Wednesday, 31 August 2016

Waroeng Mee, Semacam Tempat Nongkrongnya Anak Muda

Yeay akhirnya! Setelah satu tahun saya di Surabaya, kemarin jadi hari pertama saya kopi darat bareng Blogger Surabaya. Meski saya agak sedih dengan dua hal. Pertama, Mbak Hilda Ikka yang tidak datang karena masih sakit, Mbak Rahmah Chemist yang sudah siap berangkat, tapi anaknya tidur. Alhasil beliau tidak bisa memaksakan untuk berangkat. Yayaya, saya sudah pasrah saja. Wong saya sudah tiba di tempat pukul 12.45. Duh rajinnya saya >_< Sampai-sampai diledekkin suami -___- 

Yang kedua, acara yang dijanjikan sharing session bersama Nilam Sari, Marketing Director Kebab Baba Rafi tidak jadi, dikarenakan Mbak Nilam Sarinya masih ada acara (katanya?) Juga stand up yang batal. Hmm okeee. Ya sudahlah yaa. Kadung sudah makan di sana plus sudah ketemu temen-temen baru juga. Yo dinikmati sajaaa :v

Oh ya, sampai lupa bilang. Kemarin kami kopi darat di Waroeng Mee Surabaya. Tepatnya di Ruko Manyar Garden Kav 28, Jalan Nginden Semolo 109. 
Mbak Nilam ga datang T_T

Tempatnya

Awalnya saya kira tempatnya besar, ternyata sedang. Ya namanya juga #semacamtempatnongkrong kali ya. Terdiri dari dua lantai. Sayangnya, saya tidak sempat ke atas, jadi tidak tahu atasnya bagaimana(?) Tempatnya cozy. Memang cocok untuk nongkrong ala-ala anak muda. 

dua lantai

Makanannya

Karena pas sampai belum ada orang -_- jadi saya dan suami pesan makan duluan karena saya keburu lapar huhu. Suami lagi nggak kepingin makan nasi, jadi kami memilih pesan spaghetti. Saya pesan Spaghetti Kraket dan Bright Caramel. Sorry ya punya suami tidak kefoto dan saya lupa beliau pesan spaghetti dan minuman apa -_- hihi. 

Spaghettinya lumayan. Padahal saya agak skeptis. Karena selama makan spaghetti di luar, jarang yang cocok di lidah saya. Tapi beda dengan si Kraket ini. Ada taburan kornet dan cabai rawitnya. Enak. Minumannya juga enak, kalau saya bilang mirip-mirip rasa permen stroberi :v Harusnya dicampur Yakult, karena saya penasaran dengan rasa aslinya, jadi sengaja tidak saya campurkan :P
Spaghetti Kraket & Bright Caramel
Ada Emir lho O_O
Tidak lama saya makan, datanglah sekelompok orang. Eng ing eng, kemudian saya minder karena mereka mengeluarkan kamera segede-gede gaban (?) Maksudnya kamera DLSR gitu lho. Saya? Cuma bawa handphone Xiaomi -_- Bisik-bisik suami, mereka food blogger. Huhu keren syekali. Pantes kameranya gede -_- Yaudahlah lanjut makan. 

Eh nggak lama suami nyolek-nyolek tangan saya terus, nyuruh saya buat ikutan gabung. Haduh, tapi saya keburu minder duluan >_< Belum lagi dari mereka tidak ada yang saya kenal. Barulah setelah Mbak Wenny sang penyelenggara datang, saya mencoba ikut gabung dengan mereka. 
Tuh lihat. Sampai ada yang naik ke atas kursi. Saking niat fotonya >_<
Ooh rupanya mereka dari foody.id. Sebuah directory yang menyediakan review-review tempat kuliner di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Bali. Dan tidak semua dari mereka blogger, tapi ada beberapa yang masih fokus di Instagram saja. 

Akhirnya saya ikut foto-foto bareng mereka. Melihat cara mereka foto makanan. Nanya-nanya gimana sih foto makanan biar oke. Katanya ya paling foto flatlay, di bawah cahaya biar tidak gelap, dan tidak ngeblur. Dan menurut mereka, selama masih ada handphone, tidak perlu khawatir kalau tidak punya kamera. Lumayanlah ya saya nggak jadi minder plus dapat ilmu :D 

Tidak lama kemudian, datanglah Mbak Avy dan Mbak Anastasya, akhirnyaa perwakilan dari Warung Blogger ada yang dataaaang T_T
harus diabadikan dong
Nah balik lagi ke makanan. Makanan dan minumannya menurut saya enak-enak. Dari segi harga, juga cukup murah untuk ukuran anak-anak muda. Yakni berkisaran mulai dari Rp 10.000-Rp 85.000.
 

Ini makanan-makanan yang saya cobain (?)
Red Velvet Shaga
Dengan taburan es krim, astor dan saya gatau apa ya itu namanya yang bulet-bulet -_-
Kue Cubit dengan berbagai toping
Nasi Kader. Yakni nasi, daging pedas (enak lho.) plus telur ceplok dan lalapan selada dan timun 
Submarine Long Bread 57cm.
Burger mirip hotdog gitu deh. Isinya keju, telur ceplok, daging, dan bawang bombay.
Berani makan sendiri???
XL Burger
Roti Ovomalcheese
Kelihatannya enak-enak ya makanannya? Hihi emang enak-enak kok :D

Jadi Waroeng Mee ini merupakan salah satu grup manajemennya Kebab Baba Rafi. Mereka memang punya konsep unik untuk bikin kafe ala-ala anak-anak muda yang bisa dipakai untuk nongkrong. Selain itu, di sini juga bisa foto-foto lho. Fotonya ala Instagramable gitu deh. Sayang aja karena saya nggak foto-foto. Cause i'm pemaluu >_<

Saat ini Waroeng Mee sudah buka empat cabang. Yakni di Jl.Blora 36 Jakarta Pusat. Jl.Tebet Utara Dalam 4 Jakarta Selatan. Jl. Kisamaun 162 Tangerang. Dan Jl. Nginden Semolo 109 Sby. 

Well, tidak ada salahnya kalau kamu dekat-dekat wilayah Jabodetabek atau Surabaya, ya mampir deh ke Waroeng Mee. Cocok juga untuk bersantai-santai bareng keluarga ^_^


Seluruh foto adalah dokumen pribadi, tidak diperkenankan mengambil tanpa izin!

