Tuesday, 28 October 2014

Mengapa?


"Aku sudah berpositif thinking pada dia, tapi mengapa aku tetap dikhianati?"

Ada yang tak kausadari saat itu. Membangun ilusi-ilusi itu sendiri. Yang datang - tanpa diduga - tak pernah salah. Bahkan perhatiannyapun mungkin tak salah. Tapi harapanmu yang terlalu tinggi. Harapan akan dia yang (menurutmu) lebih baik. Harapan pada dia yang akan membalas jua perasaanmu. Dan angan-angan yang terlalu tinggi hingga menyebabkanmu sakit (lagi).

Tak usah khawatir, kau tidak sendiri. Ada banyak di luar sana yang seringkali merasa dikecewakan. Padahal orang bijak bilang, sama sekali tak ada yang dikecewakan. Kita kecewa hanya karena perasaan kita sendiri. Hanya karena kita membangun harapan-harapan tinggi. Tentu kita ingat, sesungguhnya kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Bukan. Bukan berarti kita tak boleh berharap, hanya saja kita harus menyiapkan ruang besar untuk melapangkan dada. Kalau kalau kenyataan nantinya berbeda. Seratus delapan puluh derajat jauh dari harapanmu.

Mudah? Tidak. Tapi bukankah hidup adalah proses? Dan kecewa-kecewa itu, sedih-sedih itu, bahagia-bahagia itu yang membuat kita seiring waktu - pasti menyadarinya. Kalaupun tidak, rasanya kita patut mempertanyakan, selama menjalani hidup kita mau belajar atau tidak? Mau berpura-pura bodoh dan (slalu) mengulang kesalahan yang sama? Atau sedikit demi sedikit bangkit, melihat dengan melibatkan nurani, belajar peka pada kehidupan di dalam dan di luar?

"Tak ada yang mengecewakanmu sayang, hatimu hanya sedang kosong saja."

2 comments:

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...