Friday, 20 October 2017

Friday, October 20, 2017 25

Belajar Menjadi Gelas Kosong

Ada seorang wirausahawan, yang ceritanya dia membuat sebuah aplikasi. Niatnya sih mungkin untuk memudahkan orang lain. Tapi ternyata ada pelanggannya yang tidak mengerti cara memakai aplikasi tersebut. Alih-alih si wirausahawan membenahi aplikasinya, dia justru malah menyebut pelanggannya dengan kata GAPTEK. Bahkan dia mengartikan bahwa GAPTEK = MALAS.

Kisah di atas itu kisah nyata. Wong dia posting sendiri statusnya begitu. Dia nulis di facebooknya secara terang-terangan tentang ada pelanggannya yang GAPTEK. Suami malah ketawa sendiri sih baca statusnya 😂

Kalau dipikir, ya emang lucu juga sih. Saya jadi ingat drama Jepang, Rich Man Poor Woman yang belum lama ini saya tonton. Jadi ceritanya Hyuga Tohru, si tokoh utama sedang membuat aplikasi. Ketika dia menyuruh Makoto, anak buahnya mencoba, ternyata Makoto tidak bisa. Dan Hyuga akhirnya mengerti, kalau orang biasa aka tidak pintar saja tidak mengerti, berarti harus ada yang dibenahi cara penggunaan aplikasinya. Tentu saja supaya orang biasa pun bisa mengerti. Dengan kata lain, supaya aplikasi tersebut mudah untuk digunakan semua orang.

Begitulah yang seharusnya dilakukan wirausahawan yang bilang pelanggannya GAPTEK tadi. Sebab SALAH BESAR kalau dia menganggap pelanggannya gaptek. Karena seharusnya yang harus dibenahi bukan pelanggan tersebut, tapi aplikasinya yang mungkin sulit dipahami.

Belajar menjadi gelas kosong 

via Pixabay
Mungkin hikmahnya di sini kita harus belajar untuk TIDAK merasa bahwa diri menjadi yang paling pintar dan paling tahu. Karena ketika kita menganggap diri sudah paling tahu, maka kita tidak akan bisa menerima masukkan. Bahkan bisa-bisa kita akan menganggap orang lain itu bodoh. Padahal bukan orang lain yang harus disalahkan, tapi cara kitalah yang seharusnya dibenahi.

Sama seperti kita belajar menjadi gelas kosong. Gelas yang kosong ibarat kita merasa diri bodoh (belum tahu), dengan begitu maka akan mudah untuk diisi apa saja, mudah diberi masukkan. Tapi ketika gelas kita sudah terisi atau penuh, maka ketika diisi isinya akan jadi tumpah-tumpah.  Kita akan sulit menerima masukkan dari orang lain.

Dalam kehidupan Belajar Menjadi Gelas Kosong memang harus kita terapkan dimana dan kapanpun. Khususnya:
  • Saat kita bertanya atau meminta saran/nasihat.
Kalau kita lagi nanya sesuatu atau minta saran/nasihat dari orang lain, ya harusnya kita dengarkan penjelasan orang tersebut sampai tuntas. Kalau perlu ikuti saran dan nasihatnya. Jangan menyanggah apapun dengan teori kita. Lha wong kita lagi nanya dan minta saran, kok malah ngeyel sendiri. Aneh. Tau gitu nggak usah nanya aja. Ya kan, malah ngeselin kalo dieyelin 😂

  • Saat minta pendapat, maka terima apa saja pendapatnya. Bukan disanggah. 
"Eh bentar lagi gue kan ngelahirin nih. Menurut lu, kereta bayi itu penting nggak sih? 
"Nggak terlalu sih. Kan bisa digendong aja. Atau bisa minta gantian sama bapaknya."
"Tapi kan pegel kalo digendong terus. Mending pake kereta bayilah. Si bayi jadi bisa ditaro."
"Ya udah terserah. Kalo mau pake ya pake aja. Ngapain tadi lu nanya."
Lucu ya kalau ada kejadian di atas. Mungkin kita juga pernah mengalami 😁 Kita nanya pendapat, tapi ketika orang yang dimintai pendapat menjawab, kita malah merasa pendapat sendiri paling benar. Yah atuh gitu ngapain mintaaa. Da gagal paham jadinya 😂