Monday, 29 August 2016

Ngomongin Blogging Yuk! - Ini Jawaban Pertanyaan Mami Ubii Ala-ala Saya

Kali ini saya mau bikin post khusus buat Mami Ubii alias Mbak Grace *tsaaah. Karena beliau sedang bertanya. Judulnya Ngomongin Blogging Yuk! Nah di obrolan itu, Mbak Grace punya banyak pertanyaan seputar blogging. Pas dilihat, kayaknya saya kepingin ikutan jawab. Tapi berhubung terlalu panjang kalau jawab di komentar, jadi mending saya bikin blogpostnya saja ya ^^. Hitung-hitung menambah postingan di sini *eeaaa :v

Oke, tanpa ba bi bu lagi, cekidot!
note: pertanyaan Mbak Grace di kolom kutipan. Jawaban saya di bawahnya ya :)

Tentang sponsored post


Penasaran sama hal ini sudah lama, terus lupa, terus ingat lagi setelah baca status FB Kak Kartika Putri Mentari ini:

http://www.gracemelia.com/2016/08/tentang-blogging.html#

Pertanyaan saya mirip-mirip nih. Untuk sponsored post itu, apakah lebih disukai yang soft-selling? Kenapa?

Kemudian, saya mau menambah tapi pakai cerita dulu ya.

Jadi, kapan gitu saya pernah mampir ke forum sebuah situs parenting yang topiknya adalah mama blogger favorit. Beberapa komentator, bahkan cukup banyak sebenernya, kompak menyebut satu nama mama blogger idola. Sebut saja Raisa, yah. Tapi, ternyata di komen-komen belakangan, banyak juga yang bilang begini,

"Dulu sih suka banget mampir ke blog Mbak Raisa. Tapi belakangan ini isi blognya pasti jualan terus (maksudnya sponsored post kayaknya) jadi aku lama-lama agak males dan jadi lebih suka mampir ke blognya Mbak Isyana."

Demi kepo, saya pun meluncur ke blog Raisa dan memang ternyata last entriesnya saat itu hampir semuanya sponsored post, yang padahal menurut saya nggak kentara-kentara amat loh. Ibarat saya mampir ke 5 postsnya, ternyata 4 nya sponsored posts. Jadi kan kebanyakan nggak dijeda dengan post biasa sebelum dan sesudah sponsored posts nya.

Ternyata hal kayak gitu bisa bikin loyal readers berpaling. Kalau menurut kalian, gimana, gaes?

Nambah: Advertorial dan sponsored post itu sama atau beda sih, temans?
Saya sempat mengikuti thread Mbak Putri ini, tapi lupa waktu itu ikut jawab apa nggak. Kayaknya sih enggak :v Sebagai pembaca, saya lebih menyukai yang soft selling. Walaupun dari segi penulis, saya sendiri masih sering hard selling >_< Saya juga masih belajar bagaimana ya biar tidak terkesan menjual tapi kita tetap menyebutkan nama produknya. Karena beberapa brand memang meminta untuk direview dengan jelas produknya. Jadi saya seringnya masih kesulitan menggunakan bahasa yang 'halus' padahal sedang menjual *uhuk >_<.

Untuk sponsored post, saya setuju dengan salah satu komentar di postingan Mbak Grace yang mengatakan bahwa sponsored post haruslah diberi label sponsored post. Supaya pembaca juga tahu bahwa tulisan itu memang bersponsor. Supaya pembaca tidak merasa zonk ataupun dibohongi. Itu sebabnya saya juga bikin label sponsorship di sini. Jadi teman-teman sudah tahu ya, kalau di post saya ada label sponsorship, itu berarti pesan dari sponsor ;)

Soal last entries yang kebanyakan sponsored post, itu memang mengganggu banget. Lagi-lagi dari segi saya sebagai pembaca. Nah lagi-lagi juga, dari segi penulis saya pernah dua kali begini >_< Dalam beberapa hari meskipun tidak dalam waktu dekat, tapi berturut-turut entries-nya sponsored post. Alasannya, waktu itu sudah mepet sekali. Klien minta rekapan akhir bulan, sementara job baru diberikan tanggal 20an hiks >_< Jadi saya berjanji, nggak mau begini lagi >_< Kalau sebelumnya masih ada sponsored post, saya usahakan supaya ada jeda beberapa posts baru diisi dengan sponsored post lagi. Oke. Semoga terlaksana dengan baik!

Soal advertorial dan sponsored post menurut ilmu sotoynya saya sama saja sih. Malah awalnya sebelum bikin label sponsorship, saya bikin label advertorial. Cuma karena kayaknya lebih keren *halah* dengan nama sponsorship, jadi ya saya ganti. Skip. Ini jawaban yang paling tidak memuaskan. Mbak nanti kalau ketemu jawaban yang lebih oke, colek saya yaa >_<

Tentang komentar di posts 


Pengen tau aja, kalau untuk teman-teman blogger sekalian, komentar itu seberapa penting? Apa alasannya?

Dulu, pas saya iseng buka blog Raisa yang sudah punya nama di jagad blogging Indonesia, ternyata jumlah komen per post nya biasa. Sedikit, biasa, atau banyak tuh memang relatif ya. Tapi, untuk seorang seleb blog, IMHO jumlah komen yang didapat Raisa ini biasa, cenderung ke arah sedikit malah. Tapi blognya tetap ramai. Pageviews nya tetap meningkat signifikan - ini saya sotoy. 

Jadi, bisa nggak sih dibilang kalau jumlah komentar itu bukan faktor penentu utama sebuah blog ramai atau enggak? What do you guys think?
Saya termasuk yang menganggap bahwa komentar itu sangat sangat penting. Ini dari segi saya sebagai penulis. Karena kadang kita sebagai penulis tidak tahu apakah tulisan kita dibaca atau tidak kalau tidak ada yang komentar. Bisa sih pakai widget yang bisa mengetahui bahwa blog kita ada yang mengunjungi atau tidak. Tapi dengan adanya komentar, otomatis kita lebih cepat tahu, oh tulisan kita dibaca. Dan dengan adanya komentar pula, kita lebih tahu apakah tulisan kita bisa dipahami atau tidak dan bermanfaat atau tidak. Biasanya ini akan ditunjukkan dari komentar yang berbunyi "Terima kasih ya" atau "TFS (Thanks for sharing.red) ya" atau bisa juga, orang akan mendadak curhat di kolom komentar. Itu tandanya, artikel kita memiliki sebuah manfaat. Entah sekedar menghibur atau memang berguna untuk kehidupan mereka :)

Tapi saya juga beberapa kali menemukan blog seperti si Raisa di atas. Komentarnya dikit, atau bahkan tidak ada sama sekali, tapi anehnya ranking blognya itu bagus *berdasarkan widget Rank yang dia pasang ya. Jadi kalau dibilang komentar bukan faktor penentu utama sebuah blog ramai, mungkin bisa dibilang iya. Sejujurnya saya juga masih bingung sih. Karena beberapa blog yang komentarnya sedikit atau tidak ada yang tadi saya temukan itu, saya merasa blogpost-nya biasa saja. Entah dari mana bisa ramainya. Tapi seperti yang sudah saya katakan di sini juga sih, setiap tulisan pada dasarnya akan memiliki pembacanya sendiri. 

