Friday, 21 October 2016

Sampai Kapanpun, Mengikuti Kata Orang Tidak Ada Habisnya

Pernah, saat sesi pillow talk bersama suami, saya sempat curhat tentang ada seorang teman yang sedang stress sekali menghadapi pembicaraan orang-orang di sekitarnya. Awalnya saya pikir suami akan merespon dengan kalimat, "kasihan ya, seharusnya orang-orang tidak boleh begitu." Tapi alih-alih membela teman saya seperti itu, ia malah menjawab, "seharusnya dia ikuti saja apa kata orang. Biar tidak stress." Waduh? Bagaimana bisa suami malah menyalahkan teman saya? 

Lalu apa jawabannya? "Dunia ini kan sandiwara. Yaudah kita bersandiwara aja. Kalau kita emang belum bisa bebal (keras kepala.red) dan nutup kuping (telinga.red) dari omongan orang-orang, ya kita ikuti apa yang mereka mau. Karena lebih mudah mengubah diri sendiri."

Lanjutannya, "Kita nggak bisa ngatur orang. Nggak bisa bikin orang untuk nutup mulut. Eh lu nggak boleh ngomong ini, lu nggak boleh ngomong itu. Nggak bisa. Jadi ya mau nggak mau, kita harus ikutin apa yang mereka mau. Kecuali kita bisa cuek menghadapi omongan mereka."
https://pixabay.com/id/dualisme-kontras-penilaian-konflik-1197153/
Saya merenung sebentar. Hm, apa yang dikatakan suami barangkali benar. Mari kita bahas satu-satu poinnya. Tentu saja ini atas sepemahaman saya.

Dunia adalah sandiwara

Iya, seperti lagu yang cukup legendaris. Sejak dulu saya sudah menyadari, bahwa sesungguhnya dunia ini adalah sebuah panggung dimana kita adalah lakon utamanya. Kita adalah pelaku utama yang bisa berlaku sesuka kita, di samping kita juga harus menyadari bahwa kita ini makhluk sosial. Dimana terkadang ada aturan-aturan dalam bersikap.

Dalam kejadian teman saya tadi. Ia begitu stres menghadapi orang-orang di sekitarnya. Lalu mengapa ia tidak coba bersandiwara lebih dulu. Bersandiwara untuk menutup pendapat orang-orang dengan jadi apa yang mereka inginkan. Setelah bersandiwara, dan kenyataannya tak seperti yang orang-orang harapkan, saat itu ia mulai bisa berhenti bersandiwara. Dan interupsi akan terjadi dengan sendirinya. Saat orang-orang menyadari bahwa yang mereka inginkan ternyata keliru. 

Menutup telinga dari pembicaraan orang-orang

Saya beruntung, saya adalah tipe yang cuek menghadapi omongan orang-orang. Tidak peduli apa yang mereka katakan, inilah saya. Oke, saya memang keras kepala. Tapi kan nyatanya tidak semua orang sama seperti saya. Masih banyak yang terbawa pikiran atas pendapat orang lain.

Baca: Please Stop Say "Baper"!

Saya punya satu pegangan mengapa saya bisa cuek sampai sekarang. Mengikuti kata orang tidak akan ada habisnya sampai kapanpun! Apapun yang kita lakukan, tidak peduli itu sangat baik sekalipun, selalu ada saja komentar-komentar negatif.

Daripada menyiksa diri dengan memikirkan apa kata orang, mengapa tidak kita coba saja berjalan terus. Berjalan seperti apa yang kita inginkan. Sampai akhirnya orang menyadari, bahwa yang kita lakukan tidak merugikan mereka. Yang kita lakukan sesungguhnya baik. Tentu saja pemahaman ini atas dasar kebenaran dan kebaikan yang berlaku di masyarakat. Kalau kita menyadari perilaku sudah melenceng, barulah saatnya kita memikirkan pendapat orang yang barangkali ada benarnya.

