Wednesday, 20 September 2017

Wednesday, September 20, 2017 18

Dari Ngeblog, Aku Belajar 5 Hal Tentang Kehidupan

Dari ngeblog, aku belajar 5 hal tentang kehidupan. Judul yang sebenarnya nggak jauh beda dan terinspirasi dari postingannya Mbak Carra tentang 5 Pelajaran tentang Hidup yang Saya Pelajari dari Aktivitas Blogging.
via Pixabay
Kadang nggak nyangka kalau saya bisa bertahan ngeblog sampai sekarang. Padahal dulu sempat ragu, apakah setelah menikah dan punya anak, saya masih bisa tetap ngeblog? Ternyata, ya ini. Saya masih bisa ngeblog! 😊 Bahkan setelah punya dua anak.
Tapi tekad memang tekad, kalau sudah kuat rasanya sulit dipatahkan. Kecuali diri sendiri yang membuatnya putus asa.

Suka duka ngeblog, yang memberi aku 5 pelajaran tentang kehidupan

Selama hampir 5 tahun ngeblog, tentu saja banyak suka dukanya. Suka karena lancar menulis, banyak inspirasi bertebaran, menang lomba, dapat job, bisa kenal banyak teman, dan sebagainya. Duka karena tidak ada ide, kalah lomba, dan sebagainya yang saya lupa.

Makanya, berulang saya bilang kalau saya bersyukur banget bisa kenal blog. Sebab ia bukan sekedar tempat menulis, mencurahkan hati, atau apapun. Tapi juga memberi makna yang lebih dalam pada saya. Dan darinya saya banyak mendapat pelajaran yang berkaitan dengan kehidupan.

1. Konsistensi

Semula saya tidak pernah meniatkan untuk rutin menulis dan memasang motto one month min. one post. Tapi lupa kapan tepatnya, begitu melihat setiap bulan saya menulis, saya jadi bertekad untuk konsisten supaya setiap bulan bisa menulis walaupun hanya satu tulisan.

Saya pernah main ke blog orang - yang sebenarnya tulisannya bagus - tapi sayang dia tidak konsisten, disitu saya merasa ada yang kurang. Entahlah, seperti ada yang aneh saja kalau bolong-bolong. Apalagi kalau dia memasang hirarki bulan di blognya (yang otomatis akan ketahuan kapan saja dia menulis). Yaa meskipun blog buku saya juga bolong sekarang huhu 🙈 Makanya, saya masih punya tekad, untuk blog ini dan Celoteh Bunda harus tetap rutin. Apalagi kan temanya keseharian banget. Beda dengan blog buku yang harus mereview dan itu butuh waktu yang nggak sebentar.

Konsistensi kedua adalah terkait event blogging dan sponsored post. Saya itu menanamkan banget dalam diri supaya jadi orang yang nggak plin plan. Maksudnya, misal kalau saya sudah milih ikut suatu event blog entah online seperti kolaborasi blog, lomba, atau offline seperti hadir di acara, saya harus konsisten sampai akhir. Konsisten mengikuti aturan yang dibuat sejak awal. Sama halnya dengan sponsored post. Kalau saya sudah memilih menerima suatu job, ya harus konsisten buat nulis. Tepati deadline, jangan molor. Patuhi brief, dan syarat ketentuan. Pokoknya ya begitu. Intinya ikuti aturan yang telah disepakati dan jangan sampai putus di tengah jalan.

Sebab, bagi saya pribadi konsistensi ini juga sebagai bentuk rasa percaya orang lain akan kredibilitas kita. Tidak peduli itu dari brand besar atau bahkan teman-teman blogger sekalipun. Karena sekali kita menghilangkan rasa kepercayaan orang lain, orang bisa jadi akan kesulitan untuk bekerja sama dengan kita lagi. Dan sungguh, membangun kepercayaan itu mudah. Tapi ketika kita tidak bisa mempertahankannya, jangan harap orang bisa percaya seperti sedia kala *uhuk.

Baca: Menjadi Blogger yang Bisa Dipercaya

2. Tanggung  jawab

Nggak beda jauh dengan poin pertama dan masih terkait dengan rasa kepercayaan. Selain konsistensi, seorang blogger pun harus punya rasa tanggung jawab. Ya itu tadi, kalau kita sudah menentukan pilihan dan menyepakatinya, maka ya harus tanggung jawab dengan kesepakatan itu. Jangan tiba-tiba mundur di tengah jalan apalagi tanpa alasan yang jelas. Kecuali ada alasan udzur yang benar-benar udzur dan tidak terhindarkan. Tapi selama kita mampu, jangan sampai kita melepaskan kewajiban itu.

Sama seperti hidup kan. Segala sesuatunya kelak akan dimintai pertanggung jawaban 😇

3. Tidak bisa menyenangkan semua orang 

Ada kalanya orang suka dengan postingan saya. Ada kalanya juga tidak suka. Kadang setuju, kadang tidak. Memang begitu adanya. Sesempurna apapun kita berusaha, selamanya kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.

Sebab kita ini hanya manusia. Yang sudah pasti berbeda pemikiran. Yang banyak juga celahnya. Jadi kalau ada satu dua orang, atau satu dua kali postingan kita tidak disukai atau disetujui, ya sudah terima aja. Memang sudah alamiahnya begitu 😁

4. Berbagi itu indah

Dulu saya nggak pernah mikir statistik setiap mau nulis. Nulis ya nulis aja. Karena memang saya senang. Tapi justru dari beberapa tulisan yang menurut saya ala kadarnya itulah orang jadi banyak yang mengucapkan terima kasih. Banyak yang mendadak curhat. Sampai akhirnya saya tahu, oh berbagi itu indah ternyata. Kita nggak mikir apa-apa saat mau mengeluarkan, ikhlas aja kita nulisnya. Eh tapi ternyata orang malah berkesan. Orang malah terbantu masalahnya.

Jadi kalau sekarang saya kepikiran statistik, saya langsung ingat saat-saat itu. Kalau mau nulis ya nulis aja. Nggak ada yang ngelarang. Selama yang saya tulis tidak merugikan pihak lain dan melanggar aturan, ya tulis aja. Apalagi kalau itu memang sekiranya dibutuhkan banyak orang. Karena saya juga nggak mau jadi terbebani dengan statistik yang membuat saya sampai harus bingung mau nulis apa.

5. Sabar dan ikhlas

Kalau Mbak Carra bilang ngeblog harus ikhlas, itu benar sekali. Tapi tambahan dari saya, kalau ngeblog itu juga harus sabar. Apalagi kalau kita memang berniat benar-benar serius dan ingin mencari materi. Karena ngeblog itu juga nggak ada yang instan. Semua berproses. Ya proses membuat, menulis, sampai proses untuk mendapatkan penghasilan itu sendiri.

Sama halnya dengan kesuksesan, kita tidak bisa hanya melihat keberhasilan orang lain dari hasilnya, tanpa kita tahu prosesnya. Barangkali sebelumnya banyak hambatan, kegagalan, tapi karena bersabarlah maka mereka mau berproses sampai akhirnya berhasil.

Yang terakhir, ikhlas. Apapun yang kita harapkan, tidak semua bisa kita dapatkan. Demikian pula dalam dunia blog. Tulisan kita kalah lomba, kita tidak terpilih untuk mengikuti event atau job blogger tertentu, dan lain-lain. Maka di sinilah kita dituntut untuk bisa ikhlas. Karena hanya dengan ikhlaslah hidup jadi lebih tenang. Saat hidup tenang, kita tidak punya alasan untuk menyerah 😊

Ngeblog itu memang luar biasa. Mampu membantu meringankan beban dengan menulis. Mampu mendapatkan banyak relasi. Serta mampu mendapatkan penghasilan *eh. Dari kemampuan itulah, maka blog banyak memberi pelajaran yang berharga. Karena ia selalu berproses 😊

Kalau kamu sendiri bagaimana? Pelajaran hidup apa saja yang sudah kamu dapatkan dari ngeblog? Sharing yuk!

Sunday, 17 September 2017

Sunday, September 17, 2017 12

150 cm Life: Hal-hal yang Hanya Dirasakan Orang Pendek

150 cm Life, itu buku yang sungguh mewakili saya banget! Makanya waktu Penerbit Haru nerbitin buku itu, nggak mikir lama, saya langsung mau beli! Ya habis saya penasaran apa isinya. Apalagi itu memang kisah nyata.

Gimana nggak penasaran, kalau tinggi saya dengan penulisnya nggak jauh beda. Cuma beda 5 cm di atas beliau. Yap. Tinggi saya 155 cm. Uwuw pendek yaa hihi 🙈
via Pixabay
Jadi buku itu bercerita tentang kehidupan sang penulis, Takagi Naoko yang tingginya 'hanya' 150 cm sampai usia dewasanya. Dan hal-hal yang dirasakannya. Yaa bisa dibilang suka duka memiliki tubuh yang pendek gitulah. Tapi di sini saya nggak akan review detail buku itu. Karena reviewnya sendiri udah saya tulis di blog Delina Books (linknya ada di atas).

Nah yang sekarang saya mau ceritakan, apa saja suka duka saya jadi orang yang tidak tinggi. Sebenarnya nggak jauh beda dari Naoko, tapi boleh lah saya tulis ulang dan hal-hal di bawah ini memang saya rasakan. 

Hal-hal yang hanya dirasakan orang pendek

  • Sulit menggapai yang tinggi
Ini pasti dong ya haha. Saya susah menjangkau tempat-tempat yang tinggi. Ya sama sulitnya seperti membuat tempat cuci piring stainless nampak baru *eh. Termasuk pegangan kereta yang pas bagian tinggi dekat pintunya itu tuh. Saya juga agak kesulitan buat ambil barang di atas lemari yang tinggi. Alhasil kudu pakai tangga atau kursi huhu. Pokoknya ya tempat-tempat yang jauh melebihi tinggi badan, saya bisa kesulitan menjangkaunya. 

