Friday, 17 November 2017

Friday, November 17, 2017 10

Kitalah Versi Paling Tepat MenurutNya

Saya lagi baca sebuah novel. Dimana pemeran utamanya bisa berpindah-pindah dari alam semesta yang satu, ke alam semesta yang lain.

Misalnya, saat ini dia tidak punya adik. Mendadak ada yang menggelitik tubuhnya (yang rasanya seperti semut yang berjalan di kulitnya). Lalu semua hilang. Apapun yang ada di sekitarnya hilang. Sampai dia kembali normal lagi. Tapi ternyata semua berubah. Tiba-tiba dia jadi punya adik. Padahal sebelumnya dia anak tunggal. 

Atau ketika ia sudah punya adik, tiba-tiba sensasi menggelitik datang lagi. Dan ternyata adiknya sudah meninggal.
via Pixabay
Kurang lebih ceritanya begitu. Dan selalu seperti itu. Yang ia alami akan berbeda ketika ada sensasi semut menggelitik kulitnya. Semua akan berubah secara cepat. Kondisi setelahnya tidak akan sama seperti sebelumnya ketika ia merasakan tanda-tanda menggelitik tadi. Kondisinya ini ia sebut dengan 'Saat-Ketidakberadaan'.

Sampai ia datang ke dua orang guru. Oleh satu gurunya, ia diberi jimat. Jimat itu sudah menyimpan memori yang ia inginkan. Dan itu akan membantunya untuk pergi ke situasi yang ia inginkan tersebut kalau Saat-Ketidakberadaan itu datang.

Memang, situasi yang ia inginkan datang. Tapi disitu ada dirinya yang lain. Dengan kata lain, dirinya jadi ada dua. Tapi ia yang sesungguhnya tidak bisa dirasakan keberadaannya oleh orang-orang di sekitarnya. 

Singkat cerita, ia lelah menghadapi Saat-Ketidakberadaan itu. Akhirnya ia ingat nasihat seorang gurunya yang lebih tua. Bahwa sesungguhnya yang ia butuhkan bukan keberuntungan, melainkan adalah kedamaian atau penerimaan. Dengan kata lain, ia tidak perlu memiliki keberuntungan dimana ia bisa mencapai situasi yang diinginkan. Melainkan, ia harus berdamai dan menerima apapun situasi yang diterimanya. 

Fiewh. 

Hehe saya nggak lagi ngereview novel kok karena belum kelar baca 🙈. Saya cuma iseng ingat pikiran masa lalu dan berkaitan dengan cerita di novel tadi.  Dimana dulu saya bertanya-tanya ke diri sendiri, "kenapa sih saya harus jadi diri saya? Kenapa nggak jadi orang lain? Gimana seandainya saya jadi dia atau tukaran jiwa dengan orang lain?" (Yang terakhir ini terinspirasi dari sebuah FTV 😂).

Itu bukan karena saya menyesal atas diri saya sendiri. Atau tidak bersyukur dengan keadaan. Bukan itu. Tapi murni hanya bertanya. 

Kitalah versi paling tepat menurutNya.

via Pixabay
Nah setelah baca novel itu, saya jadi mikir, segala makhluk hidup yang diciptakan, khususnya manusia, memang sudah porsi yang paling tepat segalanya. Tentu saja versiNya. Karena Dialah yang menciptakan kita.

Misalnya saya sendiri. Saya terlahir dari kedua orang tua yang memberi saya nama Ade. Yang memiliki 4 saudara kandung. Saya menikah di usia 22 tahun. Saya punya dua anak di usia 24 tahun. Saya orang yang kadang ceroboh, tidak sabaran, dan panikkan. Saya suka membaca. Saya suka menulis. Atau jalan hidup-jalan hidup saya yang lainnya. Nah mungkin memang semua jalan inilah yang tepat bagi saya. 

"Seandainya saya (bisa memilih) jadi orang lain. Bagaimana keadaan saya? Apakah saya bisa? Apakah saya sanggup menjalaninya? Apakah saya akan bahagia? Dan apakah itu sebuah keputusan yang tepat?" We don't know. 

Sering di setiap ujian dan kebahagiaan, saya mikir ke sana. Mungkin apa yang udah saya alami, saya dapatkan, memang sudah porsi yang (paling) tepat. Seperti inilah saya seharusnya. Seperti inilah keadaan yang memang pantas buat saya. Seandainya pun ada orang yang ingin menjadi diri saya, belum tentu orang itu pantas dan mampu. 

