Monday, 5 December 2016

Monday, December 05, 2016 0

Bersahabat dengan JNE Express

Kalau ada yang bisa membuat saya sumringah, itu salah satunya adalah kedatangan kurir! Haha kok kurir sih? Nggak elegan banget. Apa karena kurirnya ganteng? Atau karena naksir kurir? Duuh, ya jelas tidak dua-duanya! 😑 Lalu kenapa? Karena dengan datangnya kurir itu berarti ada kiriman buat saya haha 😆

Tepatnya sih semenjak 2013 dulu. Saat saya mulai keranjingan ikut kuis atau giveaway di blog, saat dinyatakan menang, datanglah berbagai hadiah untuk saya satu per satu. Apalagi saat makin aktif ikut kuis di media sosial juga, beuh sudah tidak terhitung hadiahnya *ciyesombong. Apa saja. Dari mulai buku-buku, tas, baju, bahkan sampai kopi pernah saya dapat hehe. Dan itu semua, sebagian besar diantar oleh kurir JNE Express! 😍
http://jne.co.id/id/beranda

Bersahabat dengan JNE Express

Yes, jadi saya memang sudah bersahabat sekali dengan JNE. Walaupun lebih seringnya ibu saya sih yang terima paket hehe. Ya karena kan dulu saya kerja 😋 Makanya, ibu sampai bosan kedatangan JNE terus, karena seringnya kurir yang mengantar pun dia lagi-dia lagi 😂 Tapi berbeda saat di Surabaya, maka seringnya saya yang menerima.

Tidak cuma antar hadiah, untuk belanja online pun, saya lebih sering memakai jasa ekspedisi JNE Express. Terutama belanja buku, hehe. Cukup sering saya beli buku secara online. Selain alasan harganya lebih murah, saya juga tidak perlu capek-capek keluar rumah, panas-panasan atau hujan di jalan. Jadi cukup duduk manis, beli di toko online, transfer, tunggu deh kurir JNE antar buku ke rumah. Begitu pun untuk belanja barang-barang lainnya, saya pun memakai JNE Express. Memang, belanja online itu buat saya lebih memudahkan karena tidak repot.

Alasan saya setia memakai JNE Express

Lalu mengapa hingga saat ini saya masih setia memakai JNE Express?
1. Sudah Terpercaya
Buktinya, hadiah-hadiah yang dikirimkan sebagian besar sampai dengan selamat. Itu artinya, saat orang lain percaya, saya pun bisa mencobanya sendiri. Dan Alhamdulillah, saat saya kirim paket dengan JNE pun hasilnya memuaskan dan sampai tepat waktu. Begitu pun saat saya sudah pindah ke Surabaya. Karena jarak dengan orang tua sudah Bekasi-Surabaya, alhasil mau tidak mau, untuk kirim barang apapun ya menggunakan jasa ekspedisi. Dan kami lebih sering memilih JNE Yes, karena pengirimannya cepat. Hari ini kirim, besoknya langsung sampai 😀

2. Pelayanan Tidak Diragukan
Baik ibu atau pun saya, kami selalu mendapatkan kurir yang ramah. Ayah saya pun tidak pernah mengeluh saat ingin mengirimkan paket. Bahkan saat mengecek pengiriman lewat telepon pun, dilayani dengan ramah. Itu berarti, kualitas pelayanan JNE memang sudah tidak diragukan lagi 👍

3. Kualitas Pengiriman Baik
Jujur saja, sampai sekarang saya belum pernah dapat masalah apapun dengan JNE. Baik kiriman untuk saya, maupun kiriman saya pada orang lain. Tracknya selalu tepat waktu dan paket yang diterima pun dalam keadaan baik dan tidak pernah ada kerusakan. Lebih bagusnya lagi, bahkan sekarang JNE sudah mengirimkan notifikasi melalui semacam SMS jika akan ada pengiriman untuk kita atau kiriman kita untuk orang lain. Whua terbantu sekali pastinya dengan adanya fitur baru ini 😍