Tentang menaikkan traffic blog


Hal ini pernah diulas lengkap banget sama Windi Teguh. 

Baca di http://www.windiland.com/2016/08/11-tips-gampang-membuat-blog-ramai.html yah.

Di situ, Windi menulis hal-hal yang dia lakukan adalah: bikin posts tentang tema yang sedang hot atau booming (bisa film, acara televisi, status teman lain, isu terbaru, atau meme), bikin judul yang bikin orang curious, cerita tentang pengalaman unik, bikin tanggapan dari blogpost blogger lain, dan bikin blogging collab. Yang terakhir ini kami praktikkan berdua dengan postingan #GesiWindiTalk kami.



Menurut kalian, ada lagi nggak tips yang lain? Sekalian nambah ilmu bareng, yuk!
Saya sudah baca blogspost dari Mbak Windi tadi. Dan saya setuju semua poinnya. Terutama yang saya rasakan itu saat kita menulis hal yang sedang booming. Kayak artikel tentang si Alvin waktu itu. Baru beberapa hari, langsung naik ke popular posts di blog saya. Keren bener ini haha *abaikan pedenya. 

Soal trik lainnya menurut saya sama sih seperti yang blogger profesional sering bilang. Menulislah sesuatu yang memang dicari banyak orang. Karena semakin dicari, artinya semakin dibutuhkan. Semakin dibutuhkan, itu berarti artikelnya bermanfaat. Yess PR besar juga buat saya, supaya nggak kebanyakan curhat yang nggak penting di blog >_<

Dan ini tip yang pernah suami kasih. Barangkali ada kaitannya juga ya dengan traffic. Usahakan sidebar di blog kita, diisi dengan link-link yang mengarah lagi ke blog kita. Misalnya popular posts, arsip, dan label. Dengan ditaruh di sidebar atau samping, orang yang selesai baca satu artikel kita, pasti akan penasaran dengan artikel-artikel lainnya. Dengan kata lain, pengunjung akan betah di blog kita. Makanya, penting untuk membuat judul post unik atau menarik yang bisa membuat orang tertarik untuk membaca. Yess note to my self. Satu lagi PR buat saya! So, sebisa mungkin jangan taruh tiga elemen ini di bawah atau footer ya. Karena biasanya orang jarang yang mau nengok-nengok ke bawah ihik.

Tentang socmed sharing


Pasti sudah banyak dari kita yang menerapkan ngeshare link blogpost terbaru kita di media sosial masing-masing yah. Kalau dari pengalaman kalian, seberapa efektif sih? Dan di platform media sosial apa yang paling efektif?

Kalau saya, share di Twitter kayaknya nggak ada yang ngeklik. Hahahaha. Ini ketawa miris, sist!
Efektif banget banget banget Mbak Grace. Terutama di Facebook. Apalagi kalau dishare di status Facebook kita sendiri *bukan fanpage lho ya. Karena tidak semua orang like fanpage kita :v Katakanlah teman saya ada 3000 lebih. Dari 3000 itu tidak mungkin tidak ada yang mengklik tautan artikel blog kita. Apalagi kalau kita kasih pengantar yang ciamik. Dijamin akan menggoda orang buat ngeklik hehe.

Lebih efektif lagi share di semua media sosial haha. Meskipun terkesan maruk, tapi sudah saya buktikan sendiri lho. Kayak postingan jodoh yang tidak terduga itu. Saya share di semua media sosial saya. Termasuk BBM dan WhatsApp. Alhamdulillah langsung melejit di popular posts. Padahal tadinya - niatnya cuma mau notifikasi ke teman-teman supaya tidak tanya-tanya lagi soal pernikahan saya yang mendadak dan serba singkat :v 

Tentang fee / rate card

Kalau kita dapat tawaran blog dan/atau socmed monetization yang sebelumnya belum pernah kita coba, pasti ada kebingungan yah saat ditanya berapa rate card kita sama si calon klien. Pernah nggak ngalamin bingungnya? Kalau pernah, lalu kalian ngapain?
Nanya-nanya ke blogger/influencer lain, nanya di forum blogging, atau gimana?
Sekalian nanya, kalau model nanyanya kayak, "Mbak/Mas, aku ditawarin job X dari agency Y. Tapi aku bingung nentuin rate nya. Kalau Mbak/Mas ngerjain job model gini, boleh tau ga biasanya ngeset rate di kisaran berapa?" itu mengganggu dan terkesan kurang sopan nggak sih?
Tbh, saya pernah beberapa kali nanya begitu ke beberapa teman. Pilih-pilih sih yang sekiranya cukup dekat. Tapi kan saya nggak pernah bisa bener-bener tahu isi hati orang yang saya tanyain begitu. Kira-kira aslinya tersinggung nggak, blablabla. I would never know. 
Jadi menurut teman-teman gimana? Kalau saya sendiri ditanyain gitu, biasanya saya jawab dengan senang-senang aja sih, tapi memang lebih enak juga jawabnya kalau yang nanyain cukup dekat dengan saya.
Bingung? Sering banget. Bahkan sampai saat ini saya masih suka bingung kalau ditanya soal rate card itu. Bagaimana ya, di satu sisi saya maunya dibayar tinggi *halah* Tapi di sisi lain, saya pun menyadari bahwa blog saya masih apalah hmm. Biasanya kalau bingung gini saya 'ngaca' aja dari sebelum-sebelumnya, jadi saya nggak terlalu naikkin tinggi. Maksudnya ngaca, ya saya lihat-lihat lagi dari segi statistik atau DA nya. Kalau memang masih segitu-gitu aja, ya sadar dirilaaah >_< Tapi yang paling senang kalau si klien mau diajak negosiasi dan bisa dikabulkan. Haha uuuh baik hati syekali :v

Mau sih nanya ke blogger lain kalau lagi bingung gitu. Tapi saya orangnya nggak enakkan hiks. Dan sama seperti Mbak Grace, takutnya yang ditanya itu ya tersinggung atau tidak merasa enak ketika ditanya. Jadi balik lagi, saya berkaca saja dari yang sebelum-sebelumnya dan melihat statistik blog sendiri.

