Friday, 19 June 2015

Lagu Galau, Awas Merusak Pikiran dan Perasaan

Sejak kecil saya punya hobi mendengarkan musik a.k.a lagu. Entah dari radio ataupun televisi. Bahkan ketiga kakak sayapun memiliki hobi yang sama. Sampai-sampai kaset lagu anak-anak saya pernah dipakai kakak yang pertama untuk merekam lagu dewasa -_- Dari situ pula saya mulai mengenal berbagai lagu dewasa. Maka tak heran kalau ada generasi yang lebih senior dari saya menyetel lagu dewasa era 80-90an saya bisa tahu itu lagu siapa. Bahkan bisa juga saya menyukainya. 

Beranjak kelas 4 SD saya tidak lagi mendengarkan lagu anak-anak, saat itu bisa dibilang memang sudah jarang penyanyi anak-anak. Maklum, Trio Kwek-kwek, Joshua ataupun penyanyi cilik lainnya tenar di saat saya belum masuk sekolah. Saat kelas 4, TV sudah menyiarkan berbagai lagu dewasa. Dan sayapun hobi menonton TV. Jelas sudah efeknya saya jadi ikut-ikutan menyanyi lagu dewasa. Hanya saja saat itu masih sebatas suka karena nada. Saya tidak paham maksud liriknya. Meski bila didengar lagi sekarang, padahal liriknya galau karena cinta. 

Mulai SMP, saya mulai sedikit paham lirik-liriknya, hingga masuk SMK pun saya tetap menyukai lagu-lagu dewasa. Ah saya jadi teringat, sekalipun saya menyukai musik, namun saya sama sekali tidak menyukai karaoke. Mau tau kenapa? Itu karena teman saya saat SMP. Ceritanya hari Minggu sehabis pulang olahraga sekolah, saya dan kedua teman saya pergi ke sebuah mall. Mereka mengajak saya karaoke. Saya mau mau saja. Setelah berada di dalam tempat karaoke dan pilih-pilih lagu, mulailah menyanyi. Lagu yang dipilih teman saya adalah lagu yang cukup galau. Sialnya, saat itu teman saya baru saja putus dari pacarnya. Maka entah bagaimana, dia hanyut dalam lagu itu,  dia menyanyi sambil menangis. Dan itu membuat saya yang melihatnya muak, tidak suka dan ingin cepat-cepat keluar dari tempat karaoke. 'Lebay amat sih' pikir saya. Sejak itulah jangan coba-coba ajak saya karaokean, karena sudah bisa dipastikan 100% saya menolak he he.

Mungkin ini sebabnya ada salah satu larangan untuk mendengarkan musik. Meski larangan itu masih khilafiyah, tapi bila direnungkan saat ini dan di tengah maraknya lagu-lagu galau, bisa jadi memang benar. Jika sebuah kata saja bisa mempengaruhi psikologis manusia, maka tak ada bedanya dengan lirik lagu-lagu galau tersebut. Apalagi bila didengar seseorang yang sedang dalam keadaan sedih ataupun galau, bisa saja ia terhanyut seperti teman saya dan menambah rusak perasaannya.

Karenanya, semenjak hijrah dan meskipun saya masih suka mendengarkan musik hingga kini, saya menghapus semua lagu yang kiranya bisa merusak perasaan saya. Saya hanya menyisakan beberapa lagu yang memiliki lirik positif atau islami yang bisa membuat saya ingat Allah SWT dan Rasul-Nya.

Semoga orang tua dan remaja sekarang mulai berpikir pintar. Pihak orang tua bisa mengawasi tayangan TV atau apa yang didengar dan dilakukan sang anak. Dan bagi remaja, pintar-pintarlah memilih lagu. Lagu yang katanya cinta itu, bila liriknya galau dan 'memuja' manusia, hanya akan merusak perasaan dan pikiranmu.

17 comments:

  1. Bener banget mba ade, lagu galau memang merusak pikiran bawaannya pengen ngayal mulu ujung-ujungnya ada sedikit perasaan yang bikin orang jadi sulit menerima takdir :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mbak. Bila sering didengarkan bisa menimbulkan efek yg buruk. Wallahua'lam

      Delete
  2. berarti jangan terlalu di hayati ya lagunya :)

    ReplyDelete
  3. kalau kata anak sekarang, malah jadi baper yaa.. Bawa perasaan. hihihi

    ReplyDelete
  4. kalau kata anak sekarang, malah jadi baper yaa.. Bawa perasaan. hihihi

    ReplyDelete
  5. Beneran, Mak. Lagu-lagu galau lawas bikin hati gimana gitu, ya. Kalo kata orang sunda mah, bikin kasuat-suat. Deuh... jadi terbuai. Aku ngindar banget sama lagu galau lawas....
    Btw, aku sudah follow blogmu, mak. Yuk #salingfollow :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi iya Mak. Bahaya kalo sering didengerin :)
      Sip aku follback ya :)

      Delete
  6. berarti harus bisa pilih2 lagu ya.... :)

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. Ada Mak, lagu galau karena ingat Allah hehe :))

      Delete
  8. Kadang saya mengapresiasi lagu lebih ke arah "kok dia pintar ya bisa nulis lirik kayak gini"
    jadi memujinya lebih ke proses penciptaannya.

    Kalo dulu semasa muda (duh sekarang tuak wkwkwk) memang gampang banget itu galau gara-gara lagu doank. Haiss..

    Salam kenal ya, sudah difollow ^^ ditunggu folbeknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya syukur ya kalau menganggapnya ke arah yang positif, karena yang muda emosinya juga belum stabil kali ya haha :D

      Delete
  9. Saya pribadi lebih suka dengerin musik instrumen yang mellow daripada lagu galau. Interpretasi dari musik instrumen lebih luas karena ia tanpa lirik. Lebih cocok untuk suasana apa aja tergantung melodinya.
    Kalau lagi ke tempat karaoke sama teman-teman, kami lebih sering pilih lagu dangdut, padang, batak, jawa, india & korea (yang ga ngerti apa artinya) sebagai 'national anthem' nya kami atau lagu up beat lainnya yang bisa buat jingkrak-jingkrak. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups, musik instrumen bisa buat meditasi juga ya Mbak. Karaoke memang sebenernya kan buat seneng-seneng ya. Jadi nggak banget kalo pilih lagu galau :D hihi

      Delete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...