Friday, 9 May 2014

Kita Fitrah, Maka Kita Baik

Untuk ibu, ayah, calon ibu dan calon ayah.
Juga untuk kita sebagai anak.

Written By:

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Direktur Auladi Parenting School 

Pembicara Parenting Internasional di 4 negara

dan Pembicara Nasional Parenting di 24 Propinsi, lebih dari 70 Kota di Indonesia



Ayah, Ibu…



Setiap anak yang diturunkan ke dunia 

lahir dalam keadaan fitrah bukan? 



“Kullu mauluudin yuladu alal fitrah. 

Fa abaawahu.” 

Setiap anak lahir dengan fitrah, 

bergantung orangtuanya bagaimana ia dibentuk. 



Karena anak lahir dengan fitrah, 

bukankah berarti tak satupun anak ketika lahir 

berniat menghancurkan masa depannya? 



Tak ada satupun bayi ketika lahir berniat di kepalanya 

“Ah jika besar nanti aku mau kena narkoba” ; 

“Ah jika besar nanti aku akan hobi tawuran atau kebut-kebutan”. 

Atau pernahkah ia berkata 

“jika besar nanti aku akan mencuri uang orangtua.” 

“Ah jika besar nanti aku mau membangkang pada ayah dan ibu”. 

Adakah anak yang berniat begitu Ayah? 

Bukankah berarti setiap anak yang diturunkan Allah ke dunia

Justru pada awalnya cenderung pada kebaikan?



Tetapi, mengapa, sebagian anak-anak ini

Yang lahir cantik, rupawan, lucu dan menggemaskan

Setelah ia beranjak remaja dan dewasa

Justru menjadi beban keluarga 

dan menjadi masalah untuk lingkungannya?

Ada apa ini…….



Ayah, Ibu….

Karena anak lahir dengan fitrah

Sebagian masalah anak, justru orangtualah penyebabnya.

Periksalah ternyata sebagian anak justru dijatuhkan harga dirinya 

di rumah, bukan di luar rumah



Sebagian kita mungkin pernah memukul tubuhnya, 

seolah tubuh anak adalah barang pelampiasan amarah kita

sebagian kita mungkin pernah menampar pipinya,

seolah ia tempat empuk bagi telapak tangan kita

sebagian kita mungkin pernah membentaknya

sambil berteriak dalam hati: akulah yang bekuasa atas dirimu!



Atau mungkin… kita tak pernah melakukan semua itu?

Tapi tahukah ayah ibu, 

Sebagian anak memang tak pernah dipukul

Tak pernah dicubit, tak pernah dibentak, 

Tapi jarang sekali anak yang lolos untuk tidak disalahkan orangtua

Mulai dari buka mata di pagi hari

Sampai kembali menutup mata di sore hari



Ayah, Ibu….

Karena sebagian anak jatuh harga dirinya di rumah

Tanpa kita sadari, ada sebagian anak yang tak betah 

Berada di samping orangtua 

Panas hatinya 

jika mendengar ‘ceramah-ceramah’ orangtuanya

dan overdosis nasihat yang ia terima

lalu kapan kita mendengarkan anak, ayah, ibu?



Ketika seorang kakak hendak mengambil mainan miliknya

Yang diambil adiknya, 

Kita… dengan kekuatan kehakiman yang kita miliki 

Dengan gagah berkata: kakak…. Ngalah dong sama adik!



Lihatlah pertunjukkan ini ayah…

Lihatlah ketidakadilan ternyata di mulai dari rumah

Lihatlah… kebenaran ternyata ditentukan oleh faktor usia

Lalu kita berdalil “adik nya kan masih kecil…”

Dalam hati si kakak berkata 

“sampai kapan adik akan dibela?” 

“Kapankah aku meminta lebih dulu dilahirkan ke dunia?”

“sungguh tak enak jadi seorang kakak”



Karena ketidakadilan di mulai dari rumah

Di tempat lain, sebagian adik pun berkata hal yang sama

“sungguh aku pun tak suka jadi seorang adik”

“Ketika ayah dan ibu tak ada aku sering dikerjai kakak semuanya”



Ayah ibu

Karena sebagian anak dijatuhkan harga dirinya di rumah

Sebagian anak akhirnya tak betah berada di rumah

Rumah baginya hanyalah tempat tidur sementara

Ia lalu mencari harga diri, berkelana mencari surga

Mencari orang-orang yang akan menghargai dirinya



Wahh… ternyata teman-teman ganknya bisa menghargainya

Lalu dalam hati ia berkata

Hm… ternyata aku dihargai jika aku pamer perkasa

aku ternyata perkasa jika menghisap ganja

aku gembira jika bisa menyusahkan siapa saja…..



Apakah itu yang ingin kita inginkan ayah, ibu? 

Jika tidak, hormatilah jiwa anak-anak kita 

Bukan sekadar uang, jajanan, mainan dan sekolah mahal semata

Itu semua penting

Tapi perkataan dan perlakuan penuh cinta dari Anda

Adalah warisan terindah untuk masa depan mereka



***

* Dikutip dari buku best seller "Sudahkah Aku Jadi Orangtua Shalih" penerbit Khazanah Intelektual dengan penulis sama dengan yang dicantumkan di atas

sumber: facebook

Menangis saya membacanya. Bukan. Bukan karena saya menempatkan diri saya sebagai orang tua. Tapi karena saya merasakan apa yang memang seorang anak rasakan. Dan saya bisa bilang, bahwa tulisan di atas sangat benar. Bukankah sejatinya seorang anak ialah fitrah?

Saat kita tak lagi diperhatikan, saat kita diremehkan, saat kita tak dipedulikan, saat kita hanya disalahkan, saat kita hanya hanya menerima perkataan-perkataan yang kasar yang katanya 'tanda sayang'. Di saat itu pula kita mulai menunjukkan bahwa kita hanya butuh perhatian, butuh pengakuan, butuh kasih sayang, butuh kelemah lembutan. 

Tak menemukannya di rumah sendiri, kita mulai mencari perhatian di luar. Bertemu dengan teman yang seolah bisa menghargai kita. Bertemu dengan seorang lawan jenis yang seolah bisa melindungi kita, bertemu dengan orang-orang yang seolah bisa memberi kita kasih sayang dan kelemah lembutannya.

Rumah bukan lagi tempat aman. Rumah bukan lagi tempat nyaman. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi riang. Yang ada hanya ketakutan. Yang ada hanya kesedihan. Yang ada hanya kekecewaan. Hingga akhirnya hati tak kuat, iman tak teguh, kita mulai berontak. Berani berkata kasar. Berani membantah. Berani tak peduli.

Allah, lindungi kami. Maafkan kami.

Jadikan orang tua kami lembut hati dan perkataannya.
Jadikan orang tua kami lembut perilakunya.
Kuat dan sabarkan hati orang tua kami.

-x-

Wahai kawan,
mungkin kalian pernah merasakannya,
Tapi kita tetap harus bangkit.
Pelan-pelan kita sadari,
Bahwa apapun salah orang tua kita
pada akhirnya kembali lagi pada kita

Sudah cukup kita merepotkan mereka sejak lahir
Mungkin wajar jika kelelahan mereka kadang membangkitkan emosi

Bukankah fitrah juga berarti baik?
Itu artinya sejatinya kitapun baik.
Kembali pada kebaikanmu
Dan bersujudlah di kaki orang tuamu.

Aku yakin, hati orang tua mana tak tersentuh melihat anaknya tersungkur di kakinya?

Maafkan anakmu ini Ibu, Ayah..

No comments:

Post a Comment

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...