  • Setiap beli baju baru harus selalu dipotong
Nggak kalah sedih nih, nggak jarang kalau dibeliin baju sama orang tuh mesti kebesaran. Entah bagian pinggangnyalah (karena saya kurus), bawahnyalah. Apalagi sekarang saya udah pakai gamis kemana-mana. Susah juga nyari gamis yang benar-benar pas untuk tubuh saya. Paaaasti deh bagian bawahnya kudu dipotong. Atau kalau kelewat lebar, dikecilin dikit. Itu kan cukup disayangkan ya 🙈 Sama halnya waktu dulu saya masih pakai celana. Sebagian besar celana panjang pasti dipotong bawahnya. Tapi untungnya sih model baju zaman sekarang didesain all size, jadi ada juga yang nggak perlu dipermak sama sekali. Nah di buku 150 cm Life, Naoko juga berbagi tips tuh gimana caranya supaya baju-baju bisa tampil jadi kece untuk orang-orang pendek seperti kita. 

  • Susah nyari ukuran sandal/sepatu
Untuk beberapa kali saya kesulitan mendapatkan sandal atau sepatu yang saya taksir dan sesuai dengan ukuran kaki saya. For your info, selain ukuran tubuh saya yang pendek, ukuran kaki saya juga mungil. Selain kakinya kurus, ukurannya juga kecil. Hanya 36! Hihi. Nah 36 ini termasuk agak susah dicarinya hiks. Kadang sandal/sepatu yang saya pengen, cuma punya ukuran minimal 37 huhu. Kadang bisa pas sih dengan ukuran segitu, tapi lebih banyak yang masih longgarnya huhu. Kalau saya kelewat naksir dan memang nggak ada lagi, biasanya tetap saya beli. Walaupun jadinya agak longgar dikit. Tapi kalau masih bisa nyari yang lain, ya mending nyari yang pas. Yah, jadi berbahagialah wanita yang memiliki ukuran kaki yang ideal (ukuran 37-41.red *cmiiw)


  • Malu kalau jalan di samping orang yang tinggi
Dasarnya saya ini memang minderan orangnya. Ditambah lagi kalau jalan sama orang yang lebih tinggi. Aduh suka malu 🙈 Kecuali jalan sama suami ya haha. Jadi harus mendongak gitu kalau mau ngomong. Nggak tahu ya, nggak nyaman aja kalau jalan, tapi tingginya nggak sepantaran. Berasa ada yang aneh aja gitu 🙈😂 Termasuk sama adik atau kakak saya sendiri, suka nggak PD kalau jalan dampingan gitu karena saya pendek huhu. 

  • Kalau difoto rame-rame pasti di depan
Hehe kalau ini sih keuntungan namanya 😁 Dari saya kecil, bahkan sampai sekarang, kalau foto rame-rame, saya pasti disuruh di depan. Yaiya kalau di belakang nggak kelihatan dong 😝 Jadi saya suka berbangga hati, kalau pas lihat hasil fotonya, saya paling nampak karena di depan 😂 Tapi kalau lagi ada orang tinggi yang rese dengan nyerobot minta tampil di depan, uhh kesel banget hati saya *nggak nyadar diri namanya 😒

  • Sering disangka masih kecil
Saya nggak tahu mesti bahagia atau sedih kalau dikira masih kecil. Kayak baru-baru kemarin. Pas saya beli nasi kuning sama suami dan Emir, ditanya sama ibu penjualnya, "itu anaknya ya? (sambil nunjuk Emir)" Lah menurut ngana? Saya nggak tahu, apakah karena tinggi saya dan suami yang tergolong pendek, atau memang karena wajah kami yang mirip dan baby face *ciye* makanya si ibu nanya gitu. Yang jelas, kita mikirnya, mungkin dikira si Emir itu adik kita kali ya hahaha. 
Pernah juga waktu kerja, saya disangka masih sekolah sama orang 😂 Yaah entah harus bahagia karena dikira lebih muda. Atau sedih karena harusnya saya jangan disangka begitu 😁

Yah begitulah kurang lebih suka dukanya jadi orang yang tidak tinggi. Tapi hidup memang selalu punya suka duka kan 😁 Seperti kata Naoko, orang yang tubuhnya tinggi pun memiliki suka duka yang sama. Jadi berapapun tinggi badanmu, ya intinya kita bersyukur aja. Ya kan? 😁

Nah kamu sendiri punya suka duka apa nih sama tinggi badan? Boleh lho sharing di komen. Atau bikin postingan juga seru. Jangan lupa colek saya yaa 😆🙁

Wednesday, 13 September 2017

Wednesday, September 13, 2017 14

Media Sosial untuk Apa?

Waktu saya bikin tulisan Gimana Cara Menyikapi Media Sosial?, ada satu komen menarik dari Mbak Vicky yang nanya medsos saya dipake buat apa, selain share link blog dan siapa yang unfollow?

Haha saya malu sendiri jadinya. Padahal yang begitu cuma ada di Twitter saya. Karena saya emang jarang main Twitter. Jadi ya palingan dipake buat share postingan blog aja. Tapi kalau urusan follow unfollow itu emang udah otomatis. Jadi waktu zaman saya masih alay, saya follow aplikasi itu, jadilah hampir setiap hari saya menerima notifnya, yang mana ya muncul di timeline huhu. Mau diunfoll aja kok lupa mulu 🙈
via Pixabay
Oh ya, postingan ini juga terinspirasi dari tulisan Mak Suciati Cristina di KEB tentang Social Media? Untuk Apa? Jadi sebenernya media sosial saya buat apa?

Fyi, saya hanya main 4 medsos sekarang. WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Twitter meski jarang 🙈. Kalo BBM, Line, dan medsos lainnya udah saya hapus karena emang jarang terjamah ((terjamah)) 😂

Jadi medsos saya itu biasanya untuk apa sih?
  • ☑️‌ Sharing tulisan
Hehe ini terutama di Facebook. Biasanya saya share postingan blog ke fanpage saya dan grup-grup komunitas blogger yang saya ikuti. Selain itu, kadang saya juga bikin status agak panjang kalo lagi mood nulis di Facebook. Kalo untuk Twitter, saya pernah juga sih bikin kultwit, tapi sekarang-sekarang ini udah agak jarang. Jadi yauda sekarang Twitter lebih maksimal dipake buat sharing tulisan atau retweet status yang bagus aja. 

  • ‌🔡 Baca informasi (parenting, kepenulisan, blog, atau sekedar artikel-artikel biasa) 
Medsos bagi saya sekarang bukan lagi sekedar pamer foto, atau status. Tapi juga sebagai ladang baca-baca informasi. Apalagi di Facebook saya ngelike, berteman, dan di Twitter follow orang-orang yang suka bikin tulisan-tulisan bagus atau orang yang ahli di bidangnya. Kayak parenting yang ngeshare info tentang anak masalah ASI, tumbuh kembang, MPASI, atau menu bekal anak yang pernah dishare beberapa teman medsos saya. Tentang ngeblog dengan segala seluk beluknya, dari mulai sharingan tulisan teman-teman blogger, ilmu dasar blog, kepenulisan, sampai job-job 😁. Ada lagi info-info tentang kesehatan, kebutuhan rumah,  dll. Ah pokoknya banyak deh.  Trus saya pun suka baca artikel atau berita yang berseliweran di beranda. Ya asal nggak baca berita hoax aja sih hehe.

  • 💞 Berkomunitas
Saat ini saya ikut banyak komunitas. Terutama komunitas blogger dan emak-emak atau parenting. Nah di Facebook dan WhatsApp itu banyak komunitasnya. Jadi yauda aja saya manfaatin medsos buat berkomunitas. Karena di komunitas itu saya nggak cuma dapat jaringan. Tapi juga manfaat yang banyak banget dan pastinya nambah wawasan tentang apa yang saya minati.

  • Keperluan buzzer
Alhamdulillah sekarang saya bisa menghasilkan materi lewat medsos. Jadi mulai kapan tepatnya saya lupa, saya mulai mendapat tawaran menjadi buzzer di media sosial saya. Seperti buzzer untuk promosi suatu produk atau kegiatan begitu. Yang pasti sih saya hanya menerima buzzer yang positif, no politic dan no hoax ya 😊 Saya juga tidak menerima untuk menjadi buzzer yang tidak sesuai dengan prinsip saya.

Baca: 4 Alasan Saya Menolak Job Review

  • ‌🙈 Kepo-kepo akun orang
Haha yang ini agak nggak penting untuk disebutkan sih. Tapi ya itulah kenyataannya 😂🙈 Kadang saya ngepoin akun orang. Misalnya kayak temen lama yang udah nggak ketemu-ketemu. Orang-orang yang sedang viral dibicarakan. Atau ngepoin akun orang-orang yang tulisannya bagus-bagus buat diikuti.

Ya kira-kira gitu aja sih manfaat medsos buat saya. Terlepas dari sisi negatifnya, saya udah ngerasain banyak manfaat dari medsos. Karena seperti yang saya bilang di atas, medsos bisa nambah wawasan dan pengetahuan saya. Apalagi dari medsos saya juga nambah banyak teman baru yang sebelumnya nggak kenal dan sekarang justru jadi akrab 😊 

Kalau kamu, media sosial untuk apa aja? 

Friday, 8 September 2017

Friday, September 08, 2017 10

Menerima dan Berdamai dengan Diri Sendiri

Ade kecil rambutnya keriting. Badannya kurus. Kulitnya hitam. Kalo pake rok sekolah mesti di atas pinggang sampai-sampai sering dikatain "culun" 😂

Menjelang SMP, Ade malu kalau rambutnya digerai. Karena capek dikatain 'keriting keribo, makan t*i kebo'. Jadilah milih nguncir rambut, terus dipakein bandana. Eh dikatain lagi kayak orang pusing katanya. Yaudalah pas masuk kelas 2 SMP, pake kerudung aja. Aman. 

Setelah SMK, eh wajah jerawatan. Padahal kadang wajah terasa kering sampai kelihatan kalau tuh kulit kering banget. Trus pernah juga dibilang kayak mo**et karena bulu saya banyak. 