Oke, itulah tiga alasan utama saya masih setia dengan JNE Express. Hingga kini, JNE sudah 26 tahun melayani pengiriman seluruh Indonesia. Bahkan JNE sudah menyelenggarakan Hari Bebas Ongkos Kirim pada 26 - 27 November 2016 lalu, dalam rangka ulang tahunnya yang ke-26. Sayang saja, saya sedang tidak belanja atau mendapat hadiah hehe. Tapi banyak teman-teman saya yang memanfaatkan kesempatan ini. Apalagi kebanyakan mereka memang bakul online, jadi sangat diuntungkan sekali dengan adanya program HARBOKIR ini. 
http://www.jne.co.id/id/berita/event-and-promo/promosi/harbokir-hari-bebas-ongkos-kirim
Well, sepertinya saya tetap akan bersahabat dengan JNE Express. Dengan penjabaran di atas tadi, JNE Express membuktikan bahwa ekspedisinya masih bisa jadi yang terbaik di mata saya. Dan semoga, seterusnya akan tetap baik. Aamiin 😌

Selamat 26 tahun untuk JNE!
Jaya terus! 😀

Sunday, 4 December 2016

Sunday, December 04, 2016 12

Minta Oleh-oleh, Jangan Lupa Etikanya

Salah satu impian saya yang belum tercapai mungkin ingin merasakan travelling secara terus menerus. Maksudnya, ya semacam traveller begitulah. Datang dari satu tempat ke tempat lain dalam jangka waktu tidak lama. Misalnya bulan ini ke tempat ini, bulan depan sudah ke tempat lain. Bulan ini sudah ke daerah ini, bulan depan ke daerah lain. Atau pun negara lain. Jadi semacam hobi jalan-jalan. Wuih kelihatannya enak ya? Hehehe. Ya, semoga saja nanti bisa tercapai. Aamiin 😇
credit https://pixabay.com/id/pariwisata-vietnam-semangka-1691599/
Tapi salah satu teman saya di Kumpulan Emak Blogger, Mak Muthia, pernah merasakan kejadian yang tidak enak saat travelling. Lebih tepatnya saat ada yang minta oleh-oleh saat akan travelling. Duh, memang kalau ada yang nyeletuk minta oleh-oleh saat kita mau kemana, agak tidak enak rasanya. Setidaknya bagi saya pribadi, saya jadi tidak enak kalau tidak membawa oleh-oleh karena jadi beban buat saya. Duh gue pulang harus bawa oleh-oleh nih. Kecuali, jika memang perjalanan saya bukan untuk sekedar travelling, baru deh saya bisa beralasan kalau perjalanan saya memang karena ada keperluan.


Tiga etika minta oleh-oleh

Mak Muthia menulis setidaknya ada tiga etika dalam meminta oleh-oleh. Jangan memaksa, ucapkan terima kasih, dan membawakan oleh-oleh sebagai 'balasan'. Saya setuju sekali. 

Pertama, mana enak sih kita kalau dipaksa? "Eh pulang bawain gue oleh-oleh dong, awas kalau enggak, kita musuhan!" 😑 bbbrrrrrr... Namanya minta dibawakan oleh-oleh ya pasti minta, tapi apakah kita tahu kalau bisa jadi si traveller tidak punya budget banyak? Begitu pula ketika misalnya kita mau menitip sesuatu. Jangan sampai memaksa si traveller untuk membeli apa yang kita mau. Karena kita tidak pernah tahu bisa jadi dia tidak sempat ke banyak tempat.

Yang kedua, kadang kita lupa mengucapkan terima kasih. Alih-alih berterima kasih, yang ada malah komplain, "kok oleh-olehnya cuma ini aja?" Aiiih 😑 *sudah tau begini nggak usah dibeliin aja!* Saya juga pernah mengalami hal ini. Dan duh rasanya hati mana yang tidak gondok menerima komplainan seperti itu. Seakan-akan kita harusnya membeli yang dia harapkan. Padahal mah ya masih syukur dibawain ya 😑 Percayalah kata-kata seperti itu, hanya akan membuat orang malas membawakan kita oleh-oleh lagi 😒 So, apapun yang dibawa, suka atau tidak suka, paling tidak ucapkanlah terima kasih. Sebagai bentuk penghargaanlah ya karena kita sudah dibawakan atau dibelikan oleh-oleh 😌

