Friday, 17 November 2017

Friday, November 17, 2017 10

Kitalah Versi Paling Tepat MenurutNya

Saya lagi baca sebuah novel. Dimana pemeran utamanya bisa berpindah-pindah dari alam semesta yang satu, ke alam semesta yang lain.

Misalnya, saat ini dia tidak punya adik. Mendadak ada yang menggelitik tubuhnya (yang rasanya seperti semut yang berjalan di kulitnya). Lalu semua hilang. Apapun yang ada di sekitarnya hilang. Sampai dia kembali normal lagi. Tapi ternyata semua berubah. Tiba-tiba dia jadi punya adik. Padahal sebelumnya dia anak tunggal. 

Atau ketika ia sudah punya adik, tiba-tiba sensasi menggelitik datang lagi. Dan ternyata adiknya sudah meninggal.
via Pixabay
Kurang lebih ceritanya begitu. Dan selalu seperti itu. Yang ia alami akan berbeda ketika ada sensasi semut menggelitik kulitnya. Semua akan berubah secara cepat. Kondisi setelahnya tidak akan sama seperti sebelumnya ketika ia merasakan tanda-tanda menggelitik tadi. Kondisinya ini ia sebut dengan 'Saat-Ketidakberadaan'.

Sampai ia datang ke dua orang guru. Oleh satu gurunya, ia diberi jimat. Jimat itu sudah menyimpan memori yang ia inginkan. Dan itu akan membantunya untuk pergi ke situasi yang ia inginkan tersebut kalau Saat-Ketidakberadaan itu datang.

Memang, situasi yang ia inginkan datang. Tapi disitu ada dirinya yang lain. Dengan kata lain, dirinya jadi ada dua. Tapi ia yang sesungguhnya tidak bisa dirasakan keberadaannya oleh orang-orang di sekitarnya. 

Singkat cerita, ia lelah menghadapi Saat-Ketidakberadaan itu. Akhirnya ia ingat nasihat seorang gurunya yang lebih tua. Bahwa sesungguhnya yang ia butuhkan bukan keberuntungan, melainkan adalah kedamaian atau penerimaan. Dengan kata lain, ia tidak perlu memiliki keberuntungan dimana ia bisa mencapai situasi yang diinginkan. Melainkan, ia harus berdamai dan menerima apapun situasi yang diterimanya. 

Fiewh. 

Hehe saya nggak lagi ngereview novel kok karena belum kelar baca 🙈. Saya cuma iseng ingat pikiran masa lalu dan berkaitan dengan cerita di novel tadi.  Dimana dulu saya bertanya-tanya ke diri sendiri, "kenapa sih saya harus jadi diri saya? Kenapa nggak jadi orang lain? Gimana seandainya saya jadi dia atau tukaran jiwa dengan orang lain?" (Yang terakhir ini terinspirasi dari sebuah FTV 😂).

Itu bukan karena saya menyesal atas diri saya sendiri. Atau tidak bersyukur dengan keadaan. Bukan itu. Tapi murni hanya bertanya. 

Kitalah versi paling tepat menurutNya.

via Pixabay
Nah setelah baca novel itu, saya jadi mikir, segala makhluk hidup yang diciptakan, khususnya manusia, memang sudah porsi yang paling tepat segalanya. Tentu saja versiNya. Karena Dialah yang menciptakan kita.

Misalnya saya sendiri. Saya terlahir dari kedua orang tua yang memberi saya nama Ade. Yang memiliki 4 saudara kandung. Saya menikah di usia 22 tahun. Saya punya dua anak di usia 24 tahun. Saya orang yang kadang ceroboh, tidak sabaran, dan panikkan. Saya suka membaca. Saya suka menulis. Atau jalan hidup-jalan hidup saya yang lainnya. Nah mungkin memang semua jalan inilah yang tepat bagi saya. 

"Seandainya saya (bisa memilih) jadi orang lain. Bagaimana keadaan saya? Apakah saya bisa? Apakah saya sanggup menjalaninya? Apakah saya akan bahagia? Dan apakah itu sebuah keputusan yang tepat?" We don't know. 

Sering di setiap ujian dan kebahagiaan, saya mikir ke sana. Mungkin apa yang udah saya alami, saya dapatkan, memang sudah porsi yang (paling) tepat. Seperti inilah saya seharusnya. Seperti inilah keadaan yang memang pantas buat saya. Seandainya pun ada orang yang ingin menjadi diri saya, belum tentu orang itu pantas dan mampu. 

Bersyukur dan menerima

Jadi novel ini secara tidak langsung mengingatkan saya pribadi. Bahwa memang, apapun keadaan kita, seharusnya kita menerima. Walaupun seringkali itu pun tidak mudah. Tapi kita hanya manusia yang pandangannya terbatas. Kita hanya bisa melihat apa yang terlihat oleh mata kita. 

Padahal sesungguhnya ada maksud-maksud Allah yang sering kita nggak tahu. Allah menguji kita dengan kesedihan, mungkin ada hikmah di belakangnya. Allah memberi kita kebahagiaan, mungkin ada hikmah di baliknya. Dan ketika kita mau selami itu, sesungguhnya kita akan mampu mengambil sendiri hikmah-hikmah itu. 

Ya mungkin bisa dibilang juga ini anjuran kita untuk bersyukur. Bahwa apapun kondisi kita, situasi dan kondisinya, segalanya harus kita terima. Sebab memang tidak semua apa yang kita inginkan bisa tercapai. Barangkali sesuatu yang kita inginkan itu memang tidak pantas bagi kita. Belum baik bagi kita. Atau bisa juga ditunda waktunya. Wallahu a'lam bishowab 😊

Terakhir sebagai penutup, ada satu do'a bagus di dalam novel ini: 
"Tuhan, tolong beri aku keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah, beri aku kedamaian untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah, dan beri aku kebijaksanaan untuk membedakan keduanya." - Ally (150-151)
Lantas, sudahkah kita bersyukur hari ini? 😊 

Monday, 13 November 2017

Monday, November 13, 2017 14

Membaca Buku Itu Penting Lho! Bagaimana Menumbuhkan Minat Baca Buku?

