menjaga jari untuk tidak cepat membagikan sesuatu. Dan menjaga diri agar tidak mudah terbawa perasaan atau emosi dengan postingan orang lain. 😁

Ya ya ya. Akhirnya kembali lagi, diri sendirilah yang jadi pengendalinya. Dan pada dasarnya memang kita tidak bisa menyenangkan semua orang alias tidak bisa menyamaratakan pemikiran orang.

So, jangan gegabah. Berpikir panjang. Dan akan lebih baik jika kita mau menelaah dulu apa yang kita bagikan. Bukan sekedar manfaatnya, melainkan setidaknya kita bisa mempertanggung jawabkan apa yang kita bagikan 😉

Tuesday, 21 February 2017

Tuesday, February 21, 2017 10

Pengalaman Berbelanja di Lazada.co.id

Halo teman-teman! Malam ini saya mau sedikit membahas mengenai salah satu e-commerce nomor satu di Indonesia. Kalau mendengar namanya, siapa sih yang nggak kenal sama Lazada? Salah satu perusahaan e-commerce terbesar ini tersebar di beberapa negara seperti Singapore, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Indonesia. Perusahaan Lazada Indonesia ini hanya membutuhkan waktu 5 tahun untuk menjadi salah satu perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia.
via Pixabay
Pada tahun 2012, website Lazada secara resmi diluncurkan. Lazada pun membawahi lebih dari 4000 produk di dalamnya. Dengan pelayanan terbaik, Lazada berhasil menggaet para customer untuk berbelanja segala macam kebutuhannya. 

Nggak heran kalau Lazada merajai segala macam produk yang ada di Indonesia. Contohnya, kamu bisa membeli berbagai macam barang mulai dari perlengkapan fashion sampai perlengkapan rumah tangga yang bisa dibandrol dengan harga yang murah. 

Saya sendiri sudah beberapa kali belanja di Lazada, dan hasilnya sangat memuaskan! Barang cepat sampai, pembayaran yang aman dan praktis, serta belanjaan yang sesuai dengan pesanan. Nah, di artikel ini, saya mau menjabarkan beberapa alasan kenapa saya tetap stay setia dengan Lazada, sementara di luar sana banyak banget e-commerce yang bermunculan.

Voucher Lazada

Selain memberikan kualitas pelayanan belanja online yang asyik, Lazada Indonesia juga mempunyai promo voucher. Kode voucher Lazada ini (klik disini) bisa kita gunakan untuk berbelanja, agar barang belanjaan kita lebih murah dengan potongan harga yang ajaib!

Bayangin aja, ketika saya berbelanja di Lazada, saya bisa mendapatkan banyak promo sampai dengan 80% tanpa minimum pembelian lho! Selain itu kode voucher Lazada juga diupgrade setiap hari, jadi bakalan banyak banget diskon yang diberikan.

Cara menggunakaan Kode Voucher Lazada:
Berikut ini adalah cara menggunakan Kupon Lazada ataupun diskon Lazada yang ingin kamu gunakan ketika belanja di Lazada, ikuti step-stepnya ya untuk mempermudah penggunaannya:
  1. Tekan tombol hijau untuk melihat kode kupon kamu.
  2. Copy kode tersebut.
  3. Otomatis website kamu akan membuka halaman baru, dan tetap perhatikan kode voucher kamu.
  4. Pilihlah barang yang mau kamu beli, check out, setelah itu periksa kembali secara detail barang yang kamu sudah pilih.
  5. Lengkapi data yang dibutuhkan di kolom pengisian.
  6. Tentukan metode pembayaran yang ingin kamu gunakan, di waktu yang bersamaan, akan terlihat kolom discount voucher, masukkan kode voucher yang sudah dicopy, lalu tekan tombol “GUNAKAN” dan setelah itu “Lanjutkan pembayaran”
  7. Harap tunggu, lalu barang yang kamu beli secara otomatis akan berkurang sesuai dengan voucher yang kamu gunakan.