Ketiga, tidak ada salahnya dong kita membalas dengan hal yang sama. Saat kita pergi ke suatu tempat, ingat-ingatlah pada orang-orang yang pernah membawakan kita oleh-oleh. Secara tidak langsung, ini juga bentuk penghargaan dan terima kasih lho 😊 Biasanya ketika kita diberi kebaikan dan membalas kebaikan, maka hasilnya pun akan baik. Bukan berarti kita mengharap supaya besok-besok kita dibawakan oleh-oleh lagi, tapi justru untuk membalas kebaikan yang kemarin-marin 😊

Well, saya rasa ketiga poin dari Mak Muthia memang sudah mencakup semuanya. Ini juga bisa jadi gambaran bagi kita yang akan travelling atau pun sebagai teman atau saudara si traveller. Supaya kalau kita mau minta oleh-oleh, jangan lupa etikanya hehe. 

Semoga bisa diterapkan! 😊

Friday, 2 December 2016

Friday, December 02, 2016 16

Rezeki yang Memang Sudah Jalannya

Lihat gambar di bawah ini deh! 
credit: https://web.facebook.com/photo.php?fbid=10208124253724267&set=a.10201863743695429.1073741825.1238259057&type=3&theater
Gambarnya lucu ya 😁 *kemudian semua langsung nyanyi 😂

Hehe gambar di atas saya ambil dari postingan Mbak Wulan Darmanto yang saya ambil dari tulisan di Facebooknya yang berjudul "Nagih Hutang Bikin Gamang" (yang mau baca, linknya ada di caption gambar atas ya, dicopas aja 😋)

Nagih hutang bikin gamang

Nagih hutang, memang seringkali bikin gamang. Apalagi kalau nagihnya ke orang terdekat. Duh ada rasa tidak enaklah, tidak tegalah, apalah apalah. Tapi kalau nggak ditagih, dianya nggak sadar-sadar punya hutang 😟 Gamanglah jadinya.

Makanya, benar seperti kata Mbak Wulan. Meminjamkan uang, berarti menganggap uang itu hilang. Kelihatannya enak ya ngomongnya. Iya kalau jumlahnya kecil, kalau besar? Oh no 😑 Tapi percaya atau tidak, menanamkan cara seperti tadi, setidaknya membuat pikiran kita tenang! 

Saya sendiri pun pernah menerapkannya. Katakanlah saya pernah meminjamkan uang pada seseorang-yang sudah saya tahu wataknya. Aslinya sih tidak mau, tapi jauh di lubuk hati ya ada rasa tidak tega juga. Tapi kata suami, ya pinjamkan saja, tapi jangan sebesar yang dia minta. Berikan saja seperlunya. Alhasil saya pun meminjamkannya, dan tidak berharap uang itu kembali. Buat apa? Toh saya sudah tahu wataknya, berharap hanya akan membuat saya kecewa (lagi). Ya Alhamdulillah dengan cara itu, hati saya tenang, saya lega juga, dan tidak berharap apapun. Toh kalau memang masih rezeki, tidak kemana kan!

Tapi kan, rezeki harus dijemput. Iya tapi kalau sudah urusan hutang ya kita harus siap aja kecewa 😌

Rezeki yang memang sudah jalannya

Bicara rezeki, rezeki memang harus dijemput. Tapi jika kita sudah berusaha menjemputnya, kemudian belum dapat, berarti memang sudah jalannya seperti itu. Pun jika misalkan kita mengalami kehilangan, ya sudah memang jalannya juga. Itu berarti rezekinya bukan milik kita. 


Seperti komentar Mbak Herva di postingan saya yang berjudul Balada Kesalahan Kontes. Mau sehebat apapun kita ikut suatu kontes atau lomba, lalu kalah, ya berarti memang bukan rezekinya.

Iya sih, kita maunya bukan karena tidak dibayar hutangnya, kalah kontes dengan pemenang yang justru (terlihat) biasa saja, atau mengalami sebuah kehilangan lantas kita tidak menerima atau mendapatkan rezeki. Tapi kembali lagi, semua memang sudah jalannya. Ada hal-hal yang kadang terlihat tidak masuk akal, atau 'kok kayaknya tega banget harus kita yang ngalamin', tapi ya itulah jalan pikiran manusia dengan Tuhan itu beda. Manusia selalu terbatas pandangannya, sedangkan Allah selalu punya yang terbaik untuk umat-Nya.
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)
Sumber: https://muslimah.or.id/1830-boleh-jadi-kamu-membenci-sesuatu-padahal-ia-amat-baik-bagimu.html

Banyak belajar 😊

Sebenarnya rezeki itu tidak sebatas materi saja kan ya. Kita bangun tidur, masih bernafas, itu rezeki. Masih bisa lihat istri, suami dan anak, itu rezeki. Keluarga, saudara, sahabat, teman-teman kita masih diberi kesehatan, itu pun rezeki.

