Wednesday, 20 September 2017

Wednesday, September 20, 2017 26

Dari Ngeblog, Aku Belajar 5 Hal Tentang Kehidupan

Dari ngeblog, aku belajar 5 hal tentang kehidupan. Judul yang sebenarnya nggak jauh beda dan terinspirasi dari postingannya Mbak Carra tentang 5 Pelajaran tentang Hidup yang Saya Pelajari dari Aktivitas Blogging.
via Pixabay
Kadang nggak nyangka kalau saya bisa bertahan ngeblog sampai sekarang. Padahal dulu sempat ragu, apakah setelah menikah dan punya anak, saya masih bisa tetap ngeblog? Ternyata, ya ini. Saya masih bisa ngeblog! 😊 Bahkan setelah punya dua anak.
Tapi tekad memang tekad, kalau sudah kuat rasanya sulit dipatahkan. Kecuali diri sendiri yang membuatnya putus asa.

Suka duka ngeblog, yang memberi aku 5 pelajaran tentang kehidupan

Selama hampir 5 tahun ngeblog, tentu saja banyak suka dukanya. Suka karena lancar menulis, banyak inspirasi bertebaran, menang lomba, dapat job, bisa kenal banyak teman, dan sebagainya. Duka karena tidak ada ide, kalah lomba, dan sebagainya yang saya lupa.

Makanya, berulang saya bilang kalau saya bersyukur banget bisa kenal blog. Sebab ia bukan sekedar tempat menulis, mencurahkan hati, atau apapun. Tapi juga memberi makna yang lebih dalam pada saya. Dan darinya saya banyak mendapat pelajaran yang berkaitan dengan kehidupan.

1. Konsistensi

Semula saya tidak pernah meniatkan untuk rutin menulis dan memasang motto one month min. one post. Tapi lupa kapan tepatnya, begitu melihat setiap bulan saya menulis, saya jadi bertekad untuk konsisten supaya setiap bulan bisa menulis walaupun hanya satu tulisan.

Saya pernah main ke blog orang - yang sebenarnya tulisannya bagus - tapi sayang dia tidak konsisten, disitu saya merasa ada yang kurang. Entahlah, seperti ada yang aneh saja kalau bolong-bolong. Apalagi kalau dia memasang hirarki bulan di blognya (yang otomatis akan ketahuan kapan saja dia menulis). Yaa meskipun blog buku saya juga bolong sekarang huhu 🙈 Makanya, saya masih punya tekad, untuk blog ini dan Celoteh Bunda harus tetap rutin. Apalagi kan temanya keseharian banget. Beda dengan blog buku yang harus mereview dan itu butuh waktu yang nggak sebentar.

Konsistensi kedua adalah terkait event blogging dan sponsored post. Saya itu menanamkan banget dalam diri supaya jadi orang yang nggak plin plan. Maksudnya, misal kalau saya sudah milih ikut suatu event blog entah online seperti kolaborasi blog, lomba, atau offline seperti hadir di acara, saya harus konsisten sampai akhir. Konsisten mengikuti aturan yang dibuat sejak awal. Sama halnya dengan sponsored post. Kalau saya sudah memilih menerima suatu job, ya harus konsisten buat nulis. Tepati deadline, jangan molor. Patuhi brief, dan syarat ketentuan. Pokoknya ya begitu. Intinya ikuti aturan yang telah disepakati dan jangan sampai putus di tengah jalan.

Sebab, bagi saya pribadi konsistensi ini juga sebagai bentuk rasa percaya orang lain akan kredibilitas kita. Tidak peduli itu dari brand besar atau bahkan teman-teman blogger sekalipun. Karena sekali kita menghilangkan rasa kepercayaan orang lain, orang bisa jadi akan kesulitan untuk bekerja sama dengan kita lagi. Dan sungguh, membangun kepercayaan itu mudah. Tapi ketika kita tidak bisa mempertahankannya, jangan harap orang bisa percaya seperti sedia kala *uhuk.