Haa mbuhlah 😂

***
Ya. Itulah semua cerita asli saya. Bisa bayangin dong ya, betapa jeleknya saya di masa lalu 😂 Dikatain, atau bahasa sekarangnya mah dibully. Meski nggak pernah dengan perbuatan, tapi jangan salah, dengan kata-kata itu pun sangat menyakitkan lho. Makanya nih kita harus pandai-pandai jaga omongan ya 😄


Orang-orang itu mungkin nggak pernah tahu, kalau diam-diam ada yang tersakiti dengan omongan mereka. Orang-orang itu mungkin nggak tahu, kalau diam-diam ada yang menangis karena omongan mereka. Bahkan untuk ngadu ke orang tua saya aja nggak sampai hati. Karena takut malah orang tua yang jadi sasaran. Dan yang ada saya malah makin dibully karena disangka pengaduan. Jadi pendam sendiri aja deh.

Karena saya belum menerima dan berdamai dengan diri sendiri

Tapi saat dewasa atau lebih tepatnya setelah baca tulisan teman saya tentang Appearance Oriented, saya jadi mikir bahwa saya di masa lalu - yang selalu menangis dalam diam, bisa jadi karena saya BELUM MENERIMA DIRI SENDIRI. 

Saya tahu kalau rambut saya keriting, tapi saya nggak terima kalau orang bilang keriting. Belum lagi di mata saya, keriting itu jelek. Lebih cakep kalau rambut lurus. 

Saya tahu kalau rambut dikuncir, terus pakai bandana, itu jelek. Tapi saya nggak terima kalau dibilang kayak orang pusing. Hla wong buat nutupin rambut keriting saya kok. 

Saya tahu kalau bulu di tubuh saya banyak, tapi jangan dikatain mo**et dong. Saya kan manusia. Siapa sih yang mau dilahirkan begini. Emang saya bisa milih? *lah jadi emosi 😂

Gitulah. Intinya saya nggak terima dengan kenyataan yang ditambah pembicaraan nggak enak dari orang lain. Padahaaal, kalau mau dipikir sekarang, ya ngapain juga saya marah ya. Kan kenyataannya emang rambut saya keriting. Emang bulu saya banyak. Emang wajah saya jerawatan. Itu semua karena saya tidak menerima diri apa adanya. 

Karena stigma di kepala saya negatif, jadilah saat orang bilang hal negatif, semakin meyakinkan saya bahwa hal itu buruk. Akhirnya saya menjadi peminder. Pemalu. Daan pembenci. Benci pada diri sendiri, juga pada orang-orang yang membully saya. 


Kitalah sebaik-baik makhluk-Nya

Tapi sekarang, saya paham bahwa inilah diri saya. Allah sudah ciptakan saya dengan sebaik-baik menurutNya *karena apa yang menurut kita baik, belum tentu di mata Allah. Tapi tidak sebaliknya. Apa yang menurut Allah baik, itu sudah pasti baik bagi kita. 

Dan wajar kalau saya dibilang keriting, karena saya memang keriting. Wajar kalau dibilang bulu saya banyak karena memang itu kenyataannya. Dibilang jerawatan ya memang wajah saya berjerawat. Bilang wajah saya kering memang seperti itu kelihatannya. Jadi kesimpulannya, semua wajar karena kita sebagai manusia PASTI yang dilihat pertama kali adalah fisik. 

Memang, menjadi tidak wajar jika terlalu dilebih-lebihkan. Menjadi tidak wajar jika kita tidak lanjut menilai setelah melihat fisik orang lain. Makanya jadi tidak wajar pula saat ada orang yang tersakiti karena lidah kita. 

Tapi apapun itu, lagi-lagi kita sulit mengatur orang lain. Maka yang PALING bisa kita lakukan, tiada lain adalah, MENERIMA DAN BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI 😇 Dengan kita menerima dan berdamai, maka apapun kata-kata yang terlontar dari orang lain, tidak akan berpengaruh bagi kita. Karena kita tahu, bahwa kitalah sebaik-baik makhluk yang sudah diciptakanNya 😇

Wednesday, 6 September 2017

Wednesday, September 06, 2017 16

Ibu yang Bisa Menghargai Keputusan Anaknya

"Ibu pengen deh, ada satu aja anak ibu jadi guru." Itu kata ibu saya dulu. 

Selang beberapa lama, ibu kepingin ada anaknya yang daftar jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Alasannya kalau jadi PNS gajinya besar, sudah gitu ada tunjangannya juga. Bahkan saat pensiun pun masih dikirimi tunjangan setiap bulannya. Ini juga berdasarkan tetangga yang bekerja di PNS dan sudah pensiun. 
via Pixabay
Tapi apa mau dikata, anak-anak ibu saya malah tidak ada yang jadi guru atau PNS 🙈

Oke, saya nggak tahu apa alasan kakak-kakak saya tidak mau jadi guru atau PNS. Entah karena mereka memang tidak tertarik atau tidak pernah mendaftar 😁 Makanya di sini saya bakal cerita saya sendiri aja hehe. 

Nah kenapa saya tidak jadi guru atau PNS? Simpel sebenernya. Karena saya tidak mau 😊 🙈 

Pertama, alasan saya tidak mau jadi guru adalah karena saya merasa diri ini bukan orang yang cukup sabar untuk mengajari orang lain. Yes, bagi saya seorang guru itu harus SUPER DUPER sabar. Lho, kan ada juga guru yang nggak sabaran, bahkan pemarah? Iya memang. Tapi saya nggak suka dengan guru seperti itu, menyebalkanlah. Makanya saya tidak mau jadi guru yang punya tipe kayak gitu. Naudzubillah lah hehe. Tapi kalau cuma ngajarin orang-orang terdekat sih its oke aja, karena mereka sudah tahu saya haha. 

Kedua, kenapa saya nggak mau jadi PNS? Saya masih inget banget alasan yang saya utarakan ke ibu. Karena bebannya berat. PNS kan kerjanya untuk umum, masyarakat, maka kalau kita tidak benar, dalam artian semacam nggak ikhlas atau setengah-setengah kerjanya, itu akan jadi pertanggungjawaban yang berat di akhirat karena secara tidak langsung merugikan orang lain. Apalagi PNS kan gajinya dari pemerintah, yang mana itu uangnya dari rakyat. *Kejauhan ya mikirnya 🙈 Ya emang sih mau kerja di swasta pun harus bertanggung jawab juga. Cuma saya merasa kalau di swasta istilahnya kita kerja untuk diri sendiri,  bukan untuk masyarakat. Makanya saya nggak suka juga dengan pekerjaan yang mengharuskan saya ketemu orang *eeaa orang introvert 🙈 Di swasta gajinya pun bukan dari uang rakyat. 

Tapi dibalik alasan itu, saya pernah sih iseng-iseng cari lowongan kerja PNS. Niatnya pengen membahagiakan orang tua gitu. Sayang seribu sayang, kebanyakan harus minimal S1 huhu. Sedangkan waktu itu pendidikan saya masih mentok di SMK. Sekalinya ada lowongan yang sederajat, harus SMA dengan jurusan tertentu. Ya udah, emang dasar nggak jodoh kali hihi. 

Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya

Yah, tapi namanya orang tua. Benar seperti kata Mbak Cahaya dalam tulisannya Ketika Bapak Ingin Saya Jadi PNS. Bahwa setiap orang tua PASTI menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Ibu mungkin kepingin anaknya jadi PNS, tapi jika itu nggak sejalan dengan hati anaknya ya buat apa. 

Makanya waktu saya bilang ke ibu kalau saya nggak mau jadi PNS (dengan alasan yang saya utarakan), ibu memasrahkan saja. Sama sekali tidak memaksakan. Dan saat saya bilang saya mau kerja di perusahaan swasta aja, ibu pun tetap mendukung. Yang penting saya bisa bertanggung jawab dengan segala keputusan saya. 

Terbukti, saat melamar kerja, tidak lama saya langsung diterima di salah satu perusahaan swasta. Begitu pun saat harus keluar kerja dan mencari pekerjaan baru. Bahkan sampai akhirnya saya bisa kuliah dengan biaya sendiri. Alhamdulillah 😊

Dan sekarang saya merasakan, sebagai orang tua, saya ingin melakukan yang terbaik untuk anak. Pun kelak, semoga saya bisa seperti ibu. Apapun pilihan anaknya, selalu bisa menghargai dan tidak memaksa 😊

Monday, 4 September 2017

Monday, September 04, 2017 4

Agar Bicara Jadi Melegakan Hati

Sedih itu saat orang terdekat mencurahkan hatinya karena tersakiti dengan pembicaraan orang lain. Mau bilang "nggak usah peduli", nggak bisa juga. Karena perasaan setiap orang kan memang nggak bisa disamakan. Bagi kita, mungkin terasa biasa, udahlah kayak gitu ngapain sih dipeduliin. Tapi bagi dia, bisa jadi merasuk ke hati paling dalam saking sakitnya. Hufth.

Baca: Please Stop Say "Baper"!

Perkara bicara ini memang nggak pernah usai. Karena sepanjang kita hidup, pasti kita bicara *yakali ada orang yang tahan nggak ngomong seumur hidupnya 😂Tapi kan masalahnya isi kepala manusia dengan manusia lainnya sudah pasti beda. Itu sudah jadi keniscayaan. Tentang perasaan pun sudah pasti tak bisa disamakan. Jadi barangkali kembali lagi pada diri kita sendiri. Tentang kendali paling besar yang sesungguhnya ada di tangan kita sendiri. Kitalah yang PERLU mengontrol DIRI.
via Pixabay
Makanya daripada sulit mengatur orang lain, mungkin kita sendiri yang harus memperhatikan apa yang sebaiknya kita lakukan sebelum berbicara pada siapapun.