Bersyukur dan menerima

Jadi novel ini secara tidak langsung mengingatkan saya pribadi. Bahwa memang, apapun keadaan kita, seharusnya kita menerima. Walaupun seringkali itu pun tidak mudah. Tapi kita hanya manusia yang pandangannya terbatas. Kita hanya bisa melihat apa yang terlihat oleh mata kita. 

Padahal sesungguhnya ada maksud-maksud Allah yang sering kita nggak tahu. Allah menguji kita dengan kesedihan, mungkin ada hikmah di belakangnya. Allah memberi kita kebahagiaan, mungkin ada hikmah di baliknya. Dan ketika kita mau selami itu, sesungguhnya kita akan mampu mengambil sendiri hikmah-hikmah itu. 

Ya mungkin bisa dibilang juga ini anjuran kita untuk bersyukur. Bahwa apapun kondisi kita, situasi dan kondisinya, segalanya harus kita terima. Sebab memang tidak semua apa yang kita inginkan bisa tercapai. Barangkali sesuatu yang kita inginkan itu memang tidak pantas bagi kita. Belum baik bagi kita. Atau bisa juga ditunda waktunya. Wallahu a'lam bishowab 😊

Terakhir sebagai penutup, ada satu do'a bagus di dalam novel ini: 
"Tuhan, tolong beri aku keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah, beri aku kedamaian untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah, dan beri aku kebijaksanaan untuk membedakan keduanya." - Ally (150-151)
Lantas, sudahkah kita bersyukur hari ini? 😊 

Monday, 13 November 2017

Monday, November 13, 2017 14

Membaca Buku Itu Penting Lho! Bagaimana Menumbuhkan Minat Baca Buku?

Saya bersyukur sekali sejak kecil orang tua tidak pernah meninggalkan kebiasaan beli buku. Barangkali ini juga yang membuat saya sampai saat ini suka sekali membaca. Bagi saya membaca adalah menemukan sudut pandang lain. Membuat pikiran menjadi lebih terbuka dan tidak mudah menghakimi segala sesuatunya. Membuat saya menjadi lebih bijak menghadapi segala permasalahan. Ya, buat saya membaca adalah segalanya.
Dengan membaca, aku menemukan sudut pandang lain. - Ade Delina Putri
via Pixabay
Dan saya bersyukur dengan adanya hobi membaca ini. Terlebih di era sekarang dimana segala informasi lebih mudah didapatkan dengan kemajuan pesat teknologi. Arus informasi yang tak terelakkan akan sia-sia jika semuanya diterima mentah-mentah, dalam artian kita tidak mencoba berpikir terbuka untuk menerima sumber lain dan mudah menerima berita-berita hoax.

Baca: Saring Sebelum Sharing

Membaca lalu menulis

Dari kebiasaan membaca pula, akhirnya saya tertarik dengan dunia tulis menulis. Menurut saya, ini mengalir saja. Entah kenapa, dengan tulisan rasanya semua lebih mudah diungkapkan. Sampai kini saya terjun dan serius di dunia ngeblog.

Membaca dan menulis, keduanya sama sekali tidak bisa dipisahkan. Saling berkaitan. Saya akan mandeg nulis kalau tidak membaca. Iya, ini saya alami beberapa waktu lalu. Saat blog saya sempat tidak ada tulisan dalam waktu berapa hari. Rasanya sungguh bingung mau nulis apa. Sampai-sampai saya nanya ke diri sendiri, "saya ini kenapa sih?"
Kemudian saya sadar, "oh oke, sepertinya saya sudah jarang membaca buku." Seperti kata Mbak Siti Fauzia dalam tulisannya Mengapa Membaca Penting? Buat saya, ya memang begitulah. Tanpa membaca, saya tidak akan bisa menulis. Kalaupun saya paksakan menulis, tulisannya pasti akan cenderung monoton.

Membaca itu memang luas. Apa saja bisa jadi bahan bacaan termasuk status-status di media sosial *eh. Tapi buat saya, membaca buku itulah yang terpenting. Karena di buku kita akan menemukan gaya bahasa yang lebih luas. Apalagi jika genre yang kita baca berbeda-beda.

