Sunday, 19 April 2015

Gigit Kuat Prinsip Nggak Pacaran (Sebelum Nikah)

Sebuah buku berwarna biru yang manis mampu membuat saya semakin memantapkan prinsip untuk menjaga diri alias menjadi single sebelum menikah. Ya, Ketika Dhira JatuhCinta. Bedanya, Dhira menyibukkan diri dengan kegiatan travelling yang bikin saya mupeng banget, saya justru menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Kerja dan kuliah rasanya kurang. Maka itu saya mencoba bergabung dengan beberapa komunitas. Dengan adanya komunitas, pasti akan muncul banyak kegiatan dalam komunitas tersebut. Sukseslah saya menjadi orang sok sibuk.

Berulang kali saya selalu bilang, beruntunglah mereka yang belum pernah merasakan berpacaran. Lebih beruntung pula jika ia memang memegang prinsip seperti Dhira. Jangan salah jika jomblo tak ada godaan. Justru menjadi jomblo terlebih memutuskan untuk jomblo sebelum menikah, godaannya lebih berat. Pacaran, kalau suka tinggal bilang. Kalau kangen, tinggal SMS/telepon atau samperin aja ke rumahnya *ups* Jomblo? Si dia tahu perasaan kita saja tidak. Mau apa-apa jadi serba salah. Apalagi kalau paham Allah Maha Mengawasi. Membayangkan si dia dalam angan-angan saja sudah termasuk dalam zina pikiran. Astagfirullahaladzim.

Trus bisa nggak kalo nggak ngebayangin? Susah! Iya apalagi kalau sudah benar-benar suka dengan orangnya. Haduh ya Allah, mesti banyak-banyak istighfar hiks. Nah balik lagi, kalau saya atau kita jadi orang sibuk kan, kita jadi nggak kepikiran tuh buat mikirin si doi lagi dimana, sama siapa semalam berbuat apa *eh*

Dari 2012 memutuskan untuk nggak pacaran lagi butuh perjuangan banget. Selain godaan sana-sini, kadang rasa kesepian juga muncul. Sampai kadang saya heran sendiri. Padahal saya masih punya keluarga lengkap dan tinggal serumah pula, lalu apa yang bikin saya sepi? Mungkin, ini hanya karena rasa rindu pada seorang sosok pria. Memang sejatinya, pria dan wanita diciptakan berpasangan. Apalagi umur saya juga sudah 20 lebih. Mungkin wajar kalau sudah ada rasa-rasa ingin bertemu sosok pangeran. Nah di sini perjuangannya. Banyak-banyak istighfar lagi.

Meski kadang saya juga mikir, kok kayaknya saya semacam mencari pelampiasan. Saya sampai kadang jadi lelah sendiri. Ini kelewat sibuk atau gimana? Di sini saya jauh-jauh dari handphone. Meluangkan waktu buat sendiri. Mikir ulang apa yang salah, apa yang patut dikurangi dan nggak mesti berlebihan. Hhuah berat deh pokoknya perjuangannya. Tapi saya yakin, perjuangan ini akan manis pada akhirnya. Setidaknya saya sudah gigit kuat-kuat prinsip untuk nggak pacaran sebelum nikah. In sya Allah, calon pangeranpun akan melakukan hal yang sama. Sembari sibuk, juga nggak lupa terus memperbaiki kualitas diri. Aamiin :)

No comments:

Post a Comment

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...