Saya bersyukur sekali sejak kecil orang tua tidak pernah meninggalkan kebiasaan beli buku. Barangkali ini juga yang membuat saya sampai saat ini suka sekali membaca. Bagi saya membaca adalah menemukan sudut pandang lain. Membuat pikiran menjadi lebih terbuka dan tidak mudah menghakimi segala sesuatunya. Membuat saya menjadi lebih bijak menghadapi segala permasalahan. Ya, buat saya membaca adalah segalanya.
Dengan membaca, aku menemukan sudut pandang lain. - Ade Delina Putri
via Pixabay
Dan saya bersyukur dengan adanya hobi membaca ini. Terlebih di era sekarang dimana segala informasi lebih mudah didapatkan dengan kemajuan pesat teknologi. Arus informasi yang tak terelakkan akan sia-sia jika semuanya diterima mentah-mentah, dalam artian kita tidak mencoba berpikir terbuka untuk menerima sumber lain dan mudah menerima berita-berita hoax.

Baca: Saring Sebelum Sharing

Membaca lalu menulis

Dari kebiasaan membaca pula, akhirnya saya tertarik dengan dunia tulis menulis. Menurut saya, ini mengalir saja. Entah kenapa, dengan tulisan rasanya semua lebih mudah diungkapkan. Sampai kini saya terjun dan serius di dunia ngeblog.

Membaca dan menulis, keduanya sama sekali tidak bisa dipisahkan. Saling berkaitan. Saya akan mandeg nulis kalau tidak membaca. Iya, ini saya alami beberapa waktu lalu. Saat blog saya sempat tidak ada tulisan dalam waktu berapa hari. Rasanya sungguh bingung mau nulis apa. Sampai-sampai saya nanya ke diri sendiri, "saya ini kenapa sih?"
Kemudian saya sadar, "oh oke, sepertinya saya sudah jarang membaca buku." Seperti kata Mbak Siti Fauzia dalam tulisannya Mengapa Membaca Penting? Buat saya, ya memang begitulah. Tanpa membaca, saya tidak akan bisa menulis. Kalaupun saya paksakan menulis, tulisannya pasti akan cenderung monoton.

Membaca itu memang luas. Apa saja bisa jadi bahan bacaan termasuk status-status di media sosial *eh. Tapi buat saya, membaca buku itulah yang terpenting. Karena di buku kita akan menemukan gaya bahasa yang lebih luas. Apalagi jika genre yang kita baca berbeda-beda.

Bahkan Tere Liye pernah mengatakan dalam salah satu bukunya yang berjudul Rindu, 
"Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus-ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca.” (Rindu: hlm. 196-197)
Wow, untuk menulis satu paragraf ternyata kita harus membaca satu buku. Maka memang benar bahwa urusan membaca apalagi bagi yang mendedikasikan dirinya di dunia tulis menulis, itu tidak bisa diremehkan.

Maka itu sebabnya, saat ini saya juga sudah mulai mengajak anak-anak saya untuk ikut suka membaca. Bukan karena saya ingin mereka jadi penulis atau blogger juga. Tapi lebih kepada menanamkan kecintaan membaca pada mereka. Dan membuat pandangan dan pengetahuan mereka menjadi lebih luas.

Menumbuhkan minat baca buku

Lantas, bagaimana sih agar kita mencintai baca buku? Atau minimal kita berminat untuk membaca buku?
  • Membuat tujuan

Kita harus punya tujuan. Untuk apa sih saya membaca buku? Saya mau apa sih dari membaca buku? Sebab, jika tidak ada tujuan, membaca akan jadi hambar. Alih-alih suka, yang ada kita tidak semangat melakukannya karena tidak punya tujuan apapun.
Misalnya, saya pribadi bertujuan untuk menjadikan baca buku sebagai budaya yang tidak boleh hilang. Apalagi saya terjun di dunia kepenulisan. Serta ditambah saya ingin anak-anak saya kelak juga suka membaca buku. Maka saya akan ingat tujuan ini ketika minat baca buku saya mulai menurun.
  • Membuat komitmen/target

Jika sudah punya tujuan, kita tinggal buat komitmen. Misal, dalam satu minggu kita harus baca satu buku. Atau satu bulan kita harus baca satu buku. Terserah. Sesuaikan dengan keinginan kita saja. Untuk tahap awal sebaiknya tidak memaksakan kehendak agar tidak cepat jenuh. Dengan sendirinya, jika sudah terbiasa kita akan mulai merasakan kenikmatan dan target itu bisa bertambah. Malah bisa jadi saking asyiknya, sampai melewati batas target 😀
  • Kurangi distraksi/gangguan

Gadget dan media sosial adalah distraksi terbesar saat ini. Betul atau tidak? Hehe. Kemalasan saya beberapa waktu lalupun karena hal ini. Saat kesadaran itu muncul, dan ingatan bahwa dulu saya mudah meninggalkan gadget demi buku, saya pun mulai menguatkan tekad untuk mengurangi gadget dan medsos demi bisa baca buku.
Apa ini berhasil? Ya. Karena saya kembali ingat tujuan dan komitmen yang sudah saya buat.
Maka begitu pula bagi yang lain. Jika distraksi dirasa mengganggu, kita harus ingat lagi tujuan membaca dan komitmen/target yang sudah kita buat. Di sini keseriusan kita juga diuji. Sejauh mana kita menguatkan keinginan menumbuhkan budaya membaca buku dalam keseharian kita.
Atau bagi yang kira-kira susah meninggalkan gadget, bisa juga menginstall aplikasi ebook. Zaman sekarang, sudah banyak yang beralih ke ebook. Tidak ada salahnya. Hanya beda bentuk saja. Yang ini berbentuk digital. Daripada hanya baca status-status di media sosial kan *eh hehe.
  • Bergabung dengan penyuka buku/komunitas pecinta buku

Bergabung dengan orang-orang yang satu tujuan, pasti akan muncul semangat yang lebih besar. Saya sendiri semenjak bergabung dengan grup Blogger Buku Indonesia, semangat saya jadi tinggi. Apalagi melihat teman-teman yang bukunya sudah bejibun dan genre bacaannya bervariasi. Wah saya jadi kepingin punya lebih banyak lagi buku dan jadi tahu genre-genre baru serta mau keluar dari zona nyaman biasanya.

Ya seperti itulah kurang lebih menurut saya. Membaca buku itu pada dasarnya tidak susah kok. Kita hanya perlu meluangkan waktu sebentar. Saat anak-anak dan suami tidur misalnya. Atau saat sedang tidak ada kerjaan, atau saat handphone sedang dicas *eh. Intinya mulai dari diri kitalah yang harus menumbuhkannya.

So, mau baca buku? 😉

Friday, 10 November 2017

Friday, November 10, 2017 10

Menuntut Kesempurnaan? Impossible!

Sekarang, ramai orang ingin membentuk personal branding. Waktu saya nanya ke suami, alih-alih dia jawab ingin membentuk juga, justru dia jawab, "nggak deh. Personal branding itu berat."

Lho, berat kenapa? Pikir saya.