Bahkan Tere Liye pernah mengatakan dalam salah satu bukunya yang berjudul Rindu, 
"Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus-ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca.” (Rindu: hlm. 196-197)
Wow, untuk menulis satu paragraf ternyata kita harus membaca satu buku. Maka memang benar bahwa urusan membaca apalagi bagi yang mendedikasikan dirinya di dunia tulis menulis, itu tidak bisa diremehkan.

Maka itu sebabnya, saat ini saya juga sudah mulai mengajak anak-anak saya untuk ikut suka membaca. Bukan karena saya ingin mereka jadi penulis atau blogger juga. Tapi lebih kepada menanamkan kecintaan membaca pada mereka. Dan membuat pandangan dan pengetahuan mereka menjadi lebih luas.

Menumbuhkan minat baca buku

Lantas, bagaimana sih agar kita mencintai baca buku? Atau minimal kita berminat untuk membaca buku?
  • Membuat tujuan

Kita harus punya tujuan. Untuk apa sih saya membaca buku? Saya mau apa sih dari membaca buku? Sebab, jika tidak ada tujuan, membaca akan jadi hambar. Alih-alih suka, yang ada kita tidak semangat melakukannya karena tidak punya tujuan apapun.
Misalnya, saya pribadi bertujuan untuk menjadikan baca buku sebagai budaya yang tidak boleh hilang. Apalagi saya terjun di dunia kepenulisan. Serta ditambah saya ingin anak-anak saya kelak juga suka membaca buku. Maka saya akan ingat tujuan ini ketika minat baca buku saya mulai menurun.
  • Membuat komitmen/target

Jika sudah punya tujuan, kita tinggal buat komitmen. Misal, dalam satu minggu kita harus baca satu buku. Atau satu bulan kita harus baca satu buku. Terserah. Sesuaikan dengan keinginan kita saja. Untuk tahap awal sebaiknya tidak memaksakan kehendak agar tidak cepat jenuh. Dengan sendirinya, jika sudah terbiasa kita akan mulai merasakan kenikmatan dan target itu bisa bertambah. Malah bisa jadi saking asyiknya, sampai melewati batas target 😀
  • Kurangi distraksi/gangguan

Gadget dan media sosial adalah distraksi terbesar saat ini. Betul atau tidak? Hehe. Kemalasan saya beberapa waktu lalupun karena hal ini. Saat kesadaran itu muncul, dan ingatan bahwa dulu saya mudah meninggalkan gadget demi buku, saya pun mulai menguatkan tekad untuk mengurangi gadget dan medsos demi bisa baca buku.
Apa ini berhasil? Ya. Karena saya kembali ingat tujuan dan komitmen yang sudah saya buat.
Maka begitu pula bagi yang lain. Jika distraksi dirasa mengganggu, kita harus ingat lagi tujuan membaca dan komitmen/target yang sudah kita buat. Di sini keseriusan kita juga diuji. Sejauh mana kita menguatkan keinginan menumbuhkan budaya membaca buku dalam keseharian kita.
Atau bagi yang kira-kira susah meninggalkan gadget, bisa juga menginstall aplikasi ebook. Zaman sekarang, sudah banyak yang beralih ke ebook. Tidak ada salahnya. Hanya beda bentuk saja. Yang ini berbentuk digital. Daripada hanya baca status-status di media sosial kan *eh hehe.
  • Bergabung dengan penyuka buku/komunitas pecinta buku

Bergabung dengan orang-orang yang satu tujuan, pasti akan muncul semangat yang lebih besar. Saya sendiri semenjak bergabung dengan grup Blogger Buku Indonesia, semangat saya jadi tinggi. Apalagi melihat teman-teman yang bukunya sudah bejibun dan genre bacaannya bervariasi. Wah saya jadi kepingin punya lebih banyak lagi buku dan jadi tahu genre-genre baru serta mau keluar dari zona nyaman biasanya.

Ya seperti itulah kurang lebih menurut saya. Membaca buku itu pada dasarnya tidak susah kok. Kita hanya perlu meluangkan waktu sebentar. Saat anak-anak dan suami tidur misalnya. Atau saat sedang tidak ada kerjaan, atau saat handphone sedang dicas *eh. Intinya mulai dari diri kitalah yang harus menumbuhkannya.