Tentang SEO


Dari dulu saya pengen bisa hal ini tapi selalu bingung menerapkan. Ada yang punya tips simpel yang boleh saya pelajari? Hehehe...
Dan, mau nanya, SEO itu seberapa penting sih sebetulnya?
Pertama yang pasti, bikin judul artikel yang mengandung keyword yang kira-kira bakal dicari orang. Misalnya kayak 3 film tentang kakak adik yang dulu pernah saya posting. Pasti orang yang sedang mencari film yang berhubungan dengan kakak adik itu akan menulis di kolom search film tentang kakak adik. Nah kalau kita bikin judul yang mengandung keyword tadi, insya Allah blog kita bisa di urutan teratas. Terbukti dari artikel saya tadi, itu ada di posisi kedua google hehe. Eh ini namanya SEO juga kan ya :v

SEO itu kayaknya penting deh. Terutama untuk yang memang mau blognya terus menghasilkan. Karena semakin blognya sering muncul di pejwan mbah google, otomatis para brand itu akan dengan cepat melirik kita untuk diberikan job *eeeaaaa :v Ah tapi kayaknya Mbak Grace lebih lihai bikin postingannya daripada saya :v 

Oke. Segitu deh Mbak yang bisa saya jawab. Dua pertanyaan lain soal Google Ad Sense dan Shareaholic belum bisa saya jawab. Karena saya pun belum tahu soal itu :v 

Gimana Mbak, kurang memuaskan ya? Hihi. Tapi kalau dilihat-lihat, itu kenapa kebanyakan saya balik nanya lagi ya? Wkwkwk. Ya karena saya pun masih belajar ^_^ Jadi jawaban-jawaban di atas hanyalah jawaban ala-ala saya saja :v Maafkan ya kurang lebihnya ^_^

BTW, saya suka lho sama blognya Mbak Grace. Bahkan ada satu postingan Mbak yang menginspirasi saya (baca: Pengaruh Cara Didik Orang Tua)  *uhuy. Keep blogging ya Mbak! Semangat!

Friday, 26 August 2016

Kemudahan Mencari Teman Sekamar

Sejak lulus sekolah, saya ingin sekali merasakan yang namanya merantau. Tapi ibu pasti tidak mengizinkan. Motto ibu adalah, makan tidak makan asal kumpul. Yap. Bagi ibu, anak-anak yang berkumpul adalah sebuah kebahagiaan. Karenanya, tidak ada satu pun dari kakak-kakak atau adik saya yang merantau. Berbeda jika kami sudah menikah, justru diharuskan untuk mandiri dan tinggal di rumah sendiri bersama pasangan. Jadi Alhamdulillah kini semua anak-anak ibu yang sudah menikah, sudah pisah dari rumah orang tua dan tinggal di rumah kami sendiri.

Baca: Merantau

Seiring waktu dulu, saya menyadari bahwa tidak merantaunya kami semua mungkin hal yang harus disyukuri. Terbayang teman-teman saya yang harus merasakan kuliah jauh dari rumah. Mereka harus rela berpisah dari orang tua juga keluarga. Juga merasakan sulitnya mencari kos-kosan atau pun rumah sewa hingga mencari teman sekamar atau serumah dengan alasan agar membayar sewanya lebih murah.

Sedang saya di rumah? Saya tidak perlu khawatir itu semua. Saya bisa bertemu orang tua dan keluarga setiap kali saya pulang kuliah dan kerja. Saya tidak perlu kesulitan mencari kos-kosan atau pun rumah sewa untuk tempat singgah. Ya, karena saya juga bekerja dan kuliah yang tidak jauh dari rumah. Lagi-lagi karena ibu tidak mengizinkan kami untuk merantau jauh.

Ah tapi itu dulu, tahun 2011 hingga tahun 2015. Kini sudah tahun 2016, zaman sudah pasti semakin canggih. Maka semakin canggihlah bahkan dalam hal sekedar mencari kos-kosan atau pun rumah sewa. Ialah Serumah.com sebuah platform yang telah menyediakan semuanya.
logo serumah.com


Apa itu Serumah.com?

http://serumah.com/2016/06/17/kost-kostan-asrama-hingga-flatsharing-mencari-tempat-tinggal-freshman/
Serumah.com merupakan sebuah platform yang memfasilitasi penggunanya untuk mencari teman sekamar atau dengan kata lain roommate, juga mencari kamar sewa. Sebenarnya, di Indonesia sendiri sudah banyak situs sosial seperti Facebook, Kaskus, dan OLX yang digunakan sebagai pencarian tempat tingal sewa. Namun ketiganya, tidak menyediakan pencarian kamar sewa. Inilah yang menjadi kelebihan Serumah.com.


Lantas apa saja fitur yang ada di Serumah.com?

Serumah.com memiliki tiga fitur utama di dalamnya, yakni:
a. Pemilik properti (kost, apartemen, rumah sewa) dapat mengiklankan gratis di website Serumah.com. Teman-teman bisa melihat linknya di sini http://serumah.com/en/submit-room-ad/. Namun sebelum itu, teman-teman harus mendaftarkan diri terlebih dahulu sebagai user di: http://serumah.com/register/.

b. Pencari properti (kost, apartemen, rumah sewa) dapat mencari properti yang mereka butuhkan sesuai dengan budget (Price Range) dan juga lokasi (Map Function). Dapat dilihat di link berikut: http://serumah.com/en/find-room/.

c. Pencari Roommate. Inilah fitur yang terpenting. Yaitu mereka yang ingin mencari teman untuk tinggal bersama dan berbagi biaya tempat tinggal bersama dengan orang lain (mungkin teman-teman bisa menyebutnya housemate, roommate, kostmate atau pun flatmate). Untuk fitur ini dapat dilihat di link berikut: http://serumah.com/search-people/, kemudian pilih "orang yang mencari teman sekamar/people looking for a room".

Pada halaman http://serumah.com/search-people/, teman-teman juga akan menemukan opsi "orang yang mencari penyewa/people looking for a tenant". Pada menu tersebut teman-teman akan menemukan profil pemilik properti yang mengiklankan properti mereka (kost, apartemen, rumah sewa). 
http://serumah.com/2016/03/22/berbagi-tempat-tinggal-jakarta-apa-sebenarnya-kita-bagi-bersama-2/
Sebab, khususnya di kota besar seperti Jakarta, saat ini trend berbagi kamar (room sharing) semakin hype. Oleh sebab itu Serumah.com ingin memfasilitasi mahasiswa juga profesional muda yang sedang mencari roommate (teman sekamar) untuk dapat menggunakan fitur dari website Serumah.com.

