Sunday, 11 September 2016

Karena Kita Pun Punya Urusan

Salah satu alasan saya tidak ingin menjadi orang terkenal adalah karena saya tidak mau dibicarakan oleh orang lain. Haha ya siapa juga ya yang mau ngomongin saya :)) Tapi memang benar, dibicarakan itu paling tidak enak. Meskipun katanya, kalau kita dibicarakan, maka dosa kita berpindah ke orang yang membicarakan kita. Tapi mana enak sih ya, menjadi sorotan. Apalagi untuk hal-hal yang menurut kita itu privacy. 

Ya tapi tidak munafiklah saya, saya juga kadang masih membicarakan orang lain. Cause, ngegosip itu seringkali berawal dari ngobrol-ngobrol biasa, eh akhirnya malah jatuh ngomongin orang lain. Dan saking serunya, jadi keasyikan sendiri >_< Dan benar bahwa dosa yang satu ini seperti udara yang sulit ditinggalkan. Padahal sudah ada nasihat, siapa yang membicarakan orang lain, maka sesungguhnya dia sudah memakan daging saudaranya sendiri :'(
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang
(Surah al-Hujurat(49):12).

Memandang dari kacamata orang lain  

Kemudian saya melihat kehidupan orang lain. Orang-orang yang lebih terkenal. Orang-orang yang lebih punya pengaruh. Lantas melihat bahwa hidup mereka selalu dibayang-bayangi sorotan banyak orang. Iya kalau baik, mereka beruntung selalu dipuji-puji. Apalagi kalau memang terkenalnya baik. Namun di sinilah letak bahayanya. Saking ekspektasi orang yang selalu berpikir bahwa dia baik, maka ketika ada satu kesalahan yang dia lakukan. Booommm!!! Musnahlah semua kebaikannya selama ini. Seperti tidak ada lagi pujian yang pantas diberikan kepadanya. 
Facebook Arham Rasyid
Lantas salah siapa jadinya? Salah gue, salah orang tua gue? *ups. Ya salah kita sendiri. Kita yang sudah memandang bahwa seseorang itu sempurna. Kita yang memandang dia sebagai orang baik yang tanpa celah. Maka ketika dia melakukan kesalahan, kita jualah yang menyiksa diri dengan berpikir, "wah selama ini gue salah menilai dia." "Wah ternyata dia ga sebaik yang gue pikir." Ya memang jelas salah. Wong kita sendiri yang selama ini mikirnya dia itu sempurna! 

Mungkin ini sebabnya kita dilarang berekspektasi baik 100% pada orang lain. Sesempurna apapun kebaikan yang kita lihat, maka percayalah. Selama dia manusia, dia PASTI punya kekurangan. Dia PASTI melakukan kesalahan. Dan kita harus siap dengan kekurangan dan kesalahan itu. Yang suatu saat bisa saja terbongkar. Agar kita juga tidak kecewa.

Karena kita pun punya urusan

Sampai sini, seberapa besarkah manfaat kita untuk membicarakan orang lain? Ada seorang teman yang pernah berkata. "Kita punya lima jari. Saat kita menunjuk orang dengan satu jari, maka empat jari yang lain menunjuk diri kita sendiri." Artinya, seharusnya kita melihat diri sendiri lebih dulu.

Maka kala kita sibuk membicarakan orang lain di belakangnya, apa sih yang sedang dilakukan orang yang sedang kita bicarakan? Mungkin dia sedang masak. Mungkin dia sedang tertawa-tawa bersama keluarganya. Mungkin dia sedang liburan bersama keluarga atau teman-temannya. Atau, kalau pun dia sedang pusing memikirkan masalahnya, apa lantas kita ingin ikut menyelesaikannya? Ikut berpusing-pusing ria dengan masalah yang sedang menimpanya? Lalu bagaimana dengan masalah kita sendiri? Bukankah hidup kita sendiri juga punya masalah yang harus diselesaikan? Lagi pula bukankah kita tidak punya kuasa untuk ikut campur masalah orang lain?

Iya iya, memang salah orang itu yang menjadi public figure. Maka mau tidak mau, ya pasti jadi sorotan. Tapi mari kita berpikir ulang. Kita tidak pernah tahu masalah yang terjadi sebenarnya pada setiap orang. Yang kita lihat, hanya yang tampak di depan kita. Tapi apakah yang tampak itu sudah menguak *ini bahasa gosip bener* semuanya? Seperti apa yang selama ini sudah dibicarakan portal-portal media dan berita? Maka ketika kita tidak tahu kondisi yang sebenarnya, artinya sesungguhnya kita tidak berkuasa untuk membicarakannya, terlebih menghakiminya.

