Wednesday, 24 August 2016

Wednesday, August 24, 2016 14

Memanfaatkan Sisa Makanan

Pekan ini masuk minggu kedua Collaborative Blogging bersama Komunitas Emak Blogger (KEB). Apa itu Collaborative Blogging? Yakni para emak blogger yang berkolaborasi untuk menulis dengan tema serupa. Mekanismenya, dibagi per grup. Satu grup terdiri dari 10-11 orang. Salah satu emak akan menulis di website KEB, dan emak yang lain menanggapi tulisan si emak pertama atau menulis bebas selama masih satu tema. Harusnya saat pertama kali ya saya jelaskan, tapi tak apalah hehe :v

Baca Collaborative Blogging 1: Kampanye ASI Bukan untuk Menghakimi
https://image.shutterstock.com/display_pic_with_logo/1998197/348320018/stock-photo-enjoying-dinner-with-friends-top-view-of-group-of-people-having-dinner-together-while-sitting-at-348320018.jpg
Kembali lagi, tema Collaborative Blogging kali ini adalah Makanan Sisa, Diolah Lagi atau Dibuang? yang ditulis oleh Mak Maya Siswadi. Ehm, sejujurnya saya agak tersindir dengan tulisan ini. Bagaimana tidak, saya sendiri masih suka membuang makanan >_< Padahal orang tua saya tidak pernah mengajarkan hal tersebut. Sama seperti mamanya Mak Maya, ibu saya pun selalu mengolah makanan yang masih sisa. Beliau paling pantang buang makanan, selama makanan tersebut masih bisa diolah lagi >_< Bahkan hal ini pun terbawa juga pada ayah saya.

Padahal, saya sendiri masih suka baper kalau masak tapi tidak habis. Entah karena masak kebanyakan atau yang ambil makan pada sedikit. Apalagi kalau makanan tersebut memang cepat basi, ya mau tidak mau harus dibuang huhu. Karena itu, sesekali saat rajin saya masih suka mengolah beberapa makanan sisa menjadi makanan baru. Kita ambil dari contoh Mak Maya saja ya.
1. Mie atau bisa juga mie goreng yang ga abis bisa ditambahkan telur, taruh di loyang, kukus/panggang dan jadilah schootel mie.
Kalau saya: Selama mie tersebut belum basi, biasanya saya masak nasi goreng dan saya campurkan mie nya. Enak lho, nasi goreng campur mie :P Asal mie nya, mie goreng ya.

2. Bumbu Balado sisa? Sering kan ya masak balado, tapi bumbu balado alias balado nya bersisa banyak? Sekarang kan cabe lumayan mahal ya. Sayang euuyy, kalau si bumbu ini terbuang begitu saja. Selagi belum basi, bisa kok dimanfaatkan. Potong tempe kecil-kecil, goreng kering. Goreng teri, Sisihkan, biarkan agak dingin. Panaskan balado sebentar saja, sisihkan, biarkan agak dingin. Setelah hilang panasnya, campurkan tempe dan teri goreng ke dalam balado, jadi lah balado tempe-teri.
Kalau saya: Ya sambelnya buat saya bikin nasi goreng juga :v Atau campuran untuk telur dadar atau omelette. Tapi resep Mak Maya boleh tuh kapan-kapan saya coba. Dijadiin tempe orek ataupun goreng teri.

3. Ayam goreng sisa? Ohooo, tenang, bisa diolah jadi banyak macam, mulai suwiran ayam untuk nasi goreng, suwiran ayam untuk bubur ayam, suwiran ayam untuk soto, tumis ayam suwir, ayam goreng mentega, dsb.
Kalau saya: Biasanya ayam goreng sisa pun ya saya bikin nasi goreng juga #nggak kreatif -_-. Kenapa juga ya nggak pernah kepikiran bikin tumis ayam suwir >_<

Oke. Tiga itu sih makanan yang sering saya olah lagi. Selebihnya, ya dibuang >_< Apalagi kalau malasnya lagi kambuh huhu. Ya sudah, jangan tiru saya ya. Tiru saja Mak Maya yang kreatif memanfaatkan sisa makanan. Barangkali ini juga bentuk peringatan untuk tidak mudah membuang makanan. Terlebih jika memikirkan orang-orang yang untuk makan saja masih sulit :'( Huhu semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya :'(

Monday, 22 August 2016

Monday, August 22, 2016 18

Gagal Paham itu Ketika....