Mengapa harus Serumah.com?

Semakin ke sini orang-orang semakin mencari kemudahan. Bagi mahasiswa dan profesional muda yang merantau dari kota asal yang mencari tempat tinggal berdasarkan preferensi mereka, tentu saja situs Serumah.com mampu menjadi jawaban dari kemudahan tersebut. Dan lagi, mayoritas masyarakat kita di Indonesia sebagian besar merupakan pengguna mobile phone. Sehingga Serumah.com telah memastikan bahwa websitenya sangat mobile friendly tanpa mengharuskan pengguna mengunduh aplikasi. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan bahwa Serumah.com akan membuat aplikasi. Ah tetapi bukankah lebih mudah jika kita sebagai pengguna tidak perlu harus mengunduh dulu?

Apakah Serumah.com melibatkan pihak tertentu?

Serumah.com tidak memiliki fokus golongan/kelompok tertentu karena Serumah.com ingin melibatkan semua. Yakni penyewa dan pemilik properti. Serumah.com ingin membantu teman-teman yang di kelas menengah maupun ke bawah atau pun "middle income" dan "low income" group. Khususnya mahasiswa dan profesional muda yang baru memulai pekerjaan di kota besar dengan adanya fitur berbagi ruangan (roomshare/kost-share/flatshare).

Bagaimana dengan harganya?

http://serumah.com/2016/04/13/serumah-com-mahasiswa/
Range harga yang ditawarkan di menu Serumah.com berkisar Rp 0 hingga Rp 10 juta. Karena Serumah.com selalu percaya, bahwa bagi golongan seperti mahasiswa dan profesional muda yang tidak dapat mengelola keuangan dengan baik, range tersebut dapat memudahkan mereka untuk memilih harga yang sesuai dengan budget mereka. Dan menyewa kamar adalah salah satu cara untuk mengelola keuangan dengan baik.

Yap. Bagi yang sedang mencari teman sekamar maupun kamar atau rumah sewa, barangkali informasi ini dapat bermanfaat :) Akhirnya kita harus berterima kasih pada kemajuan teknologi, karena semakin maju, semakin kita dimudahkan :)

Wednesday, 24 August 2016

Memanfaatkan Sisa Makanan

Pekan ini masuk minggu kedua Collaborative Blogging bersama Komunitas Emak Blogger (KEB). Apa itu Collaborative Blogging? Yakni para emak blogger yang berkolaborasi untuk menulis dengan tema serupa. Mekanismenya, dibagi per grup. Satu grup terdiri dari 10-11 orang. Salah satu emak akan menulis di website KEB, dan emak yang lain menanggapi tulisan si emak pertama atau menulis bebas selama masih satu tema. Harusnya saat pertama kali ya saya jelaskan, tapi tak apalah hehe :v

Baca Collaborative Blogging 1: Kampanye ASI Bukan untuk Menghakimi
https://image.shutterstock.com/display_pic_with_logo/1998197/348320018/stock-photo-enjoying-dinner-with-friends-top-view-of-group-of-people-having-dinner-together-while-sitting-at-348320018.jpg
Kembali lagi, tema Collaborative Blogging kali ini adalah Makanan Sisa, Diolah Lagi atau Dibuang? yang ditulis oleh Mak Maya Siswadi. Ehm, sejujurnya saya agak tersindir dengan tulisan ini. Bagaimana tidak, saya sendiri masih suka membuang makanan >_< Padahal orang tua saya tidak pernah mengajarkan hal tersebut. Sama seperti mamanya Mak Maya, ibu saya pun selalu mengolah makanan yang masih sisa. Beliau paling pantang buang makanan, selama makanan tersebut masih bisa diolah lagi >_< Bahkan hal ini pun terbawa juga pada ayah saya.

Padahal, saya sendiri masih suka baper kalau masak tapi tidak habis. Entah karena masak kebanyakan atau yang ambil makan pada sedikit. Apalagi kalau makanan tersebut memang cepat basi, ya mau tidak mau harus dibuang huhu. Karena itu, sesekali saat rajin saya masih suka mengolah beberapa makanan sisa menjadi makanan baru. Kita ambil dari contoh Mak Maya saja ya.
1. Mie atau bisa juga mie goreng yang ga abis bisa ditambahkan telur, taruh di loyang, kukus/panggang dan jadilah schootel mie.
Kalau saya: Selama mie tersebut belum basi, biasanya saya masak nasi goreng dan saya campurkan mie nya. Enak lho, nasi goreng campur mie :P Asal mie nya, mie goreng ya.

2. Bumbu Balado sisa? Sering kan ya masak balado, tapi bumbu balado alias balado nya bersisa banyak? Sekarang kan cabe lumayan mahal ya. Sayang euuyy, kalau si bumbu ini terbuang begitu saja. Selagi belum basi, bisa kok dimanfaatkan. Potong tempe kecil-kecil, goreng kering. Goreng teri, Sisihkan, biarkan agak dingin. Panaskan balado sebentar saja, sisihkan, biarkan agak dingin. Setelah hilang panasnya, campurkan tempe dan teri goreng ke dalam balado, jadi lah balado tempe-teri.
Kalau saya: Ya sambelnya buat saya bikin nasi goreng juga :v Atau campuran untuk telur dadar atau omelette. Tapi resep Mak Maya boleh tuh kapan-kapan saya coba. Dijadiin tempe orek ataupun goreng teri.

3. Ayam goreng sisa? Ohooo, tenang, bisa diolah jadi banyak macam, mulai suwiran ayam untuk nasi goreng, suwiran ayam untuk bubur ayam, suwiran ayam untuk soto, tumis ayam suwir, ayam goreng mentega, dsb.
Kalau saya: Biasanya ayam goreng sisa pun ya saya bikin nasi goreng juga #nggak kreatif -_-. Kenapa juga ya nggak pernah kepikiran bikin tumis ayam suwir >_<

Oke. Tiga itu sih makanan yang sering saya olah lagi. Selebihnya, ya dibuang >_< Apalagi kalau malasnya lagi kambuh huhu. Ya sudah, jangan tiru saya ya. Tiru saja Mak Maya yang kreatif memanfaatkan sisa makanan. Barangkali ini juga bentuk peringatan untuk tidak mudah membuang makanan. Terlebih jika memikirkan orang-orang yang untuk makan saja masih sulit :'( Huhu semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya :'(

Monday, 22 August 2016

Gagal Paham itu Ketika....