Baca: Menjadi Blogger yang Bisa Dipercaya

2. Tanggung  jawab

Nggak beda jauh dengan poin pertama dan masih terkait dengan rasa kepercayaan. Selain konsistensi, seorang blogger pun harus punya rasa tanggung jawab. Ya itu tadi, kalau kita sudah menentukan pilihan dan menyepakatinya, maka ya harus tanggung jawab dengan kesepakatan itu. Jangan tiba-tiba mundur di tengah jalan apalagi tanpa alasan yang jelas. Kecuali ada alasan udzur yang benar-benar udzur dan tidak terhindarkan. Tapi selama kita mampu, jangan sampai kita melepaskan kewajiban itu.

Sama seperti hidup kan. Segala sesuatunya kelak akan dimintai pertanggung jawaban 😇

3. Tidak bisa menyenangkan semua orang 

Ada kalanya orang suka dengan postingan saya. Ada kalanya juga tidak suka. Kadang setuju, kadang tidak. Memang begitu adanya. Sesempurna apapun kita berusaha, selamanya kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.

Sebab kita ini hanya manusia. Yang sudah pasti berbeda pemikiran. Yang banyak juga celahnya. Jadi kalau ada satu dua orang, atau satu dua kali postingan kita tidak disukai atau disetujui, ya sudah terima aja. Memang sudah alamiahnya begitu 😁

4. Berbagi itu indah

Dulu saya nggak pernah mikir statistik setiap mau nulis. Nulis ya nulis aja. Karena memang saya senang. Tapi justru dari beberapa tulisan yang menurut saya ala kadarnya itulah orang jadi banyak yang mengucapkan terima kasih. Banyak yang mendadak curhat. Sampai akhirnya saya tahu, oh berbagi itu indah ternyata. Kita nggak mikir apa-apa saat mau mengeluarkan, ikhlas aja kita nulisnya. Eh tapi ternyata orang malah berkesan. Orang malah terbantu masalahnya.

Jadi kalau sekarang saya kepikiran statistik, saya langsung ingat saat-saat itu. Kalau mau nulis ya nulis aja. Nggak ada yang ngelarang. Selama yang saya tulis tidak merugikan pihak lain dan melanggar aturan, ya tulis aja. Apalagi kalau itu memang sekiranya dibutuhkan banyak orang. Karena saya juga nggak mau jadi terbebani dengan statistik yang membuat saya sampai harus bingung mau nulis apa.

5. Sabar dan ikhlas

Kalau Mbak Carra bilang ngeblog harus ikhlas, itu benar sekali. Tapi tambahan dari saya, kalau ngeblog itu juga harus sabar. Apalagi kalau kita memang berniat benar-benar serius dan ingin mencari materi. Karena ngeblog itu juga nggak ada yang instan. Semua berproses. Ya proses membuat, menulis, sampai proses untuk mendapatkan penghasilan itu sendiri.

Sama halnya dengan kesuksesan, kita tidak bisa hanya melihat keberhasilan orang lain dari hasilnya, tanpa kita tahu prosesnya. Barangkali sebelumnya banyak hambatan, kegagalan, tapi karena bersabarlah maka mereka mau berproses sampai akhirnya berhasil.

Yang terakhir, ikhlas. Apapun yang kita harapkan, tidak semua bisa kita dapatkan. Demikian pula dalam dunia blog. Tulisan kita kalah lomba, kita tidak terpilih untuk mengikuti event atau job blogger tertentu, dan lain-lain. Maka di sinilah kita dituntut untuk bisa ikhlas. Karena hanya dengan ikhlaslah hidup jadi lebih tenang. Saat hidup tenang, kita tidak punya alasan untuk menyerah 😊

Ngeblog itu memang luar biasa. Mampu membantu meringankan beban dengan menulis. Mampu mendapatkan banyak relasi. Serta mampu mendapatkan penghasilan *eh. Dari kemampuan itulah, maka blog banyak memberi pelajaran yang berharga. Karena ia selalu berproses 😊

Kalau kamu sendiri bagaimana? Pelajaran hidup apa saja yang sudah kamu dapatkan dari ngeblog? Sharing yuk!

Sunday, 17 September 2017

Sunday, September 17, 2017 12

150 cm Life: Hal-hal yang Hanya Dirasakan Orang Pendek

150 cm Life, itu buku yang sungguh mewakili saya banget! Makanya waktu Penerbit Haru nerbitin buku itu, nggak mikir lama, saya langsung mau beli! Ya habis saya penasaran apa isinya. Apalagi itu memang kisah nyata.