Agar bicara jadi melegakan hati, bukan membebani

  • ‌Pandang siapa orangnya
Bukan dalam artian memandang mata, tapi lebih ke 'melihat' siapa orang yang sedang kita ajak bicara. 
Pernah suatu waktu saya bicara dengan enaknya layaknya ke teman sepantaran, padahal saat itu saya sedang berbicara pada orang yang lebih tua. Di situ ternyata saya lupa dengan siapa saya sedang bicara. Duh, rasanya nyesel banget. 
Begitulah artinya kita harus bisa membedakan dengan siapa kita bicara. Bahasa kita ke teman sebaya, dengan bahasa kita ke orang yang lebih tua, tidak bisa disamakan. Sama halnya bahasa kita ke keluarga sendiri, dengan orang lain sudah pasti berbeda. Pun termasuk urusan pemilihan kata, intonasi, sikap yang tidak bisa kita samakan. Hal ini mungkin kelihatan sepele. Tapi percayalah, ketika kita salah ngomong, orang bisa jadi memandang kita berbeda. Karena sebagian besar orang sudah bisa menilai atau punya kesan saat pertama kali bertemu.
  • ‌Pemilihan kata
Ini dia yang sudah dibilang di poin pertama tadi. Selain pemilihan kata untuk memandang siapa orang yang sedang kita ajak bicara, kita pun harus bisa memilah kata yang sekiranya pantas dengan situasi saat itu. 
Bahkan sekalipun dengan orang terdekat. Situasi saat senang dan sedih sudah pasti berbeda penggunaan kata-katanya agar tidak salah atau malah menyakiti.
  • Situasi
Masih berhubungan dengan dua poin di atas. Bicara pun harus tahu situasi. Mana mungkin kita bicara senang saat teman kita lagi berduka. Nggak pas lah ya situasinya. Yang dibutuhkan justru pelukan, atau kata-kata yang bisa menenangkan hati.
  • Intonasi
Kata-kata sudah kita jaga. Kalimat pun dirasa tidak ada yang salah. Maka selanjutnya jangan lupa atur intonasi kita. Kata-katanya baik, tapi kalau bicaranya pakai intonasi tinggi, manalah enak didengar. Bisa-bisa salah paham deh orang itu. 
  • ‌Ekspresi/Sikap
Siapa bilang ekspresi atau gestur tubuh tidak menentukan bicara itu salah atau tidak. Saya pernah merasakan. Suatu hari, saat di tempat umum saya ketemu orang baru. Isenglah nanya apa gitu saya lupa, dengan maksud mau mengakrabkan diri. Eh ternyata orang yang saya ajak bicara itu jawab dengan gestur yang males-malesan dan ekspresi yang datar. Ya udah saya males lagi untuk bicara sama dia. Lebih baik diam. Karena saya pikir bisa jadi dia memang sedang tidak mau diajak bicara. Yah intinya kembali lagi, pintar-pintarnya kita saja membaca situasi, dan ekspresi orang. Kalau sekiranya nemuin kasus kayak saya lebih baik nggak usah dilanjutkan, daripada makan hati 😂

Gimana? Kesannya mau ngomong itu susah banget ya. Harus begini, harus begitu. Iya mungkin emang nggak enak. Tapi daripada kita menyakiti orang lain dari lidah kita *naudzubillah. Atau malah kita sendiri yang tersakiti oleh orang lain. Ya lebih baik kita sendiri yang mengontrol lidah supaya bicara itu jadi sesuatu yang melegakan. Bukan membebani hati. Juga tak kalah perlu untuk mengontrol hati supaya nggak mudah terpancing emosi. Yah namanya manusia, nggak cuma kita, orang juga pasti punya khilaf kan 😇

*Note to my self! 

Sunday, 3 September 2017

Sunday, September 03, 2017 5

Tekanan dan Depresi

Kemarin-marin saya nonton drama Korea Full House. Entah udah berapa ribu kali saya nonton drama ini. Satu-satunya drama Korea yang nggak ngeboseninlah buat saya 😂 Bukan drama yang fokus cerita tentang keluarga sih, tapi kayaknya lebih masuk ke genre komedi-romantis yang ringan. Iya saya lagi males nonton yang berat-berat. Pengen nonton yang lain, kok nggak ada yang sreg gitu di hati 🙈

Ini mau ngomongin apaan sih sebenernya? 😂

Tertekan >> depresi

Jadi gini lho, kemarin itu saya kepikiran dari salah satu scene. Ceritanya si tokoh utama pria, yang berprofesi sebagai artis, sangat tertekan karena skandal-skandal hubungan percintaannya yang dibuat media massa. Dia sendiri sebenernya sudah tertekan, tapi managernya semakin menekannya dengan mempertanyakan skandal-skandal itu. Hal itulah yang membuat sang artis pria ini terlihat semakin stress. Akhirnya dia memutuskan menikah dengan tokoh utama wanita secara kontrak untuk 'membungkam' media. 
via Pixabay
Itu memang cuma fiksi sih. Tapi dari situ saya jadi mikir, apa ternyata kehidupan artis begitu ya? *anaknya pemikir* Seenggaknya saya jadi ngerti, kenapa banyak artis yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Bisa saja hidup mereka sendiri sudah tertekan dengan skandal dari media. Tapi ditambah tekanan-tekanan dari orang-orang terdekat mereka, maka semakin membuat mereka stress, dan akhirnya mereka merasa tidak punya jalan lain selain ya... bunuh diri hiks. 

Saya jadi ingat tulisan saya di Celoteh Bunda yang judulnya Saat Kita Tidak Mengerti Apa-apa. Meskipun bukan tentang artis, tapi kejadiannya kurang lebih sama. Mungkin kita juga pernah mengalami. Saat kita terlihat salah, atau sudah merasa diri salah, tapi orang-orang  sekitar malah menekan kita dengan semakin menegaskan kesalahan-kesalahan kita.

Yang sebenarnya itu nggak perlu terjadi. Karena tanpa disalahkan pun, perasaan bersalah itu PASTI akan dengan sendirinya muncul di dalam diri kita. Ditambah kalau penghakiman-penghakiman itu datang dari orang yang istilahnya nggak tahu apa-apa, duh makin jadi deh betapa jengkelnya kita. Pada puncaknya, bisa saja karena penghakiman atau tekanan yang datang terus menerus itu membuat kita jadi depresi. Naudzubillah. 

Kelihatannya serem ya. Tapi itulah faktanya. Saat manusia sudah tidak kuat lagi menahan tekanan, bahkan merasa tidak ada lagi yang bisa menjadi sandaran, mereka akan jadi putus asa. Istilah kasarnya, "buat apalagi gue hidup? Toh orang nggak ada yang peduli sama gue."

Subhanallah. Benar-benar bisa menyakitkan separah itu ya. 

Saya nggak tahu apakah dari ilmu psikologi benar seperti itu atau tidak. Tapi setidaknya kita bisa mengambil sedikit hikmah dari kejadian-kejadian seperti itu. 

Bahagia dari hati dan pikiran

Dan terakhir, memang benar bahwa apapun jabatannya, berapa banyak pun hartanya, tidak ada yang menjamin kebahagiaan. Semuanya tidak seindah yang kita lihat. Yah, karena kebahagiaan datangnya dari hati dan pikiran. Yang itu artinya, hanya diri kita sendiri yang tahu, apakah kita bahagia atau tidak 😊

Sunday, 27 August 2017

Sunday, August 27, 2017 16

Fake Account, Haus Perhatian?

Dari kecil saya suka banget mengkhayal. Mungkin kalo teman-teman pernah baca postingan Mentor Kehidupan, sudah tau hal ini hehe. Iya, dulu saya suka ngomong sendiri 😂 Tapi pas SD cuma sebatas itu aja dan semua khayalan itu cuma saya pendam sendiri. 

Setelah SMP saya mulai ngerti komputer, saya tulisin semua khayalan itu di komputer. Mungkin sejenis fiksi jadinya. Fiksi yang berisi semua hal yang benar-benar saya inginkan, tapi mungkin nggak bisa tercapai di dunia nyata. Yaa dengan kata lain saya mencoba mewujudkannya dalam bentuk tulisan. Yang setelah saya baca lagi, ternyata bisa bikin senyum-senyum sendiri hehe 🙈

Hal itu berlangsung sampai saya kuliah. Saya selalu menuliskan semua khayalan itu. Dan, ya udah sih cuma sampai di Ms. Word aja. Nggak pernah saya publish dimana-mana. Bahkan memang nggak ada satupun orang yang tahu tulisan-tulisan itu. Da malu saya mah 🙈
via Pixabay
Now... saya baru tau kalau ternyata ada yang seperti saya. Hanya saja bedanya dia berani mempublish keinginan (khayalan.red)nya itu di postingan media sosialnya. Jadi dia bercerita, seolah itu nyata dan bisa meyakinkan banyak orang bahwa itu memang kenyataan. Padahal sebenarnya itu nggak terjadi! Bahkan dia membuat akun palsu, pun kalau ada foto, bisa jadi itu foto yang dia curi dari akun orang lain hiks. 

Yap, itulah salahnya! Mereka tidak menyebutkan bahwa itu semua hanya cerita fiksi alias hanya khayalan belaka. Dan kejadian seperti ini sudah terjadi di beberapa akun media sosial. Bahkan pernah ada yang mengaku bahwa hal ini sudah sering terjadi. Huhu. Hmm entah fenomena apa namanya. Ada yang bilang kritis identitas alias seolah butuh pengakuan. 

Setelah diingat, rupanya saya pernah bertemu dengan orang seperti ini. Coba baca di Pria Palsu di Dunia Maya deh. Mungkin kejadiannya mirip. Dulu dia mengaku anak kuliahan di sekolah tinggi ternama. Bicaranya selalu tinggi dan yang bagus-bagus. Pokoknya segalanya terasa bisa dipercaya (buktinya saya kena dibohongin 😑). Sampai akhirnya saya tahu kalau ternyata semua yang dia katakan adalah BOHONG! Dia masih anak sekolah rupanya haha. Miris 😑

Haus perhatian? 