  • Saat belajar, maka jangan sok tahu. 
Ini yang sering disampaikan orang-orang bijak. Setinggi apapun kita merasa diri pintar, tapi saat kita mau mencari ilmu, membaca buku, kosongkanlah diri kita. Supaya kata-kata atau masukkan dari  buku, pemateri, mentor, atau guru kita mudah diterima. Dengan begitu, ilmu akan lebih cepat masuk.
Semakin kita banyak menuntut ilmu, kita akan merasa diri semakin bodoh. Semakin bodoh, kita akan haus terus dengan ilmu. - Unknown
  • Saat kita membuat atau menjual produk, maka jangan menganggap orang SAMA pintarnya dengan kita. 
Nah ini yang saya cerita di awal tadi. Kalau misal kita membuat atau menjual produk, ya JANGAN menganggap semua orang bisa mengerti. Tapi justru tempatkan posisi kita sebaliknya. Kita anggap TIDAK semua orang mengerti. Maka dengan begitu, kita bisa bijak menerima masukkan orang lain. Atau kita bisa membuat atau menjual produk yang sederhana. Yang mudah digunakan. Karena ingat sekali lagi, bahwa tidak semua orang bisa mengerti sebagaimana kita mengerti.


Belajar menjadi gelas kosong sepertinya tidak sulit ya. Kita hanya perlu merasa rendah (kosong). Agar lebih bisa menerima ilmu, dan menerima masukkan dari luar. Sehingga tidak ada lagi yang harus tumpah dan jadi sia-sia 😊

Wednesday, 18 October 2017

Wednesday, October 18, 2017 13

Tahapan Perkembangan Otak Anak dan Bagaimana Memaksimalkannya

Sebagai ibu baru dan hidup di era modern *tsah, saya nggak mau ketinggalan informasi apalagi kalau terkait soal anak. Bukan hanya tentang parenting, tapi juga soal perkembangan otak anak. Bahwa ternyata orang tua dan orang yang mengasuh sangat berpengaruh signifikan pada perkembangan otak anak.
via Pixabay
Otak bayi memang sudah berkembang sejak masih janin. Dan kehidupan paling penting untuk perkembangan otak anak adalah enam tahun pertamanya.

Maka dari itu, untuk memaksimalkan kecerdasannya, sebelumnya - sebagai orang tua, kita perlu tahu tahap-tahap perkembangan otak anak. Dilansir dari website theAsianparent Indonesia, berikut tahapan perkembangan otak anak dari masa kehamilan sampai 10 tahun.


Masa kehamilan

Dari sebelum hamil, kesehatan ibu sangat penting untuk pertumbuhan dan otak bayi. Asupan nutrisi yang baik, gaya hidup yang sehat seperti menghindari rokok, alkohol dan obat-obatan merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan untuk janin yang dikandung. Dari segi makanan pun menentukan.  Makanan yang mengandung Omega 3 atau DHA sangat baik untuk perkembangan otak bayi, terutama pada usia kehamilan 7 bulan sampai masa menyusui.


Saat bayi lahir

Lebih dari 100 miliar sel otak sudah dimiliki bayi sejak lahir. Sel-sel ini membantu mengontrol fungsi-fungsi utama dalam tubuh misalnya pernafasan sampai dengan fungsi yang lebih kompleks misalnya fungsi intelektual.

