Friday, 1 March 2013

Sayangilah Bumi: Aku Bukan Tempat Sampah

Kalo kemarin aku yang mencoba ikutan lomba nulis, kali ini adikku yang diminta sekolah untuk ikutan lomba dari salah satu produk *sensor* :D. Dengan tema "Sayangilah Bumi". Yang diminta adalah menggambar atau membuat cerita pendek bertemakan itu. Ya sayangnya adikku agak sedikit manja, alhasil dia minta dibuatkan. Berhubung aku kakak yang baik, hehe akhirnya aku bantu. Tapi berhubung aku juga ngga pinter gambar, jadi memilih untuk membantu membuatkan cerpen..

And u know?
Harus 1 lembar HVS bertulis tangan, dan ngga boleh lebih -_- memakan waktu untuk berpikir tentang cerita apa, karena biasanya aku nulis paling ngga 3 lembar :D
Yowis diringkas-ringkas, disingkat-singkat ceritanya dan dipadetin.

Ini dia ceritanya..
Cekidot :D

Aku Bukan Tempat Sampah
            “Mengapa ya semua orang tega membuang sampahnya disini? Padahal aku bisa menjadi sumber air bagi mereka, ya seandainya saja mereka mau merawatku?” gerutu si Sungai.
            Dua orang remaja yang sedang berjalan, “Hmm enak banget ya snack nya. Yah habis lagi.” Plak, sampailah bungkus snack itu ke dalam si Sungai. “Aah jahat sekali mereka.” Lagi-lagi si Sungai hanya bisa menggerutu tak berkutik. “Lihat saja suatu saat, jika aku sudah marah, kalian akan merasakannya sendiri.” Kali ini si Sungai benar-benar kesal.
            “Sampai kapan kesabaranku diuji, tak taukah mereka bahwa aku diciptakan untuk keindahan mereka juga, membantu mereka, memberi mereka sumber air. Aku kan diciptakan bersih, tapi karena sikap mereka yang tak peduli padaku, aku menjadi keruh. Aku tak bisa lagi membantu mereka. Siapa yang rugi? Bukankah mereka sendiri?” Sungai mulai meneteskan air matanya.
            Suatu ketika..
            “Ibu, ibu, ayo kita mengungsi, banjir sudah mulai mendekat kesini.” Bapak panik.
            Ibu yang masih berada di dalam rumah, “Iya Pak, tunggu sebentar.”
            “Sudahlah Bu, bawa saja yang penting-penting. Kita tak punya waktu lagi. Ayo kita mengungsi.” Bapak semakin panik.
            Kali ini kemarahan si Sungai benar-benar meluap. Ia sudah tak tahan dengan tumpukkan sampah yang terus menjejalnya.   
            “Banjir lagi.. banjir lagi..” Ibu dan bapak yang melihat dari kejauhan di tempat mengungsi.
            “Ya bagaimana tidak, banjir itu kan bukan kesalahan alam. Kita tak bisa menyalahkan alam, atau sungai yang tiba-tiba meluap. Kitalah sebagai manusia yang seharusnya sadar. Bapak jadi ingat, dulu sungai itu masih jernih, masih bisa dijadikan tempat untuk mencuci baju, mencuci piring, bahkan mandi bersama teman-teman kecil Bapak. Namun sekarang banyak orang yang memanfaatkannya untuk membuang sampah. Sungguh sangat disayangkan.” Bapak merenungkan kisahnya pada masa kecil dulu.
            Ibu melihat wajah Bapak yang nampak sedih.
            Bapak melanjutkan, “Padahal, sungai itu bisa menjadi tampungan air jika ia dibiarkan mengalir dengan lancar. Namun sampah manusia lah yang membuatnya tak bisa mengalir lagi. Airnya juga jadi tak sejernih dulu.”
            Si Sungai yang mendengarnya, sedikit terharu, ternyata masih ada manusia yang memperhatikannya.
            “Bu kita harus melakukan perubahan. Bagaimanapun, ini adalah untuk kepentingan kita juga. Jika banjir sudah surut kita ajak warga untuk bergotong royong membersihkan sungai. Mulai mendisiplinkan diri untuk tidak lagi membuang sampah di sungai.” Bapak bangkit, ada gurat harapan di wajahnya.
            Ibu menyetujuinya.
            Tiga hari kemudian banjir mulai surut. Warga kembali ke rumahnya masing-masing. Membersihkan rumahnya dari sisa-sisa kotoran tanah bekas banjir.
            Esok harinya, bapak yang merupakan ketua RT setempat mengajak warganya untuk bergotong royong membersihkan sungai.
            Meski sungai itu belum benar-benar jernih, akibat sampah yang sudah terlalu banyak hingga mengubah warnanya, namun sungai itu kini bisa mengalir dengan lancar.
            Warga pun bersyukur. Dan berjanji tak kan membuang sampah lagi di sungai.
            Si Sungai pun kini senang. Karena warga akhirnya sadar bahwa dirinya diciptakan memang untuk menjaga keseimbangan alam. Mengalirkan air yang sebenarnya bisa dimanfaatkan warga, namun bukan untuk membuang sampah.
            “Terima kasih untuk seluruh warga.” seru Sungai riang.

Bagaimana kira-kira? Hihiihi,,, ^^

2 comments:

  1. wah benar2 kakak yang baik, kalau saya agak males bantu bikinin tugas adik, *abang durhaka

    semoga menang ya adikmu..

    salamkenal ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe itu juga karna efek sedang semangat untuk menulis :D

      Aamiin ^_^

      Salam kenal juga ^_^

      Delete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...