Ini juga reminder buat saya pribadi. Ya intinya perbanyak syukur dengan yang sudah ada. Kalau sesuatu belum menjadi rezeki kita, barangkali ada yang lebih baik. Barangkali kita disuruh usaha dan do'a lagi lebih keras. Barangkali untuk membuat kita belajar ikhlas dan sabar. 

Yah, intinya selalu ada hikmah deh di setiap kejadian 😊 Betul nggak? 😀

Wednesday, 30 November 2016

Wednesday, November 30, 2016 46

Blog Kamu Belum Dikunjungi? Positif Aja! ^_^

Seperti yang pernah saya janjikan. Kali ini saya mau membahas, blogger yang belum dikunjungi balik blognya, barangkali tidak perlu tersinggung, karena bisa jadi blog kita belum dikunjungi karena ada alasan-alasan yang tidak kita ketahui.
Baca: Seberapa Penting Sih Komentar dan Balas Komentar di Blog?

Kita tidak perlu berpikir bahwa jika blog kita tidak dikunjung dan dikomentar balik, seolah-olah si pemilik blog yang kita kunjungi tidak menghargai kita. Yaa, dengan kata lain harus ada balasan dong. Dulu, saya pun sama. Saya merasa sering mengunjungi dan berkomentar di blog dia, tapi dia rasanya tidak pernah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Jangankan berkomentar, membalas komentar saya di blognya saja tidak. Sombong sekali orang ini. Lihat, banyak orang yang sudah berkomentar lho, masa tidak ada satu pun yang dibalas atau direspon. Ujung-ujungnya jadi malas. 

Tidak selamanya tidak mau berkunjung balik

Sekarang saya yang justru merasakan. Sempat ada yang mengatakan bahwa dia sering berkunjung ke dan komentar di blog saya. Tapi saya tidak pernah berkunjung balik dan bertanya "apa saya sibuk kali ya?"

Hmm, baiklah, sekarang saya paham. Begini ya, tidak berkunjung balik ke blog orang yang sudah mengunjungi blog saya, bukan berarti saya tidak menghargai atau ingin membalas kunjungan orang tersebut. Seringnya, saya lebih banyak mengunjungi blog yang memang ingin saya kunjungi. Tapi jangan juga khawatir, terkadang saya juga berkunjung ke blog teman-teman yang sudah bersedia berkomentar di blog saya. Itu sebabnya saya memasang siapapun bisa berkomentar di sini. Jadi, jika ingin saya kunjungi *sokpenting*, pilih saja opsi Name/URL. Agar saya bisa berkunjung balik ke blog kalian suatu saat. Meskipun mungkin tidak langsung saat itu juga.

Masing-masing orang punya urusan berbeda

Yayaya, tidak salah jika punya perasaan ingin dikunjungi dan dikomentar balik. Hanya saja kita tidak bisa cepat-cepat menghakimi bahwa jika tidak kunjungi atau dibalas komentarnya, si pemilik blog sombong. Percaya saja, bahwa setiap tulisan kita akan menemukan pembacanya. Barangkali blogger yang kita kunjungi blognya belum butuh. Tapi bagi yang lain, belum tentu. Bisa jadi blogger yang kita kunjungi sedang sibuk, jadi belum atau tidak sempat membalas dan berkunjung balik. Atau bahkan komentar kita terlalu biasa dan tidak memerlukan jawaban, sehingga tidak perlu dibalas komentarnya. Jadi dengan kata lain banyak faktor yang barangkali kita tidak tahu. Maka itu sebabnya kita tidak perlu punya perasaan sia-sia dan disia-siakan karena sudah berkomentar.  

Tidak salah kok berkomentar. Toh, kamu bisa meninggalkan link di sana kan? 😜 Dengan kamu berkomentar, itu sebenarnya sudah bermanfaat bagi dirimu sendiri. Entah kamu jadi punya wawasan baru, entah kamu jadi tahu sesuatu hal yang selama ini kamu cari, atau pun kamu jadi dikenal karena sering meninggalkan komentar *wah yang ini asyik banget :v.