Gimana nggak penasaran, kalau tinggi saya dengan penulisnya nggak jauh beda. Cuma beda 5 cm di atas beliau. Yap. Tinggi saya 155 cm. Uwuw pendek yaa hihi 🙈
via Pixabay
Jadi buku itu bercerita tentang kehidupan sang penulis, Takagi Naoko yang tingginya 'hanya' 150 cm sampai usia dewasanya. Dan hal-hal yang dirasakannya. Yaa bisa dibilang suka duka memiliki tubuh yang pendek gitulah. Tapi di sini saya nggak akan review detail buku itu. Karena reviewnya sendiri udah saya tulis di blog Delina Books (linknya ada di atas).

Nah yang sekarang saya mau ceritakan, apa saja suka duka saya jadi orang yang tidak tinggi. Sebenarnya nggak jauh beda dari Naoko, tapi boleh lah saya tulis ulang dan hal-hal di bawah ini memang saya rasakan. 

Hal-hal yang hanya dirasakan orang pendek

  • Sulit menggapai yang tinggi
Ini pasti dong ya haha. Saya susah menjangkau tempat-tempat yang tinggi. Ya sama sulitnya seperti membuat tempat cuci piring stainless nampak baru *eh. Termasuk pegangan kereta yang pas bagian tinggi dekat pintunya itu tuh. Saya juga agak kesulitan buat ambil barang di atas lemari yang tinggi. Alhasil kudu pakai tangga atau kursi huhu. Pokoknya ya tempat-tempat yang jauh melebihi tinggi badan, saya bisa kesulitan menjangkaunya. 

  • Setiap beli baju baru harus selalu dipotong
Nggak kalah sedih nih, nggak jarang kalau dibeliin baju sama orang tuh mesti kebesaran. Entah bagian pinggangnyalah (karena saya kurus), bawahnyalah. Apalagi sekarang saya udah pakai gamis kemana-mana. Susah juga nyari gamis yang benar-benar pas untuk tubuh saya. Paaaasti deh bagian bawahnya kudu dipotong. Atau kalau kelewat lebar, dikecilin dikit. Itu kan cukup disayangkan ya 🙈 Sama halnya waktu dulu saya masih pakai celana. Sebagian besar celana panjang pasti dipotong bawahnya. Tapi untungnya sih model baju zaman sekarang didesain all size, jadi ada juga yang nggak perlu dipermak sama sekali. Nah di buku 150 cm Life, Naoko juga berbagi tips tuh gimana caranya supaya baju-baju bisa tampil jadi kece untuk orang-orang pendek seperti kita. 

  • Susah nyari ukuran sandal/sepatu
Untuk beberapa kali saya kesulitan mendapatkan sandal atau sepatu yang saya taksir dan sesuai dengan ukuran kaki saya. For your info, selain ukuran tubuh saya yang pendek, ukuran kaki saya juga mungil. Selain kakinya kurus, ukurannya juga kecil. Hanya 36! Hihi. Nah 36 ini termasuk agak susah dicarinya hiks. Kadang sandal/sepatu yang saya pengen, cuma punya ukuran minimal 37 huhu. Kadang bisa pas sih dengan ukuran segitu, tapi lebih banyak yang masih longgarnya huhu. Kalau saya kelewat naksir dan memang nggak ada lagi, biasanya tetap saya beli. Walaupun jadinya agak longgar dikit. Tapi kalau masih bisa nyari yang lain, ya mending nyari yang pas. Yah, jadi berbahagialah wanita yang memiliki ukuran kaki yang ideal (ukuran 37-41.red *cmiiw)


  • Malu kalau jalan di samping orang yang tinggi
Dasarnya saya ini memang minderan orangnya. Ditambah lagi kalau jalan sama orang yang lebih tinggi. Aduh suka malu 🙈 Kecuali jalan sama suami ya haha. Jadi harus mendongak gitu kalau mau ngomong. Nggak tahu ya, nggak nyaman aja kalau jalan, tapi tingginya nggak sepantaran. Berasa ada yang aneh aja gitu 🙈😂 Termasuk sama adik atau kakak saya sendiri, suka nggak PD kalau jalan dampingan gitu karena saya pendek huhu. 