Gagal paham. Sering ya kita dengar kalimat itu. Saya lagi mikir saja, sepertinya tidak jarang kita mengalami hal ini. Gagal paham sama orang lain. Atau kita sendiri menyadari bahwa tingkah kita itu gimana sih, kok kayaknya kita sudah tahu salah, tapi kok malah dilakukan? 5 hal di bawah ini barangkali yang paling sering kita temui. Atau mungkin teman-teman punya hal yang lain, boleh juga dishare ^^
https://image.shutterstock.com/display_pic_with_logo/321598/318060599/stock-photo-nerdy-scholastic-young-woman-wearing-geeky-glasses-standing-thinking-with-her-finger-raised-and-a-318060599.jpg

Bilangnya benci, tapi yang dibenci justru selalu diperhatikan sampai detail

https://pixabay.com/id/cinta-merah-valentine-jantung-1427727/
Mungkin ini sebabnya benci berbeda tipis dengan cinta. Manusia yang menanggung kebencian dalam dirinya, juga selalu memperhatikan hal-hal yang dibencinya hingga hal yang terkecil. Terlebih benci dengan sesama manusia. Ia tahu kekurangan apa saja yang ada dalam diri orang yang dibencinya. Tapi berbeda dengan cinta, jika cinta selalu bisa memaafkan sebesar apapun kekurangan, benci tidak. Sekecil apapun kekurangan justru dicarinya agar bisa dijadikan kesalahan atau menjadi bahan peperangan. Naudzubillah.

Pengalaman: Saya pernah ada di posisi orang yang dibenci. Yang ada justru dia tahu hal-hal terkecil dalam hidup saya. Oh my, saya merasa diperhatikan sekali :')


Saya pernah baca sebuah kutipan yang bagus dari buku Who Will Cry When You Die,
Ketika kau tidak menyukai seseorang, rasanya nyaris seperti kau menggendong orang tersebut. Menguras energi, antusiasme dan ketenangan pikiramu. Tapi, begitu memaafkannya, kau menurunkannya dari punggungmu dan dapat melanjutkan sisa hidupmu.

Minta nasihat, tapi setelah diberi malah ngeyel

https://pixabay.com/static/uploads/photo/2015/04/07/12/00/help-710848__180.jpg
Berapa banyak dari kita yang selalu minta nasihat dari orang-orang yang dirasa lebih bijak, lebih mampu, tapi setelah diberi justru tidak didengarkan? Yang ada kita malah menyanggah nasihat itu dan menyangka bahwa nasihat itu tidak bisa kita lakukan. Kita justru memilih jalan lain yang sesungguhnya sudah kita tahu. Lantas kalau sudah tahu, mengapa masih minta nasihat? Kalau merasa pilihan kita benar, buat apa orang capek-capek menasihati?

Pengalaman: Sering minta nasihat suami, setelah dinasihati malah ngeyel. Giliran nasihatin orang, orangnya malah ngeyel, kesal sendiri. Barangkali begitu juga perasaan suami (kesel.red) T_T

Selalu mengeluh, tapi enggan memperbaiki diri

https://image.shutterstock.com/display_pic_with_logo/1494092/356676353/stock-photo-hand-gesture-concept-displeased-s-man-complaining-or-grumbling-with-hands-forward-studio-shot-356676353.jpg
Kita selalu mengeluh hal yang sama setiap hari. Tapi yang kita fokusi hanya keluhannya saja. Lupa pada fokusnya untuk memperbaiki segala kesalahan. Ini sama saja seperti titik hitam di kertas putih. Kita tidak melihat begitu banyak area yang masih bersih, yang kita lihat hanya sebuah titik hitam yang sesungguhnya bisa kita abaikan, atau bahkan bisa kita hapus.

Pengalaman: Ngeluh sakit mulu, tapi disuruh minum obat nggak mau >_<

Minta pendapat, tapi setelah diberi pendapatnya malah merasa pendapat sendiri paling benar.

https://pixabay.com/static/uploads/photo/2016/06/25/13/32/poster-1478892__180.jpg
Ini sama saja seperti nomor 2 tadi. Bedanya, yang ini hanya meminta pendapat. Tapi setelah diberi pendapat, malah merasa pendapat sendiri paling benar. Jadi arti pendapat itu apa sebenarnya? -_- Harus mengikuti maumu? Ck --"

Pengalaman: Saya pernah menemukan orang yang seperti ini. Dia meminta pendapat saya. Ya sudah saya bicara, tapi setelah saya bicara apa yang dia tanggapi? Nggak gitu, yang bener tuh gini. Lho, tadi nanya pendapat, tapi kok malah disanggah -_-

Sudah tahu dosa, tapi masih dilakukan.

https://pixabay.com/static/uploads/photo/2015/09/29/21/02/handcuffs-964522__180.jpg
Duh ini hal paling berat daripada hal-hal yang di atas. Seberapa sering kita mengetahui bahwa hal itu dosa, tapi masih juga dilakukan. Kadang dengan alasan takut, alasan tidak enak, dan berbagai alasan lainnya >_< Bahkan menganggap bahwa dosa itu kecil atau sepele -_-

Pengalaman: Saking asyiknya ngobrol, jadi ngomongin orang lain T_T


Oke, semua hal di atas, hanyalah satu pengalaman saya. Kalau mau dijabarkan bisa lebih banyak lagi >_< Nah, teman-teman sendiri pernah tidak sih menemukan gagal-gagal paham tadi? Atau pernah mengalaminya sendiri? Berani share? Hehe.

Sepertinya, kegagalan pemahaman ini memang akan terus ada. Ya barangkali untuk membuat hidup lebih berwarna. Karena pada dasarnya, manusia memang selalu punya kesalahan dan kekurangan. Yang jelas, gagal paham ini tetap harus diminimalisir dengan usaha kita sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena kebaikan pun juga bisa diusahakan kan ^^

Saturday, 20 August 2016

Jadikan Media Sosial sebagai Ajang untuk Bersyukur

Balada media sosial saat ini adalah seringkali apa yang dipamerkan, justru membuat iri hati orang lain. Melihat orang yang punya pasangan dan naruh foto lagi gandengan tangan, yang masih sendiri langsung baper (bawa perasaaan.red), merasa bahwa mereka norak sekali pamer kemesraan. Melihat orang yang pasang status tentang kemenangan lomba menulis atau blognya, yang lain langsung bilang dia sombong. Melihat ada yang posting foto masakan sembari menata dapur minimalisnya, dibilang itu hanya pamer. Weleh-weleh ckckck.