Sampai akhirnya saya ngeh maksud kata-kata "berat" dari suami. Apa yang berat? Amanah dan ujian dari personal branding itu sendiri. Simpelnya, seseorang itu harus (atau malah diharuskan?) SESUAI dengan branding yang dia bentuk. Dengan kata lain, disadari atau tidak, ada penuntutan KESEMPURNAAN di sini. Padahal mana ada manusia sempurna?
via Pixabay
Misal saja seorang motivator terkenal yang beberapa waktu lalu sempat terkena kasus yang menghebohkan publik. Jelas bahwa branding beliau adalah motivator. Tapi ketika dia terkena masalah, orang-orang mana mau tahu bahwa dia juga manusia biasa?
Yang ada di anggapan orang-orang adalah beliau ini seorang motivator. Maka tindak tanduknya (harusnya) sesuai yang ia motivasikan pada orang lain. Padahal sang motivator ini juga manusia biasa kan? Meskipun dia memotivasi jutaan orang, bukan berarti dia lepas dari kodratnya sebagai manusia. TIDAK ADA manusia yang sempurna hidupnya, yang tidak pernah salah dan tersandung masalah *itu mah malaikat kali eh.

Sampai sini saya jadi mikir *anaknya pemikir 😂. Sebenernya tanpa membentuk personal branding pun, kadang kita suka dituntut sempurna sesuai label yang tersemat di diri kita.

Lho kok? Emang orang dinilai dari penampilannya? Dari brandingnya? 

Iya! (Walaupun harusnya tidak). 

Kenapa? Karena wajar jika yang pertama kali dilihat mata kita, pastilah fisik orang dulu. Penampilan luar dulu. Label luarnya dulu (apalagi kalau orang itu memang sengaja membentuk personal branding). Manalah kita tahu kalau dia ternyata tidak sempurna. Ternyata hatinya baik. Ternyata orangnya menyenangkan. Ternyata pengkhianat yang bagus luarnya aja. Kecuali kalau kita memang sudah sering bersama orang itu. Atau minimal kita bisa dengan handal membaca orang dari gerak-geriknya. 

Jadi kalau misal ada orang yang dengan mudahnya bilang, "ih jilbabnya panjang, tapi kok sukanya marah-marah? Ih tampilannya kayak ustadz, tapi kok kelakuannya kasar?" Atau ketika ada orang yang tiba-tiba komentar, "oh kamu lulusan universitas A, tapi kok foto-fotomu begitu sih? Oh kamu dari komunitas B, tapi kok nggak sesuai dengan nama komunitasnya? Oh kamu si penulis buku motivasi itu, tapi kamu kok sedih mulu sih?"

Sebenarnya kita nggak perlu marah. Justru yang pertama kali harus dikoreksi adalah diri sendiri. Bener nggak sih gue begitu? Oh iya ya, ternyata gue suka marah-marah. Ternyata gue kasar. Ternyata foto gue nggak pantes. Ternyata kelakuan gue nggak sesuai dengan nama komunitas gue. Ternyata gue udah nulis motivasi, harusnya gue lebih semangat.

Dengan kata lain, koreksian orang-orang itu bikin kita bisa LEBIH mawas diri. Lebih hati-hati dengan perilaku kita. Sekali lagi, karena wajar kalau yang pertama kali dilihat orang adalah luarnya dulu. Atau kita  sendiri deh, yang kita lihat dari orang lain pasti luarnya dulu kan?

Akan jadi beda kalau misalnya kita sudah seatap dengan orang itu. Sudah menghabiskan waktu yang tidak sebentar dengan orang itu. Maka kita akan punya pandangan yang lain. Seperti kata Tere Liye, kita nggak bisa kenal orang (dengan baik) hanya sehari aja. Mungkin ini maksudnya.

Bersikap saling

Berat ya ternyata untuk tampil baik? Untuk punya branding baik? Sebenarnya nggak juga. Justru tampilan dan label luar kitalah yang bisa jadi rem kita. Rem perilaku kita. Dengan adanya itu semua, kita akan lebih mikir panjang apa yang harus kita perbuat. Mana yang pantas, mana yang tidak, dan apa yang sebaiknya tidak kita lakukan.

Nah mungkin di sinilah kita juga belajar untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Karena ternyata nggak enak ya dihakimi tanpa dikenal lebih dalam atau dicari tahu lebih dulu. Sebab, bisa saja apa yang terlihat di mata kita, belum tentu itu yang sebenarnya.

Well, ya barangkali kita harus bersikap saling aja 😊 Ketika kita merasa tidak sempurna, maka begitu jualah harusnya pandangan kita ke orang lain 😊 Ya kasarannya kalau nggak mau dicubit, ya jangan nyubit *eh.

Wednesday, 8 November 2017

Wednesday, November 08, 2017 16

Saring Sebelum Sharing

Zaman now teknologi udah canggih bangetlah ya. Bikin arus informasi mudah banget untuk masuk. Dan akhirnya bikin kita jadi kayak kebanjiran informasi. Saking banjirnya, kadang jadi nggak kesaring lagi mana yang hoax, mana yang benar *eh. Mana yang penting, mana yang tidak. Mana yang sebenarnya layak dikomen dan dishare, mana yang tidak. Ya semacam itulah.

Kalau kata suami, "too much information, will kill you!"
via Pixabay
Eh bener nggak sih?

Kalau saya meyakini kayaknya ada benarnya juga. Buktinya, gara-gara banyaknya informasi yang saya terima, nggak jarang bikin saya jadi riweuh sendiri. Malah sekali dua kali jadi debat sama suami karena maunya suami, saya bisa menyaring informasi. Mana yang layak diterapkan, dan mana yang tidak. *Eh kok ini jadi curhat?

Samarnya informasi kini.

Sebenarnya ini semacam kontemplasi saya aja sih *halah. Makin kesini kok kayaknya informasi itu semakin abu-abu ya. Seperti yang di awal saya tadi bilang, mungkin kita ini udah kebanjiran informasi. 

Sering saya menemukan sharingan di media sosial terutama, hal-hal yang kayak nggak guna buat dishare. Maksudnya bukan postingan personal ya, kalau itu sih terserah deh. Tapi ini semacam berita-berita yang sebenarnya nggak enak dilihat, nggak pantas dilihat, dan nggak perlu dilihat/dibaca, tapi dishare! 

Katanya biar orang tahu, tapi buat apa? Mencerahkan? Saya rasa nggak juga. 