Gagal paham. Sering ya kita dengar kalimat itu. Saya lagi mikir saja, sepertinya tidak jarang kita mengalami hal ini. Gagal paham sama orang lain. Atau kita sendiri menyadari bahwa tingkah kita itu gimana sih, kok kayaknya kita sudah tahu salah, tapi kok malah dilakukan? 5 hal di bawah ini barangkali yang paling sering kita temui. Atau mungkin teman-teman punya hal yang lain, boleh juga dishare ^^
https://image.shutterstock.com/display_pic_with_logo/321598/318060599/stock-photo-nerdy-scholastic-young-woman-wearing-geeky-glasses-standing-thinking-with-her-finger-raised-and-a-318060599.jpg

Bilangnya benci, tapi yang dibenci justru selalu diperhatikan sampai detail

https://pixabay.com/id/cinta-merah-valentine-jantung-1427727/
Mungkin ini sebabnya benci berbeda tipis dengan cinta. Manusia yang menanggung kebencian dalam dirinya, juga selalu memperhatikan hal-hal yang dibencinya hingga hal yang terkecil. Terlebih benci dengan sesama manusia. Ia tahu kekurangan apa saja yang ada dalam diri orang yang dibencinya. Tapi berbeda dengan cinta, jika cinta selalu bisa memaafkan sebesar apapun kekurangan, benci tidak. Sekecil apapun kekurangan justru dicarinya agar bisa dijadikan kesalahan atau menjadi bahan peperangan. Naudzubillah.

Pengalaman: Saya pernah ada di posisi orang yang dibenci. Yang ada justru dia tahu hal-hal terkecil dalam hidup saya. Oh my, saya merasa diperhatikan sekali :')


Saya pernah baca sebuah kutipan yang bagus dari buku Who Will Cry When You Die,
Ketika kau tidak menyukai seseorang, rasanya nyaris seperti kau menggendong orang tersebut. Menguras energi, antusiasme dan ketenangan pikiramu. Tapi, begitu memaafkannya, kau menurunkannya dari punggungmu dan dapat melanjutkan sisa hidupmu.

Minta nasihat, tapi setelah diberi malah ngeyel

https://pixabay.com/static/uploads/photo/2015/04/07/12/00/help-710848__180.jpg
Berapa banyak dari kita yang selalu minta nasihat dari orang-orang yang dirasa lebih bijak, lebih mampu, tapi setelah diberi justru tidak didengarkan? Yang ada kita malah menyanggah nasihat itu dan menyangka bahwa nasihat itu tidak bisa kita lakukan. Kita justru memilih jalan lain yang sesungguhnya sudah kita tahu. Lantas kalau sudah tahu, mengapa masih minta nasihat? Kalau merasa pilihan kita benar, buat apa orang capek-capek menasihati?

Pengalaman: Sering minta nasihat suami, setelah dinasihati malah ngeyel. Giliran nasihatin orang, orangnya malah ngeyel, kesal sendiri. Barangkali begitu juga perasaan suami (kesel.red) T_T

Selalu mengeluh, tapi enggan memperbaiki diri

https://image.shutterstock.com/display_pic_with_logo/1494092/356676353/stock-photo-hand-gesture-concept-displeased-s-man-complaining-or-grumbling-with-hands-forward-studio-shot-356676353.jpg
Kita selalu mengeluh hal yang sama setiap hari. Tapi yang kita fokusi hanya keluhannya saja. Lupa pada fokusnya untuk memperbaiki segala kesalahan. Ini sama saja seperti titik hitam di kertas putih. Kita tidak melihat begitu banyak area yang masih bersih, yang kita lihat hanya sebuah titik hitam yang sesungguhnya bisa kita abaikan, atau bahkan bisa kita hapus.

Pengalaman: Ngeluh sakit mulu, tapi disuruh minum obat nggak mau >_<

Minta pendapat, tapi setelah diberi pendapatnya malah merasa pendapat sendiri paling benar.

https://pixabay.com/static/uploads/photo/2016/06/25/13/32/poster-1478892__180.jpg
Ini sama saja seperti nomor 2 tadi. Bedanya, yang ini hanya meminta pendapat. Tapi setelah diberi pendapat, malah merasa pendapat sendiri paling benar. Jadi arti pendapat itu apa sebenarnya? -_- Harus mengikuti maumu? Ck --"

Pengalaman: Saya pernah menemukan orang yang seperti ini. Dia meminta pendapat saya. Ya sudah saya bicara, tapi setelah saya bicara apa yang dia tanggapi? Nggak gitu, yang bener tuh gini. Lho, tadi nanya pendapat, tapi kok malah disanggah -_-