Jadi intinya, tidak perlulah baper dianggap serius. Yakin saja, suatu saat blogger yang blognya kamu kunjungi itu, juga akan berkunjung. Meski entah kapanpun. Setidaknya, dengan berpikir seperti ini, kamu bisa lebih tenang hehe 😋

Monday, 28 November 2016

Monday, November 28, 2016 28

Suamiku Tidak Mau Pensiun

Apa yang terbayang terutama bagi para istri atau ibu-ibu membaca judul di atas? Shock? Atau biasa saja? Hehe. Tapi memang itulah kenyataannya 😊 Suami saya memutuskan untuk tidak pensiun seumur hidupnya.

Saya pun sempat kaget saat dia mengutarakan keinginannya seperti itu. Biasanya orang-orang yang membuka usaha seperti dirinya justru agar dia bisa full memberikan waktunya untuk keluarga atau agar bisa travelling pun menggunakan waktu sesukanya. Tapi mendengar penjelasannya, saya mulai berpikir.

Lalu apa alasannya?

Inilah yang membuat saya salut, beliau tidak ingin menyia-nyiakan hidupnya. Beliau ingin bekerja sepanjang hidupnya selama masih mampu. Mungkin dari kita banyak yang berpikir, nanti nggak punya waktu bareng keluarga dong? Nggak bisa menikmati masa tua dengan tenang dong? Tapi inilah garis besar penjelasannya yang saya tangkap dari status facebooknya beberapa waktu lalu.

Tentang rasa bersyukur kepada Allah

Suami saya memang memilih untuk membuka usaha sendiri, tapi bukan berarti membuat beliau berpikir bisa bebas lalu bisa pensiun muda sebagaimana yang sering digembar-gemborkan para entrepreneur muda. Memang, seakan-akan mereka terlihat bisa bebas, tapi apa benar ketika pensiun, mereka justru bisa berleha-leha? Sayang, faktanya masih banyak para pensiunan muda justru terlihat lebih bekerja keras di masa tuanya. Lalu fenomena apakah ini? 😞

Ada satu yang menarik, para tukang yang merenovasi rumah kami rata-rata sudah berumur senja. Ketika suami bertanya pada mereka, "kok masih mau bekerja?" Lantas apa jawaban mereka? "Kalo diam di rumah malah sakit, Mas!"
para tukang yang merenovasi rumah kami
Maka dari jawaban tukang tersebut, barangkali garis besarnya adalah tentang rasa bersyukur kepada Allah. Bagaimana ketika kita bisa memanfaatkan hidup dan kesehatan kita untuk melakukan sesuatu. Dengan kata lain tidak diam dan berpasrah diri begitu saja. Selama kita masih mampu berdiri, jiwa dan raga masih sehat, maka kenapa harus diam saja? Tidak sampai harus menunggu waktu untuk mencari cara mengatasi kolesterol bukan? Bukankah sepanjang hidup rezeki harus terus dijemput? Jika burung saja terbang mencari makanan, bagaimana dengan kita manusia yang dilengkapi akal dan tubuh sempurna?
Ingat lima perkara, sebelum lima perkara.
Sehat sebelum sakit,
muda sebelum tua,
kaya sebelum miskin,
lapang sebelum sempit,
hidup sebelum mati.
Suami juga bilang, poin yang sebenarnya kita inginkan barangkali bukan pensiun mudanya, melainkan 'free to control our time'. Ya, kita hanya ingin bisa mengontrol waktu. Itu saja sudah lebih dari cukup. Kita bebas menentukan kapan harus kerja, beribadah, istirahat, liburan, dan lain-lain. Kita hanya ingin bebas mengatur itu semua. Tapi ketika kita menginginkan itu, tentu saja ada harga yang harus kita bayar. Apa itu? Bekerja lebih keras, bekerja lebih ikhlas, dan bekerja lebih cerdas.

Dan jawaban terakhir dari suami, tentang mengapa beliau tidak mau pensiun "Aku ingin terus berkarya agar aku bisa terus bersyukur kepada Allah SWT atas energi & kekuatan yang diberikan pada otak & tubuhku..."