Gini deh, misal ada kecelakaan, lalu ada orang yang boro-boro nolongin malah foto korbannya yang keadaannya sangat mengenaskan. Lalu dishare tanpa diblur! Duh, apa gunanya sih ya? 
Kalau memang dia mau memberi informasi pada orang bukankah cukup dengan memberikan info kecelakaan dimana, jam berapa, siapa nama korbannya (tanpa memajang foto lho ya)? 
Nggak perlu kan ya sebenarnya foto itu? KECUALI, jika ada yang minta. Itu pun lebih etiknya lewat jaringan pribadi aja. Nggak perlu dipublish secara nasional bahkan internasional.

Atau lagi, hal-hal yang sebenarnya terlarang, tapi dishare. Niatnya sih mencerahkan, tapi karena dikasih tahu langkah-langkahnya, orang yang tadinya sebenarnya nggak tahu, jadi tahu. Dan yang lebih parah - bukan nggak mungkin ada orang yang nggak bertanggung jawab justru memanfaatkannya sebagai tindak kejahatan. 
Mikirnya kejauhan? Bisa jadi. Tapi semua serba mungkin kan di zaman now.

Mau bilang nggak sengaja begitu. Kayaknya nggak bisa juga ya. Nggak mungkin lah ada setan yang tiba-tiba pake gadget kita buat ngeshare postingan orang lain hehe. Mungkin maksudnya bukan nggak sengaja kali ya, tapi lebih ke "nggak maksud" buruk. Nah, maka di sinilah pentingnya kita untuk berpikir panjang sebelum berbagi sesuatu 🙈

Saring, saring, saring sebelum sharing.

Well, ya akhirnya memang kembali lagi ke diri kita sendiri. Kita tidak bisa mengatur orang lain. Jadi kitalah yang harus bisa menyaring segala sesuatunya sendiri. Kitalah yang bisa memilah mana yang penting, mana yang tidak. Toh kita udah sama-sama dewasa kan.

Cuma satu aja dari saya pribadi dan sebagai pengingat diri. Apapun yang hendak dishare, baiknya kita pikirkan dulu apa faedahnya. Penting atau tidak. Pantas atau tidak. Dan layak dilihat/dibaca atau tidak 😎

Oke, salam damai dari penggiat dan pemerhati media sosial 🙈

Wednesday, 1 November 2017

Wednesday, November 01, 2017 14

Mau Ngeblog? Gampang Kok! Ini 9 Langkahnya!

Akhir-akhir ini banyak banget teman-teman dari komunitas kepenulisan yang saya ikuti nanya gimana caranya ngeblog. Saya seneng banget sih kalau ada pertanyaan itu. Karena emang udah unek-unek sejak lama kalau saya kepingin teman-teman yang suka nulis juga bikin blog.

Sayang aja kalau misal kemampuan nulis mereka cuma sebatas file pribadi atau cuma posting di facebook. Selain postingannya bisa tenggelam, jangkauannya pun seringkali hanya yang diterima sebagai teman saja. Berbeda dengan blog yang jangkauannya lebih luas.  Ya kecuali kalau mau sengaja diprivat sih. Lagi pula dengan ngeblog, hitung-hitung meskipun kita belum bisa nulis buku, paling tidak kita punya kesempatan kalau tulisan kita dibaca orang kan ya 😊
via Pixabay
Nah kembali ke pertanyaan teman-teman soal bikin blog, sebenarnya saya selalu menjawab kalau udah banyak banget tutorial di Google. Tinggal searching ajalah. Apa-apa sekarang udah tersedia di Google 😁

Tapi kalau boleh saya tuliskan lagi, mungkin saya punya step-stepnya gimana caranya supaya kita bisa ngeblog.

This is it!

9 Langkah NGEBLOG:

  • ‌Punya email.
Saya rasa sekarang memang siapa saja harus punya email ya. Apalagi untuk buka media sosial dan belanja online di marketplace/e-commerce pasti butuh email. Nah di blog, email ini berguna untuk bikin akun. Kalau sudah punya email, maka kita tinggal pilih mau pakai platform apa.

  • ‌Tetapkan tujuan.
Pengen bikin blog untuk apa sih? Apakah buat curhat hore atau buat nyari penghasilan? Tetapkan apapun tujuan kita. Kalau sudah ditetapkan, maka kita akan lebih mudah menulisnya. Kita sudah tahu apa yang harus ditulis. Dan bisa juga kita sesuaikan dengan platform apa yang sekiranya cocok untuk jenis tulisan kita.

  • ‌Pilih platform blog.
Platform blog ada banyak. Tinggal pilih mau pakai yang mana. Mau pakai Blogspot, Wordpress, Tumblr, BlogDetik, Kompasiana, atau Wattpad. Semua bisa dipilih sesuai kebutuhan atau keinginan kita.
Gampang, tinggal masuk aja ke website mereka. Misal Blogspot ya berarti masuk ke Blogger.com lalu login dengan akun Gmail kita. Pilih deh Blog Baru. Nanti kita akan diarahkan untuk langkah selanjutnya. Tutorial lebih lengkapnya coba kamu googling aja ya  😊
Tapi kalau kamu berniat serius (mencari penghasilan), kamu bisa membeli domain sendiri seperti .com, .id, .co.id, dll. Konon, yang berTop Level Domain seperti itu akan lebih mudah untuk segala macam penawaran kerja sama. Tapi kalau sekedar pasang Google Ad Sense, katanya sih nggak apa kalau tidak TLD. CMIIW yaa.

  • ‌Mulai nulis.
Sebelum bikin blog, kalau bisa sih kita sudah punya basic ilmu kepenulisan. Jadi walaupun tulisan kita belum bagus-bagus banget, minimal tulisannya ngga terlalu berantakan.
Ya minimal kita udah tahu bagaimana meletakkan tanda baca. Udah ngerti awal kalimat atau setelah titik koma hurufnya harus gimana. Udah paham kapan harus pindah ke paragraf selanjutnya, ect yang dasar-dasar kayak gitu pokoknya.
Urusan tata bahasa itu nantinya bisa menyesuaikan sendiri. Yang jelas jadi diri kita sendiri aja. Keluarkan sesuai yang ada di kepala kita. Tapi tetap patuhi aturan dan norma yang berlaku ya. Jangan sampai tulisan kita menyinggung pihak lain, apalagi itu dipublish. Zaman now bisa kena UU ITE ntar 😜

  • ‌Perhatikan tampilan blog
Antara nomor 3 sama 4 ini sebenarnya bisa ditukar sih. Tapi menurut saya, untuk awal lebih baik kita fokus menulis saja dulu. Ini berdasar pengalaman saya hehe. Kelamaan utak-atik tempatle (tampilan) blog, alhasil baru nulis sebulan kemudian 🙈 Jadi lebih baik kita fokus nulis aja dulu. Pilih tampilan yang sudah ada dan simpel, nanti ketika sudah nulis, bisa dibarengi dengan merapikan tampilan blog.
Apa gunanya? Memperhatikan penampilan itu semata agar blog kita enak saat dilihat, saat dibaca. Jadi usahakan pilih yang defaultnya background putih, dan font tulisannya warna hitam. Jangan dibalik ya hehe.