Sudah tahu dosa, tapi masih dilakukan.

https://pixabay.com/static/uploads/photo/2015/09/29/21/02/handcuffs-964522__180.jpg
Duh ini hal paling berat daripada hal-hal yang di atas. Seberapa sering kita mengetahui bahwa hal itu dosa, tapi masih juga dilakukan. Kadang dengan alasan takut, alasan tidak enak, dan berbagai alasan lainnya >_< Bahkan menganggap bahwa dosa itu kecil atau sepele -_-

Pengalaman: Saking asyiknya ngobrol, jadi ngomongin orang lain T_T


Oke, semua hal di atas, hanyalah satu pengalaman saya. Kalau mau dijabarkan bisa lebih banyak lagi >_< Nah, teman-teman sendiri pernah tidak sih menemukan gagal-gagal paham tadi? Atau pernah mengalaminya sendiri? Berani share? Hehe.

Sepertinya, kegagalan pemahaman ini memang akan terus ada. Ya barangkali untuk membuat hidup lebih berwarna. Karena pada dasarnya, manusia memang selalu punya kesalahan dan kekurangan. Yang jelas, gagal paham ini tetap harus diminimalisir dengan usaha kita sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena kebaikan pun juga bisa diusahakan kan ^^

Saturday, 20 August 2016

Saturday, August 20, 2016 12

Jadikan Media Sosial sebagai Ajang untuk Bersyukur

Balada media sosial saat ini adalah seringkali apa yang dipamerkan, justru membuat iri hati orang lain. Melihat orang yang punya pasangan dan naruh foto lagi gandengan tangan, yang masih sendiri langsung baper (bawa perasaaan.red), merasa bahwa mereka norak sekali pamer kemesraan. Melihat orang yang pasang status tentang kemenangan lomba menulis atau blognya, yang lain langsung bilang dia sombong. Melihat ada yang posting foto masakan sembari menata dapur minimalisnya, dibilang itu hanya pamer. Weleh-weleh ckckck.

Pahami bahwa saat ini adalah eranya media sosial.

https://pixabay.com/id/pohon-struktur-jaringan-internet-200795/
Jadi apa sebenarnya mereka salah? Tidak. Mengapa? Karena iri atau tidaknya kita adalah kita yang menentukan sendiri. Baper atau tidaknya kita karena kita yang membawanya. Jadi semua prasangka itu hanyalah tergantung cara kita memandangnya. Hidup selalu punya pilihan bukan? Mengapa tidak kita mencoba selalu berpikir positif. Menyadari bahwa saat ini memang sudah eranya media sosial. Yang artinya, semua menjadi lebih terbuka. Orang bebas mengeskpresikan kebahagiaannya. Orang bebas memasang status atau foto apapun yang menurut dirinya berarti. Ya karena kita pun punya hak yang sama. So, selama itu memang tidak merugikan dan mengganggu ketentraman kita dan orang banyak, lantas buat apa kita sibuk iri? Sederhananya, media sosial memang sudah jadi ajang untuk pamer. Perkara orang mau pamer apa, itu hak mereka. Sekali lagi, selama itu tidak merugikan kita, ya bersikaplah biasa-biasa saja.

Kita bisa melewati apa yang tidak kita suka.

https://pixabay.com/id/bahaya-bahan-cross-814644/
Di media sosial kita punya pilihan. Menyukai, atau melewati. Sejak saya mulai sadar masing-masing orang memang berbeda pandangan di media sosial, saya lebih memilih untuk mengendalikan diri sendiri. Toh pada dasarnya kita memang punya banyak pilihan kan. Kita bisa melewati status-status ataupun foto-foto yang tidak kita sukai. Kalau kita memang merasa tidak nyaman, ya tinggal kita skip (lewati.red). Kita juga masih punya tombol pilihan lain. Bisa pilih tombol unfriend, unfollow, atau bahkan blokir. Yes, ternyata semudah itu. Kalau mereka tak bisa dikendalikan, ya sudah kita saja yang mengendalikan diri.

Daripada mengatur orang lain, kita saja yang mengatur diri sendiri.

https://pixabay.com/id/smartphone-wajah-wanita-mata-1445448/
Sekali lagi, lebih mudah mengatur diri sendiri ketimbang orang lain. Semakin manusia dewasa, semakin dia merasa punya hak. Maka wajar saja jika mulai susah diatur, sebab dia merasa sudah punya pilihan untuk melakukan apa yang dia suka. Jadi, ketimbang sulit mengatur orang lain untuk mengikuti apa yang kita mau, maka kita saja yang ubah diri kita sendiri. Apalagi media sosial itu punya kita sendiri. Ya sudah perlakukan saja apa yang kita mau. Tidak mau ada hal yang negatif, ya blokir saja yang sekiranya mengandung konten-konten negatif. Tidak mau jadi baper karena melihat status orang lain, ya lewati saja status tersebut atau unfollow orangnya. Tidak mau sedih karena banyak status mengeluh, ya unfriend saja dia. Yes, sesimpel itu kawan.