So, mau baca buku? 😉

Friday, 10 November 2017

Friday, November 10, 2017 10

Menuntut Kesempurnaan? Impossible!

Sekarang, ramai orang ingin membentuk personal branding. Waktu saya nanya ke suami, alih-alih dia jawab ingin membentuk juga, justru dia jawab, "nggak deh. Personal branding itu berat."

Lho, berat kenapa? Pikir saya.

Sampai akhirnya saya ngeh maksud kata-kata "berat" dari suami. Apa yang berat? Amanah dan ujian dari personal branding itu sendiri. Simpelnya, seseorang itu harus (atau malah diharuskan?) SESUAI dengan branding yang dia bentuk. Dengan kata lain, disadari atau tidak, ada penuntutan KESEMPURNAAN di sini. Padahal mana ada manusia sempurna?
via Pixabay
Misal saja seorang motivator terkenal yang beberapa waktu lalu sempat terkena kasus yang menghebohkan publik. Jelas bahwa branding beliau adalah motivator. Tapi ketika dia terkena masalah, orang-orang mana mau tahu bahwa dia juga manusia biasa?
Yang ada di anggapan orang-orang adalah beliau ini seorang motivator. Maka tindak tanduknya (harusnya) sesuai yang ia motivasikan pada orang lain. Padahal sang motivator ini juga manusia biasa kan? Meskipun dia memotivasi jutaan orang, bukan berarti dia lepas dari kodratnya sebagai manusia. TIDAK ADA manusia yang sempurna hidupnya, yang tidak pernah salah dan tersandung masalah *itu mah malaikat kali eh.

Sampai sini saya jadi mikir *anaknya pemikir 😂. Sebenernya tanpa membentuk personal branding pun, kadang kita suka dituntut sempurna sesuai label yang tersemat di diri kita.

Lho kok? Emang orang dinilai dari penampilannya? Dari brandingnya? 

Iya! (Walaupun harusnya tidak). 

Kenapa? Karena wajar jika yang pertama kali dilihat mata kita, pastilah fisik orang dulu. Penampilan luar dulu. Label luarnya dulu (apalagi kalau orang itu memang sengaja membentuk personal branding). Manalah kita tahu kalau dia ternyata tidak sempurna. Ternyata hatinya baik. Ternyata orangnya menyenangkan. Ternyata pengkhianat yang bagus luarnya aja. Kecuali kalau kita memang sudah sering bersama orang itu. Atau minimal kita bisa dengan handal membaca orang dari gerak-geriknya. 

Jadi kalau misal ada orang yang dengan mudahnya bilang, "ih jilbabnya panjang, tapi kok sukanya marah-marah? Ih tampilannya kayak ustadz, tapi kok kelakuannya kasar?" Atau ketika ada orang yang tiba-tiba komentar, "oh kamu lulusan universitas A, tapi kok foto-fotomu begitu sih? Oh kamu dari komunitas B, tapi kok nggak sesuai dengan nama komunitasnya? Oh kamu si penulis buku motivasi itu, tapi kamu kok sedih mulu sih?"

Sebenarnya kita nggak perlu marah. Justru yang pertama kali harus dikoreksi adalah diri sendiri. Bener nggak sih gue begitu? Oh iya ya, ternyata gue suka marah-marah. Ternyata gue kasar. Ternyata foto gue nggak pantes. Ternyata kelakuan gue nggak sesuai dengan nama komunitas gue. Ternyata gue udah nulis motivasi, harusnya gue lebih semangat.

Dengan kata lain, koreksian orang-orang itu bikin kita bisa LEBIH mawas diri. Lebih hati-hati dengan perilaku kita. Sekali lagi, karena wajar kalau yang pertama kali dilihat orang adalah luarnya dulu. Atau kita  sendiri deh, yang kita lihat dari orang lain pasti luarnya dulu kan?

Akan jadi beda kalau misalnya kita sudah seatap dengan orang itu. Sudah menghabiskan waktu yang tidak sebentar dengan orang itu. Maka kita akan punya pandangan yang lain. Seperti kata Tere Liye, kita nggak bisa kenal orang (dengan baik) hanya sehari aja. Mungkin ini maksudnya.