Koneksi antar 100 miliar sel ini akan terjadi sepanjang masa pertumbuhan anak. Koneksi terjadi saat anak mengalami sesuatu yang baru dengan melibatkan indera mereka. Seperti menimang, berbicara, senyum, serta memperkenalkan bayi pada pandangan, bau, dan rasa baru. Semakin banyak pengalaman ini diulang, maka semakin kuat koneksi yang terbentuk. Tentu saja hanya pengalaman positif yang membantu perkembangan otak anak, sedangkan pengalaman negatif dapat menyebabkan masalah emosional, perilaku, dan pembelajaran. Pada sekitar umur 3 tahun, koneksi antar sel ini paling banyak terjadi.


Tahap-tahap perkembangan otak anak

Inilah masa-masa perkembangan otak anak yang bisa kita manfaatkan untuk memaksimalkan perkembangan kecerdasannya:
  • Perkembangan motorik : selama kehamilan sampai dengan 5 tahun
  • Perkembangan emosional : sejak lahir sampai 2 tahun (paling sensitif adalah antara 10-18 bulan)
  • Penglihatan : sejak lahir sampai 2 tahun (terutama antara 2-4 bulan dan 8 bulan)
  • Kosa kata : sejak lahir sampai 3 tahun (terutama antara 6-12 bulan)
  • Bahasa kedua : antara 6-10 bulan
  • Logika / matematika : sejak lahir sampai 4 tahun
  • Musik : sejak lahir sampai 10 tahun

Nah kalau sudah mengetahui masa-masa perkembangan otak anak, kita bisa memberikan pengaruh positif pada setiap tahap tersebut supaya anak menjadi lebih cerdas. Misalnya, untuk mengajarkan banyak kosa kata dan kemampuan bahasa, lakukan pada usia 6-12 bulan dengan mengajak anak bicara walaupun mungkin ia belum mengerti. Ini  cara paling ampuh untuk merangsang perkembangan bahasanya.


Pun saat memilih mainan untuk anak. Kita bisa memilih yang sesuai dengan setiap tahap perkembangannya agar bisa merangsang perkembangan kecerdasannya, motorik, emosional, serta logika.

Monday, 16 October 2017

Monday, October 16, 2017 10

5 Tips Memilih Sepatu Pria yang Tepat dan Nyaman

Dua tahun lalu saya bingung milih kado buat ulang tahun suami. Pas saya ingat sepatu sandalnya sudah agak kusam, jadi kepikiran deh belikan dia sepatu sandal aja. Sayangnya begitu sampai department store pun masih bingung haha. Karena banyak banget sepatu sandal yang tersedia dan bagus-bagus. Sembari mengingat-ingat selera suami, saya pilih salah satu sepatu sandal warna hitam.

Begitu hari H, dan dia menerima kadonya... Jeng jeng ternyata dia kurang suka! Mana ukurannya nggak pas. Hiks sedih. Untungnya sih bisa ditukar. Jadi begitu tahu dia nggak suka, ya saya langsung tukar dong. Dan suami minta ditukar sepatu kerja aja haha.Ya sudah saya belikan dia sepatu kerja warna hitam. Alhamdulillah, dia suka. Karena sebelumnya sempat saya tanya-tanya dulu mana yang dia sukai kekekek 😂
credit: MatahariMall

Meskipun sepatu pria kadang terlihat sama a.k.a gitu-gitu aja, tapi ternyata ada tipsnya lho, bagaimana memilih sepatu pria yang nyaman.

5 tips memilih sepatu pria yang tepat dan nyaman:

1. Pilih sepatu yang tepat sesuai keperluan.

Kalau kata suami sih, sepatumu mencerminkan jiwamu. Jadi misal lagi pakai sepatu yang casual, jiwanya terasa lebih santai. Tapi kalau sepatu pantofel, jiwanya terasa gagah. Haha iya emang ya? Tapi di balik itu, seorang pria pun harus menyesuaikan penampilannya dengan keperluan. Kalau kerja di tempat formal, ya pakailah sepatu kerja atau pantofel. Kalau acara santai, pakailah sepatu casual. Demikian pula saat olahraga, pakailah sepatu yang memang khusus untuk olahraga. Jangan terbalik-balik yaa 😁