Saya mencoba memahami, kenapa orang-orang seperti ini ada? Bisa jadiiii, mungkin mereka kurang mendapat perhatian di sekitarnya, di dunia nyatanya. Jadi mereka mencari (semacam) pelampiasan untuk 'minta diperhatikan' dengan cara menulis atau mempublish hal yang terlihat WOW. Kemudian postingannya menjadi viral, dan dishare banyak orang. Memang, mungkin mereka tidak dapat apa-apa (materi.red), tapi rasa diperhatikan itulah yang jadi kepuasan terbesar mereka. 

Saya bukan ahli psikologi. Ini hanya analisa saya aja. Karena percaya atau tidak, kalau mau diakui, setiap manusia memang sejatinya mengharapkan perhatian. Perhatian itu bisa membuat kita merasa ada,  dihormati, dihargai, atau bahkan dibutuhkan. 

Kembali lagi, orang-orang yang 'berbohong' di medsos itu, bisa jadi tidak mendapatkan rasa perhatian itu di dunia nyatanya. Atau bisa juga mereka mengharapkan sesuatu yang lebih. Atau lagi hanya keisengan 'berhadiah' semata dan mereka puas sudah mendapat perhatian orang banyak. 

Ya gitu sih menurut analisa sotoy saya 😂

Sampai sini, poin yang bisa kita ambil, apapun yang terjadi di medsos tidak perlu semua kita percaya. Karena hoax memang sudah merajalela. Pun semua perilaku orang-orang tidak perlu kita seriusi. 

Dan satu yang pasti. Yang juga sering saya katakan. Bahwa kendali itu ADA di tangan kita sendiri. Khusus dalam kasus ini, kita mungkin nggak bisa membedakan mana yang asli dan palsu, mana yang benar dan bohong, maka waspada itu selalu perlu (dalam artian tidak percaya berlebihan pada manusia). Dan lagi yang terpenting, kita BUKANLAH pelaku dari pembohong-pembohong atau penyebar berita-berita hoax itu 😊 Karena siapa sih pembohong yang hidupnya bakal tenang? *eh. 

Ya intinya mah yang wajar-wajar ajalah. Nggak usah neko-neko. Toh media sosial itu semu kok. Karena balik lagi, kehidupan sesungguhnya ya memang di dunia nyata ini. Ye kan 😁

Friday, 25 August 2017

Friday, August 25, 2017 7

Sungguh, Kematian Begitu Dekat

Saya ingat sekali, kejadiannya waktu SD kelas 6. Saat itu bulan puasa dan masih masuk sekolah. Kebiasaan saya habis sahur dan sholat subuh tidur lagi (yaa, ini memang kebiasaan yang buruk -_-). Dan biasanya ayah ibu membangunkan saya jam 6 untuk mandi. Tapi entah kenapa waktu itu saya tidak dibangunkan. Entah mereka lupa atau memang karena mereka harus ke pasar.

Singkat cerita, karena tidak dibangunkan, saya baru bangun jam 6.45! Sungguh panik luar biasa. Cepat-cepat saya ambil handuk, mandi dan pakai seragam dengan tergesa-gesa. Rasa kesal pada ayah ibu dalam hati berkecamuk. Saat mereka baru pulang dari pasar, saya marah pada mereka karena tidak membangunkan saya.

Buru-buru saya ambil sepeda dan meninggalkan mereka tanpa pamit dan salam. Saya kebut sepeda dengan kecepatan tinggi. Begitu sampai di jalan raya dan mau nyebrang, tiba-tiba saja bunyi "tiiiiiiiiiiiiiinnnnn" dengan sangat keras. Sampai-sampai orang di sekitar langsung berhenti. Saya nyaris tertabrak! Tinggal sedikit saja mobil itu bisa mengenai sepeda saya dan mementalkan saya ke kejauhan. Tapi sungguh, Allah masih menolong saya. Untungnya pengemudi mobil itu dengan cepat menekan pedal remnya.

Dalam kekalutan, saya segera minta maaf dan kembali jalan ke sekolah. Hati saya benar-benar tidak karuan. Deg-deg jantung masih terasa. Wajah saya pucat pasi. Sampai-sampai wali kelas bertanya apa saya sakit atau tidak.

Sungguh menyesal rasanya. Pertama, saya meninggalkan rumah dalam keadaan marah dan tidak pamit pada ayah ibu. Kedua, akibat ulah tergesa-gesa, saya nyaris saja terserempet mobil dan bisa saja terpental. Ketiga, ngebutnya saya ternyata tidak berarti,  pasalnya begitu tiba di sekolah, ternyata murid-murid - baru berbaris dan belum masuk kelas, hiks.
via Pixabay
Saya tidak tahu apa jadinya kalau Allah tidak menolong saya saat itu. Apakah saya masih hidup sampai saat ini atau tidak. Yang jelas itulah kali pertama (dan semoga yang terakhir) saya merasa nyawa saya di ambang batas. Sungguh,  kalau dipikir sekarang, mati itu rasanya benar-benar dekat. Saya juga merasakan itu saat melahirkan. Rasanya sakit luar biasa. Saya hanya memohon pada Allah, bila sesuatu terjadi pada saya, Allah masih menyelamatkan anak saya. Masya Allah 😢

Belum lagi dengan beberapa kejadian di lingkungan terdekat sungguh menusuk nurani. Pagi terlihat sehat. Kemarin masih menyapa. Tiba-tiba esoknya dikabarkan sudah tidak ada. Subhanallah.

Maka benarlah jika dikatakan, apa yang paling dekat dengan kita bukan bayangan diri sendiri, melainkan ialah kematian. Sungguh, malaikat pencabut nyawa itu selalu ada di sekitar kita. Ia tinggal menunggu perintah dari Yang Kuasa. Kun fayakun. Dan sungguh, kematian adalah sebaik-baik pelajaran bagi kita.
اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِØ­ُسْنِ الْØ®َاتِمَØ©ِ
“Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah”

Wednesday, 16 August 2017

Wednesday, August 16, 2017 26

Gimana Sih Cara Menyikapi Media Sosial Saat Ini?

👧 "Yang, mobil Daihatsu yang kecil itu apa namanya ya?"
👨 "Ayla?"
👧 "Ah iya. Trus kalo bahasa inggrisnya pemandangan apa?"
👨 "View."
👧"Nah kalo mobil Daihatsu tadi sama bahasa inggrisnya pemandangan digabung jadi apa?"
👨 "Aylaview."
👧 "I love you too ayang."

Haha mungkin teman-teman udah nggak asing ya dengan gombalan yang lagi in tadi. Lucu nggak sih? Kalau menurut saya sih lucu 😂 Lebih lucunya banyak istri yang mencoba gombalan itu ke suaminya, lalu discreenshot dan diupload ke media sosial. 

Tapi beberapa hari kemudian ada yang menggelitik saya. Yakni salah seorang yang mengatakan bahwa tidak seharusnya percakapan suami istri tersebut diunggah ke media sosial. Karena dikatakan bisa-bisa memancing rasa cemburu akhwat (perempuan) lain. Bahkan bisa-bisa si akhwat minta dipoligami karena melihat suami dari si istri tersebut yang nampak kebaikannya. 

Aduh buyuuuung, kok saya malah jadi geli sendiri ya. Terlalu jauh nggak sih mikirnya? 😂 Apa lelucon receh kayak gitu harus banget ditanggapi serius? Bahkan nyasar-nyasar ke poligami segala? Okelah, kita memang nggak bisa membaca hati orang lain. Nggak bisa tahu dari postingan kita yang mana yang bisa menimbulkan rasa iri atau cemburu orang lain. Tapi cobalah untuk lebih rasional. Lebih santai memandang hidup *halah. Maksudnya, ini kan hanya media sosial dan sudah era nya orang banyak yang kreatif. Jadi, nggak perlu serius bangetlah ya 😊 
via Pixabay
Jadi, sebenarnya kita harus gimana sih menyikapi media sosial saat ini? Ini poin-poin menurut saya: 

💁Nggak perlu baperan

Si A posting status tentang blablabla. Lalu si B baca, dan merasa bahwa blablabla itu ditujukan untuk dirinya. Akhirnya merasa tersindir, lalu klarifikasi ke si A. Ternyata kata A, dia sama sekali tidak menyinggung B. Wah berapa banyak kejadian kayak gini? Atau mungkin kita sendiri pernah mengalami?  Kita merasa bahwa status dia menyindir kita, padahal tidak sama sekali. Artinya apa? Artinya memang kitalah yang seharusnya menjaga perasaan. Media sosial luas. Bukan hanya untuk kita saja. Kita tidak perlu merasa bahwa apa yang diposting orang lain hanya untuk membuat kita tersinggung, cemburu, iri, atau apapun.
Maka jika perasaan kita tiba-tiba kacau saat membaca suatu postingan, lebih baik alihkan perhatian pada hal lain dibanding hanya memikirkan media sosial yang sebenarnya tidak ada gunanya. Alih-alih peduli, malah bisa-bisa kita jatuh suudzon kepada orang lain. Duh, naudzubillah deh. 
Begitu pula dengan urusan follow, like, comments, add friends, tak perlulah diambil perasaan jika itu semua tidak kita dapatkan. Toh media sosial hanyalah dunia yang semu. Takkan kiamat jika kita tidak eksis di media sosial 😁


🙅 Nggak perlu membandingkan kehidupan kita dengan orang lain

"Hidup tak seindah instagram Andien dan Nia Ramadhani." Pernah dengar kalimat itu? Semoga kita bukan termasuk di dalamnya ya, bukan orang yang menganggap kehidupan para artis atau orang lain itu sempurna apalagi HANYA berdasarkan postingan-postingan di media sosialnya. Karena ya siapa juga sih yang mau menampilkan masalah pribadinya di media sosial (kecuali orang-orang yang pendek pikiran). Tentu saja lebih banyak orang yang memilih untuk posting sesuatu yang bahagia-bahagia saja. Jadi kita tidak perlu membandingkan bahwa hidup kita ternyata tidak sesempurna para artis atau orang lain. Tidak sesempurna orang yang bisa travelling kemana-mana dari postingan instagramnya. Karena percayalah, hidup itu punya nikmat dan ujiannya masing-masing. Dan media sosial hanyalah yang tampak karena kita tidak tahu kehidupan mereka sesungguhnya. So, bersyukur saja dengan hidup kita saat ini. Karena bisa jadi nikmat bagi orang lain, belum tentu nikmat bagi kita 😊


😂 Nggak perlu terlalu serius menanggapi sesuatu 

Ini yang saya bilang di awal tadi. Nggak perlulah kita jauh-jauh mengaitkan antara AylaView dan poligami. Duh. Jangan-jangan jika kita yang kaitkan, malah memancing rasa penasaran orang lain. Kok bisa ada yang minta poligami? Emang suaminya sebaik apa sih? Ih naudzubillah. Humor-humor receh yang sekarang banyak bertebaran saya rasa semata supaya hidup kita nggak tegang-tegang amat. Jadi sepanjang humor itu tidak melanggar syari'at, tidak mengandung kekerasan, SARA, dan pornografi, sepertinya sah-sah saja. Lagi pula kalau memang humor itu tidak sesuai prinsip kita, kita tinggal klik hide, unfollow, unfriend, atau blokir. Yap, sesimple itu dibanding ngajak orang mikir berat karena kita terlalu menanggapi serius segala postingan di media sosial. 