Bersikap saling

Berat ya ternyata untuk tampil baik? Untuk punya branding baik? Sebenarnya nggak juga. Justru tampilan dan label luar kitalah yang bisa jadi rem kita. Rem perilaku kita. Dengan adanya itu semua, kita akan lebih mikir panjang apa yang harus kita perbuat. Mana yang pantas, mana yang tidak, dan apa yang sebaiknya tidak kita lakukan.

Nah mungkin di sinilah kita juga belajar untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Karena ternyata nggak enak ya dihakimi tanpa dikenal lebih dalam atau dicari tahu lebih dulu. Sebab, bisa saja apa yang terlihat di mata kita, belum tentu itu yang sebenarnya.

Well, ya barangkali kita harus bersikap saling aja 😊 Ketika kita merasa tidak sempurna, maka begitu jualah harusnya pandangan kita ke orang lain 😊 Ya kasarannya kalau nggak mau dicubit, ya jangan nyubit *eh.

Wednesday, 8 November 2017

Wednesday, November 08, 2017 16

Saring Sebelum Sharing

Zaman now teknologi udah canggih bangetlah ya. Bikin arus informasi mudah banget untuk masuk. Dan akhirnya bikin kita jadi kayak kebanjiran informasi. Saking banjirnya, kadang jadi nggak kesaring lagi mana yang hoax, mana yang benar *eh. Mana yang penting, mana yang tidak. Mana yang sebenarnya layak dikomen dan dishare, mana yang tidak. Ya semacam itulah.

Kalau kata suami, "too much information, will kill you!"
via Pixabay
Eh bener nggak sih?

Kalau saya meyakini kayaknya ada benarnya juga. Buktinya, gara-gara banyaknya informasi yang saya terima, nggak jarang bikin saya jadi riweuh sendiri. Malah sekali dua kali jadi debat sama suami karena maunya suami, saya bisa menyaring informasi. Mana yang layak diterapkan, dan mana yang tidak. *Eh kok ini jadi curhat?

Samarnya informasi kini.

Sebenarnya ini semacam kontemplasi saya aja sih *halah. Makin kesini kok kayaknya informasi itu semakin abu-abu ya. Seperti yang di awal saya tadi bilang, mungkin kita ini udah kebanjiran informasi. 

Sering saya menemukan sharingan di media sosial terutama, hal-hal yang kayak nggak guna buat dishare. Maksudnya bukan postingan personal ya, kalau itu sih terserah deh. Tapi ini semacam berita-berita yang sebenarnya nggak enak dilihat, nggak pantas dilihat, dan nggak perlu dilihat/dibaca, tapi dishare! 

Katanya biar orang tahu, tapi buat apa? Mencerahkan? Saya rasa nggak juga. 

Gini deh, misal ada kecelakaan, lalu ada orang yang boro-boro nolongin malah foto korbannya yang keadaannya sangat mengenaskan. Lalu dishare tanpa diblur! Duh, apa gunanya sih ya? 
Kalau memang dia mau memberi informasi pada orang bukankah cukup dengan memberikan info kecelakaan dimana, jam berapa, siapa nama korbannya (tanpa memajang foto lho ya)? 
Nggak perlu kan ya sebenarnya foto itu? KECUALI, jika ada yang minta. Itu pun lebih etiknya lewat jaringan pribadi aja. Nggak perlu dipublish secara nasional bahkan internasional.

Atau lagi, hal-hal yang sebenarnya terlarang, tapi dishare. Niatnya sih mencerahkan, tapi karena dikasih tahu langkah-langkahnya, orang yang tadinya sebenarnya nggak tahu, jadi tahu. Dan yang lebih parah - bukan nggak mungkin ada orang yang nggak bertanggung jawab justru memanfaatkannya sebagai tindak kejahatan. 
Mikirnya kejauhan? Bisa jadi. Tapi semua serba mungkin kan di zaman now.

Mau bilang nggak sengaja begitu. Kayaknya nggak bisa juga ya. Nggak mungkin lah ada setan yang tiba-tiba pake gadget kita buat ngeshare postingan orang lain hehe. Mungkin maksudnya bukan nggak sengaja kali ya, tapi lebih ke "nggak maksud" buruk. Nah, maka di sinilah pentingnya kita untuk berpikir panjang sebelum berbagi sesuatu 🙈

Saring, saring, saring sebelum sharing.

Well, ya akhirnya memang kembali lagi ke diri kita sendiri. Kita tidak bisa mengatur orang lain. Jadi kitalah yang harus bisa menyaring segala sesuatunya sendiri. Kitalah yang bisa memilah mana yang penting, mana yang tidak. Toh kita udah sama-sama dewasa kan.

