Friday, 7 October 2016

Perintah Berhijab dan Cara Mengingatkan

Memang, zamannya media sosial saat ini harus pintar-pintar untuk menempatkan diri. Salah-salah ngomong, bisa-bisa kita dihujat oleh netizen. Bagaimana tidak, kalau informasi akan sangat cepat sampainya. Semisal saja kita membuat status, salah satu teman tidak menyetujui, diam-diam dia share ke teman-temannya. Lalu teman-temannya juga menyetujui pendapatnya, kemudian dishare lagi oleh teman-temannya, dan begitu seterusnya. Alhasil kita sebagai si 'pencipta' tulisan, hanya akan menerima hujatan/bully-an sana sini. Naudzubillah. 

Seperti kasus yang saya temui beberapa hari lalu di sebuah portal ternama. Seseorang menulis tentang hijab. Yang salah adalah ketika ia membuat judul Lebih Baik Tidak Berhijab Dulu, Sebelum 6 Hal Ini Mengetuk Hatimu.

Yang pasti akan dilakukan pertama kali oleh pembaca adalah membaca judul. Bila dari judulnya saja sudah keliru, netizen akan langsung cepat menyimpulkan. Dan malah tanpa perlu membaca isinya dulu, netizen akan langsung berkomentar mengkritik. Sebagaimana kita tahu bahwa hal semacam ini bukanlah hal baru di masyarakat kita. Karena kita pun sudah paham, berapa banyak berita yang dengan cepat dikomentar ataupun dishare tanpa perlu dicari tahu kebenarannya.


Tentang perintah berhijab.

Oke, saya tidak akan membahas lebih lanjut tentang media sosial ini. Sekarang yang ingin saya bahas adalah artikel di portal ternama tadi.

Saya sudah membaca semua poinnya. Dan untuk kali ini saya setuju dengan sebagian besar komentar di artikel tersebut. Lupakanlah cara beberapa komentator yang terkesan berkomentar kasar dan menghujat, tapi mari kita garis bawahi kalimat ini: berhijab bukanlah perkara membenahi hati dulu, melainkan mengutamakan kewajiban. Saya rasa penulis sudah tahu tentang ayat-ayat berhijab ini. Mari kita tengok kembali dua ayat yang sering kita dengar.
Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.' (Qs. An-Nuur: 31)
Hai Nabi, katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Azhab:59)

So, saya tidak perlu menyanggah satu-satu poin yang penulis tulis. Karena dua ayat di atas sudah menjawab semuanya. Bila Allah telah berkata 'hendaklah' dalam firman-Nya, maka itu artinya perintah untuk kita umat muslim yang harus dijalankan. Juga kata 'janganlah' maka itulah larangan yang harus kita jauhi. Tidak peduli kita setuju atau tidak. Sebab, Allah lah yang membuat peraturan. Dan setiap peraturan yang Ia tulis, sejatinya baik juga bagi kita umat-Nya. Sebagaimana ayat di bawah ini:
https://alakhabdulaziz.blogspot.co.id/2012/11/samina-wa-athona-atau-samina-wa-asoina.html

Kapankah hati kita siap?

Kita bisa saja berkilah membenahi hati dulu, tapi sampai kapan hati itu akan siap? Sampai perilaku kita benar? Masalahnya adalah umur setiap manusia tidak ada yang tahu kecuali Allah. Bila lama hati kita tidak siap-siap dan belum berhijab lantas ajal sudah menjemput, apa yang bisa kita lakukan sementara kewajiban belum kita laksanakan?

Saya pernah punya seorang sahabat. Sebelumnya ia tidak berhijab, lantas ia mau belajar berhijab. Apa yang dia katakan? "Bener ya, berhijab dulu baru perilaku kita bener." Lanjutnya, "kalo pake kerudung gini, kita jadi lebih bisa menata perilaku kita dan membentengi diri karena sudah malu dengan pakaian." See? Ternyata bukan soal hati. Tapi dengan memulai berhijablah maka kita sendiri yang akan merasa malu jika perilaku kita melenceng.