Ingatkan secara pribadi.

Kalau pun kita ingin menasihati seseorang, katakanlah agar dia tidak bersikap yang terlalu di media sosial, maka ingatkanlah secara pribadi. Karena mengingatkannya di kolom komentar ataupun membuat status, itu sama saja dengan mempermalukan dia di depan khalayak. Yang ada nasihat kita tidak digubris, dia pun jadi benci dengan kita.
http://www.mialiana.com/2014/02/nasihat-menasihati.html
Well, status-status yang berbau kebahagiaan di media sosial itu hanyalah sesuatu yang terlihat. Kita tidak tahu motif seseorang untuk memasang status tersebut, karena kita pun tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka di balik media sosial. Alih-alih kita memandangnya negatif, mengapa tidak kita jadikan itu sebagai pelajaran untuk lebih bersyukur. Setiap manusia sudah diberi nikmatnya masing-masing. Tinggal kita yang memandang sejauh apa nikmat itu sebagai kebahagiaan yang harus disyukuri.
http://www.slideshare.net/AlJambary/syukur-42442754
Melihat ke atas, hanyalah membuat leher kita pegal. Apa artinya? Jika kita terus-terusan melihat ke atas untuk urusan dunia, selamanya kita akan selalu merasa kurang dan tidak pernah bersyukur. Tapi jika kita memandang hal tersebut sebagai bentuk kenikmatan yang memang sedang dirasakan orang lain, maka insya Allah, hati kita akan lebih sejuk karena terhindar dari segala macam prasangka. So, marilah kita pandang hidup kita sendiri. Karena sesungguhnya dalam hidup kita pun, ada nikmat yang selalu bisa disyukuri :)

Note: Tulisan ini menjadi pengingat bagi diri saya sendiri.

Friday, 19 August 2016

Friday, August 19, 2016 17

Mentor Kehidupan

Sejak kecil, saya punya teman imajiner. Saya ingat sekali, saat SD sepulang sekolah, saat ibu selesai menanyakan nilai-nilai saya di sekolah, tiba-tiba saja saya bicara sendiri. Sejak itulah saya punya teman khayalan. Tapi bukan teman 'yang tidak bisa terlihat' itu ya. Bukan. Karena saya memang bukan anak indigo atau anak yang memiliki kelebihan semacam itu. 

Saya juga tidak tahu pasti mengapa saat itu tiba-tiba saja saya bicara sendiri. Seolah ada teman yang sedang mengajak bicara. Padahal, ya itu saya sendiri juga yang bicara -_- Seiring berjalannya waktu, saya membuat teman khayalan itu seperti apa yang saya inginkan. Ya, apa yang tidak saya dapatkan dari sahabat atau teman-teman saya, saya menciptakan teman khayalan tadi seperti apa yang saya inginkan. Saat saya sedang down, saya menjadikan dia seperti orang yang bijak yang sedang menasihati saya. Jadi kalau boleh dibilang, saya yang asli adalah yang perilakunya buruk, sedangkan dia selalu memiliki perilaku yang baik.

Tapi saat dewasa, saya mulai menyadari, barangkali setiap orang memiliki hal yang sama. Ya, teman khayalan. Teman yang benar-benar bisa menjadi sahabat. Sahabat yang selalu bijak dan menasihati segala hal tentang kebenaran. Dengan kata lain, kini saya bisa menyebutnya mentor.

Tahu mentor kan? Seorang yang bisa membimbing. Yang ia lebih mumpuni daripada kita. Jika kita ingin ahli di suatu bidang, seringkali kita butuh mentor. Jadi siapa mentor itu sebenarnya? Yap, ialah diri kita sendiri. Ia yang mungkin bisa disebut sebagai nurani. Yang tidak pernah berbohong. Yang perilakunya selalu baik. Meski tidak terdengar, tapi ia selalu bergema dalam diri kita.