Baca: Kenapa Kita Dibully?

Memang tidak mudah, apalagi cuek tidak cuek ini adalah masalah karakter. Tapi saya yakin bahwa karakter itu bisa dibentuk jika kita memulainya dan membiasakannya dari sekarang :)

Baca: Cara Sederhana untuk Membuat Hatimu Lebih Bahagia

Lebih mudah mengubah diri sendiri

"Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini. Maka aku putuskan untuk mengubah negaraku saja.
Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku.
Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Ternyata aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini."
sumber: http://chillinaris.blogspot.co.id/2015/02/cerita-tentang-seorang-pria-yang-ingin.html
Ya, mengubah diri sendiri itu jauh lebih mudah dibanding mengubah orang lain untuk menjadi seperti yang kita inginkan. Kita lebih tahu kemampuan diri sendiri. Lebih tahu batasan yang sanggup kita lakukan. Pernah ibu saya berkata, "Orang lain, tergantung diri kita." Dengan kata lain, saat diri kita sendiri menjadi lebih baik, dengan sendirinya lingkungan akan tarik menarik dengan kebaikan kita :)

Mengatur pendapat orang lain itu hal yang sulit 

Mengapa lebih mudah mengubah diri sendiri? Karena kita tidak bisa mengatur orang lain. Sama halnya dengan pendapat. Daripada kita mengatur pendapat orang lain, bukankah kita lebih baik mengatur pendapat dan perilaku diri sendiri, agar tidak ada yang merasa disakiti atau dirugikan :)

Jadi pada intinya, semua kembali lagi pada diri kita sendiri. Seperti yang sudah saya katakan, berpikir tentang pendapat orang lain sampai kapanpun tidak ada habisnya. Kita memang manusia biasa yang selalu ada celah. Bedanya, ada yang bijak menghadapi celah itu. Ada juga yang selalu berkomentar. Tinggal kita sendiri yang bisa berpikir. Mana pendapat yang layak untuk dipikirkan, mana yang lebih baik diabaikan :)

13 comments:

  1. Sepakat ka Ade, ngikutin kata orang bikin capek sendiri.
    Kalo aku sih selagi ga merugikan orang lain, ga melanggar norma dan etika, sok jalan teruus! :D

    ReplyDelete
  2. Aku juga cuek orangnya, ada yg bilang aku sombong misalnya, ah itu mah dia aja yg ga mau kenal lbh deket, dan nyimpulin sendiri, toh sm yg lain aku mah biasa biasa, malah cenderung mudah akrab.

    Ya emang ga ada abisnya komenterrrr mah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget Teh, capek juga ya denger kata orang :D

      Delete
    2. Bener banget Teh, capek juga ya denger kata orang :D

      Delete
  3. Jujur mbak kalau saya mah tidak terlalu memperhatikan yang begituan karena dalam pikiran saya suka ngomong jangan ngikutin atau jangan dengar apa yang orang lain katakan atau lakukan karena itu berbahaya dan terlalu kata bang haji roma mah.

    ReplyDelete
  4. Setuju mbaaa, ngedengerin saran atau pendapat orang memang ada baiknya, yang penting disaring yak, jangan overthinking biar ga setres :D kalau ga esensi dibawa santai boleh kali yaa...

    ReplyDelete
  5. cuek aja kalau saya selama kita baik dan udah bener, ya jalan saja. Mengenai masukan orang saya ambil yang baiknya Mbak, kalau itu kebaikan untuk saya, ya saya dengarkan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tetep disaring ya. Yang baik pasti diambil :)

      Delete
  6. dulu saya pencemas. sekarang makin tua alhamdulillaah bisa tutup kuping.

    dibully di grup pun saya pura-pura ga tau. untunglah teman-teman lain pada ga berani ikut membully.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semakin dewasa, semakin tau mana yang penting dannga penting ya Mbak :)

      Delete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.