2. Harus pas dengan ukuran dan kenyamanan. 

Kaki termasuk salah satu anggota tubuh yang penting. Maka memilih alas kaki yang pas dengan ukuran dan kenyamanan adalah suatu keniscayaan. Agar aktivitas kita tetap berjalan dengan lancar. Tanpa merasa kesakitan dengan ukuran sepatu yang sempit atau kelonggaran karena kebesaran. Pun tidak nyaman. Jadi singkirkan dulu deh yang namanya gaya-gayaan. Kalau gaya tapi tidak pas dan nyaman, buat apa?

3. Pilih warna netral.

Ada warna yang kadang tidak cocok untuk dipakai sesuai warna kulit atau untuk pakaian tertentu. Mau main aman? Pilih saja warna netral 😁 Seperti hitam dan cokelat. Mau dipakai untuk warna kulit dan pakaian apa saja, kedua warna ini pasti masuk deh.

4. Material harus bagus.

Apapun jenis sepatunya, material yang dipilih harus berkualitas. Ya meskipun kadang memang harus merogoh kocek yang agak dalam. Tapi demi kenyamanan, nggak ada salahnya juga kan ya 😊 Kualitas ini juga akan berpengaruh pada awet dan tidaknya sepatu. Kalau berkualitas dan mahal tapi awet, lebih bagus kan. Daripada murah, tapi kualitasnya kurang yang membuat kita harus beli sepatu lagi.

5. Setiap jenis sepatu memiliki cara perawatan masing-masing.

Setelah memilih sepatu yang tepat, maka langkah selanjutnya adalah merawat sepatu tersebut agar tetap awet.  Semakin sering kita gunakan sepatu, maka harus lebih sering merawatnya. Seperti membersihkan sneaker cukup mudah karena bahannya dasarnya terdiri dari karet, dan kulit sintetis.

Lalu merawat sepatu kulit maka yang kita butuhkan sikat yang terbuat dari karet dan cairan pembersih khusus karena tidak boleh dibesihkan dengan air.  Bila ada kotoran yang membandel kita bisa memakai semacam kapur khusus untuk mengangkat kotoran tersebut. Dan perawatan ini harus dilakukan secara rutin agar tetap terjaga kelenturan kulitnya. Bila sedang tidak dikenakan, kita bisa menggunakan shoe tree, semacam penyumpal berbahan kayu/plastik yang di masukkan ke dalam sepatu.


Nah, itulah 5 tips memilih sepatu pria yang tepat dan nyaman. Bagaimana? Jadi, mau sepatu yang seperti model apa nih? 😊

Wednesday, 11 October 2017

Wednesday, October 11, 2017 20

5 + 1 Alasan Mendadak Susah Menulis

Akhir-akhir ini saya ngerasa apa banget deh. Pengennya blog update terus, tapi kok ya susah banget buat nulis. Entah apa yang saya pikirin. Padahal di rumah udah nggak sibuk-sibuk banget karena ada asisten. Lagi nggak ada problem yang berarti juga. Jadi harusnya kalau disimpulkan sebenarnya saya baik-baik aja kan. 
via Pixabay
Akhirnya Jum'at minggu lalu, saya bikin survey kecil-kecilan lewat status Facebook. Karena saya banyak berteman dengan teman-teman blogger atau penulis, saya iseng tanya ke mereka, "apa yang biasanya menyebabkan mereka mendadak susah menulis?" Ternyata dari jawaban yang terkumpul sebagian besarnya itu emang bener banget. Bahkan pernah saya alami juga. Jadi deh, dari sini saya malah dapat inspirasi buat nulis hehe. Makasih teman-teman 😁

Nah kira-kira apa aja sih yang bikin blogger atau penulis suka mendadak susah nulis?