Setiap orang pasti punya mentor ini. Tapi pertanyaannya, berapa banyak yang mendengarkan apa kata mentor? Saat kita melakukan perilaku yang kita sudah tahu menyimpang, sang mentor dengan hangat mengingatkan. Saat kita tahu kita salah, sang mentor dengan lembut memberitahukan kebenaran. Saat kita, saat kita, dan saat kita melakukan apapun, sepanjang waktu, sang mentor akan selalu berbicara. 

Namun sayangnya, seringkali lebih banyak dari kita yang mengabaikan sang mentor. Kita justru menunggu saat-saat hidup menjadi lebih keras. Dan selanjutnya kita akan meminta nasihat dari mentor di luar diri kita yang kata-katanya lebih kita dengar. Merasa bahwa mentor di luar itu adalah motivator-motivator hebat. 

Yang padahal, semua kata-kata bijak, semua nasihat, sesungguhnya sudah sering kita dengar dari mentor dalam diri. Namun kita justru tidak percaya nasihat itu dan baru percaya ketika mentor dari luar menasihati hal yang sama. Untuk kemudian, kita menyesal karena ternyata semua nasihat yang diberikan adalah nasihat yang sama sekali tidak ada bedanya dari mentor dalam diri. Sungguh ironi. 
catatankehidupan.com
Jika mau disadari, sesungguhnya kita adalah pembelajar. Setiap detik kehidupan selalu ada hal yang bisa kita jadikan hikmah. Atau dengan mudahnya, hal yang bisa kita pahami jika dengan lapang kita mau memperhatikannya. Karena apa, karena sang mentor itu tadi. Mentor dari dalam yang tidak pernah berbohong, selalu bijaksana, dan selalu mengajak pada kebaikan. 

Bahkan jika kau mau menyadari, yang sedang membaca tulisan ini adalah kalian yang mentornya sedang berbicara :)

Jadi, sudahkah kita mendengarkan apa kata mentor diri kita? :)

Wednesday, 17 August 2016

Wednesday, August 17, 2016 18

Bersama Kemerdekaan, Harapan Akan Selalu Ada

Selamat 71 tahun Indonesia! Selamat Hari Kemerdekaan! Alhamdulillah kita semua masih diberi kedamaian dan ketentraman. Tidak terbayang apa jadinya jika Indonesia juga mengalami peperangan seperti negara-negara di timur tengah. Kita sudah jauh dari peperangan macam itu sejak 71 tahun yang lalu. Karenanya saya selalu ingat nasihat sejak sekolah. Kita harus merawat kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya. Kita tidak perlu ikut berdarah-darah melawan penjajah. Cukup mensyukuri kemerdekaan ini dengan menjadi warga negara yang baik juga dengan apa yang bisa kita lakukan. 
https://pixabay.com/id/tiang-bendera-bambu-bendera-147826/
Oke rehat sejenak dari opening yang cukup berat *halah. Sebenarnya hari ini saya mau menulis hal-hal apa saja yang saya rindukan dari momen kemerdekaan 17 Agustus ini. Tapi setelah melihat tulisan Mbak Virly yang berbicara Tentang Indonesia dan Gotong Royong, saya justru jadi terinspirasi hal lain. Thanks Mbak Virly hehe.

Berbeda dari daerah Mbak Virly, di daerah tempat saya tinggal sekarang di Surabaya, justru gotong royong masih sering dilaksanakan. Kerja bakti setiap ada momen spesial, salah satunya untuk menyiapkan momen untuk menyambut 17 Agustus. Bahkan perlombaan juga masih dilaksanakan walau tidak sebanyak tahun kemarin. Berbeda dengan wilayah rumah orang tua di Bekasi, momen 17 Agustus tidak seramai dulu. Terakhir saya ikut lomba itu saat kelas 1 SMK. Tapi sepertinya sekarang sudah dimulai lagi oleh remaja-remaja baru di lingkungan RT mengingat adik saya tahun kemarin pun menjadi salah satu panitianya. 

Sampai sini saya berpikir, barangkali kita tetap harus optimis. Karena mungkin tidak semua daerah yang hilang rasa gotong royongnya. Ya contohnya tempat saya tinggal saat ini. Saya bersyukur bisa tinggal lingkungan rumah yang tingkat kerja samanya masih baik. Saat ada warga yang kesulitan, sakit, ataupun yang meninggal, semua warga masih bergotong royong untuk membantu. 
https://image.shutterstock.com/display_pic_with_logo/1110497/376378447/stock-vector-flat-design-indonesia-icons-and-landmarks-with-fireworks-as-a-background-376378447.jpg
Jadi, sesungguhnya kita masih bisa optimis dengan adanya contoh di atas. Saya yakin banyak daerah lain yang juga masih menerapkan kerja sama masyarakat dengan baik. Pun kita bisa mensyukuri kemerdekaan ini. Kebebasan yang bisa kita nikmati sekarang.