Cuma satu aja dari saya pribadi dan sebagai pengingat diri. Apapun yang hendak dishare, baiknya kita pikirkan dulu apa faedahnya. Penting atau tidak. Pantas atau tidak. Dan layak dilihat/dibaca atau tidak 😎

Oke, salam damai dari penggiat dan pemerhati media sosial 🙈

Wednesday, 1 November 2017

Wednesday, November 01, 2017 14

Mau Ngeblog? Gampang Kok! Ini 9 Langkahnya!

Akhir-akhir ini banyak banget teman-teman dari komunitas kepenulisan yang saya ikuti nanya gimana caranya ngeblog. Saya seneng banget sih kalau ada pertanyaan itu. Karena emang udah unek-unek sejak lama kalau saya kepingin teman-teman yang suka nulis juga bikin blog.

Sayang aja kalau misal kemampuan nulis mereka cuma sebatas file pribadi atau cuma posting di facebook. Selain postingannya bisa tenggelam, jangkauannya pun seringkali hanya yang diterima sebagai teman saja. Berbeda dengan blog yang jangkauannya lebih luas.  Ya kecuali kalau mau sengaja diprivat sih. Lagi pula dengan ngeblog, hitung-hitung meskipun kita belum bisa nulis buku, paling tidak kita punya kesempatan kalau tulisan kita dibaca orang kan ya 😊
via Pixabay
Nah kembali ke pertanyaan teman-teman soal bikin blog, sebenarnya saya selalu menjawab kalau udah banyak banget tutorial di Google. Tinggal searching ajalah. Apa-apa sekarang udah tersedia di Google 😁

Tapi kalau boleh saya tuliskan lagi, mungkin saya punya step-stepnya gimana caranya supaya kita bisa ngeblog.

This is it!

9 Langkah NGEBLOG:

  • ‌Punya email.
Saya rasa sekarang memang siapa saja harus punya email ya. Apalagi untuk buka media sosial dan belanja online di marketplace/e-commerce pasti butuh email. Nah di blog, email ini berguna untuk bikin akun. Kalau sudah punya email, maka kita tinggal pilih mau pakai platform apa.

  • ‌Tetapkan tujuan.
Pengen bikin blog untuk apa sih? Apakah buat curhat hore atau buat nyari penghasilan? Tetapkan apapun tujuan kita. Kalau sudah ditetapkan, maka kita akan lebih mudah menulisnya. Kita sudah tahu apa yang harus ditulis. Dan bisa juga kita sesuaikan dengan platform apa yang sekiranya cocok untuk jenis tulisan kita.

  • ‌Pilih platform blog.
Platform blog ada banyak. Tinggal pilih mau pakai yang mana. Mau pakai Blogspot, Wordpress, Tumblr, BlogDetik, Kompasiana, atau Wattpad. Semua bisa dipilih sesuai kebutuhan atau keinginan kita.
Gampang, tinggal masuk aja ke website mereka. Misal Blogspot ya berarti masuk ke Blogger.com lalu login dengan akun Gmail kita. Pilih deh Blog Baru. Nanti kita akan diarahkan untuk langkah selanjutnya. Tutorial lebih lengkapnya coba kamu googling aja ya  😊
Tapi kalau kamu berniat serius (mencari penghasilan), kamu bisa membeli domain sendiri seperti .com, .id, .co.id, dll. Konon, yang berTop Level Domain seperti itu akan lebih mudah untuk segala macam penawaran kerja sama. Tapi kalau sekedar pasang Google Ad Sense, katanya sih nggak apa kalau tidak TLD. CMIIW yaa.