5 + 1 alasan mendadak susah menulis

1. Malas, tidak mood.

Ini kayaknya sih udah jadi alasan klasik bin nomor wahid ya. Rasa malas atau tidak mood itu memang pengaruh banget kemana-mana. Termasuk untuk urusan menulis. Kalau lagi mengalami keduanya tuh, kayak seakan susah banget mau nuangin kalimat yang ada di otak ke tulisan. Alhasil, karena susah, timbulnya jadi nggak nulis. Bilangnya, "ah ya udahlah lagi males, nggak mood. Ntar aja nulisnya." Hayo, siapa yang begitu? 😁

Saya pernah dikasih tahu, orang-orang yang memang kerjaannya atau pencarian nafkahnya lewat nulis, nggak bisa tuh mengandalkan rasa malas atau mood buat nulis. Malas nggak malas, mood nggak mood ya mereka harus tetap menulis. Kalau mereka nggak nulis, mau dapat penghasilan dari mana? Nah mungkin kita bisa belajar dari orang-orang ini. Ya semacam menanamkan pikiran "lu harus tetap nulis apapun keadaannya." *ketok kepala sendiri* 

Tapi kalau kita merasanya ya nulis itu cuma suka-suka alias buat having fun atau sampingan aja ya sah-sah aja sih buat malas atau nggak mood hehe. Tapi jangan kelamaan juga, kasihan nanti keahlian nulisnya jadi berkurang *eeh - ngomong ke diri sendiri 😞

2. Urusan anak dan domestik rumah tangga.

Ini terkhusus untuk emak-emak yaa. Seringkali mendadak susah nulis gara-gara kerjaan rumah belum kelar. Cucian masih menunggu, setrikaan menumpuk, lantai belum dipel, dan segudang kerjaan lainnya. Eeh belum lagi anak masih menyusu, masih main dengan riangnya, bikin emaknya jadi senewen kalau dipaksa nulis *hihi. 

Ya udah terpaksa kalau udah begitu harus nunggu si anak tidur dulu. Tapi kalau soal kerjaan rumah ya tinggal dilihat aja konteksnya. Lebih penting mana nulis dengan urusan rumah? Kalau sekedar nulis buat sampingan ya urusan rumah aja dulu kelarin. Tapi kalau nulis emang penting apalagi buat cari nafkah ya tunda aja dululah, atau delegasikan kerjaan yang bisa didelegasikan *eeh 😁

3. Beban hidup: stres, capek.

Mana enak sih nulis dalam keadaan lagi stres atau capek? Nggak enak ya kayaknya. Jadi rasanya wajar aja kalau ide kita jadi mandeg. Kemudian rasa malas jadi menjelang. Kalau udah begitu bawaannya pengen istirahat aja, piknik ke tempat-tempat liburan yang seru, atau menenangkan pikiran dengan cara lain. 

Tapi sebenarnya kalau stres itu, malah bisa kita terapi dengan nulis lho. Karena nulis seringkali juga bisa menenangkan pikiran 😁

4. Kurang bahan riset.

Apalagi nulis buat hal yang penting. Kayak job, nulis buku, atau pun lomba misalnya. Tentu saja nggak bisa sembarangan. Harus riset dulu supaya tulisannya bisa lebih matang. 

Nah kalau bahan riset kurang, wajar kalau jadi merasa mendadak susah nulis. Karena pasti kita kepikiran kalau tulisan banyak kekurangannya, otomatis tulisan yang dihasilkan pun jadi nggak maksimal kan. 