Abaikanlah berita-berita tentang politik yang kelihatannya carut marut, kebijakan pemerintah yang sering berubah-ubah juga berita dari orang-orang yang berulah dan merugikan banyak orang. Daripada mengeluhkan hal itu, mengapa tidak kita yang memperbaiki diri sendiri. Melakukan apa yang bisa kita lakukan. Karena membangun negara memang tidak mudah. Jadi mengubah diri sendirilah hal yang paling mungkin dan paling mudah untuk dilakukan. 

Nanti, saat kita sudah menjadi orang baik dan bisa berkontribusi bagi orang banyak, maka siapa yang diuntungkan? Ya negara pula bukan? :) Lagi pula percayalah, bahwa negara tercinta kita ini masih banyak orang yang baik, peduli juga mampu berkontribusi bagi masyarakat. 

Pada akhirnya, saya ingin mengatakan, bersama kemerdekaan Indonesia, harapan-harapan pasti akan selalu ada :)

Monday, 15 August 2016

Monday, August 15, 2016 40

6 Tulisan Mereka yang Saya Suka

Kalau dulu saya berbagi blog-blog yang sering saya kunjungi, kali ini saya mau berbagi tulisan-tulisan siapa saja yang sedang saya suka. Bisa dibilang, saya juga nyaris selalu membaca tulisan mereka. Ada yang menulis di blog, ada juga yang di Facebook.

1. Langit Amaravati - http://www.langitamaravati.com/

Saya biasa memanggilnya Teh Langit. Kami tidak kenal secara langsung, hanya teman di dunia maya saja. Tapi saya selalu baca tulisan-tulisan beliau. Apa yang membuat saya suka, tulisannya seperti nyastra dan selalu memberi kekuatan. Gimana ya bahasanya. Pokoknya, kalau kamu mau tahu salah satu selera tulisan saya, baca saja tulisan Teh Langit :P
Rasa sakit akibat ditinggalkan adalah stimulan paling hebat yang bisa membuat seorang perempuan nyaris gila. Saya bahkan pernah berniat mengumpulkan uang untuk pergi ke Korea atau Thailand dan operasi plastik. Saya memakai berbagai kosmetik, mengubah gaya berpakaian, diet ketat hingga nyaris bulimia.
Tapi apakah suami saya kembali? Tidak. Maka sejak saat itu saya berhenti ingin menjadi perempuan cantik berdasarkan standar orang-orang.  - Menjadi Sebenar-benar Perempuan Cantik
Menurut saya, Teh Langit adalah wanita yang cukup kuat dan tangguh. Terbukti dari beberapa kisah pribadinya yang dibagikan lewat blog maupun facebooknya. Tulisan-tulisannya juga terlihat selalu jujur. Yang saya suka, kadang Teh Langit menyelipkan humor ringan dalam tulisannya. Saking kuat tulisannya, sepanjang apapun tulisannya, selalu habis saya baca. Karena jarang sekali saya mau baca tulisan panjang di layar. Karena itu, saking sukanya juga, saya membeli salah satu bukunya. Well, bukunya sangat menghibur. Sekalipun kata suami judulnya agak 'menyeramkan' :v


2. Nina Pradani - ninapradani.blogspot.co.id

Berbeda dengan Teh Langit, Kak Nina - begitu saya memanggilnya sudah saya kenal secara langsung. Ya meskipun baru satu kali kami bertemu. Awalnya, kami kenal lewat salah satu komunitas menulis di facebook, yakni Komunitas Bisa Menulis yang digagas Asma Nadia bersama suaminya.

Sejak awal, saya memang sudah membaca tulisan-tulisan Kak Nina. Tulisannya memiliki ke-khas-an sendiri. Lucu-lucu jayus gitu deh kalau saya bilang :v 
Lalu, seolah menemukan permata di sungai, aku menemukan keju di kulkas. Aku pun membubuhkan parutan keju di atasnya. Sambil memarut keju, iseng aku membaca tulisan di kemasannya. Ini kebiasaan burukku. Suka sekali membaca tulisan di kemasan. Kemasan apa saja. Kebiasaan ini terbawa bahkan sampai ke toilet. Karena toilet di rumah bukan toilet kering yang bisa sambil membaca koran, tanganku hanya mampu meraih botol shampoo atau sabun. Aku membaca tulisan dibalik kemasannya walaupun aku sudah membacanya berkali-kali. Harusnya kebiasaan ini bisa membuatku menguasai minimal tiga bahasa asing.
Kembali ke kegiatanku membaca kemasan keju tadi. Oh tidak! Kejunya sudah expired! Aku membaca lagi tulisan itu baik-baik. Benar saja, expired tahun 2015!! Duh, gustii. Pisang keju buatanku. - Pisang
Tapi yang aneh, saat bertemu secara langsung, orangnya kalem, nggak selucu dan senyablak di tulisan-tulisannya. Hehe jaim kali ya :P