  • ‌Mulai nulis.
Sebelum bikin blog, kalau bisa sih kita sudah punya basic ilmu kepenulisan. Jadi walaupun tulisan kita belum bagus-bagus banget, minimal tulisannya ngga terlalu berantakan.
Ya minimal kita udah tahu bagaimana meletakkan tanda baca. Udah ngerti awal kalimat atau setelah titik koma hurufnya harus gimana. Udah paham kapan harus pindah ke paragraf selanjutnya, ect yang dasar-dasar kayak gitu pokoknya.
Urusan tata bahasa itu nantinya bisa menyesuaikan sendiri. Yang jelas jadi diri kita sendiri aja. Keluarkan sesuai yang ada di kepala kita. Tapi tetap patuhi aturan dan norma yang berlaku ya. Jangan sampai tulisan kita menyinggung pihak lain, apalagi itu dipublish. Zaman now bisa kena UU ITE ntar 😜

  • ‌Perhatikan tampilan blog
Antara nomor 3 sama 4 ini sebenarnya bisa ditukar sih. Tapi menurut saya, untuk awal lebih baik kita fokus menulis saja dulu. Ini berdasar pengalaman saya hehe. Kelamaan utak-atik tempatle (tampilan) blog, alhasil baru nulis sebulan kemudian 🙈 Jadi lebih baik kita fokus nulis aja dulu. Pilih tampilan yang sudah ada dan simpel, nanti ketika sudah nulis, bisa dibarengi dengan merapikan tampilan blog.
Apa gunanya? Memperhatikan penampilan itu semata agar blog kita enak saat dilihat, saat dibaca. Jadi usahakan pilih yang defaultnya background putih, dan font tulisannya warna hitam. Jangan dibalik ya hehe.

  • ‌Share tulisan di media sosial
Kalau kita bikin blog sekedar untuk curhat yang hanya boleh dibaca diri sendiri, poin ini bisa diabaikan. Tapi kalau kita mau tulisan di blog kita juga dibaca orang-orang, bolehlah kita bagikan tulisan itu di media sosial. Caranya cukup dengan copy link, lalu paste di medsos kita dengan tambahan caption sebagai bumbu supaya orang mau tertarik mengunjungi blog kita 😁

  • ‌Bergabung dengan komunitas-komunitas blogger.
Terutama kalau kita memang ingin mendapatkan tambahan semangat ngeblog. Maka bergabunglah dengan komunitas-komunitas blogger. (Baca: Manfaat Aktif di Komunitas). Selain itu, di komunitas blogger, kita juga bisa dapat manfaat lebih banyak: bisa saling sharing ilmu, saling berbagi informasi, bahkan bisa saling berbagi info job blogger *eh 😁

  • ‌Rajin-rajinlah baca, update informasi.
Mau jadi penulis, tapi malas baca? No no no! Jangan ya! Apalagi kalau kita masuk ranah publik. Supaya nggak kudet, kita juga harus update dong *asal jangan berita hoax aja. Dengan kita update, maka kita akan selalu punya hal baru yang bisa dibagikan. Selain itu, rajin baca juga bikin kosakata kita jadi bertambah. Sehingga tulisan kita jadi nggak monoton.

  • ‌Materialis boleh, tapi tetap original.
Katakanlah kita menulis blog untuk materi, itu boleh. Tidak dilarang. Tapi TETAP usahakan untuk membuat tulisan yang original. Tulisan yang berasal dari tangan kita sendiri. Karena seringkali tulisan yang asli akan SELALU LEBIH DISUKAI. Jelas karena orang akan lebih percaya dibanding jika kita mengcopas tulisan orang lain. Karena yang original biasanya juga akan selalu unik.

Begitu sekiranya teman-teman. Ngeblog itu sebetulnya gampang kok! Dan di sini, kita tidak terbatas ruang. Kita bebas menulis sepanjang apapun *ya asal jangan bikin buku aja sih haha*.

Hanya satu yang perlu diingat. Ketika kita sudah masuk ke dunia publik, maka jaga jari kita. Jangan sampai kita menyakiti hati orang lain atau pihak tertentu. Karena di dunia kita hidup sebagai makhluk sosial.  Yang artinya kita selalu butuh orang lain. Selain itu, kita pun harus bisa mempertanggung jawabkan apapun yang kita tulis 😇

Yuk ngeblog! 🙆

Sunday, 29 October 2017

Sunday, October 29, 2017 34

Hari Blogger Nasional: Tentang Goresan Pertama di Blog Sohibunnisa

Halo Blogger! Pada tahu nggak sih kalau tanggal 27 Oktober kemarin adalah Hari Blogger Nasional? 