Toh akhirnya, bisa dibilang kita ini hanya membuang-buang waktu untuk mengurus orang lain dengan membicarakannya. Kita sibuk mencari berita mana yang benar, mana yang salah. Yang padahal sebenarnya hanya untuk menjawab rasa penasaran kita. Maka jangan salahkan, ketika esok muncul masalah dari orang baru lagi, kita penasaran lagi dengan membicarakannya. Begitu saja terus. Padahal kita sendiri masih punya urusan yang sebenarnya jauh lebih penting. Yang lebih berkaitan dengan hidup kita pribadi.

So, intinya. Marilah kita urus urusan masing-masing. Biarlah yang menjadi masalah orang lain, menjadi masalahnya sendiri yang harus diselesaikannya sendiri. Karena sesungguhnya memang hanya ia yang tahu, yang berkuasa untuk menyelesaikannya.

#NotetoMySelf

20 comments:

  1. Sepakat Mba, justru masalah dan urusan kita yang mesti kita beresin. Mesti kuatin juga iman pasalnya klo lingkungan yang gatel sama urusan orang yang kita talk to my hand ma urusan org malah ikut gocipin :D #tobat...tobat hehehe

    ReplyDelete
  2. Jadi bayangin artis-artis, kalau mereka tau digosipin segitu rupa di aku hosip IG, gimana ya rasanya. Pasti gaenak banget. Tapi katanya itu resiko ya. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh ga mbayangin, pastilah mereka risih >_< meski kadang ada yg nganggep itu lucu"an aja :v

      Delete
  3. Kalau ngomong orang lain emang ga Ade habis habisnya sebab syaitan ikut ngipasin hehe.. Nice mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu gara-gara dikipasin jadi keasyikan sendiri ya Mbak >_<

      Delete
  4. Every person haa at least one secret that will break our heart. Saya dapat dari The Architecture of Love 😊

    ReplyDelete
  5. kadang nggak mau ngomongin orang lain, tapi kok kasusnya si ini si itu malah seliweran di sosmed, bahkan di grup :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya zaman sosmed memang susah dihindari Mbak :'(

      Delete
  6. Kadang gini sih Mbak, orang yang digosipin tu kadang merasa sesuatu yang dipermasalahkan orang tu sebenarnya nggak masalah bagi dia. So, biasa aja gitu

    Nah terus, ketika para presenter-presenter gosip tu mulai mempermasalahkan perilaku itu, baru dah orang-orang mulai berkomentar: Ah iya, salah itu orang! Aih, kenapa lagi dia itu begini-begini

    Hingga akhirnya, yang digosipin jadi ngerasa sakit hati terus karirnya hancur, pandangan orang-orang terdekatnya terhadapnya berubah, dan bagi kita, kita sudah menghabiskan energi kita pada hal-hal yang produktif dan itu artinya juga menghancurkan kehidupan kita sendiri

    Itu aja sih tanggapanku

    Main ke blogku juga Mbak kalau berkenan: http://muhammadzaini.com

    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu. Ujung-ujungnya yang membicarakan lagi kan ya yang salah :)) ngorek-ngorek kesalahan orang huhu

      Delete
  7. Bangett...itu tuh ya kebiasaan yang masih suka bikin pertahanan saya jebol. Apalagi klo udah nongkrong bareng adek saya. Udah lah gibah bisa berjam2 :( astagfirullah...susah juga yaa tahan lidah sama jempol biar ga gibah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiks. Kalo ngobrol itu saking asyiknya memang suka ga kekontrol ><

      Delete
  8. padahal gak ada untungnya ya, tapi kenapa pula masih saja susah meninggalkan kebiasaan ini :(

    ReplyDelete
  9. diomongin oleh orang-orang itu memang gak enak banget Mba Ade :(
    tapi saya masih suka kepo Mba dan kebiasaan itu masih susah saya hilangkan, hiks :(

    ReplyDelete
  10. addduh aku nih masih suka nggosip. pdhl awalnya ngomong biasa eh tiba2 jadi nggosip. baah

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...