Berbagai Macam Promo Lazada

Promo Lazada memang terkenal sebagai promonya yang paling lengkap. Lazada sendiri mempunyai promo jam tangan, promo sepatu, promo tas, dan masih banyak promo lainnya. Jadi, Lazada itu bagaikan lapak lengkap banget bagi kalian yang hobi berbelanja, khususnya berbelanja online. Nah, di sini saya akan menjelaskan mengenai keuntungan berbelanja di Lazada :
  • Promo Murah Setiap Hari

Promo Lazada memang terkenal murah setiap hari. Saya pernah beli di Lazada sebuah sepatu dan baju, dan saya diberikan diskon Lazada 30% untuk kedua pembelian tersebut. Asyik banget kan?
  • Barang bergaransi

Nah, males banget kan kalo kita membeli sebuah barang, tapi begitu sampai, barang tidak sesuai dengan pilihan kita -_- Tenang aja, di Lazada, kamu bisa tukarkan barang tersebut bila tidak sesuai dengan yang kamu harapkan.
  • Murah Tapi Berkualitas

Pasti masih banyak orang berpikir bahwa barang murah kualitasnya jelek. Nah, dengan menggunakan produk dari Lazada, semua diskon dan potongan harga yang kamu dapatkan. Dijamin dengan harga yang berkualitas tinggi :)
  • Lazada menyediakan jasa COD

Yap, salah satu kelebihan Lazada adalah menyediakan jasa COD. Teman- teman pasti tahu kan, kalau berbelanja online itu sangat riskan. Salah satunya adalah dikarenakan banyaknya penipuan atau yang lainnya. Maka dengan menggunakan sistem COD, konsumen menjadi lebih percaya karena bisa bertemu langsung dengan penjual barangnya. 

So, dengan banyaknya pengalaman yang saya berikan mengenai Lazada, teman-teman tidak perlu ragu lagi untuk menjadikan Lazada sebagai merchant favoritmu untuk memenuhi segala macam keperluanmu. Happy shopping! ^^

Monday, 20 February 2017

Monday, February 20, 2017 16

Dua Etika yang Harus Diterapkan Online Shop

Baru-baru kemarin saya hampir mengalami kejadian tidak enak dengan online shop atau lebih tepatnya sih e-commerce. Ceritanya saya beli sendal di hari Minggu tanggal 29 Januari 2017, tapi sampai tanggal 5 Februari, sendal saya tidak juga dikirimkan. Esoknya saya langsung komplain. Karena tidak biasanya pengiriman terlambat lebih dari seminggu seperti ini. Apalagi ini e-commerce besar dan saya sudah beberapa kali beli di sana. 

Berulang kali saya komplain, hanya disuruh menunggu dan menunggu. Sampai hari Selasa kemarin tanggal 14 Februari pun saya masih disuruh menunggu. Karena kadung kesal, mau tidak mau saya ancam sedikit kalau tidak ada kabar juga, saya akan tulis di blog. Tapi untunglah hari Kamis kemarin saya sudah ditelepon dan diberitahu bahwa dana akan dikembalikan ke rekening saya. Benar-benar bertanggung jawab :)

Pengalaman tidak enak ini bukan pertama kalinya. Dua kali saya mengalami kejadian tidak enak dengan online shop karena barang tidak ada kabar dan tidak juga dikirimkan. Akhirnya dua online shop sebelumnya saya teror hampir setiap hari lewat telepon. Alhamdulillah barang pun akhirnya dikirimkan meskipun sangat amat terlambat -___-