5. Terlalu banyak yang dipikirkan dalam artian: bagaimana ya kata-katanya, ada yang baca nggak ya, dll. 

Kalau ini bisa dibilang semacam kekhawatiran yang berlebihan kali ya 😁 Duh kira-kira tulisanku bakal bagus nggak ya? Ada yang baca nggak ya? Gimana nih merangkai kata-katanya? Gini atau gitu? Endebrei endebrei. Akhirnya nggak jadi nulis deh *eeh 😂

Padahal kalau kata Bunda Asma Nadia, "tulis aja dulu, edit belakangan." Saya pernah praktekkin nih. Apa yang ada di kepala, saya tuangin aja terus. Tanpa lihat gimana rangkaian kalimatnya. Apa ada yang typo atau enggak. Pokoknya nulis sampai selesai. Ya bener sih, hasilnya tulisan jadi berantakan haha. Tapi lebih baik begitu. Karena akhirnya kita menghasilkan sebuah tulisan. Dibanding kita terlalu memikirkan editing sejak awal, justru bikin tulisan jadi tertunda-tunda. 

Kalau soal ada yang baca atau enggak sih, woles aja. Balik lagi, lihat dulu konteksnya, nulis buat apa. Kalau penting ya memang harus diperiksa berulang-ulang. Tapi kalau sekedar buat curhat di blog personal, ya publish aja dulu hehe. Karena percayalah, setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri *uhuk. 

6. Alasan-alasan lainnya: koneksi buruk, sudah lewat deadline, perangkat (laptop, hp, dll) rusak, kurangnya baca buku, dsb.

Sinyal jelek, deadline udah lewat, laptop rusak, hp nggak bisa diharapkan yauda kelar hidup lo euh jadi mendadak susah deh buat nulis. Ujung-ujungnya malas lagi, ketunda lagi 😂

Saya juga pernah mengalami tuh. Lagi enak-enak nulis di blog, eh WIFI di rumah mendadak mati. Ya udah alhasil tutup laptop, tulisan nggak kelar. Padahal kalau niat ya bisa kan dilanjutkan via handphone pakai paket data, tapi ujung-ujungnya ya apalagi kalau bukan MALAS karena sayang kuota 😂

Dan kurang baca buku itu juga pengaruh banget deh. Saya ngerasain, pas kurang baca, jadi seperti kurang peka, perbendaharaan kata pun seperti nggak ada perkembangan. Makanya, sekarang saya mau mulai rutin baca buku lagi. Setidaknya supaya ingatan saya juga tidak melemah 😁 Memang sih, seorang blogger yang kerjaan utamanya menulis ya tentu saja harus tetap rajin baca buku. Supaya tulisan yang dihasilkan pun tidak monoton.

Selanjutnya alasan-alasan yang nggak bisa diprediksi. Situasi yang tidak mendukung.  Kayak misal lagi enak-enak nulis, eh anak bangun, eh tetangga manggil minta tolong, eh hujan - cucian belum diangkat, mendadak ada amanah baru yang lebih penting dan harus ditunaikan, atau segudang alasan lainnya yang nggak bisa ditunda 😂 Ya sudah pekerjaan menulis pun harus dikalahkan dulu deh untuk sementara waktu 😂


Yah begitulah hidup *eh. Ada aja halangannya bahkan dalam urusan tulis menulis. Jadi harus dilihat dulu, apa alasan yang bikin kita mendadak susah nulis? Apakah alasan itu penting atau tidak? Apakah hanya karena ego pribadi atau karena urusannya memang urgent? Dan mau sampai kapan kita berhenti menulis? Itu juga bisa dipikirkan. Intinya sih, kembali lagi pada urgensi menulis kita 😊

So, mana nih alasan susah menulis yang pernah kamu alami? Kalau saya kayaknya hampir semua pernah mengalami alasan-alasan di atas 😂

Sunday, 8 October 2017

Sunday, October 08, 2017 10

Sahabat Terbaik

Sohibunnisa, sahabat wanita. Terjemahan yang sebenarnya agak asal-asalan kayaknya 😂 Tapi ya nggak beda jauh juga sih dengan di Al-Qur'an. Karena di Al-Qur'an sendiri ada kata Sohibbah, yang kalau diterjemahkan artinya istri. So, mari kita samakan saja persepsi bahwa Sohibunnisa itu memang Sahabat Wanita. Bukan istri lho ya. Lebih ke ya "sahabat buat wanita" gitulah ceritanya 😂