😉 Pikirkan setiap apa yang kita posting

Pada akhirnya sudah hukum media sosial bahwa kita sulit mengatur orang lain. Jadi yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri sendiri. Pikirkan setiap apa yang akan kita posting. Bagaimana positif negatifnya. Apa suatu postingan layak dishare atau tidak. Bagaimana dari segi manfaatnya. Intinya kendali itu ada di tangan kita, bukan orang lain 😊 Menasihati boleh, sepanjang kata-kata yang kita gunakan sopan, tidak menyindir dan tidak memaksa.

Well, bermedia sosial boleh. Hanya saja kita tetap harus bijak. Selalu ingat bahwa kita punya kehidupan nyata yang lebih penting. Jika kita merasa lelah bermedsos, mungkin saatnya kita taruh gadget, dan menghampiri orang-orang yang ada di sekitar kita 😊

Sunday, 6 August 2017

Sunday, August 06, 2017 12

5 Buah yang Paling Jadi Favorit Saya

Setelah dulu saya pernah post 5 Makanan yang Sulit Ditolak, sekarang saya mau cerita juga tentang 5 Buah yang sulit ditolak 😁  Yes, saya suka makan buah-buahan. Malah kalau bisa di rumah harus selalu sedia buah setiap hari. Selain bagus buat kulit, nambah asupan serat dan cairan, buah kan juga cemilan yang paling sehat ya 😊

Sebenarnya sih pada dasarnya saya suka semua buah, kecuali durian aja yang nggak suka sama sekali. Tapi untuk buah yang lain, terbilang biasa aja. Beda dengan 5 buah di bawah ini yang paling jadi favorit saya. Dan kalau sudah ada buah ini pasti sulit banget buat saya tolak. Bahkan mungkin sekalipun di rumah orang, kalau disediakan buah ini, bisa jadi saya nggak akan nolak 😂 So, apa aja sih? 

5 buah yang paling jadi favorit saya

🍍 Nanas
via Pixabay
Yuhhu... Buah warna kuning ini selalu jadi nomor satu buat saya 😍 Kalau ada rujak buah pun yang pertama saya cari ya nanas. Dan rasa buah nanas di minuman atau makanan juga saya suka. Sulit deh buat nggak makan buah ini kalau lagi ada. Rasanya yang asam manis, euh bikin saya ketagihan 😆 
Makanya saya sedih banget pas nggak dibolehin makan nanas di awal-awal hamil karena katanya panas dan bisa menyebabkan keguguran. Padahal saya percaya kalau semua buah pada dasarnya boleh karena banyak vitaminnya. Barangkali yang nggak boleh itu kalau berlebihan ya. Tapi ada bagusnya sih saya dilarang, soalnya bisa habis satu buah sendiri kalau saya makan nanas 😂 Sebelum lidah gatal, terus aja ngunyah nanas 😂 

😋 Duku
credit: http://manfaatnyasehat.com/manfaat-buah-duku/
Kecil bentuknya, tapi rasanya 😍 Apalagi kalau Duku Palembang tuh yang manisnya kebangetan, beuh bisa-bisa habis 1 kg sendiri sama saya 🙈 Pokoknya favorit banget deh sama duku. Meskipun tangan jadi lengket setelah makan, tetap aja saya suka 😆

🍇 Anggur
via Pixabay
Bukan anggur yang difermentasi lho ya. Jelas itu haram kalau dalam agama saya. Tapi ini murni buah anggur. Mau itu anggur merah, anggur ungu, anggur hijau, semua saya suka 😍 Sayangnya harga anggur ini memang mahal, jadi walaupun suka, agak jarang saya belinya. Padahal mah kalau ada, ya bisa habis banyak sendiri tuh 😅

😋 Manggis
via Pixabay
Buahnya putih. Lembut. Ada yang bijinya besar, kecil, atau nggak ada bijinya. Apalagi kalau bukan buah manggis 😍 Kalau lagi musim, susah deh nolak untuk nggak beli buah ini. 
Saya inget banget, dulu waktu kecil kalau mau makan buah ini mesti dijepit dulu pake engsel pintu biar kebuka kulitnya. Tapi sekarang mah ya pakai tangan aja 😅 Sayangnya sih, saya belum pernah nyoba ekstra kulit buah manggis yang jadi kabar gembira itu 😅

😋 Mangga harum manis
via Pixabay
Meskipun agak malas ngupas buah ini, tapi tetap jadi favorit saya. Tapi saya hanya suka Mangga Harum Manis ya. Mangga jenis lain kurang suka. Dan biasanya kalau lagi males gitu, suka saya bikin tikar aja 😂 Maksudnya saya belah aja, baru dibelah lagi jadi kotak-kotak (seperti penampakkan gambar di atas), udah deh tinggal makan 😂 Tapi kalau begitu kan jatuhnya saya jadi rakus hehe. Karena memang biasanya buah ini untuk dimakan rame-rame 😆

Nah, kalau teman-teman sukanya buah apa aja? Apapun itu, yang penting jangan lupa makan buah setiap hari ya. Supaya tubuh tetap sehat, kulit tetap terjaga dan daya tahan tubuh juga kuat 😊

Friday, 4 August 2017

Friday, August 04, 2017 6

Allah Berkehendak Sesuai Kemauanmu

Dua minggu lalu saya sakit flu dan radang. Batuk-batuk nggak karuan. Hidung tersumbat, kepala pusing. Ah, nggak enak pokoknya. Saya jadi ngedumel sendiri, ini kenapa saya jadi sering sakit begini ya. Soalnya beberapa waktu sebelumnya saya juga masuk angin. Sampai nggak kuat buat ngapa-ngapain saking badan nggak enak dan kepala pusing. Ditambah harus menyusui dua bayi. Duh badan rasanya pegel-pegel banget. Mau istirahat pun nggak bisa, ya karena harus tetap menyusui 😥

Akhirnya saya curhat ke ibu, ibu cuma bilang gini, "itu kan yang kamu mau (menyusui dua bayi). Allah kan berkehendak sesuai kemauan kita." Nah lho. Jegreeenggg! Saya berasa dicubit hiks.

Hmm... Ya ada benarnya sih *eh 😪. Setelah diflashback, kan saya juga yang mau menyusui dua bayi. Tandem nursing kan memang keinginan saya setelah anak kedua lahir (baca: 6 Wishlist Paling Pokok Tahun Ini). Saya tetap ingin memberikan Emir ASI sampai dua tahun. Lah ngapain saya ngeluh? Begitu pikir saya. Itu kan emang kemauan kamu, De. Ya kalau badan pegel, ya udah nikmatin aja. Huhu. Sampai saya menyerah karena merelakan Emir diberi susu formula. Walaupun cuma sebagai pendamping aja karena dia tetap mau ASI.

Allah berkehendak sesuai kemauanmu

via Pixabay
Kata-kata ibu itu bikin saya teringat sama salah satu hadits:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,
Ø£َنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى
Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).
Sumber : https://rumaysho.com/2298-sesuai-persangkaan-hamba-pada-allah.html
Dan apa yang terjadi sama saya, mungkin sudah dinilai sama Allah. Sejak hamil anak kedua, saya sudah berdoa banget sama Allah supaya tetap bisa memberikan Emir ASI. Yang itu artinya, saya sudah tahu akan tandem nursing kalau anak kedua lahir. Dan YES, finally Allah mengabulkan keinginan saya.

Nah, yang jadi poin saya sebenarnya bukan masalah lelah karena menyusuinya, tapi tentang prasangka itu tadi. Dalam kasus saya, karena saya niat banget mau tandem nursing, mungkin Allah melihat tekad kuat saya. Saya nggak kepikiran kalau ternyata bakal capek. Toh, ini kemauanmu kan, De. Barangkali begitu yang Allah lihat. Ya, apa yang dilihat Allah adalah kemauan awal yang kuat yang ada dalam hati saya. Saya optimis bakal bisa menyusui dua bayi, maka karena pikiran positif itu Allah mau mengabulkan. Bisa aja akan beda jadinya jika sejak hamil saya sudah pesimis bisa tandem nursing.

Well, saya dapat pelajaran dari sini. Kalau Allah sesuai prasangka hambaNya, itu artinya segala sesuatu ada di tangan kita. Dalam artian, kita bisa menentukan apa yang kita mau. Kita bisa berusaha. Kita bisa berdo'a. Kita bisa menanamkan dengan kuat apa yang ingin kita lakukan. Dengan tekad yang keras itu, maka Allah akan melihat dan menilai usaha dan do'a kita. Jadilah Allah bisa mengabulkan keinginan kita. Kun fayakun. Kalau pun nantinya kenyataan berbeda, misalnya tidak sesuai dengan kehendak kita, barangkali di situlah Allah ingin kita belajar.