  • Kalau difoto rame-rame pasti di depan
Hehe kalau ini sih keuntungan namanya 😁 Dari saya kecil, bahkan sampai sekarang, kalau foto rame-rame, saya pasti disuruh di depan. Yaiya kalau di belakang nggak kelihatan dong 😝 Jadi saya suka berbangga hati, kalau pas lihat hasil fotonya, saya paling nampak karena di depan 😂 Tapi kalau lagi ada orang tinggi yang rese dengan nyerobot minta tampil di depan, uhh kesel banget hati saya *nggak nyadar diri namanya 😒

  • Sering disangka masih kecil
Saya nggak tahu mesti bahagia atau sedih kalau dikira masih kecil. Kayak baru-baru kemarin. Pas saya beli nasi kuning sama suami dan Emir, ditanya sama ibu penjualnya, "itu anaknya ya? (sambil nunjuk Emir)" Lah menurut ngana? Saya nggak tahu, apakah karena tinggi saya dan suami yang tergolong pendek, atau memang karena wajah kami yang mirip dan baby face *ciye* makanya si ibu nanya gitu. Yang jelas, kita mikirnya, mungkin dikira si Emir itu adik kita kali ya hahaha. 
Pernah juga waktu kerja, saya disangka masih sekolah sama orang 😂 Yaah entah harus bahagia karena dikira lebih muda. Atau sedih karena harusnya saya jangan disangka begitu 😁

Yah begitulah kurang lebih suka dukanya jadi orang yang tidak tinggi. Tapi hidup memang selalu punya suka duka kan 😁 Seperti kata Naoko, orang yang tubuhnya tinggi pun memiliki suka duka yang sama. Jadi berapapun tinggi badanmu, ya intinya kita bersyukur aja. Ya kan? 😁

Nah kamu sendiri punya suka duka apa nih sama tinggi badan? Boleh lho sharing di komen. Atau bikin postingan juga seru. Jangan lupa colek saya yaa 😆🙁

Wednesday, 13 September 2017

Wednesday, September 13, 2017 14

Media Sosial untuk Apa?

Waktu saya bikin tulisan Gimana Cara Menyikapi Media Sosial?, ada satu komen menarik dari Mbak Vicky yang nanya medsos saya dipake buat apa, selain share link blog dan siapa yang unfollow?

Haha saya malu sendiri jadinya. Padahal yang begitu cuma ada di Twitter saya. Karena saya emang jarang main Twitter. Jadi ya palingan dipake buat share postingan blog aja. Tapi kalau urusan follow unfollow itu emang udah otomatis. Jadi waktu zaman saya masih alay, saya follow aplikasi itu, jadilah hampir setiap hari saya menerima notifnya, yang mana ya muncul di timeline huhu. Mau diunfoll aja kok lupa mulu 🙈
via Pixabay
Oh ya, postingan ini juga terinspirasi dari tulisan Mak Suciati Cristina di KEB tentang Social Media? Untuk Apa? Jadi sebenernya media sosial saya buat apa?

Fyi, saya hanya main 4 medsos sekarang. WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Twitter meski jarang 🙈. Kalo BBM, Line, dan medsos lainnya udah saya hapus karena emang jarang terjamah ((terjamah)) 😂

Jadi medsos saya itu biasanya untuk apa sih?
  • ☑️‌ Sharing tulisan
Hehe ini terutama di Facebook. Biasanya saya share postingan blog ke fanpage saya dan grup-grup komunitas blogger yang saya ikuti. Selain itu, kadang saya juga bikin status agak panjang kalo lagi mood nulis di Facebook. Kalo untuk Twitter, saya pernah juga sih bikin kultwit, tapi sekarang-sekarang ini udah agak jarang. Jadi yauda sekarang Twitter lebih maksimal dipake buat sharing tulisan atau retweet status yang bagus aja. 

  • ‌🔡 Baca informasi (parenting, kepenulisan, blog, atau sekedar artikel-artikel biasa) 
Medsos bagi saya sekarang bukan lagi sekedar pamer foto, atau status. Tapi juga sebagai ladang baca-baca informasi. Apalagi di Facebook saya ngelike, berteman, dan di Twitter follow orang-orang yang suka bikin tulisan-tulisan bagus atau orang yang ahli di bidangnya. Kayak parenting yang ngeshare info tentang anak masalah ASI, tumbuh kembang, MPASI, atau menu bekal anak yang pernah dishare beberapa teman medsos saya. Tentang ngeblog dengan segala seluk beluknya, dari mulai sharingan tulisan teman-teman blogger, ilmu dasar blog, kepenulisan, sampai job-job 😁. Ada lagi info-info tentang kesehatan, kebutuhan rumah,  dll. Ah pokoknya banyak deh.  Trus saya pun suka baca artikel atau berita yang berseliweran di beranda. Ya asal nggak baca berita hoax aja sih hehe.