Yaa, akhirnya kami pun menyepakati hal itu, bahwa suamiku tidak mau pensiun.

I'm so proud of you my husband! 😊

Sunday, 27 November 2016

Sunday, November 27, 2016 0

Saya Si Auditori

Dulu kakak saya rajin sekali beli Majalah Muslimah. Entah majalahnya sampai sekarang masih ada atau nggak. Setiap dia beli, pasti saya juga suka baca. Bahasannya bagus-bagus. Yaa, kayak majalah lainnya lah. Ada gaya hidup, tips, artikel, cerpen, cerbung, dan lain-lain. Plus suka ada bonusnya pula. Entah buku kumpulan cerpen, atau souvenir-souvenir menarik. Bedanya hanya segmennya ya untuk muslimah.

Gaya Belajar

Tapi sekarang saya bukan mau bahas majalahnya sih. Tapi tentang salah satu bahasan yang pernah ada di majalah tersebut yakni tentang Gaya Belajar. Mungkin sebagian sudah pada tahu, kalau tiga gaya belajar itu ada tiga. Visual, Auditori, Kinestetik. Penjelasan singkatnya, visual dengan cara melihat, auditori dengan cara mendengar, dan kinestetik dengan cara praktek. Setiap anak pasti memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Tapi tidak menutup kemungkinan, tiga-tiganya bisa ada di satu orang. Meskipun tetap saja pasti ada satu yang dominan.

Oke, lalu saya sendiri masuk yang mana? Yang sudah pernah baca artikel ini pasti paham. Yap, saya tergolong Auditori. Saya lebih suka belajar dengan cara mendengar. Mungkin ini sebabnya saya dulu suka sekali mendengar radio *apa hubungannyaaa?* Jadi saya bisa tidak dengan melihat orang itu, tapi dengan memasang baik-baik pendengaran saya, maka saya tetap mudah menerima pembicaraan atau instruksi.

Orang auditori juga terbagi menjadi dua. Pertama, jika menghafal tidak bersuara, kedua jika menghafal harus bersuara. Dan saya masuk yang golongan yang ke dua haha. Makanya, kalau waktu masih sekolah ada hafalan, pasti saya berisik banget. Sampai pernah diomelin temen sebelah, karena dia menghafal tidak bersuara, sedangkan saya kalau nghafal harus keras-keras 😝 Kenapa harus keras? Karena buat auditori macam saya, suara itu berharga banget alias menambah ingatan. Kayak misalnya aja, saya lagi menghitung. Ya sembari menghitung, saya sebutin angkanya dengan bersuara. Sama halnya kayak menghitung uang kekekek. Tujuannya biar nggak lupa juga.

Saya juga tipe yang kalau belajar, bisa dibilang berisik banget haha. Tapi harus banget dalam keadaan sepi senyap nggak ada suara. Karena ada suara sedikit saja, nggak bisa masuk semua, buyar. Makanya, pas dulu awal ngeblog saya gaya-gayaan masukkin widget musik, nggak lama langsung saya hapus, karena saya jadi nggak konsentrasi sendiri 😕

Selain itu, saya tipe yang auditorinya jarang rapi. Saya bisa naruh barang sembarangan aja kalau lagi males. Yap, aktivitas rapi-rapi atau bersih-bersih itu juarang saya lakuin, hiks. Kecuali sebagai ibu rumah tangga yang sehari-harinya nyapu ya hehe. Lagi-lagi ini juga bikin saya kalau belajar atau ngapa-ngapain itu pasti berantakan. Tapi bisa dipastikan, kalau sudah selesai semua, bisa kinclong lagi hehehe.

Truus apa lagi ya?

Oh ya, kalau ada campurannya mungkin saya termasuk yang visual juga. Saya suka baca buku, suka juga belajar dengan cara melihat. Jadi dengan melihat aja, saya bisa paham :) Sesekali juga langsung praktek sih. Mungkin memang pada dasarnya, setiap manusia itu punya tiga-tiganya ya. Hanya saja ya itu tadi, pasti ada satu yang dominan.

So, kalau gaya belajarmu sendiri apa sih? 😊
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Community

kumpulan-emak-blogger Warung Blogger Blogger Perempuan bloggermuslimah.com Blogger Reporter Indonesia