Kalau pun ada muslimah-muslimah yang saat berhijab perilakunya masih keliru, maka bukanlah hijabnya yang kita salahkan. Bukan kalimat "mending lepas aja kerudungnya kalo perilakunya masih begitu." yang kita lontarkan. Tapi yang kita ingatkan ialah perilakunya. Atau sebaliknya, kalau pun ada muslimah yang belum berhijab lantas perilakunya baik, maka bukan hijab lagi yang jadi alasan. "Tuh dia aja nggak berhijab tapi perilakunya bener." Tapi ingatkan muslimah ini dengan berhijab, maka sempurnalah akhlaknya :)

Maka kembali lagi ke artikel penulis tadi. Saya paham mengapa netizen terkesan 'marah' dengan artikel tersebut. Karena yang ditakutkan adalah ketika artikel tersebut ditelan mentah-mentah oleh muslimah yang belum berhijab sebagai pembenaran. "Tuh kan, siapin hati dulu sebelum berhijab." Padahal maksud sebenarnya si penulis barangkali:
1. Hijab tidak sama dengan hiasan kepala. Sekali memakai kamu harus berpikir seribu kali untuk melepasnya.
::Maksudnya: Jangan lepas lagi jika sudah berhijab.
2. Ada sederet ketentuan berhijab yang harus kamu penuhi. Tanpa panggilan hati berat melakukan ini.
::Maksudnya: Dengan hijab kita harus bisa mengendalikan diri.
3. Hijab juga membawa konsekuensi yang harus kamu jalani. Pertanyaannya, sudahkah kamu siap membawa diri?
::Maksudnya: Hijab mengajarkan agar kita menjaga perilaku.
4. Hijab harusnya membuatmu berlari lebih kencang. Tapi tanpa kesadaran hijab malah menghasilkan perasaan ‘dibatasi’.
::Maksudnya: Hijab bukanlah pembatasan diri.
5. Hijab berhubungan dengan pengalaman spiritual pribadi. Untuk menjalaninya dengan hati, haruslah atas kemauan diri sendiri.
::Maksudnya: Hijab harus dengan kesadaran diri sendiri.
6. Panggilan hati juga bisa berbeda-beda. Proses memutuskan berhijab bagi setiap perempuan tidaklah sama.
::Maksudnya: Setiap muslimah yang berhijab pasti berproses.

Tapi sekali lagi, 6 hal di atas bukan dengan menunggu hati siap dulu. Karena selamanya hati kita tidak akan siap jika tidak dimulai. Jadi, pahamilah bahwa berhijab ialah perintah Allah yang HARUS kita laksanakan. Dengan berhijab, justru perilaku baiklah yang akan mengiringi juga diri yang akan terbentengi :)

Mengingatkan dengan kesabaran.

Terakhir, saya setuju dengan salah satu komentar. Bukan dengan cara kasar untuk mengingatkan orang lain yang keliru atau salah. Tapi cara yang santunlah yang harus diutamakan. Sebagaimana Islam sesungguhnya suka dengan kesabaran dan kelembutan :)

إن الإنسان لفي خسر إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr, 103: 2-3).
Allah Ta’ala juga berfirman:
ثم كان من الذين آمنوا وتواصوا بالصبر وتواصوا بالمرحمة
“Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS. Al-Balad, 90: 17).
So, yuk berhijab dan sampaikanlah kebenaran dengan kesabaran ^_^ 

Referensi bacaan: http://www.hidayatullah.com/kolom/salam-dari-salim/read/2013/10/27/7018/mengingatkan-untuk-meluruskan.html

10 comments:

  1. Duluuuuu, aku alesan ina-inu sampe akhirnya lega mau berhijab sendiri. Dan emang benar ya Mbak, rasanya kalo belum dipahamkan sama hidayah, mau dikasih teori apa aja tetep aja ada alesannya.

    Semoga istiqomah :))

    ReplyDelete
  2. Terimakasih sudah diingatkan..dulu awal berhijab itu selesai operasi usus bubtu dan langsung berhijab.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mbak. Wah pasti ada story nya ya Mbak :)

      Delete
  3. Jadi penasaran dengan tulisan yang dibully itu. Tapi kadang orang memang baru membaca judul, sudah membuat kesimpulan ya...

    ReplyDelete
  4. Terima kasih pengingatnya mbak, smeoga bisa segera berhijab nih saya ehehe

    ReplyDelete
  5. saya pernah buka tutup sampai 2x.... hanya alsaan pekerjaan
    tapi kenikmatan ketika mendapat hidayah itu tidak bisa diungkapkan dg kata2

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...