Lagi, misalnya dalam kasus saya. Mungkin lelahnya saya menyusui bikin saya jadi belajar kalau orang-orang terdekat yang mendesak supaya saya ikhlas memberi Emir sufor, itu karena mereka sayang. Mereka tahu bahwa menyusui dua bayi itu tidak mudah dan pasti akan makan banyak tenaga. Tapi karena saya keukeuh, Allah membiarkan saya untuk merasakan sendiri bagaimana rasanya menyusui dua bayi. Ternyata capek ya haha.

Hehe ribet nggak sih? Semoga nggak ya. Inti poinnya sih, kalau punya keinginan, kita hanya tinggal menguatkan keinginan itu di dalam pikiran dengan diiringi usaha dan do'a. Meski ya, pada akhirnya kuasa terbesar tetap ada di tangan Allah 😊 Kalau nantinya kenyataan berbeda, percayalah itu pelajaran yang sungguh berharga buat kita 😊 Dan slalu ingat, bahwa Allah sesuai prasangka hambaNya 😇

Thursday, 20 July 2017

Thursday, July 20, 2017 9

Semata Menjadi Pengingat dan Berbagi Manfaat

Waktu saya baru lepas dari pacaran dan memutuskan hijrah, saya jadi rajin ikut kegiatan-kegiatan positif like seminar, gabung di komunitas-komunitas positif, ikut kegiatan yang diadakan komunitas, pokoknya semua yang serba positif saya ikutin. Termasuk juga acara-acara yang berhubungan dengan blog 😁

Nah ngomongin blog, semenjak punya blog saya jadi kepikiran buat nulis semacam review dari semua kegiatan yang saya ikutin. Mungkin teman-teman bisa baca di label Event beberapa di antaranya.
via Pixabay
Apa karena dibayar makanya nulis? Tidak. Bahkan tidak ada satu pun dari event itu yang dibayar. Malah yang ada saya yang bayar, contohnya kayak event seminar 😂

Lalu apa tujuan saya menulis? 

Semata menjadi pengingat dan berbagi manfaat

💁 Pengingat bagi diri sendiri
Semata untuk menjadi pengingat bagi diri sendiri. Yap. Karena saya senang menulis. Saya senang punya media yang berwarna untuk menyimpan tulisan-tulisan saya a.k.a blog. Maka dengan senang hati pula saya selalu membawa catatan kecil saat ikut suatu acara. Itu semata agar saya bisa memindahkannya ke blog dan bisa dibaca kembali kapan pun saya mau. Ya karena blog juga tidak rawan hilang seperti file di komputer kita.

💁 Berbagi manfaat
Selanjutnya, niat saya adalah berbagi manfaat pada khalayak. Karena saya merasa kegiatan itu positif, sayang sekali kalau hanya saya pendam sendiri. Sementara media blog adalah media yang efektif supaya kegiatan positif itu juga bisa dirasakan alias dibaca banyak orang.

Ini pernah terbukti ketika saya membagikan tulisan saya tentang seminar Jodoh Impian dan menandai pembicara-pembicaranya di Twitter. Twitt saya diretweet pembicara tersebut, dan ratusan followersnya pun meretweet pula. Bahkan mereka mengucapkan terima kasih. Masya Allah 😍 
Maka sejak itu pula saya berjanji pada diri sendiri untuk sebisa mungkin (malah kalau bisa harus) menulis di blog seusai menghadiri acara yang positif. 
Bahkan saya juga pernah menonton beberapa tayangan positif (entah video di laptop, tv, internet) sambil memegang catatan untuk merangkum supaya bisa saya tuliskan di blog 😁 Sempat ingin menekuni hal ini, sayangnya terbentur waktu apalagi sudah punya dua anak kayak sekarang nggak sempet nonton apa-apa 😂 *excuse 🙈

Ya, sesederhana itulah niat saya. Menulis bukan karena dibayar, tapi karena saya memang senang menjalaninya. Bahkan dari rumah (saat berangkat menuju acara) pun saya sudah punya niat untuk benar-benar menyimak kegiatan dengan baik, supaya bisa saya tuliskan di blog dengan baik pula. Makanya saya malah suka sedih kalau ada yang kelewat disimak 😄

So, kesimpulannya, menulis setelah menghadiri suatu acara apalagi itu sangat bermanfaat, bagi saya penting. Karena untuk mengikat ilmu yang saya dapatkan. Dan bukan hanya saya yang merasakan manfaatnya, tapi juga khalayak yang membaca tulisan-tulisan tersebut 😊 

Wednesday, 19 July 2017

Wednesday, July 19, 2017 2

Ini Dia, Isi Tas Bayiku!

Tas. Saya kadang nggak habis pikir dengan perempuan-perempuan yang hobinya ngoleksi tas. Beli tas sampai bejibun-jibun ((bejibun-jibun)), padahal tas yang sebelumnya masih pada bagus. Yauda sih, De. Mereka beli pake duit sendiri, kok lu yang repot wkwkwk. 

Iya sih, padahal saya juga punya beberapa tas hihi. Tapi kalau saya menggolongkannya sesuai manfaatnya. Yang kecil misalnya buat kondangan. Yang selempang besar buat kalau pergi dan bawaan agak banyak. Yang ransel buat pergi jauh biar pundak nggak pegel. Jadi memang bukan karena hobi beli tas ya 😆 Eeh iya sekarang ketambahan tas bayi hehe. Karena saya sudah punya dua bayi.

Jadi saya mau bongkar si tas bayi aja ya. Apa aja sih isinya? Cekidot, ini dia! 

Isi tas bayiku

👶 Diapers alias pospak (popok sekali pakai) 
Ini sudah pasti ada di urutan pertama. Apalagi untuk pergi-pergian. Karena dua bayi saya memang selalu pakai pospak. Nah bawa pospak di tas buat salinan pastinya. Biasanya saya bawa 2 sampai 4 pospak untuk masing-masing bayi. Banyak ya, iya takut penuh atau pup di jalan 😂

📁 Tisu basah dan kering
Ini juga wajib banget karena baik tisu kering dan basah sangat bermanfaat. Biasanya buat lap-lap sisa makanan di mulut atau tangan apalagi kalau situasinya nggak ada air, jadi bisa pakai tisu basah. Selain itu tisu basah juga bisa berguna buat cebok bayi.

🍼 Botol susu
Maaf ya nggak ada di foto. Lupa dimasukkin hihi. Botol susu juga termasuk wajib karena sekarang Emir sudah dibantu susu formula. Jadi buat jaga-jaga kalau misalnya saya lagi nyusuin adiknya, Emir bisa dikasih sufor saja. 

👛 Dompet
Yaiya dong masa pergi nggak bawa uang. Walaupun sekarang ada suami, tetep aja bawa dompet 😆 

📱 Handphone 
Sebelumnya maaf ya nggak ada gambarnya karena hp nya dipake buat foto 😂 Tapi biasanya saya memang naruh hp ya di tas aja. Dan termasuk jarang pegang hp kalau lagi di dalam kendaraan. Jadi maklum ya kalau nggak dibales chatnya, bisa dipastikan lagi di jalan *nggak penting 😂

🔌 Power bank
Ini juga nggak kalah penting. Sekalipun baterai hp full, saya tetep bawa power bank buat jaga-jaga di jalan. Apalagi kalau lagi bepergian jauh.

💆 Kipas tangan
Saya orang yang nggak tahan gerah. Jadi kemana-mana pun ya bawa kipas tangan.😄 Apalagi punya bayi, bisa juga dipakai untuk ngipasin mereka supaya nggak kepanasan. 

☔ Payung 
Saya tipe yang menganut sedia payung sebelum hujan. Jadi dari zaman single memang slalu bawa payung kemana-mana 😄 Sekalipun itu lagi musim kemarau, tapi yaa sekarang cuaca kan nggak nentu ya. Lagi panas bisa aja tahu-tahu hujan 😄

✔ Plastik keresek
Maaf juga ya lupa difoto hihi. Biasanya saya bawa keresek buat jaga-jaga kalau mabuk di perjalanan. Tapi nggak cuma itu, kadang keresek juga berguna buat buang sampah atau simpan baju kotor atau sisa makanan yang masih bisa dimakan. 

Udah sih, kayaknya 9 item aja. Item-item itu wajib kalau bepergian dekat maupun jauh. Palingan tambahannya bawa baju ganti anak-anak sama minyak telon aja buat kalau pergi jauh. Dan biasanya kalau pergi jauh saya bawa tas bayi yang agak besar supaya muat banyak 😄

So, bisa dibilang sekarang saya malah jarang pakai tas pribadi. Lebih sering ya pakai tas bayi. Kecuali kalau jalannya mungkin nggak lama, atau cuma pergi berdua sama suami aja *ciye* baru saya pakai tas sendiri 😄

Kalau isi tas kamu, apa aja? Kepo dong 😆

Tuesday, 18 July 2017

Tuesday, July 18, 2017 20

3 Hal yang Bisa Kita Dapatkan dari Jalan-jalan

Travelling sekarang lagi in banget kayaknya ya. Saya juga suka kok. Bahkan sempat terpikir untuk ikutan bikin blog travelling. Cuma karena jalan-jalannya masih jarang-jarang, jadi ditunda dulu deh 😂 Tapi memang dasarnya dari dulu saya suka jalan sih 😂 Meski itu cuma ngumpul sama temen, komunitas, jalan-jalan bareng keluarga, atau sekedar jalan keluar karena memang ada keperluan 😂
credit: Pixabay
Nggak cuma bisa refreshing, tapi seringkali saya atau bahkan kita bisa dapatkan banyak hal dari jalan-jalan meskipun sekedar jalan karena ada keperluan itu. Di antaranya:

3 Hal yang Bisa Kita Dapatkan dari Jalan-jalan

💼  Dapat ide tulisan
Kalau lagi di jalan saya suka perhatiin lingkungan sekitar atau orang-orangnya. Trus suka aja terbersit ide buat ditulis. Kayak dulu banget, saat saya pulang dari tempat kuliah, saya ngeliat anak yang lagi jalan sama laki-laki dewasa (entah itu ayahnya atau omnya atau orang lain nggak tau juga). Tapi si anak diam gitu. Sementara si laki-laki kayak ketakutan. Saya langsung kepikiran, anak itu kenapa ya. Laki-laki itu juga kenapa, kok kayak ketakutan gitu. Lantas saya kepikiran buat nulis tentang masalah orang tua dan anak.