  • ‌Share tulisan di media sosial
Kalau kita bikin blog sekedar untuk curhat yang hanya boleh dibaca diri sendiri, poin ini bisa diabaikan. Tapi kalau kita mau tulisan di blog kita juga dibaca orang-orang, bolehlah kita bagikan tulisan itu di media sosial. Caranya cukup dengan copy link, lalu paste di medsos kita dengan tambahan caption sebagai bumbu supaya orang mau tertarik mengunjungi blog kita 😁

  • ‌Bergabung dengan komunitas-komunitas blogger.
Terutama kalau kita memang ingin mendapatkan tambahan semangat ngeblog. Maka bergabunglah dengan komunitas-komunitas blogger. (Baca: Manfaat Aktif di Komunitas). Selain itu, di komunitas blogger, kita juga bisa dapat manfaat lebih banyak: bisa saling sharing ilmu, saling berbagi informasi, bahkan bisa saling berbagi info job blogger *eh 😁

  • ‌Rajin-rajinlah baca, update informasi.
Mau jadi penulis, tapi malas baca? No no no! Jangan ya! Apalagi kalau kita masuk ranah publik. Supaya nggak kudet, kita juga harus update dong *asal jangan berita hoax aja. Dengan kita update, maka kita akan selalu punya hal baru yang bisa dibagikan. Selain itu, rajin baca juga bikin kosakata kita jadi bertambah. Sehingga tulisan kita jadi nggak monoton.

  • ‌Materialis boleh, tapi tetap original.
Katakanlah kita menulis blog untuk materi, itu boleh. Tidak dilarang. Tapi TETAP usahakan untuk membuat tulisan yang original. Tulisan yang berasal dari tangan kita sendiri. Karena seringkali tulisan yang asli akan SELALU LEBIH DISUKAI. Jelas karena orang akan lebih percaya dibanding jika kita mengcopas tulisan orang lain. Karena yang original biasanya juga akan selalu unik.

Begitu sekiranya teman-teman. Ngeblog itu sebetulnya gampang kok! Dan di sini, kita tidak terbatas ruang. Kita bebas menulis sepanjang apapun *ya asal jangan bikin buku aja sih haha*.

Hanya satu yang perlu diingat. Ketika kita sudah masuk ke dunia publik, maka jaga jari kita. Jangan sampai kita menyakiti hati orang lain atau pihak tertentu. Karena di dunia kita hidup sebagai makhluk sosial.  Yang artinya kita selalu butuh orang lain. Selain itu, kita pun harus bisa mempertanggung jawabkan apapun yang kita tulis 😇

Yuk ngeblog! 🙆

Sunday, 29 October 2017

Sunday, October 29, 2017 34

Hari Blogger Nasional: Tentang Goresan Pertama di Blog Sohibunnisa

Halo Blogger! Pada tahu nggak sih kalau tanggal 27 Oktober kemarin adalah Hari Blogger Nasional? 

Harus tahu dong ya. Jangan sampai nggak tahu. Masa blogger nggak up to date 😝 

So, udah berapa lama kamu ngeblog? Kalau saya, sudah 5 tahun 😍 Meskipun tulisannya sendiri baru terbit bulan November 2012, tapi sebenarnya blog ini berdiri pada bulan Oktober 2012. Yah, maklum aja dulu masih bingung mau nulis apa 😂


Tulisan pertama di bulan November

November 2012, terkenang kejadian mengesankan itu...

via Pixabay
Setelah satu bulan cuma utak-atik template, pas bulan November akhirnya saya kepikiran nulis tentang sebuah kejadian saat pulang kampung bulan Agustus 2012.

Sebuah Rencana Indah dari Allah untuk saya. Yang mana kejadian itu ternyata benar-benar menjadi kenyataan saat ini. Ya, saya jadi istri dari seorang pria yang sudah lama saya kagumi 😍

Dulu saya sangat speechless. Sampai-sampai bingung harus gimana haha. Tapi di dalam hati mah rasanya bahagia banget 😂 Akhirnya saking bahagianya, saya kepikiran buat mengabadikan momen indah itu di tulisan pertama blog ini. 

Sempat ada rasa takut kalau doi baca gimana ya? Eh setelah nulis, saya malah dengan sengaja promo tulisan itu ke dia 😂 Dia cuma kasih emot senyum aja sih 🙈 FYI, dulu kami memang jauhan. Saya masih di Bekasi, dia di Surabaya. 

Ketika kita harus menjauh...

Dari seringnya komunikasi yang sudah berjalan, lama kelamaan kami mulai menemukan ketidak cocokan. Akhirnya awal 2013, dia mulai menjauh. Tiba-tiba saja dia tidak pernah menghubungi saya lagi. Kalaupun saya hubungi, dia jarang balas. Sekalinya balas, singkat sekali. Akhirnya saya pun mencoba ikhlas lalu galau hiks. 

Karena tidak mau jadi bahan pertanyaan pembaca blog ini, tulisan pertama itu pun saya KEMBALIKAN LAGI KE DRAFT. Saya tidak mau dipermalukan saat ada pembaca yang tanya, "bagaimana kelanjutan cerita itu?"

Haha padahal kalau dipikir sekarang mah berlebihan. Gimana enggak, kalau dulu yang baca blog saya juga masih segelintir orang. Sedikit banget malah 😂

2015, Allah kembalikan dia padaku *uhuk. 

But, mungkin ini yang dinamakan omongan itu bisa jadi do'a. Karena dulu saya nulisnya pakai kalimat 'rencana indah dari Allah', akhirnya benarlah ternyata Allah merencanakan itu buat saya. 

Mungkin dulu Allah menyuruh saya untuk bersabar. Biar nggak tergesa-gesa cepet nikah mendapatkan jodoh. Mungkin Allah pengen saya memperbaiki diri dulu. Bukan karena doi, bukan karena jodoh, tapi harus MURNI karena Allah. Finally, setelah saya benar-benar pasrah, Allah malah mewujudkan do'a saya. Masya Allah 😍🙁

Di tahun 2015, dia tiba-tiba saja datang dan melamar saya. Lalu kami pun resmi menikah. Cerita lengkapnya baca di postingan Jodoh yang Tak Pernah Terduga aja ya hehe. 