  • 💞 Berkomunitas
Saat ini saya ikut banyak komunitas. Terutama komunitas blogger dan emak-emak atau parenting. Nah di Facebook dan WhatsApp itu banyak komunitasnya. Jadi yauda aja saya manfaatin medsos buat berkomunitas. Karena di komunitas itu saya nggak cuma dapat jaringan. Tapi juga manfaat yang banyak banget dan pastinya nambah wawasan tentang apa yang saya minati.

  • Keperluan buzzer
Alhamdulillah sekarang saya bisa menghasilkan materi lewat medsos. Jadi mulai kapan tepatnya saya lupa, saya mulai mendapat tawaran menjadi buzzer di media sosial saya. Seperti buzzer untuk promosi suatu produk atau kegiatan begitu. Yang pasti sih saya hanya menerima buzzer yang positif, no politic dan no hoax ya 😊 Saya juga tidak menerima untuk menjadi buzzer yang tidak sesuai dengan prinsip saya.

Baca: 4 Alasan Saya Menolak Job Review

  • ‌🙈 Kepo-kepo akun orang
Haha yang ini agak nggak penting untuk disebutkan sih. Tapi ya itulah kenyataannya 😂🙈 Kadang saya ngepoin akun orang. Misalnya kayak temen lama yang udah nggak ketemu-ketemu. Orang-orang yang sedang viral dibicarakan. Atau ngepoin akun orang-orang yang tulisannya bagus-bagus buat diikuti.

Ya kira-kira gitu aja sih manfaat medsos buat saya. Terlepas dari sisi negatifnya, saya udah ngerasain banyak manfaat dari medsos. Karena seperti yang saya bilang di atas, medsos bisa nambah wawasan dan pengetahuan saya. Apalagi dari medsos saya juga nambah banyak teman baru yang sebelumnya nggak kenal dan sekarang justru jadi akrab 😊 

Kalau kamu, media sosial untuk apa aja? 

Friday, 8 September 2017

Friday, September 08, 2017 10

Menerima dan Berdamai dengan Diri Sendiri

Ade kecil rambutnya keriting. Badannya kurus. Kulitnya hitam. Kalo pake rok sekolah mesti di atas pinggang sampai-sampai sering dikatain "culun" 😂

Menjelang SMP, Ade malu kalau rambutnya digerai. Karena capek dikatain 'keriting keribo, makan t*i kebo'. Jadilah milih nguncir rambut, terus dipakein bandana. Eh dikatain lagi kayak orang pusing katanya. Yaudalah pas masuk kelas 2 SMP, pake kerudung aja. Aman. 

Setelah SMK, eh wajah jerawatan. Padahal kadang wajah terasa kering sampai kelihatan kalau tuh kulit kering banget. Trus pernah juga dibilang kayak mo**et karena bulu saya banyak. 

Haa mbuhlah 😂

***
Ya. Itulah semua cerita asli saya. Bisa bayangin dong ya, betapa jeleknya saya di masa lalu 😂 Dikatain, atau bahasa sekarangnya mah dibully. Meski nggak pernah dengan perbuatan, tapi jangan salah, dengan kata-kata itu pun sangat menyakitkan lho. Makanya nih kita harus pandai-pandai jaga omongan ya 😄


Orang-orang itu mungkin nggak pernah tahu, kalau diam-diam ada yang tersakiti dengan omongan mereka. Orang-orang itu mungkin nggak tahu, kalau diam-diam ada yang menangis karena omongan mereka. Bahkan untuk ngadu ke orang tua saya aja nggak sampai hati. Karena takut malah orang tua yang jadi sasaran. Dan yang ada saya malah makin dibully karena disangka pengaduan. Jadi pendam sendiri aja deh.