Harus tahu dong ya. Jangan sampai nggak tahu. Masa blogger nggak up to date 😝 

So, udah berapa lama kamu ngeblog? Kalau saya, sudah 5 tahun 😍 Meskipun tulisannya sendiri baru terbit bulan November 2012, tapi sebenarnya blog ini berdiri pada bulan Oktober 2012. Yah, maklum aja dulu masih bingung mau nulis apa 😂


Tulisan pertama di bulan November

November 2012, terkenang kejadian mengesankan itu...

via Pixabay
Setelah satu bulan cuma utak-atik template, pas bulan November akhirnya saya kepikiran nulis tentang sebuah kejadian saat pulang kampung bulan Agustus 2012.

Sebuah Rencana Indah dari Allah untuk saya. Yang mana kejadian itu ternyata benar-benar menjadi kenyataan saat ini. Ya, saya jadi istri dari seorang pria yang sudah lama saya kagumi 😍

Dulu saya sangat speechless. Sampai-sampai bingung harus gimana haha. Tapi di dalam hati mah rasanya bahagia banget 😂 Akhirnya saking bahagianya, saya kepikiran buat mengabadikan momen indah itu di tulisan pertama blog ini. 

Sempat ada rasa takut kalau doi baca gimana ya? Eh setelah nulis, saya malah dengan sengaja promo tulisan itu ke dia 😂 Dia cuma kasih emot senyum aja sih 🙈 FYI, dulu kami memang jauhan. Saya masih di Bekasi, dia di Surabaya. 

Ketika kita harus menjauh...

Dari seringnya komunikasi yang sudah berjalan, lama kelamaan kami mulai menemukan ketidak cocokan. Akhirnya awal 2013, dia mulai menjauh. Tiba-tiba saja dia tidak pernah menghubungi saya lagi. Kalaupun saya hubungi, dia jarang balas. Sekalinya balas, singkat sekali. Akhirnya saya pun mencoba ikhlas lalu galau hiks. 

Karena tidak mau jadi bahan pertanyaan pembaca blog ini, tulisan pertama itu pun saya KEMBALIKAN LAGI KE DRAFT. Saya tidak mau dipermalukan saat ada pembaca yang tanya, "bagaimana kelanjutan cerita itu?"

Haha padahal kalau dipikir sekarang mah berlebihan. Gimana enggak, kalau dulu yang baca blog saya juga masih segelintir orang. Sedikit banget malah 😂

2015, Allah kembalikan dia padaku *uhuk. 

But, mungkin ini yang dinamakan omongan itu bisa jadi do'a. Karena dulu saya nulisnya pakai kalimat 'rencana indah dari Allah', akhirnya benarlah ternyata Allah merencanakan itu buat saya. 

Mungkin dulu Allah menyuruh saya untuk bersabar. Biar nggak tergesa-gesa cepet nikah mendapatkan jodoh. Mungkin Allah pengen saya memperbaiki diri dulu. Bukan karena doi, bukan karena jodoh, tapi harus MURNI karena Allah. Finally, setelah saya benar-benar pasrah, Allah malah mewujudkan do'a saya. Masya Allah 😍🙁

Di tahun 2015, dia tiba-tiba saja datang dan melamar saya. Lalu kami pun resmi menikah. Cerita lengkapnya baca di postingan Jodoh yang Tak Pernah Terduga aja ya hehe. 


Allah tahu yang terbaik...

Entah kalau sekarang saya nggak nikah sama suami. Mungkin tulisan itu nggak akan pernah saya terbitkan lagi. Tapi karena sudah benar menikah, jadilah tulisan itu dimunculkan lagi 😂 Bahkan sempat jadi popular post selama berapa bulan waktu itu 😂

Yah gitulah. Kadang rencana Allah emang nggak terduga. Kita maunya apa, tapi nggak terwujud. Sampai bikin kita jadi berprasangka buruk. Kiranya Allah menahan, seolah tidak akan mewujudkan do'a kita. Padahal Allah sebenarnya selalu tahu yang terbaik buat kita. 

Dia merencanakan sesuatu yang udah pantas buat kita. Hanya perkara waktunya saja yang mungkin ditunda. Atau bisa jadi memang tidak dikabulkan karena Allah tahu sesuatu yang kita inginkan itu belum tentu baik bagi kita. Karena sekali lagi, hanya Allah Yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita 😊

Nah, kalau tulisan pertama di blogmu sejarahnya gimana? Cerita juga dong! 😊

My Community

kumpulan-emak-blogger Warung Blogger Blogger Perempuan Blogger Reporter Indonesia