Allah tahu yang terbaik...

Entah kalau sekarang saya nggak nikah sama suami. Mungkin tulisan itu nggak akan pernah saya terbitkan lagi. Tapi karena sudah benar menikah, jadilah tulisan itu dimunculkan lagi 😂 Bahkan sempat jadi popular post selama berapa bulan waktu itu 😂

Yah gitulah. Kadang rencana Allah emang nggak terduga. Kita maunya apa, tapi nggak terwujud. Sampai bikin kita jadi berprasangka buruk. Kiranya Allah menahan, seolah tidak akan mewujudkan do'a kita. Padahal Allah sebenarnya selalu tahu yang terbaik buat kita. 

Dia merencanakan sesuatu yang udah pantas buat kita. Hanya perkara waktunya saja yang mungkin ditunda. Atau bisa jadi memang tidak dikabulkan karena Allah tahu sesuatu yang kita inginkan itu belum tentu baik bagi kita. Karena sekali lagi, hanya Allah Yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita 😊

Nah, kalau tulisan pertama di blogmu sejarahnya gimana? Cerita juga dong! 😊

Friday, 27 October 2017

Friday, October 27, 2017 5

Gimana Sih Biar Jadi High Quality Jomblo?

"High Quality Jomblo?
Kalau high quality... itu ya nggak mungkin jomblo!!"

Itu secuplik kalimat dari sebuah film Indonesia. Saya agak tegelitik sih. Karena nggak nonton, jadi saya nggak bisa menyimpulkan gimana maksud sebenernya.

Tapi kalau saya boleh ngambil satu kalimat di atas aja, saya nggak setuju. Karena yang dimaksud High Quality itu bukan orangnya. Melainkan STATUS jomblonya.
via Pixabay
Lagi, kenapa harus takut dengan status Jomblo sih? Padahal di China ada Singles Day yang dirayakan setiap 11 November. Dan karena besarnya pengaruh negeri bambu itu, maka saat ini banyak masyarakat di Indonesia yang juga ikut merayakan Singles Day setiap tanggal 11 November.

Bahkan konon, pesan awal dari campaign ini adalah agar para penyandang status single tetap merasa bahagia. Tuh, jadi jomblo harus tetap bahagia dongs 😉

Lalu gimana biar nggak jadi jomblo yang merana? Yang bisa jadi High Quality Jomblo? Emang High Quality Jomblo apaan sih? Jelas lah ya, dari arti kalimatnya yaitu Jomblo yang Berkualitas Tinggi. Jomblo yang berkualitas emang yang gimana sih?

Punya tujuan hidup. 

Kalau orang tua sering bilang, "manfaatkanlah masa mudamu." Itu 100% BENAR. Karena di masa muda inilah kita punya BANYAK kesempatan untuk menggapai apa yang kita inginkan. Jadi, kalau saat ini kita masih ngerasa muda, tentukan tujuan hidup dari sekarang. Kita mau ngapain sih? Kita mau jadi apa ke depannya? Kita mau masa depan yang bagaimana nanti? Semua itu bisa kita lakukan saat status kita masih sendiri. Kenapa? Karena dengan kita punya TUJUAN, kita akan lebih FOKUS. Bahkan nggak akan sempat memikirkan hal yang sia-sia. Atau bahasa gaulnya, galau-galauanlah 😁

Kembangkan (aktualisasi) diri. 

Setelah kita tahu tujuan kita kemana, maka langkah selanjutnya kita pasti akan cari cara bagaimana supaya bisa mencapai tujuan itu. Otomatis dari sini kita akan selalu bergerak ke depan. Di sinilah kesempatan kita untuk MENGEMBANGKAN DIRI. Misal tujuan kita jadi pengusaha terkaya sebelum umur 30. Maka kita bisa belajar dari pengusaha-pengusaha sukses. Dengan bergabung di komunitas. Lalu mulai menjalankan usaha kecil-kecilan dari awal. Sampai akhirnya, bukan nggak mungkin cita-cita kita tercapai 😊

Merawat diri. 

Karena kita sendiri, bukan berarti kita seenaknya saja dengan diri sendiri. Maksudnya tidak merawat diri. Tampil kumal, lecek, nggak enak dilihatlah pokoknya. Jangan ya 😂 Karena High Quality Jomblo itu, dia yang bisa merawat dirinya. Bukan semata agar ada yang melirik. Tapi juga kembali lagi manfaatnya kita rasakan untuk diri sendiri. Enak kan dilihat kalau tampilannya sehat, rapi, fresh, tersenyum sepanjang hari 😊

Ikut kegiatan-kegiatan positif. 

Biar nggak jadi jomblo yang sering galau, jangan kebanyakan diam. Coba ikut kegiatan-kegiatan positif seperti seminar, workshop, komunitas, atau apapun yang menunjang minat dan hobi kita.

Baca: Manfaat Aktif di Komunitas

Melakukan kegiatan-kegiatan sosial. 

Dengan ikut kegiatan sosial atau membantu orang lain, maka tidak akan ada kesempatan bagi pikiran-pikiran negatif untuk masuk. Ini juga salah satu cara supaya kita lebih banyak bersyukur. Mungkin dengan melihat kehidupan di sekitar, bikin kita jadi nggak mudah putus asa 😊

Berkumpul dengan orang-orang tercinta: keluarga, saudara, sahabat. 

Siapa bilang jomblo nggak punya gandengan? Sebenernya gandengan banyak kok. Ada keluarga, saudara, dan sahabat-sahabat kita. Mereka inilah yang sebenarnya slalu ada buat kita. Apalagi keluarga. Karena kemana pun kita pergi, kita selalu butuh pulang kan 😊🙁 Jadi, ayo sapa lagi keluarga kita, saudara dekat kita, sahabat-sahabat kita 😊

Perbanyak syukur.

Sadar atau tidak, sebenarnya hidup kita itu lebih banyak yang bisa DISYUKURI daripada dikeluhkan. Pasti akan selalu ada yang bisa kita syukuri. Entah kesehatan kita yang selalu prima. Pekerjaan dan rezeki kita yang lancar. Keluarga dan banyak sahabat yang sayang dengan kita. Atau apapun itu. Coba kita lihat dari sisi lain yang positif itu. Niscaya, kita akan santai dengan kesendirian kita. Karena bukan ada atau tidaknya pasangan yang membuat kita bahagia, melainkan hati yang penuh syukurlah yang menjadikan kita lebih semangat.