Dua etika yang harus diterapkan online shop

Dari sini saya menyimpulkan. Jika online shop memang mau terus dipercaya, setidaknya harus memiliki dua etika ini:
1. Good respon
Saya senang belanja dengan online shop yang memiliki respon yang baik. Apapun pertanyaan saya, dijawab dengan baik. Mungkin ini juga yang disenangi pembeli lain. Wajar dong, sebagai pembeli terkadang kami butuh informasi lebih detail supaya barang yang benar-benar kami cari, ada dan memang dibutuhkan. Misalnya kalau kami bertanya apakah ada warna lain, motif lain, dan seterusnya dijawab dengan baik. Asalkan pembeli tidak menanyakan informasi yang sudah tercantum jelas di info barang yang dijual. Jangan sampai penjual merespon dengan cara yang tidak baik. Misalnya tidak sabaran atau marah-marah :/ Apalagi kalau sampai kejadian saya di atas. Jangan sampai online shop merespon pembeli dengan marah-marah atau bilang bahwa kami tidak sabaran. Yah jelas kami tidak sabaran kalau barang yang dikirim tidak juga ada kabar -_-


2. Fast respon
Kami tahu kalau penjual tidak hanya melayani satu pembeli. Tapi jangan sampai penjual tidak merespon kami. Biar bagaimana, kami kan juga butuh kepastian *halah* Misalkan kalau harga belum dicantumkan, lalu kami menanyakan harganya berapa. Lhahdalah, baru dibalas besoknya. Ya keburu BT lah kami -_- Kalau tidak bisa jawab detail saat itu, paling tidak balas pesan kami dengan menyuruh kami menunggu dulu. Dengan begitu, kami jadi lebih sabar menunggu. Ini juga berlaku jika pembeli ada komplain barang. Sebaiknya komplainan pembeli jangan sampai digantung terlalu lama. Kasihan kan kalau pembeli sedang benar-benar butuh barangnya :(

Saya rasa itulah dua etika yang harus diterapkan online shop. Sisanya, online shop harus menyantumkan kontak yang jelas. Kantor (bila ada), kota atau tempat jualan supaya pembeli bisa menimbang dari segi ongkos kirimnya hehe. Nomor telepon yang bisa dihubungi, bank yang dipakai untuk transfer, dan tambahan untuk menyantumkan harga (karena sekarang modelnya kebanyakan tidak menyantumkan harga) serta jasa pengiriman apa yang digunakan supaya lebih detail lagi.

Jadi, apapun barang yang dijual, ya kerudung, gamis, peralatan rumah tangga, alat dapur unik, sampai barang-barang elektronik, kalau penjual sudah memiliki etika tadi, insya Allah pembeli pun akan berdatangan dengan sendirinya. Terlebih jika datang lewat testimoni secara langsung dari pembeli lain. Kan enak toh kalau dibilang, "beli di sana aja tuh. Responnya bagus dan cepet. Mau komplain pun dilayani dengan baik." Duh adem deh :) Penjual senang, pembeli tenang :)

Friday, 17 February 2017

Friday, February 17, 2017 10

Berdebat? Jangan Sampai Jadi Masalah

Saya paling tidak bisa berdebat. Atau mungkin lebih tepatnya saya tidak suka berdebat. Sebenar apapun saya, saya tidak akan memperpanjang pendapat saya kalau berulang kali disanggah. Buat apa juga? Hehe. Menghabiskan waktu hanya untuk menguatkan pendapat kita sendiri di hadapan orang yang sulit menerima, rasanya jadi hal yang sangat percuma.
via Pixabay
Mungkin inilah yang membuat saya punya tipe plegmatis. Plegmatis sendiri adalah orang yang suka kedamaian, tidak suka kekerasan, dan cenderung menghindari konflik. Nyatanya memang begitulah saya :D Ya, saya adalah tipe orang yang tidak senang bermasalah. Saya cenderung menghindar kalau saya rasa situasi sudah tidak bisa dikendalikan. 

Memang, ada kalanya kita harus ngotot kalau kita benar. Tapi entah mengapa, tetap saja saya tidak bisa seperti itu hiks. Buat saya, sesuatu yang justru memunculkan konflik baru akan jadi hal yang sangat merepotkan. Apalagi kalau itu pada orang terdekat. Bukan tidak mau meluruskan yang salah, tapi kalau yang salah terus-terusan merasa benar, buat apa saya ngotot? Malas rasanya bertemu dengan orang yang paling merasa benar. Saya lebih baik mengalah untuk saat itu. Untuk kemudian kalau esok situasi dan hati orang yang merasa benar sudah lebih baik, barulah obrolan bisa dilanjutkan. Dan ini biasanya akan lebih sejuk dan bisa diterima. 