Karena saya belum menerima dan berdamai dengan diri sendiri

Tapi saat dewasa atau lebih tepatnya setelah baca tulisan teman saya tentang Appearance Oriented, saya jadi mikir bahwa saya di masa lalu - yang selalu menangis dalam diam, bisa jadi karena saya BELUM MENERIMA DIRI SENDIRI. 

Saya tahu kalau rambut saya keriting, tapi saya nggak terima kalau orang bilang keriting. Belum lagi di mata saya, keriting itu jelek. Lebih cakep kalau rambut lurus. 

Saya tahu kalau rambut dikuncir, terus pakai bandana, itu jelek. Tapi saya nggak terima kalau dibilang kayak orang pusing. Hla wong buat nutupin rambut keriting saya kok. 

Saya tahu kalau bulu di tubuh saya banyak, tapi jangan dikatain mo**et dong. Saya kan manusia. Siapa sih yang mau dilahirkan begini. Emang saya bisa milih? *lah jadi emosi 😂

Gitulah. Intinya saya nggak terima dengan kenyataan yang ditambah pembicaraan nggak enak dari orang lain. Padahaaal, kalau mau dipikir sekarang, ya ngapain juga saya marah ya. Kan kenyataannya emang rambut saya keriting. Emang bulu saya banyak. Emang wajah saya jerawatan. Itu semua karena saya tidak menerima diri apa adanya. 

Karena stigma di kepala saya negatif, jadilah saat orang bilang hal negatif, semakin meyakinkan saya bahwa hal itu buruk. Akhirnya saya menjadi peminder. Pemalu. Daan pembenci. Benci pada diri sendiri, juga pada orang-orang yang membully saya. 


Kitalah sebaik-baik makhluk-Nya

Tapi sekarang, saya paham bahwa inilah diri saya. Allah sudah ciptakan saya dengan sebaik-baik menurutNya *karena apa yang menurut kita baik, belum tentu di mata Allah. Tapi tidak sebaliknya. Apa yang menurut Allah baik, itu sudah pasti baik bagi kita. 

Dan wajar kalau saya dibilang keriting, karena saya memang keriting. Wajar kalau dibilang bulu saya banyak karena memang itu kenyataannya. Dibilang jerawatan ya memang wajah saya berjerawat. Bilang wajah saya kering memang seperti itu kelihatannya. Jadi kesimpulannya, semua wajar karena kita sebagai manusia PASTI yang dilihat pertama kali adalah fisik. 

Memang, menjadi tidak wajar jika terlalu dilebih-lebihkan. Menjadi tidak wajar jika kita tidak lanjut menilai setelah melihat fisik orang lain. Makanya jadi tidak wajar pula saat ada orang yang tersakiti karena lidah kita. 

Tapi apapun itu, lagi-lagi kita sulit mengatur orang lain. Maka yang PALING bisa kita lakukan, tiada lain adalah, MENERIMA DAN BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI 😇 Dengan kita menerima dan berdamai, maka apapun kata-kata yang terlontar dari orang lain, tidak akan berpengaruh bagi kita. Karena kita tahu, bahwa kitalah sebaik-baik makhluk yang sudah diciptakanNya 😇

Wednesday, 6 September 2017

Wednesday, September 06, 2017 16

Ibu yang Bisa Menghargai Keputusan Anaknya

"Ibu pengen deh, ada satu aja anak ibu jadi guru." Itu kata ibu saya dulu. 

Selang beberapa lama, ibu kepingin ada anaknya yang daftar jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Alasannya kalau jadi PNS gajinya besar, sudah gitu ada tunjangannya juga. Bahkan saat pensiun pun masih dikirimi tunjangan setiap bulannya. Ini juga berdasarkan tetangga yang bekerja di PNS dan sudah pensiun. 
via Pixabay
Tapi apa mau dikata, anak-anak ibu saya malah tidak ada yang jadi guru atau PNS 🙈

Oke, saya nggak tahu apa alasan kakak-kakak saya tidak mau jadi guru atau PNS. Entah karena mereka memang tidak tertarik atau tidak pernah mendaftar 😁 Makanya di sini saya bakal cerita saya sendiri aja hehe. 