Mungkin saya udah berkali-kali cerita tentang Sohibunnisa. Jadi nggak perlu saya ceritain lagi lah ya. Intinya nama Sohibunnisa ini adalah semacam nama 'genk' antara saya dan salah satu sahabat. Yang mana eeeuuung... sekarang kayaknya kami sudah tidak layak disebut sahabat lagi hehe 😊

Gini, jadi sebenernya saya terinspirasi dengan postingannya Mbak Annisast tentang Pertemanan Orang Dewasa. Yang kalau kata Mbak Annisa tuh semakin dewasa, semakin dikit teman-teman kita. Ya emang bener sih. Saya juga ngerasain banget! 

My husband is my BEST friendship

via Pixabay
Sahabat saya sekarang ya cuma suami tok. Udah. Bahkan keluarga kayak misal orang tua, kakak-kakak, adik pun, ngerasanya nggak gimana-gimana banget. 
Karena definisi sahabat versi saya adalah sahabat itu ada di dalam segala suka duka dalam waktu 24 jam. Yang kalau kita mau cerita ya cerita aja. Tanpa harus takut dimarahi, tanpa harus takut dihakimi, tanpa harus dibuat malu, tanpa mikir waktunya, tanpa mikir dimananya, ya or all about it lah pokoknya. Dan semua itu ada di SUAMI aja.
Kalau keluarga kan beda ya. Ada kalanya masih ada hal-hal yang nggak perlu kita omongin hehe. Kayak misalnya masalah dengan suami atau keluarga kecil kita. Pasti nggak semualah bisa diomongin karena nggak layak juga. Jadi balik lagi kan, setelah menikah, siapa lagi yang bisa jadi teman setia kita selain suami dan anak (mungkin?)

Itu saya lho ya nggak tau Mas Anang 😂

Jadi kalau ditanya apakah saya benar-benar nggak punya sahabat selain suami? Ya iya. Saya nggak punya sahabat wanita apalagi laki-laki di luar. 

Kita hanya 'teman biasa'

Trus masa lalu, semisal masa sekolah atau kuliah, yang dulu pernah saya sebut sebagai sahabat gimana? Ya sorry to say, kalau sekarang saya hanya menganggap mereka teman biasa aja. Karena lihat lagi paragraf di atas arti sahabat versi saya hehe. 

Yes, yang bisa jadi teman-teman saya mungkin banyak. Tapi sahabat saya cuma satu. Saya mau ngapain lagi cerita ke orang, kalau di rumah sudah ada yang bisa menampung segala cerita dan keluh kesah saya *uhuk. Buat apa lagi saya punya sahabat di luar, sementara saya punya orang yang selalu siap menyediakan pundaknya untuk bersandar *ciye. 

Maka jujur, salah satu alasan dulu saya ingin menikah muda adalah karena saya kepingin itu semua. Saya kepingin punya sahabat yang bisa jadi segala-galanya buat saya 🙈🦎

Kalau saya mengandalkan orang luar, itu sangat tidak mungkin karena mereka pasti juga punya kesibukan. Yang sewaktu-waktu bisa aja mereka tidak bisa hadir untuk saya atau ada perpisahan yang mendadak misalnya. 

So, apakah saya menyesalkan kalau 'nggak punya sahabat' dari luar? Ya enggak sama sekali. Sebab saya sudah paham sekali. Bahwa ini memang sudah fasenya. Saya sudah dewasa sekarang. Sudah menikah. Sudah beda dengan saya yang dulu dari mulai penampilan sampai topik pembicaraan. 

Well, pada akhirnya saya bersyukur karena punya suami yang nggak hanya berperan sebagai imam, pencari nafkah, atau ayahnya anak-anak saya. Tapi beliau juga bisa menjadi sahabat TERBAIK bagi istrinya. 