Ini pernah kejadian saat saya berdebat dengan ibu soal biang keringat pada bayi saat Emir masih sebulan dua bulan. Saya bilang jangan dipakaikan bedak atau bubuk apapun supaya biang keringatnya tidak bertambah parah. Tapi ibu tetap ingin memakaikan Emir bedak merek tertentu. Padahal bedak tersebut juga untuk anak di atas 3 tahun. Alhasil saat saya bawa ke bidan, benar saja. Bidan menyuruh untuk jangan dipakaikan bedak apapun. Barulah ibu bisa terima. 

Makanya, saya heran sekali dengan orang yang bisa kuat berdebat :D Kalau dalam acara debat atau lomba debat sih ya wajarlah ya. Tapi tidak wajar kalau berdebat hanya untuk sesuatu yang sesaat atau bahkan semu. Katakanlah soal hobi. Orang yang tidak suka nonton drama Korea tidak bisa menghakimi orang yang suka nonton drama Korea sebagai suatu hal yang negatif. Demikian pula sebaliknya. Orang yang suka nonton drama Korea, tidak bisa memaksa orang yang tidak suka untuk punya pandangan yang sama dengan dirinya. Sebab kalau sudah masuk ranah hobi, menurut saya tidak bisa digeneralisir karena semua pasti punya pendapat masing-masing. Intinya jangan sampai menghakimi atau masuk ke ranah perbedaan orang lain karena setiap orang punya pemikirannya sendiri-sendiri. 

So, sekali lagi, bagi saya debat tidak ada gunanya :) Kalaupun kita merasa benar dan sudah mengucapkan kebenaran, kebenaran itu akan terungkap dengan sendirinya tanpa perlu kita perpanjang. Karena semakin kita ngotot dengan pendapat kita, alih-alih kita sedang meluruskan orang yang salah, justru kebenaran itu akan jadi kabur karena cara penyampaiannya yang tidak baik. Yang lebih bahaya, kalau perdebatan tersebut hanya akan menimbulkan masalah baru dan malah merepotkan kita. Apalagi kalau sampai merusak persaudaraan atau persahabatan. Hiiy naudzubillah. Jangan sampai ah :)

Wednesday, 15 February 2017

Wednesday, February 15, 2017 15

Aplikasi Pendukung Ngeblog

Seperti yang sudah saya janjikan di postingan 'Kok Punya Bayi Masih Bisa Ngeblog', hari ini saya akan cerita aplikasi pendukung apa saja yang saya pakai untuk ngeblog. Sebenarnya sih, lebih pas kalo ditaruh di postingan ini, tapi apa daya waktu itu nggak kepikiran sama sekali -_-

Buat saya, ngeblog itu juga harus didukung dengan aplikasi lain, supaya urusan ngeblog bisa lebih maksimal.

Oke, jadi aplikasi apa saja yang biasa saya pakai? Sederhana sih, mungkin sama kayak sebagian besar blogger-blogger lain. Tapi akan saya jabarkan apa kegunaannya buat saya pribadi.

Aplikasi pendukung ngeblog

Notes di handphone
Saya sudah pernah cerita kalo saya pakai hp Xiaomi Redmi 2. Di hp ini, ada aplikasi notes yang bisa dipisah-pisah menjadi beberapa folder. Aplikasi ini bener-bener berguna deh. Apalagi saya punya blog lebih dari satu. Misalkan lagi ada ide untuk blog ini, saya tulis di folder Sohibunnisa. Kalo tentang parenting atau pernikahan di Celoteh Bunda. Pun kalo misal saya punya ide tentang dunia perbukuan saya tulis di folder Delina Books. Selain itu, Bisa juga saya buat folder-folder lainnya. Sekarang juga saya mulai ngelatih nulis di notes hp. Supaya nggak terlalu ketergantungan harus nyalain netbook dulu. Kalau nulis di notes kan enak, setidaknya sudah ada draft tulisan. Di netbook tinggal edit atau tambah gambar aja. Pernah lho saya nulis di notes sampai lebih dari 1000 kata (baca postingan: Surat untuk Emir). Wah ini pencapaian terbesar buat saya haha. Dan faktor utamanya memang niat hehe. 