Nah kenapa saya tidak jadi guru atau PNS? Simpel sebenernya. Karena saya tidak mau 😊 🙈 

Pertama, alasan saya tidak mau jadi guru adalah karena saya merasa diri ini bukan orang yang cukup sabar untuk mengajari orang lain. Yes, bagi saya seorang guru itu harus SUPER DUPER sabar. Lho, kan ada juga guru yang nggak sabaran, bahkan pemarah? Iya memang. Tapi saya nggak suka dengan guru seperti itu, menyebalkanlah. Makanya saya tidak mau jadi guru yang punya tipe kayak gitu. Naudzubillah lah hehe. Tapi kalau cuma ngajarin orang-orang terdekat sih its oke aja, karena mereka sudah tahu saya haha. 

Kedua, kenapa saya nggak mau jadi PNS? Saya masih inget banget alasan yang saya utarakan ke ibu. Karena bebannya berat. PNS kan kerjanya untuk umum, masyarakat, maka kalau kita tidak benar, dalam artian semacam nggak ikhlas atau setengah-setengah kerjanya, itu akan jadi pertanggungjawaban yang berat di akhirat karena secara tidak langsung merugikan orang lain. Apalagi PNS kan gajinya dari pemerintah, yang mana itu uangnya dari rakyat. *Kejauhan ya mikirnya 🙈 Ya emang sih mau kerja di swasta pun harus bertanggung jawab juga. Cuma saya merasa kalau di swasta istilahnya kita kerja untuk diri sendiri,  bukan untuk masyarakat. Makanya saya nggak suka juga dengan pekerjaan yang mengharuskan saya ketemu orang *eeaa orang introvert 🙈 Di swasta gajinya pun bukan dari uang rakyat. 

Tapi dibalik alasan itu, saya pernah sih iseng-iseng cari lowongan kerja PNS. Niatnya pengen membahagiakan orang tua gitu. Sayang seribu sayang, kebanyakan harus minimal S1 huhu. Sedangkan waktu itu pendidikan saya masih mentok di SMK. Sekalinya ada lowongan yang sederajat, harus SMA dengan jurusan tertentu. Ya udah, emang dasar nggak jodoh kali hihi. 

Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya

Yah, tapi namanya orang tua. Benar seperti kata Mbak Cahaya dalam tulisannya Ketika Bapak Ingin Saya Jadi PNS. Bahwa setiap orang tua PASTI menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Ibu mungkin kepingin anaknya jadi PNS, tapi jika itu nggak sejalan dengan hati anaknya ya buat apa. 

Makanya waktu saya bilang ke ibu kalau saya nggak mau jadi PNS (dengan alasan yang saya utarakan), ibu memasrahkan saja. Sama sekali tidak memaksakan. Dan saat saya bilang saya mau kerja di perusahaan swasta aja, ibu pun tetap mendukung. Yang penting saya bisa bertanggung jawab dengan segala keputusan saya. 

Terbukti, saat melamar kerja, tidak lama saya langsung diterima di salah satu perusahaan swasta. Begitu pun saat harus keluar kerja dan mencari pekerjaan baru. Bahkan sampai akhirnya saya bisa kuliah dengan biaya sendiri. Alhamdulillah 😊

Dan sekarang saya merasakan, sebagai orang tua, saya ingin melakukan yang terbaik untuk anak. Pun kelak, semoga saya bisa seperti ibu. Apapun pilihan anaknya, selalu bisa menghargai dan tidak memaksa 😊

Monday, 4 September 2017

Monday, September 04, 2017 4

Agar Bicara Jadi Melegakan Hati

Sedih itu saat orang terdekat mencurahkan hatinya karena tersakiti dengan pembicaraan orang lain. Mau bilang "nggak usah peduli", nggak bisa juga. Karena perasaan setiap orang kan memang nggak bisa disamakan. Bagi kita, mungkin terasa biasa, udahlah kayak gitu ngapain sih dipeduliin. Tapi bagi dia, bisa jadi merasuk ke hati paling dalam saking sakitnya. Hufth.

Baca: Please Stop Say "Baper"!