Oh, thankyou my husband :*

Kalau kamu, siapa sahabatmu? Cerita dong! 😊

Sunday, 1 October 2017

Sunday, October 01, 2017 10

Liburan ke Tempat Wisata Alam dan Edukasi

Happy weekend teman-teman! 🙆 

Pada jalan-jalan kemana hari ini? Ke mall, ke kebun binatang, ke tempat-tempat seru di kota kalian, atau ke mana? Wah seru yaa.  Atau jangan-jangan lagi di rumah aja? Nggak apa-apa juga kok. Kalian bisa memanfaatkannya dengan baca postingan blog saya hehehe 😁

Yang bingung mau ngapain lagi kalau weekend, baca aja postingan Mak Utie tentang Weekend Bersama Keluarga. Emang sih nggak ada yang bisa menandingi bahagianya liburan bareng keluarga. Mau kemana aja, asal sama keluarga kayaknya asyik aja *tsah. 
Emir dan ayah naik gajah 😁
Saya sendiri hari Sabtu minggu kemarin liburan ke Kebun Binatang sama suami dan anak-anak. Hitung-hitung sekalian mengenalkan binatang-binatang ke Emir. Secara memang di rumah, kami sudah sering ngajarin nama-nama binatang ke dia. Dan kebetulan saya pun belum pernah ke Kebun Binatang Surabaya hehe. 

Saya memang lebih seneng jalan-jalan di tempat terbuka gini. Selain murah, suasananya lebih alami. Plus nambah pengetahuan karena biasanya di tempat hiburan semacam kebun binatang gitu dipasang plang yang menjelaskan asal usul atau perkembangbiakan hewan-hewan. Yaa meskipun seusia Emir dan adiknya belum ngerti. Tapi minimal dengan mengajak mereka ke tempat terbuka, mereka jadi punya pemandangan baru.


Liburan alam dan edukasi, perluas pandangan dan pengetahuan

Selain kebun binatang, wisata yang bisa nambah pengetahuan biasanya museum, tempat-tempat bersejarah, atau wisata alam seperti kebun buah, air terjun, taman-taman yang mana biasanya mereka juga menyediakan plang berisi tulisan yang bisa nambah pengetahuan kita. 

Dengan begitu, liburan jadi nggak sekedar hiburan. Tapi kita juga bisa mengajarkan anak-anak terutama untuk mengenalkan mereka untuk menambah pengetahuan baru. Nah dengan cara bermainlah biasanya pengetahuan itu lebih mudah masuk untuk anak-anak. 

Ini saya pelajari dari orang tua saya. Nggak sekali dua kali mereka sering ngajak saya, kakak-kakak dan adik ke tempat-tempat yang emang cocok buat wisata anak-anak. Biasanya kami dibawa ke museum, tempat-tempat terbuka, atau pun tempat bersejarah. Bahkan waktu zaman SMK saya dan teman-teman juga suka main ke Kota Tua di Jakarta 😁

Makanya, nggak heran kalau sampai dewasa sekarang, saya jadi kebawa suka sama tempat-tempat yang berbau edukasi dan alam 😁 Alhasil, saya juga pengen menurunkan itu ke anak-anak saya 😁

Bersyukurnya, semakin ke sini semakin banyak wisata yang berbau edukasi dan alam gitu. Kayak di Surabaya aja, selain Kebun Binatang misalnya ada Tugu Pahlawan, Monumen Kapal Selam, Taman Mangrove, Kebun Bibit, dan masih banyak lainnya 😊 

Jadi deh, kita nggak perlu bingung lagi mau kemana. Karena tempat wisata sekarang sudah menjamur di setiap kota 😁

Nah kalau teman-teman, sukanya liburan kemana nih? 

My Community

kumpulan-emak-blogger Warung Blogger Blogger Perempuan Blogger Reporter Indonesia