Ms. Word
Kalau ini di netbook ya. Sekarang memang sudah jadi kebiasaan baru kalau saya selalu ngecek jumlah kata setiap habis nulis. Tujuannya sih untuk memastikan kalau artikel saya harus lebih dari 300 kata. Jadi kalaupun saya nulis dari hp, saya akan tetep cek dulu di Ms. Word, jumlah katanya sudah pas atau belum. Kalau kurang, berarti harus saya tambah lagi.

Kamera handphone
ini salah satu gambar yang saya ambil pakai kamera hp
Sampai sekarang saya belum punya kamera yang bener-bener kamera. Alias semacam DSLR atau mirrorless. So, ya masih mengandalkan kamera handphone. Biasanya saya gunain kamera hp untuk ambil foto atau video yang sekiranya dibutuhkan buat postingan, biasanya seperti postingan lomba atau pun job review. Untuk postingan biasa kayak gini, jarang saya ambil gambar. Paling cukup ambil dari Pixabay atau situs-situs gambar yang gratisan aja hehe. Pengen juga sih punya kamera khusus, tapi nantilah, nabung dulu hehehe.

Aplikasi edit foto dan video
Untuk pendukung ini saya pakai dari handphone atau netbook. Kalau di handphone biasanya saya pakai PicsArt dan Phonto. Pernah juga nyoba aplikasi lain, cuma yang bertahan ada di hp cuma Phonto aja hehe. Kalau dari netbook, biasanya saya pakai Canva. Dulu sih pakai Photoscape juga, tapi karena netbook saya harus diinstall ulang, alhasil Photoscape nya kehapus dan belum install ulang lagi -_- Edit foto ini biasanya untuk nambahin teks di gambar. Atau bikin infografis ala-ala saya hehe. Untuk bikin infografis sederhana, menurut saya Canva cukup recommended sih. Untuk edit video sih jarang ya. Tapi kalau pun diharuskan biasanya saya pakai Viva Video aja. Belum nyoba aplikasi lain. Ada yang punya rekomen edit video di hp buat saya?

Screenshoot/snipping tool
Seperti bisa dilihat, postingan ini ada beberapa gambar screenshoot-an, screenshoot di atas saya ambil pakai aplikasi snipping tool bawaan nerbook. Kalau dari hp ya biasanya langsung pakai screenshoot.

Email (Gmail)
Haha iya saya tahu kalau ini mungkin bukan aplikasi. Tapi sekedar tambahan aja. Yang jelas saya suka pakai gmail untuk upload download gambar. Maksudnya gimana? Jadi, karena kabel data saya agak susah dicolokkin ke netbook, mau nggak mau saya harus kirim gambar pakai email. Jadi setelah saya ambil gambar dari hp, saya jadikan draft di email. Baru saya download lewat netbook. Karena kalau langsung masukkin gambar dari hp ke blog, kadang agak susah huhu. Makan kuota memang, tapi apa boleh buat -_- 

Ya, kurang lebih itu aja sih yang memang sering saya pakai untuk aplikasi pendukung ngeblog. So far, sampai sekarang aplikas-aplikasi di atas bener-bener berguna buat saya. Dan saya memang belum banyak nyoba aplikasi lain. Pernah saya install aplikasi Blogger, cuma nggak puas banget. Jadi mending saya tulis di notes aja baru saya pindahin ke blog pakai netbook.

Nah kalau temen-temen sendiri, biasanya pakai aplikasi apa aja buat mendukung ngeblog? Share dong. Mungkin bisa jadi rekomen yang bagus buat saya hehe :)

My Community

kumpulan-emak-blogger Warung Blogger Blogger Perempuan bloggermuslimah.com Blogger Reporter Indonesia