Pahami bahwa saat ini adalah eranya media sosial.

https://pixabay.com/id/pohon-struktur-jaringan-internet-200795/
Jadi apa sebenarnya mereka salah? Tidak. Mengapa? Karena iri atau tidaknya kita adalah kita yang menentukan sendiri. Baper atau tidaknya kita karena kita yang membawanya. Jadi semua prasangka itu hanyalah tergantung cara kita memandangnya. Hidup selalu punya pilihan bukan? Mengapa tidak kita mencoba selalu berpikir positif. Menyadari bahwa saat ini memang sudah eranya media sosial. Yang artinya, semua menjadi lebih terbuka. Orang bebas mengeskpresikan kebahagiaannya. Orang bebas memasang status atau foto apapun yang menurut dirinya berarti. Ya karena kita pun punya hak yang sama. So, selama itu memang tidak merugikan dan mengganggu ketentraman kita dan orang banyak, lantas buat apa kita sibuk iri? Sederhananya, media sosial memang sudah jadi ajang untuk pamer. Perkara orang mau pamer apa, itu hak mereka. Sekali lagi, selama itu tidak merugikan kita, ya bersikaplah biasa-biasa saja.

Kita bisa melewati apa yang tidak kita suka.

https://pixabay.com/id/bahaya-bahan-cross-814644/
Di media sosial kita punya pilihan. Menyukai, atau melewati. Sejak saya mulai sadar masing-masing orang memang berbeda pandangan di media sosial, saya lebih memilih untuk mengendalikan diri sendiri. Toh pada dasarnya kita memang punya banyak pilihan kan. Kita bisa melewati status-status ataupun foto-foto yang tidak kita sukai. Kalau kita memang merasa tidak nyaman, ya tinggal kita skip (lewati.red). Kita juga masih punya tombol pilihan lain. Bisa pilih tombol unfriend, unfollow, atau bahkan blokir. Yes, ternyata semudah itu. Kalau mereka tak bisa dikendalikan, ya sudah kita saja yang mengendalikan diri.

Daripada mengatur orang lain, kita saja yang mengatur diri sendiri.

https://pixabay.com/id/smartphone-wajah-wanita-mata-1445448/
Sekali lagi, lebih mudah mengatur diri sendiri ketimbang orang lain. Semakin manusia dewasa, semakin dia merasa punya hak. Maka wajar saja jika mulai susah diatur, sebab dia merasa sudah punya pilihan untuk melakukan apa yang dia suka. Jadi, ketimbang sulit mengatur orang lain untuk mengikuti apa yang kita mau, maka kita saja yang ubah diri kita sendiri. Apalagi media sosial itu punya kita sendiri. Ya sudah perlakukan saja apa yang kita mau. Tidak mau ada hal yang negatif, ya blokir saja yang sekiranya mengandung konten-konten negatif. Tidak mau jadi baper karena melihat status orang lain, ya lewati saja status tersebut atau unfollow orangnya. Tidak mau sedih karena banyak status mengeluh, ya unfriend saja dia. Yes, sesimpel itu kawan.

Ingatkan secara pribadi.

Kalau pun kita ingin menasihati seseorang, katakanlah agar dia tidak bersikap yang terlalu di media sosial, maka ingatkanlah secara pribadi. Karena mengingatkannya di kolom komentar ataupun membuat status, itu sama saja dengan mempermalukan dia di depan khalayak. Yang ada nasihat kita tidak digubris, dia pun jadi benci dengan kita.
http://www.mialiana.com/2014/02/nasihat-menasihati.html
Well, status-status yang berbau kebahagiaan di media sosial itu hanyalah sesuatu yang terlihat. Kita tidak tahu motif seseorang untuk memasang status tersebut, karena kita pun tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka di balik media sosial. Alih-alih kita memandangnya negatif, mengapa tidak kita jadikan itu sebagai pelajaran untuk lebih bersyukur. Setiap manusia sudah diberi nikmatnya masing-masing. Tinggal kita yang memandang sejauh apa nikmat itu sebagai kebahagiaan yang harus disyukuri.
http://www.slideshare.net/AlJambary/syukur-42442754
Melihat ke atas, hanyalah membuat leher kita pegal. Apa artinya? Jika kita terus-terusan melihat ke atas untuk urusan dunia, selamanya kita akan selalu merasa kurang dan tidak pernah bersyukur. Tapi jika kita memandang hal tersebut sebagai bentuk kenikmatan yang memang sedang dirasakan orang lain, maka insya Allah, hati kita akan lebih sejuk karena terhindar dari segala macam prasangka. So, marilah kita pandang hidup kita sendiri. Karena sesungguhnya dalam hidup kita pun, ada nikmat yang selalu bisa disyukuri :)

Note: Tulisan ini menjadi pengingat bagi diri saya sendiri.

Friday, 19 August 2016

Mentor Kehidupan

Sejak kecil, saya punya teman imajiner. Saya ingat sekali, saat SD sepulang sekolah, saat ibu selesai menanyakan nilai-nilai saya di sekolah, tiba-tiba saja saya bicara sendiri. Sejak itulah saya punya teman khayalan. Tapi bukan teman 'yang tidak bisa terlihat' itu ya. Bukan. Karena saya memang bukan anak indigo atau anak yang memiliki kelebihan semacam itu. 

Saya juga tidak tahu pasti mengapa saat itu tiba-tiba saja saya bicara sendiri. Seolah ada teman yang sedang mengajak bicara. Padahal, ya itu saya sendiri juga yang bicara -_- Seiring berjalannya waktu, saya membuat teman khayalan itu seperti apa yang saya inginkan. Ya, apa yang tidak saya dapatkan dari sahabat atau teman-teman saya, saya menciptakan teman khayalan tadi seperti apa yang saya inginkan. Saat saya sedang down, saya menjadikan dia seperti orang yang bijak yang sedang menasihati saya. Jadi kalau boleh dibilang, saya yang asli adalah yang perilakunya buruk, sedangkan dia selalu memiliki perilaku yang baik.

Tapi saat dewasa, saya mulai menyadari, barangkali setiap orang memiliki hal yang sama. Ya, teman khayalan. Teman yang benar-benar bisa menjadi sahabat. Sahabat yang selalu bijak dan menasihati segala hal tentang kebenaran. Dengan kata lain, kini saya bisa menyebutnya mentor.

