Monday, 2 September 2013

Ya. Menikah (Memang) Untuk Bahagia

Judul: Menikah Untuk Bahagia
Penulis: Indra Noveldy & Nunik Noveldy


Tidak salah kalau banyak yang bilang buku ini seolah ‘menakutkan’, ‘bikin males bacanya’. Tapi yang membuat saya bilang benar adalah buku ini memang benar-benar bikin ‘jleb’. Yaph. Saat ini saya memang belum menikah, tapi saya seolah bisa merasakan bagaimana rumitnya membangun sebuah pernikahan. Tepatnya pernikahan yang ‘Bahagia’. Bagaimana sulitnya menyatukan dua manusia yang berlainan jenis menjadi sebuah kesatuan keluarga. Bagaimana sulitnya membangun komunikasi yang benar dan efektif. Serta bagaimana membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah yang selalu jadi impian dan do’a tatkala sepasang dua insan menikah. 

Menurut saya buku ini menjelaskan secara garis besar, bahwa permasalahan yang sering terjadi dalam pernikahan adalah karena KOMUNIKASI. Ternyata memang komunikasi benar-benar membutuhkan knowledge dan skill yang harus terus diasah. Tidak asal atau semaunya kita. Sebab kita sedang berhadapan dengan manusia yang berbeda. Beda jenis, beda karakter, beda pula isi pikiran. Kita tidak bisa bertindak atau memaksakan kehendak kita. Toh pasangan kita juga manusia, ia sama dengan kita yang sejatinya ingin dimengerti.

Saya merasa beruntung bisa mendapatkan (baca: memiliki) buku ini sebelum saya menikah. Saya bisa belajar banyak dari buku ini. Semenjak keinginan menikah itu muncul, saya merasa Allah selalu menunjukkan berbagai macam peristiwa yang membuat saya akhirnya banyak belajar. ‘Lho begitu ya setelah menikah’, ‘Lho kok jadi gitu sih’, ‘Kok rumit banget kayaknya’, 'Kenapa harus kayak gitu’.  Setelah bertemu dengan buku ini sebagian pertanyaan saya akhirnya terjawab. Kenapa saya bilang ‘sebagian’? Ya karena sebagian yang lainnya akan saya rasakan saat saya sudah menikah nanti. Dan saya akan dengan nyata ‘tahu’, ‘ooh ternyata begini ya’. Ya begitulah. Setidaknya saya sudah punya pegangan bagaimana seharusnya saya bersikap nanti. Insya Allah.

Lucunya, buku ini tidak membuat saya malah takut menikah, justru rasa ingin menikah itu tetap ada. Saya seolah dituntun untuk mau: mempunyai tujuan, mengubah mindset, terus mengasah ilmu dan keterampilan saya. Sebab sejatinya hidup itu sebuah pembelajaran bukan? 

Pada akhirnya saya punya sebuah kalimat ‘pernikahan bukan hanya sekedar tentang cerita kasmaran, cerita tentang menyatukan dua perbedaan. Terlebih pernikahan ialah sebuah wadah yang disediakan Allah untuk kita menjadi manusia seutuhnya.' Maka dari itu mengapa Allah bilang bahwa menikah ialah penyempurnaan agama. Dengan adanya buku ini insya Allah saya optimis pada pandangan tentang harusnya "Menikah (memang) Untuk Bahagia." Mudah-mudahan :)

No comments:

Post a Comment

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...