Friday, 9 December 2016

Semua Tentang Rasa

Dulu saat SMK, saya sekolah di sekolah berbasis islam. Makanya, banyak sekali kegiatan kami yang berbau islami. Salah satunya adalah istighosah atau berdo'a bersama. Biasanya ini dilakukan menjelang ujian atau pun acara-acara hari besar islam. Dari rangkaian acara istighosah tersebut, juga terselip semacam renungan atau muhasabah untuk mengingat dosa-dosa terutama dosa pada orang tua. Barangkali dimaksudkan supaya para siswa tidak lupa dengan jasa-jasa orang tuanya.

Tapi... ada satu hal yang sempat membuat saya malu dan nyaris frustasi. Mengapa di setiap muhasabah dosa dan orang tua tersebut, hati saya biasa saja? Di saat teman-teman yang lain sudah menangis sesenggukan, air mata saya justru tidak keluar sama sekali! Di saat selesai muhasabah semua mengusap air matanya, saya justru kebingungan sendiri mengapa mata saya kering. Disitu saya mulai bertanya, apakah hati saya begitu keras? 

Maka dari pertanyaan-pertanyaan itu, saya mulai belajar menata hati. Saya mulai belajar caranya menghayati dengan benar. Saya harus ingat bahwa dosa saya ini terlampau banyak. Dan di saat mengingat dosa, seharusnya pikiran saya fokus agar saya bisa merasakan bagaimana sampai dosa bisa membuat saya menangis sesenggukan layaknya teman-teman lainnya. Ya, ternyata saya hanya ingin bisa menangis saat itu -_-

Sampai suatu ketika istighosah, seorang ustadz luar yang diundang ke sekolah kami, mengajak kami untuk muhasabah sambil bersujud. Dengan kata-kata dan do'a yang keluar dari ustadz tersebut, entah kenapa hati saya mulai melirih. Air mata saya perlahan-lahan jatuh. Apakah karena posisinya sujud yang artinya kita sedang benar-benar merendah pada Allah SWT? Bisa jadi.


Semua tentang Rasa

Tapi bukan tentang itu, barangkali ini tentang rasa. Tentang rasa yang ingin sekali saya cari. Saya memohon pada Allah agar melunakkan hati saya. Di saat saya berdo'a, perlahan-lahan Allah mengetuk hati saya. Sampai akhirnya saya bisa fokus mengingat semua dosa saya. Dan rasa itulah yang perlahan tumbuh dan membanjiri air mata saya.
via Pixabay
Ya, semua tentang rasa...

Demikian pula Aksi Bela Islam 411 bulan lalu dan 212 Jum'at lalu. Ini semua tentang rasa. Ketika Aa Gym dalam suatu acara berkata bahwa beliau juga tidak tahu mengapa harus ikut aksi, beliau hanya bilang "saya hanya merasa. Rasa ini tumbuh di hati." Akhirnya umat islam lain pun menyadari bahwa rasa-lah yang membangkitkan semangat aksi.

Santri-santri yang rela berjalan kaki dari Ciamis hingga ke Jakarta. Orang-orang daerah yang rela jauh-jauh mengeluarkan ongkos demi bisa pergi ikut aksi. Pedagang-pedagang kecil yang rela menggratiskan dagangannya untuk para peserta aksi. Pegawai-pegawai yang rela izin ke atasannya untuk cuti agar bisa ikut aksi. Ibu-ibu dan orang tua yang rela bawa anaknya. Orang-orang yang rela membawa kantong sampah dan alat bersih-bersih demi tetap terjaganya kebersihan.

Semua itu karena rasa. Sampai akhirnya semua umat Islam tumpah ruah jadi satu seperti lautan manusia. Masya Allah.

Rasa yang timbul di hati, yang tidak semua orang mengerti dan hanya diri sendirilah yang bisa mengerti.

Bukan sebatas nafsu duniawi, tapi ada yang lebih penting dari itu. Ialah mengetuk pintu langit. Allah Maha Besarlah yang sedang mereka jadikan satu-satunya tempat meminta.

Maka, barangkali semua ini tidak bisa lagi dipertanyakan mengapa, mengapa, dan mengapa. Karena sekali lagi, ini semua adalah tentang rasa. Rasa di dalam hati yang bernama cinta dan hanya Allah-lah yang mampu menumbuhkan dan menggerakkan. Karena sesungguhnya, Ia-lah Sang Maha Membolak-balikkan Hati.
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatanMu.”

16 comments:

  1. Speechless kalau udah ngomongin soal rasa. :'D

    ReplyDelete
  2. Rasa pula yang bisa menentukan ke mana kita melangkah. Pada kebaikan atau keburukan.

    ReplyDelete
  3. Seperti kata kecap bango. Rasa tidak akan berbohong.

    ReplyDelete
  4. Aamiiin. Semoga doa Mbak diijabah Allah SWT

    ReplyDelete
  5. Terharu bacanya. Ketika rasa yang berbicara, manusia seakan memiliki kekuatan lebih.

    ReplyDelete
  6. Saya juga kerap bingung ketika melihat perkumpulan doa, dan mereka menangis. Ternyata memang saya terlalu menyepelekan doa. Setelah dihayati, hati terasa lain. Seakan telah diketuk oleh sesuatu.

    ReplyDelete
  7. aamiin.
    dan kalo udah tentang rasa, gak akan ada yg mampu memanipulasi :)

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.