Nah dengan jadi High Quality Jomblo seperti di atas, kamu sama saja sedang MEMANTASKAN DIRI untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan bukan tidak mungkin, jodoh yang datang nantinya, akan sama baiknya dengan kamu. Tapi perkara kapan waktunya, tidak perlu khawatir. Karena seperti yang sering saya bilang, Allah Yang Maha Tahu kapan waktu yang tepat bagi kita. Karena apa yang menurutNya baik, sudah PASTI baik bagi kita 😊

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Wednesday, 25 October 2017

Wednesday, October 25, 2017 13

Apa Sih Manfaat Aktif di Komunitas?

Waktu baru hijrah dulu (lepas dari pacaran), saya sengaja nyari-nyari kegiatan yang positif. Iya dong supaya nggak baper mulu karena kebawa masa lalu. Salah satu pilihan kegiatannya adalah BERKOMUNITAS. Yap, jadi bener banget waktu teman saya bilang, "komunitas itu sebagai sarana buat kita belajar, arahnya sih ke 'daripada pacaran' mending nyibukin diri aktif di komunitas, aktif di kegiatan-kegiatannya."
via Pixabay
Couldn't agree more lah kalau menyibukkan diri dengan komunitas itu JAUH LEBIH BAIK untuk MOVE ON haha. Tentu saja komunitas yang positif yaa. Dan saya termasuk yang aktif di komunitas islami, penulis, blogger, sampai bisnis pun pernah juga hihi. Ya, meskipun sekarang lebih banyak aktif di online karena semenjak nikah dan punya anak, saya jarang aktif lagi di event offline komunitas-komunitas itu. Nggak apalah ya. Toh manfaatnya masih sangat bisa saya rasakan sampai saat ini.

So, selain bisa bikin move on, apa saja sih manfaat kita AKTIF di komunitas? Ini juga berdasarkan survey yang saya himpun dari status saya beberapa waktu lalu. Dan saya setuju banget dengan jawaban-jawaban dari mereka.

Here we go!

Manfaat aktif di komunitas

  • Pengembangan, aktualisasi diri

Hidup itu bakal asyik kalau kita sudah menemukan apa yang kita MINATI. Yah, bahasa kerennya PASSION. Misal aja kita suka nulis. Jika kita bergabung bersama orang-orang yang suka menulis, maka kita bisa belajar banyak dari mereka. Belajar dari membaca tulisan-tulisan mereka, teori-teori kepenulisan yang disampaikan mentor (kalau sekiranya komunitas tersebut ada guru atau mentornya). Dengan belajar itu, otomatis dengan sendirinya kemampuan menulis kita akan semakin terasah. Apalagi berkumpul dengan orang  yang memiliki minat yang sama, biasanya akan saling menyemangati 😊

Baca: 5+1 Alasan Mendadak Susah Menulis

  • ‌Menjaga semangat. 

Nah ini yang dibilang di poin pertama. Yakin deh kalau kita punya minat, tapi menyendiriiii aja, bukan nggak mungkin kalau lama kelamaan kita bisa kehilangaan minat tersebut. Ya karena nggak ada yang menyemangati. Contohnya waktu saya lagi malas ngeblog, terus sharing dengan teman blogger. Disitu saya malah dipecut, "ayo De semangat lagi. Sayang lho kalau blognya sepi." So, saya jadi semangat lagi deh. Coba kalau saya sendirian, mana ada yang nyemangatin kan hehe.

  • ‌Silaturahmi, network. 

Dengan berkomunitas otomatis kita akan bertemu orang-orang baru. Bertemu mereka, bisa jadi ajang silaturahmi bagi kita. Dan orang-orang baru inilah yang bisa menjadi network (jaringan) buat kita.  Ketika misal kita lagi mengalami kesulitan cari kerja, lalu iseng-iseng nanya ke teman-teman di komunitas. Eh ternyata dapat tuh info lowongan pekerjaan yang cocok buat kita. Trus kita melamar, dan diterima di pekerjaan tersebut. Yes, itulah contoh manfaat dari punya network. Ketika kita punya banyak network, banyak teman, maka kehidupan kita bisa jadi dipermudah. Kan banyak silaturahmi banyak rezeki 😁

  • ‌Berbagi informasi.

Ya kayak tadi, misalnya kita lagi cari kerja, eh teman kita menginfokan lowongan pekerjaan. Di sinilah maksudnya berbagi informasi. Jadi dengan kata lain, tidak hanya berbagi informasi yang terkait dengan minat atau komunitas tersebut aja, tapi juga bisa berbagi informasi yang cakupannya lebih luas.

  • ‌Berbagi aspirasi, ilmu dan pengalaman.

Siapa bilang berbagi itu HANYA dengan materi. Nay nay nay! Berbagi itu bisa banyak hal. Berbagi pendapat. Misal komunitas nulis nih (hehe maaf ya lagi-lagi contohnya nulis 🙈). Ada yang share tulisannya, lalu minta pendapat. Nah kita bisa berbagi pendapat kita. Atau ketika ada yang membagikan pengalamannya lewat tulisan, lalu kita merasa tulisan itu sangat bermanfaat bagi kita. Yah, pokoknya di komunitas itu kita bisa berbagi apa saja. Bahkan kita juga bisa saling sharing ilmu di komunitas yang sudah kita dapatkan dari luar. Dari pengalaman masa lalu atau membaca buku misalnya.

  • Belajar banyak hal: diskusi, menyampaikan gagasan, memahami karakter.

Selain berbagi, komunitas juga bisa menjadi ajang bagi kita untuk belajar banyak hal. Belajar diskusi, gimana sih supaya kegiatan di komunitas berjalan dengan aktif, tentunya perlu diskusi kan. Menyampaikan aspirasi (pendapat), ketika kita punya gagasan, kita juga bisa menyampaikan di dalam komunitas. Hingga belajar memahami karakter orang lain, kemampuan ini akan terasah dengan sendirinya kalau memang kita mau belajar peka melihat teman-teman di komunitas kita. Dengan begitu, biasanya bikin pandangan kita jadi lebih terbuka 😊


Wuih ternyata banyak banget ya Manfaat Aktif di Komunitas itu. Saya sendiri Alhamdulillah sudah merasakan semua manfaatnya.

Tinggal kamu nih, manfaat apa sih yang kamu rasakan ketika kamu aktif di sebuah komunitas? Share yuk! 😊

Friday, 20 October 2017

Friday, October 20, 2017 22

Belajar Menjadi Gelas Kosong

Ada seorang wirausahawan, yang ceritanya dia membuat sebuah aplikasi. Niatnya sih mungkin untuk memudahkan orang lain. Tapi ternyata ada pelanggannya yang tidak mengerti cara memakai aplikasi tersebut. Alih-alih si wirausahawan membenahi aplikasinya, dia justru malah menyebut pelanggannya dengan kata GAPTEK. Bahkan dia mengartikan bahwa GAPTEK = MALAS.