Tahu mentor kan? Seorang yang bisa membimbing. Yang ia lebih mumpuni daripada kita. Jika kita ingin ahli di suatu bidang, seringkali kita butuh mentor. Jadi siapa mentor itu sebenarnya? Yap, ialah diri kita sendiri. Ia yang mungkin bisa disebut sebagai nurani. Yang tidak pernah berbohong. Yang perilakunya selalu baik. Meski tidak terdengar, tapi ia selalu bergema dalam diri kita.


Setiap orang pasti punya mentor ini. Tapi pertanyaannya, berapa banyak yang mendengarkan apa kata mentor? Saat kita melakukan perilaku yang kita sudah tahu menyimpang, sang mentor dengan hangat mengingatkan. Saat kita tahu kita salah, sang mentor dengan lembut memberitahukan kebenaran. Saat kita, saat kita, dan saat kita melakukan apapun, sepanjang waktu, sang mentor akan selalu berbicara. 

Namun sayangnya, seringkali lebih banyak dari kita yang mengabaikan sang mentor. Kita justru menunggu saat-saat hidup menjadi lebih keras. Dan selanjutnya kita akan meminta nasihat dari mentor di luar diri kita yang kata-katanya lebih kita dengar. Merasa bahwa mentor di luar itu adalah motivator-motivator hebat. 

Yang padahal, semua kata-kata bijak, semua nasihat, sesungguhnya sudah sering kita dengar dari mentor dalam diri. Namun kita justru tidak percaya nasihat itu dan baru percaya ketika mentor dari luar menasihati hal yang sama. Untuk kemudian, kita menyesal karena ternyata semua nasihat yang diberikan adalah nasihat yang sama sekali tidak ada bedanya dari mentor dalam diri. Sungguh ironi. 
catatankehidupan.com
Jika mau disadari, sesungguhnya kita adalah pembelajar. Setiap detik kehidupan selalu ada hal yang bisa kita jadikan hikmah. Atau dengan mudahnya, hal yang bisa kita pahami jika dengan lapang kita mau memperhatikannya. Karena apa, karena sang mentor itu tadi. Mentor dari dalam yang tidak pernah berbohong, selalu bijaksana, dan selalu mengajak pada kebaikan. 

Bahkan jika kau mau menyadari, yang sedang membaca tulisan ini adalah kalian yang mentornya sedang berbicara :)

Jadi, sudahkah kita mendengarkan apa kata mentor diri kita? :)

Wednesday, 17 August 2016

Bersama Kemerdekaan, Harapan Akan Selalu Ada

Selamat 71 tahun Indonesia! Selamat Hari Kemerdekaan! Alhamdulillah kita semua masih diberi kedamaian dan ketentraman. Tidak terbayang apa jadinya jika Indonesia juga mengalami peperangan seperti negara-negara di timur tengah. Kita sudah jauh dari peperangan macam itu sejak 71 tahun yang lalu. Karenanya saya selalu ingat nasihat sejak sekolah. Kita harus merawat kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya. Kita tidak perlu ikut berdarah-darah melawan penjajah. Cukup mensyukuri kemerdekaan ini dengan menjadi warga negara yang baik juga dengan apa yang bisa kita lakukan. 
https://pixabay.com/id/tiang-bendera-bambu-bendera-147826/
Oke rehat sejenak dari opening yang cukup berat *halah. Sebenarnya hari ini saya mau menulis hal-hal apa saja yang saya rindukan dari momen kemerdekaan 17 Agustus ini. Tapi setelah melihat tulisan Mbak Virly yang berbicara Tentang Indonesia dan Gotong Royong, saya justru jadi terinspirasi hal lain. Thanks Mbak Virly hehe.

Berbeda dari daerah Mbak Virly, di daerah tempat saya tinggal sekarang di Surabaya, justru gotong royong masih sering dilaksanakan. Kerja bakti setiap ada momen spesial, salah satunya untuk menyiapkan momen untuk menyambut 17 Agustus. Bahkan perlombaan juga masih dilaksanakan walau tidak sebanyak tahun kemarin. Berbeda dengan wilayah rumah orang tua di Bekasi, momen 17 Agustus tidak seramai dulu. Terakhir saya ikut lomba itu saat kelas 1 SMK. Tapi sepertinya sekarang sudah dimulai lagi oleh remaja-remaja baru di lingkungan RT mengingat adik saya tahun kemarin pun menjadi salah satu panitianya. 

Sampai sini saya berpikir, barangkali kita tetap harus optimis. Karena mungkin tidak semua daerah yang hilang rasa gotong royongnya. Ya contohnya tempat saya tinggal saat ini. Saya bersyukur bisa tinggal lingkungan rumah yang tingkat kerja samanya masih baik. Saat ada warga yang kesulitan, sakit, ataupun yang meninggal, semua warga masih bergotong royong untuk membantu. 
https://image.shutterstock.com/display_pic_with_logo/1110497/376378447/stock-vector-flat-design-indonesia-icons-and-landmarks-with-fireworks-as-a-background-376378447.jpg
Jadi, sesungguhnya kita masih bisa optimis dengan adanya contoh di atas. Saya yakin banyak daerah lain yang juga masih menerapkan kerja sama masyarakat dengan baik. Pun kita bisa mensyukuri kemerdekaan ini. Kebebasan yang bisa kita nikmati sekarang.

Abaikanlah berita-berita tentang politik yang kelihatannya carut marut, kebijakan pemerintah yang sering berubah-ubah juga berita dari orang-orang yang berulah dan merugikan banyak orang. Daripada mengeluhkan hal itu, mengapa tidak kita yang memperbaiki diri sendiri. Melakukan apa yang bisa kita lakukan. Karena membangun negara memang tidak mudah. Jadi mengubah diri sendirilah hal yang paling mungkin dan paling mudah untuk dilakukan. 

Nanti, saat kita sudah menjadi orang baik dan bisa berkontribusi bagi orang banyak, maka siapa yang diuntungkan? Ya negara pula bukan? :) Lagi pula percayalah, bahwa negara tercinta kita ini masih banyak orang yang baik, peduli juga mampu berkontribusi bagi masyarakat. 

Pada akhirnya, saya ingin mengatakan, bersama kemerdekaan Indonesia, harapan-harapan pasti akan selalu ada :)

My Community

kumpulan-emak-blogger Warung Blogger Blogger Perempuan bloggermuslimah.com Blogger Reporter Indonesia