3. Dessy Muchlinta

Kalau sedang bosan, kepoin deh Facebooknya Mbak Dessy. Niscaya kamu akan terhibur hehe. Humor dalam tulisan-tulisannya ada saja. Seperti tidak pernah kehabisan bahan humor kalau kata saya.
Pada hari pertama anak masuk sekolah.
Dunia apa yang sedang kita menetap ini, Zainudin?
Kenapa begitu banyak orang-orang yang suka ngeledekin dek Hayatimu ini untuk lekas memakai seragam sekolah di saat hari pertama anak-anak di seluruh semesta masuk sekolah? *ngunyah kacang sisa lebaran
Inget dd vio dulu, dia waktu kecil lebay banget saat sekolah. Kepala maminya harus nongol di jendela. Kalau gak, dia nangis jerit-jerit takut maminya pulang. Sekolah pertama SD maminya masuk ke dalam kelas, duduk di bangku bareng dd vio. Diketawain ibu-ibu. Tengsin.
Tapi meskipun begitu, tulisan-tulisannya menyimpan hikmah kok *ciyee...

4. Arham Rasyid/Arham Kendari

Sama seperti Mbak Dessy, Mas Arham ini juga spesialisnya tulisan humor. Bahkan beliau memang sudah eksis dari jaman blog masih Multiply *uhuk. Jadi bisa dibilang, saya yang telat tahu beliau -_-.

Saya juga rajin ngepoin Facebooknya. Pokoknya kalo lagi bosen, saya ngepoin akun Mbak Dessy sama Mas Arham ini :v
Oia, tulisan Mas Arham pula yang membuat saya untuk pertama kalinya kuat baca E-book yang lebih dari 200 halaman. Ya saking asyik dan lucunya :v Judulnya Jakarta Under Kompor. Karena bukunya sudah tidak beredar dan saya senang sekali saat tahu ada di aplikasi i-Jak :v

5. Happy Hawra - www.riangriang.com

Sudah cukup lama saya tahu Mbak Happy. Awalnya saya lupa gimana, yang jelas saat saya baca tulisan-tulisan di blognya, saya langsung jatuh cinta. Yang khas dari beliau adalah tulisan berjenis prosa yang mendayu-dayu. Haduh kapan saya bisa bikin yang mendayu begitu -_-
Pagi hari dan semua yang masih sendiri.
Aku ingin bangun kali ini. Kadang-kadang, keinginan adalah teman paling lemah dari ragu-ragu. Tak lebih kuat dari malas. Tak selalu bisa mengalahkan putus asa. Katakan saja, ada sedikit lebih energi.
Aku menggelar biruku. Aku sadar kalau kepalaku sepenuh-penuhnya debu. Mungkin aku butuh kemoceng. Atau lap basah. Atau ..... seseorang? Tidak nyambung, kan? Kukira tidak selamanya kita perlu berusaha menyambung-nyambungkan. Mungkin hanya perlu ada? Cukup ada. Kukira itu dulu. Dan... urusan nanti... aku tidak tahu. “Dia mengetahui, sedang kamu tidak.” Sudah lazimnya seperti itu. - Pagi; Semacam Doa yang Ingin Kita Kembangkan
Huhu bagus kan?

6. Afi Nihaya Faradisa

Gadis ini masih SMA. Tapi dia telah menggugah banyak orang dengan status-statusnya. Berawal dari statusnya tentang pendidikan, yang membuat saya tertarik menjadi temannya. Bahkan suami saya pun menyetujui, kalau gadis ini bisa dibilang keren. Banyak orang yang juga mengatakan hal yang sama. Meski statusnya panjang-panjang, tapi saya selalu tertarik membacanya. Karena selalu menyimpan nasihat yang tersirat. Salah satunya status di bawah ini:
Kita tahu bahwa sifat sabar dan jujur adalah hal yang baik untuk diterapkan, namun kita butuh kyai dan trainer pemberdayaan diri untuk memberitahu kita hal yang sama ratusan kali.
Kita tahu bahwa bermalas-malasan dan menunda pekerjaan itu salah, namun kita butuh motivator untuk 'menyuruh' kita memerangi perilaku merugikan.
Aku itu kadang bingung apakah aku harus tetap menerbitkan tulisan panjang lebar seperti ini.
Mau bagaimana lagi, model yang seperti apa lagi? Sebenarnya para pembaca sudah tahu semua isi tulisanku kok.
Mereka hanya butuh digerakkan oleh otoritas selain dari 'suara' dan dorongan dari diri mereka sendiri. - Nasehat
Psst, saya dapat bocoran, ternyata kelihaian Afi dalam menulis disebabkan buku-buku yang dia baca :)
-x-

