Monday, 18 January 2016

Apa Kabarmu Sahabat?


Kau masih ingat pesan itu? Sebuah pesan yang mampu membuatku beruraikan air mata. Sebuah permintaan sederhana untuk menjadi sahabatmu. 

Barangkali, dulu, kau masih ingat. Tapi aku ragu jika kau masih mengingatnya sekarang. Kau, kini kau sudah jelas jauh berbeda. Atau bahkan kau sudah tak ingin mengenalku.

"Anggap gue sahabat lu."

Itu katamu. Dulu. Aku tidak habis pikir. Mengapa ada orang yang meminta temannya untuk dianggap sebagai sahabat. Bukankah sahabat itu selalu - seperti kata orang - mengalir apa adanya? Ataukah saat itu kau memang benar-benar kesepian dan susah mempercayai orang lain? Entahlah. Satu yang pasti, aku senang menerima pesan itu.

Sejak saat itu, kita menjadi semakin dekat. Meski setiap bertemu langsung, selalu saja ada pertengkaran-pertengkaran kecil. Pertengkaran yang tidak penting. Hanya lucu-lucuan. Namun kita tahu, pada dasarnya kita saling menyayangi. Terbukti karena kau selalu memperhatikan aku sampai ke hal-hal terkecil. 

"Gue seneng banget bisa gandeng tangan lu."

Saat itu pelajaran olahraga. Seharusnya kita disuruh berlari, tapi kita memilih jalan kaki biasa. Aku sengaja mensejajarkan diriku di sampingmu. Karena pada dasarnya aku memang senang berada di sampingmu. Lalu, tanpa kuduga, kau justru menggandeng tanganku. Dan kita tertawa sepanjang jalan.

"Hujan, ran!"

"Ayolah, kan kamu bisa naik angkot. Pokoknya aku tunggu kamu di rumahku!"

Hujan baru saja turun deras. Tiba-tiba aku menerima SMS darimu yang memintaku untuk datang ke rumahmu. Mana bisa aku menolak kalau kau sudah memohon dengan sangat. Kubuka payung, dan menuju angkutan untuk ke rumahmu.

Ah, terlampau banyak hal-hal yang masih aku ingat hingga saat ini. Lihat saja, aku bahkan masih mengingat semua hal-hal kecil yang pernah kita lewati. Mungkin, hingga selamanya, aku takkan pernah lupa. Entah kenapa, aku juga selalu meyakini bahwa aku masih ada dalam dirimu, masih hidup dalam hatimu. Ya meski aku tidak tahu bagaimana kenyataan yang sebenarnya.

Aku tidak akan pernah bisa lupa bagaimana detik-detik kita mulai menjauh. Hingga saat ini aku tidak pernah paham apa alasannya. Namun sekarang, aku tidak tahu bagaimana kabarmu. Semoga, kau selalu baik-baik saja, dan bahagia seperti dulu.

Flashfiction: 328 kata

12 comments:

  1. Jd inget temen lama yg udah hilang kontak

    ReplyDelete
  2. Iya nih, sahabat-sahabat waktu sekolah udah banyak yang ga bisa dihubungi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe coba cari di medsos mbak, nyaris smua skrg pny medsos :D

      Delete
  3. sahabat itu kaadng bikin rindu apalagi kalau hilang kontak

    ReplyDelete
  4. aduh, setiap hari saya ingat temen yang sudah nggak mau disapa, padahal temenan di socmed, tiap hari berharap bisa tegur sapa seperti dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kelak hubungannya menjadi baik lagi ya mbak :)

      Delete
  5. Emang spt itu mbk. Klo udh jadi shbat sklipun ga brtgur sapa slalu ada rasa rindu yang melanda akan kebersamaan. Hhee

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...