Ada lagi, saat saya pulang kerja dan ketemu nenek-nenek yang bawa box besar bekas tempat beliau jual makanan. Setelah saya iseng-iseng ngobrol dengan sang nenek, lantas kepikiran buat bikin tulisan di blog ini tentang betapa syukur itu mudah. Silakan cari sendiri ya tulisannya 😂

Bahkan saya pernah dengan sengaja niat dari jauh-jauh hari. Kayak pas pasang KB Kamis kemarin di rumah sakit. Pas di jalan, saya udah kepikiran mau cerita tentang proses pasang KB itu di blog Celoteh Bunda nanti 😂

Begitulah. Makanya kenapa saya pernah nulis salah satu tips untuk mendapatkan ide adalah dengan kita tidak berdiam diri di rumah alias cobalah untuk jalan-jalan keluar rumah (baca: Cara Mendapatkan Ide untuk Menulis) . Nah kalau yang Nggak Ada Ide kemarin itu karena saya emang bener-bener blank, nggak nemuin sesuatu yang menarik buat ditulis huhu *pembenaran diri 😂

💼 Keintiman dengan orang-orang terdekat
Percaya atau tidak, kadang dengan jalan-jalan, kita bisa dapat cerita lain dari orang-orang terdekat kita. Dengan kata lain, kita bisa saja tahu hal-hal terbaru tentang mereka. Apalagi kalau jalan-jalan itu murni refreshing, biasanya kan memang diisi dengan cerita-cerita ya. Jadi deh kita bisa mendapat sudut pandang baru dari orang-orang terdekat itu. Alhasil hubungan dengan orang-orang terdekat bisa jadi lebih dalam lagi karena kita semakin mengenal mereka 😊

💼 Budaya orang sekitar dan sudut pandang baru
Selain sudut pandang baru dari orang-orang terdekat, ketika kita mengunjungi suatu tempat apalagi itu tempat yang baru kita kunjungi, biasanya kita akan 'ngeh' dengan sendirinya bahwa budaya setiap tempat itu berbeda. Sesederhana kita biasa makan pakai sendok, di tempat lain makan pakai sendok itu justru asing karena mereka biasa makan pakai tangan misalnya. Atau bahasa kita yang beda dengan orang-orang di tempat yang kita kunjungi itu. Atau budaya-budaya lainnya yang baru kita tahu setelah kita berkunjung ke tempat tersebut. Well, pada akhirnya, kita banyak mendapat pengetahuan-pengetahuan yang memberi kita sudut pandang baru. Karena dari perbedaan ini pula biasanya kita jadi orang yang lebih bisa menghargai 😊

So, selain sekedar jadi refreshing, travelling pun ternyata bisa menambah hal-hal yang baru buat kita. Entah itu ide tulisan, keintiman dengan orang-orang terdekat, ataupun pengetahuan dan sudut pandang baru dari tempat-tempat yang kita kunjungi.

Ah, Maha Benar Allah dengan segala firmannya ya:
Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kami, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada Allah lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. QS. Al-Mulk: 15
Jadi yuk, mau jalan-jalan kemana kita? 😄

Monday, 17 July 2017

Monday, July 17, 2017 8

Nggak Ada Ide?

Sebenernya saya bingung mau nulis apa. Karena tema ODOP hari ini bebas. Iya, saya lagi ikutan One Day One Post nya grup Indonesian Social Blogpreneur. Walaupun secara teknis kayaknya gugur sih. Karena pas hari Sabtu kemarin absen hehe 🙈

Jadi sekarang saya mau curhat aja. Gapapa ya 😄

Ikut ODOP ngapain sih? 

Tujuan saya buat ikutan ODOP ISB ini semata karena kepingin blog saya tetep update. Karena jujur lagi blank banget mau nulis apa huhu 😣 Ada beberapa ide sih di notes, tapi kayaknya belum penting-penting amat buat ditulis ((penting-penting amat)) padahal ini juga nggak penting 😂
credit: Pixabay
Jadi yaudalah pas ada pengumuman di grup ISB bakal ada ODOP lagi, mata saya langsung blink-blink 😍 Apalagi ODOP ini selalu ada temanya *meskipun ada juga tema bebasnya kayak hari ini*. Setidaknya dengan adanya tema yang ditentuin, saya jadi nggak bingung mau nulis apa. Ya walaupun mesti keluar dari tema yang seharusnya sesuai jadwal yang udah saya buat sendiri di blog Sohibunnisa ini. 
Dan walaupun saya nggak bisa ikut setiap hari. Karena bisa jadi ada halangan, lagi nggak ada ide atau apapun yang nggak memungkinkan saya buat nulis *halah*. 

Faktor nggak ada ide?

Entahlah. Karena mungkin dari bulan kemarin saya terlalu fokus mau lahiran kali ya. Sudah gitu saya hijrah ke rumah mertua. Nggak bawa laptop, dan bener-bener nggak punya ide lagi buat menyesuaikan tulisan sesuai jadwal. Padahal browsing udah, buka-buka berita terkini udah (pas mau ditulis kok asa garing, akhirnya nggak jadi nulis 😑), baca share-share-an di grup udah, jalan-jalan juga udah. Tapi kok ya nggak jua menemukan ide yang brilian buat ditulis di blog ini *halah. 

Trus mungkin juga karena mindset saya sudah tertanam bahwa sekarang saya punya dua anak. Pasti bakal jarang buka laptop. Pasti bakalan lebih sibuk. Mau nulis kapan? Jadilah blank beneran 😥

Aduduh buyuuung. Padahal kan resolusi saya setelah punya dua anak, saya maunya bisa tetap produktif ngeblog hiks. Baik blog ini maupun 3 blog lainnya. Semoga nggak ada idenya nggak berkelanjutan ya huhu. Saya bakal sedih banget kalau blog saya sepi hiks.

Baca: 5 Wishlist Saya untuk Ngeblog

Ya udah gitu aja curhatan saya haha. Intinya saya lagi nggak ada ide. Bingung. Kasih ide dong? *eh.

Sekarang sih Alhamdulillah ada ODOP ISB. ODOP inilah yang akhirnya nolong saya sehingga blog ini tetap terupdate. Terima kasih ISB 😁 Yeyeye hari ini bisa nulis jadinya 😂

*Gile, nulis gini aja udah 300 kata lebih. *bahagiaku sederhana. Bisa nulis lebih dari 300 kata itu udah sesuatu istimewa wkwkwk 

Sunday, 16 July 2017

Sunday, July 16, 2017 9

Mengatur Diri Sendiri

Dalam hidup ini, rasanya sulit untuk mengatur orang lain. Jadi daripada sulit, mengapa tidak kita coba atur diri sendiri saja? 
credit: http://chillinaris.blogspot.co.id/2015/02/cerita-tentang-seorang-pria-yang-ingin.html
Sama halnya dengan quote yang mengatakan, kita tidak bisa mengubah dunia. Yang bisa kita ubah adalah diri sendiri. Maka begitu pula yang selalu saya yakini sampai sekarang. 

Saya mungkin benci saat melihat orang melakukan perbuatan buruk. Saya mungkin tidak suka ketika orang melakukan hal yang tidak saya suka. Saya mungkin murka ketika melihat orang update atau share tentang hal yang tidak seharusnya dibagi di media sosial. Tapi sekali lagi, pada akhirnya saya tidak bisa mengatur mereka. Apalagi jika orang itu tidak saya kenal secara nyata 😂 Dan mereka juga sudah dewasa, yang saya yakini mereka sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk. 

Dulu saya sering sekali pasang status yang intinya, saya tidak suka jika ada friend list saya yang upload hal-hal pornografi, kekerasan, atau hal-hal yang tidak senonoh. Saya juga tidak suka diundang ke sebuah grup secara sembarangan. Saya pun tidak suka jika diundang untuk bermain game karena saya bukan gamers. Tapi justru status-status saya tidak berpengaruh. Masih ada saja yang melakukan hal-hal yang tidak saya suka tadi. Akhirnya saya mengerti, oke mungkin saya memang tidak bisa mengatur orang lain. Kalau begitu, saya saja yang atur diri sendiri. Saya punya banyak pilihan. Unfollow, unfriend, bahkan blokir jika saya tidak suka.  

Begitu pula di dunia nyata. Saya mungkin tidak suka melihat orang pacaran apalagi sampai mesra-mesraan di depan umum. Atau orang yang marah-marah di tempat umum. Daripada mengingatkan orang-orang secara gamblang - yang mana biasanya kata-kata kita tidak akan digubris karena orang tidak suka, jadi lebih baik saya saja yang menghindar dari mereka. 

So, kesimpulannya apapun hal negatif itu saya lebih memilih mengatur diri sendiri ketimbang mengatur orang lain. Ini bukan berarti saya tidak mau mengingatkan atau meluruskan yang salah, tapi daripada saya baper kata-kata saya tidak digubris 😂 atau jatuhnya ternyata sama saja (dalam artian, sudah saya ingatkan pun tidak ada pengaruhnya), jadi ya lebih baik biar saja mereka dengan jalannya sendiri. Sepanjang tidak merugikan atau menyakiti saya atau orang terdekat saya, lebih baik saya mengatur diri sendiri. Toh saya punya banyak pilihan yang bisa saya lakukan. Kecuali kalau yang keliru itu orang terdekat saya, mungkin saya lebih berani untuk bertindak atau mengingatkan 😊