Perkara bicara ini memang nggak pernah usai. Karena sepanjang kita hidup, pasti kita bicara *yakali ada orang yang tahan nggak ngomong seumur hidupnya 😂Tapi kan masalahnya isi kepala manusia dengan manusia lainnya sudah pasti beda. Itu sudah jadi keniscayaan. Tentang perasaan pun sudah pasti tak bisa disamakan. Jadi barangkali kembali lagi pada diri kita sendiri. Tentang kendali paling besar yang sesungguhnya ada di tangan kita sendiri. Kitalah yang PERLU mengontrol DIRI.
via Pixabay
Makanya daripada sulit mengatur orang lain, mungkin kita sendiri yang harus memperhatikan apa yang sebaiknya kita lakukan sebelum berbicara pada siapapun.

Agar bicara jadi melegakan hati, bukan membebani

  • ‌Pandang siapa orangnya
Bukan dalam artian memandang mata, tapi lebih ke 'melihat' siapa orang yang sedang kita ajak bicara. 
Pernah suatu waktu saya bicara dengan enaknya layaknya ke teman sepantaran, padahal saat itu saya sedang berbicara pada orang yang lebih tua. Di situ ternyata saya lupa dengan siapa saya sedang bicara. Duh, rasanya nyesel banget. 
Begitulah artinya kita harus bisa membedakan dengan siapa kita bicara. Bahasa kita ke teman sebaya, dengan bahasa kita ke orang yang lebih tua, tidak bisa disamakan. Sama halnya bahasa kita ke keluarga sendiri, dengan orang lain sudah pasti berbeda. Pun termasuk urusan pemilihan kata, intonasi, sikap yang tidak bisa kita samakan. Hal ini mungkin kelihatan sepele. Tapi percayalah, ketika kita salah ngomong, orang bisa jadi memandang kita berbeda. Karena sebagian besar orang sudah bisa menilai atau punya kesan saat pertama kali bertemu.
  • ‌Pemilihan kata
Ini dia yang sudah dibilang di poin pertama tadi. Selain pemilihan kata untuk memandang siapa orang yang sedang kita ajak bicara, kita pun harus bisa memilah kata yang sekiranya pantas dengan situasi saat itu. 
Bahkan sekalipun dengan orang terdekat. Situasi saat senang dan sedih sudah pasti berbeda penggunaan kata-katanya agar tidak salah atau malah menyakiti.
  • Situasi
Masih berhubungan dengan dua poin di atas. Bicara pun harus tahu situasi. Mana mungkin kita bicara senang saat teman kita lagi berduka. Nggak pas lah ya situasinya. Yang dibutuhkan justru pelukan, atau kata-kata yang bisa menenangkan hati.
  • Intonasi
Kata-kata sudah kita jaga. Kalimat pun dirasa tidak ada yang salah. Maka selanjutnya jangan lupa atur intonasi kita. Kata-katanya baik, tapi kalau bicaranya pakai intonasi tinggi, manalah enak didengar. Bisa-bisa salah paham deh orang itu. 
  • ‌Ekspresi/Sikap
Siapa bilang ekspresi atau gestur tubuh tidak menentukan bicara itu salah atau tidak. Saya pernah merasakan. Suatu hari, saat di tempat umum saya ketemu orang baru. Isenglah nanya apa gitu saya lupa, dengan maksud mau mengakrabkan diri. Eh ternyata orang yang saya ajak bicara itu jawab dengan gestur yang males-malesan dan ekspresi yang datar. Ya udah saya males lagi untuk bicara sama dia. Lebih baik diam. Karena saya pikir bisa jadi dia memang sedang tidak mau diajak bicara. Yah intinya kembali lagi, pintar-pintarnya kita saja membaca situasi, dan ekspresi orang. Kalau sekiranya nemuin kasus kayak saya lebih baik nggak usah dilanjutkan, daripada makan hati 😂

Gimana? Kesannya mau ngomong itu susah banget ya. Harus begini, harus begitu. Iya mungkin emang nggak enak. Tapi daripada kita menyakiti orang lain dari lidah kita *naudzubillah. Atau malah kita sendiri yang tersakiti oleh orang lain. Ya lebih baik kita sendiri yang mengontrol lidah supaya bicara itu jadi sesuatu yang melegakan. Bukan membebani hati. Juga tak kalah perlu untuk mengontrol hati supaya nggak mudah terpancing emosi. Yah namanya manusia, nggak cuma kita, orang juga pasti punya khilaf kan 😇

*Note to my self! 

My Community

kumpulan-emak-blogger Warung Blogger Blogger Perempuan Blogger Reporter Indonesia