Bagaimana? Apakah teman-teman pernah membaca tulisan-tulisan mereka juga? :)

Setiap orang memiliki ciri khasnya masing-masing. Begitu pula dalam tulisan. Sekalipun terkadang saya ingin bisa menulis seperti mereka, namun saya selalu ingat kalimat pertama tadi. Setiap orang memiliki ciri khasnya masing-masing. Dan setiap tulisan, akan memiliki pembacanya sendiri :)

Friday, 12 August 2016

Friday, August 12, 2016 8

Pro Kontra? Santai Ajalah!

Hmm... maraknya perkembangan media sosial saat ini jadi menambah marak saja kabar-kabar yang disajikan. Dari mulai sekedar postingan status, foto, sampai berita-berita terkait kejadian dalam dan luar negeri, apa saja pokoknya. Ada saja yang bisa dijadikan bahan diskusi.

Tapi mirisnya, sering kali kabar-kabar ini ditanggapi secara reaktif dan diskusi tidak jarang malah jatuh jadi perdebatan sengit. Saling lempar komentar. Saling ngotot-mengotot. Sampai merasa bahwa diri paling benar.
https://pixabay.com/id/ipad-maket-apple-bisnis-komputer-632512/

Selalu akan ada pro kontra

Kawan, pro kontra itu sudah biasalah ya. Apapun status dan beritanya, akan selalu muncul kedua hal ini. Tidak usahlah kita emosi. Meninggi-ninggikan suara seolah yang lain salah. Kalau kita memang kontra, ya sudah barangkali yang pro punya pendapat sendiri. Pemikiran orang kan memang berbeda. Kita tidak bisa selalu menyamakan persepsi. Ya karena isi kepala sudah beda. Itu artinya, hasil pandangannya pun akan berbeda.

Kalau emosi, yang ada kita hanya buang-buang waktu dan tenaga untuk hal-hal yang sebenarnya jauh lebih penting daripada sekedar mengurusi kabar terkini yang tidak ada kelar-kelarnya.

Cari tahu kebenarannya

Ini yang tidak kalah penting. Seringkali kita membaca terlalu cepat. Tanpa mencari tahu kelanjutan kebenaran sebuah kabar atau berita. Padahal, hal-hal seperti ini kadang ditimbulkan oleh oknum-oknum nakal yang senang menyebarkan berita hoax (bohong.red). Dia senang jika postingannya jadi ramai. Si pembuat berita senang karena trafficnya naik, tinggal kita deh yang menanggapinya terlalu serius hingga timbul perang-perangan komentar. Dia tertawa, kita yang kesal. Huh! 

Di sinilah makanya ada anjuran tabayyun. Mencari kebenaran dari sebuah berita. Kalau memang niat kita membagikan, paling tidak kita sudah tahu kebenaran berita tersebut. Jangan gegabah ingin cepat menyebarkan, padahal kita tidak tahu benar atau tidaknya sebuah berita. Salah-salah, yang ada kita malah menyesatkan orang lain. Naudzubillah. 

Pro kontra? Santai ajalah!

Stay positive yuk! Belajar bijak menanggapi segala sesuatunya. Tidak selamanya semua kabar harus ditanggapi. Ada hal yang memang tidak perlu diseriusi.

Pun selama tidak melanggar norma dan aturan yang berlaku di agama dan masyarakat, biarlah orang dengan pendapatnya, kita pun dengan pendapat sendiri. Tidak perlu saling salah menyalahkan. Sebab kebenaran versi manusia itu akan selalu berbeda. Jika pun orang lain salah, masih ada banyak cara untuk mengingatkannya secara elegan :)

So, santai ajalah menghadapi media sosial!

Daripada emosi, mending ngopi yuk! ☕

My Community

kumpulan-emak-blogger Warung Blogger Blogger Perempuan bloggermuslimah.com Blogger Reporter Indonesia