Friday, 4 December 2015

Tentang Pernikahan dan Kedewasaan

Benarlah apa yang dulu pernah saya tulis, bahwa menikah akan mendewasakan seseorang (baca: Aku Ingin Menikah). Saya ingat sekali sejak keinginan itu muncul, saya berpikir saya harus merubah semua sifat buruk saya. Semua buku tentang 'cara' mendapatkan jodoh dan pernikahan berkata bahwa jika kita ingin mendapatkan jodoh, maka kita harus perbaiki diri terlebih dahulu. Pikir saya ada benarnya juga sih, toh hidup adalah cerminan diri kan? Lagi pula Allah selalu berfirman bahwa Ia takkan memberi jika umatnya tidak berusaha sendiri. 

Instan? Tentu saja tidak. Yang namanya perubahan pasti selalu membutuhkan pengorbanan. Dan segala perubahan saya dulu belumlah sempurna. Masih banyak sikap-sikap yang nyatanya masih melekat dalam diri saya. Balik lagi, memang benar kalau dikatakan menikah akan mendewasakan seseorang. Kita tidak lagi bisa berpikir tentang diri sendiri. Tidak lagi bisa bersikap semaunya. Apalagi bagi seorang perempuan yang kodratnya di bawah laki-laki atau suami. Menurut dan melayani suami sudah menjadi kewajiban. Dan menikah merupakan salah satu anugerah Allah yang tak boleh disia-siakan. Itu sebabnya, menjaganya menjadi suatu keniscayaan. 

Yang paling saya rasakan adalah tentang kepekaan. Saat sendiri dulu mungkin saya bisa hanya berpikir diri sendiri. Belum lagi masih tinggal dengan orang tua. Segala sesuatunya masih ada orang tua yang urus. Tapi setelah menikah? Saya menjadi wanita mandiri yang hidup dengan orang baru dalam hidup saya. Orang baru yang harus saya hormati dan layani dengan baik. Mulai dari sinilah peran hidup sesungguhnya dimulai. Hal-hal seperti menjaga adab depan suami, menyenangkan suami sampai ke hal-hal kecil seperti memasak dan melihat rumah kotor yang tentu harus dibersihkan sudah harus menjadi kesadaran sendiri.

Yah, yang pasti banyak hikmah yang bisa diambil. Dan percayalah, semanja-manjanya kamu sebelum menikah, ada sisi dewasamu yang pasti akan tumbuh. Ada kepekaan yang mulai timbul dengan sendirinya :)

Pantai Sendiki, Malang, Jawa Timur. 28 November 2015
Beruntunglah saya punya suami yang super sabar dengan segala sifat saya yang masih banyak celahnya. Ia slalu mau mengingatkan jika saya salah dan keliru.

Pada akhirnya, pernikahan memang sebuah pembelajaran yang tak pernah ada habisnya. Semua petualangan hidup, akan terangkum di fase satu ini. Kita akan berjalan berdua dan mulai dituntut untuk mengatur segala kehidupannya secara mandiri.

8 comments:

  1. Nikah itu bukan cuma enak.
    Tapi enak banget.

    Hihihiii

    ReplyDelete
  2. Semoga awet langgeng ya mak...salam..

    ReplyDelete
  3. pernikahan dengan sendirinya akan mendewasakan seseorang. dan, itu butuh proses,perjuangan dan pengorbanan. Nikmati setiap prosesnya ya... semoga cita2 sakinah, mawaddah warohmah tercapai. amin.

    ReplyDelete
  4. Kebanyakan banyak yang menyesal karena sebelum menikah tidak mengenali pasangannya dengan baik. Tapi kan memang gak ada yang sempurna, semua harus saling melengkapi.

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...