Kisah di atas itu kisah nyata. Wong dia posting sendiri statusnya begitu. Dia nulis di facebooknya secara terang-terangan tentang ada pelanggannya yang GAPTEK. Suami malah ketawa sendiri sih baca statusnya 😂

Kalau dipikir, ya emang lucu juga sih. Saya jadi ingat drama Jepang, Rich Man Poor Woman yang belum lama ini saya tonton. Jadi ceritanya Hyuga Tohru, si tokoh utama sedang membuat aplikasi. Ketika dia menyuruh Makoto, anak buahnya mencoba, ternyata Makoto tidak bisa. Dan Hyuga akhirnya mengerti, kalau orang biasa aka tidak pintar saja tidak mengerti, berarti harus ada yang dibenahi cara penggunaan aplikasinya. Tentu saja supaya orang biasa pun bisa mengerti. Dengan kata lain, supaya aplikasi tersebut mudah untuk digunakan semua orang.

Begitulah yang seharusnya dilakukan wirausahawan yang bilang pelanggannya GAPTEK tadi. Sebab SALAH BESAR kalau dia menganggap pelanggannya gaptek. Karena seharusnya yang harus dibenahi bukan pelanggan tersebut, tapi aplikasinya yang mungkin sulit dipahami.

Belajar menjadi gelas kosong 

via Pixabay
Mungkin hikmahnya di sini kita harus belajar untuk TIDAK merasa bahwa diri menjadi yang paling pintar dan paling tahu. Karena ketika kita menganggap diri sudah paling tahu, maka kita tidak akan bisa menerima masukkan. Bahkan bisa-bisa kita akan menganggap orang lain itu bodoh. Padahal bukan orang lain yang harus disalahkan, tapi cara kitalah yang seharusnya dibenahi.

Sama seperti kita belajar menjadi gelas kosong. Gelas yang kosong ibarat kita merasa diri bodoh (belum tahu), dengan begitu maka akan mudah untuk diisi apa saja, mudah diberi masukkan. Tapi ketika gelas kita sudah terisi atau penuh, maka ketika diisi isinya akan jadi tumpah-tumpah.  Kita akan sulit menerima masukkan dari orang lain.

Dalam kehidupan Belajar Menjadi Gelas Kosong memang harus kita terapkan dimana dan kapanpun. Khususnya:
  • Saat kita bertanya atau meminta saran/nasihat.
Kalau kita lagi nanya sesuatu atau minta saran/nasihat dari orang lain, ya harusnya kita dengarkan penjelasan orang tersebut sampai tuntas. Kalau perlu ikuti saran dan nasihatnya. Jangan menyanggah apapun dengan teori kita. Lha wong kita lagi nanya dan minta saran, kok malah ngeyel sendiri. Aneh. Tau gitu nggak usah nanya aja. Ya kan, malah ngeselin kalo dieyelin 😂

  • Saat minta pendapat, maka terima apa saja pendapatnya. Bukan disanggah. 
"Eh bentar lagi gue kan ngelahirin nih. Menurut lu, kereta bayi itu penting nggak sih? 
"Nggak terlalu sih. Kan bisa digendong aja. Atau bisa minta gantian sama bapaknya."
"Tapi kan pegel kalo digendong terus. Mending pake kereta bayilah. Si bayi jadi bisa ditaro."
"Ya udah terserah. Kalo mau pake ya pake aja. Ngapain tadi lu nanya."
Lucu ya kalau ada kejadian di atas. Mungkin kita juga pernah mengalami 😁 Kita nanya pendapat, tapi ketika orang yang dimintai pendapat menjawab, kita malah merasa pendapat sendiri paling benar. Yah atuh gitu ngapain mintaaa. Da gagal paham jadinya 😂

  • Saat belajar, maka jangan sok tahu. 
Ini yang sering disampaikan orang-orang bijak. Setinggi apapun kita merasa diri pintar, tapi saat kita mau mencari ilmu, membaca buku, kosongkanlah diri kita. Supaya kata-kata atau masukkan dari  buku, pemateri, mentor, atau guru kita mudah diterima. Dengan begitu, ilmu akan lebih cepat masuk.
Semakin kita banyak menuntut ilmu, kita akan merasa diri semakin bodoh. Semakin bodoh, kita akan haus terus dengan ilmu. - Unknown
  • Saat kita membuat atau menjual produk, maka jangan menganggap orang SAMA pintarnya dengan kita. 
Nah ini yang saya cerita di awal tadi. Kalau misal kita membuat atau menjual produk, ya JANGAN menganggap semua orang bisa mengerti. Tapi justru tempatkan posisi kita sebaliknya. Kita anggap TIDAK semua orang mengerti. Maka dengan begitu, kita bisa bijak menerima masukkan orang lain. Atau kita bisa membuat atau menjual produk yang sederhana. Yang mudah digunakan. Karena ingat sekali lagi, bahwa tidak semua orang bisa mengerti sebagaimana kita mengerti.


Belajar menjadi gelas kosong sepertinya tidak sulit ya. Kita hanya perlu merasa rendah (kosong). Agar lebih bisa menerima ilmu, dan menerima masukkan dari luar. Sehingga tidak ada lagi yang harus tumpah dan jadi sia-sia 😊

Wednesday, 18 October 2017

Wednesday, October 18, 2017 13

Tahapan Perkembangan Otak Anak dan Bagaimana Memaksimalkannya

Sebagai ibu baru dan hidup di era modern *tsah, saya nggak mau ketinggalan informasi apalagi kalau terkait soal anak. Bukan hanya tentang parenting, tapi juga soal perkembangan otak anak. Bahwa ternyata orang tua dan orang yang mengasuh sangat berpengaruh signifikan pada perkembangan otak anak.
via Pixabay
Otak bayi memang sudah berkembang sejak masih janin. Dan kehidupan paling penting untuk perkembangan otak anak adalah enam tahun pertamanya.

Maka dari itu, untuk memaksimalkan kecerdasannya, sebelumnya - sebagai orang tua, kita perlu tahu tahap-tahap perkembangan otak anak. Dilansir dari website theAsianparent Indonesia, berikut tahapan perkembangan otak anak dari masa kehamilan sampai 10 tahun.


Masa kehamilan

Dari sebelum hamil, kesehatan ibu sangat penting untuk pertumbuhan dan otak bayi. Asupan nutrisi yang baik, gaya hidup yang sehat seperti menghindari rokok, alkohol dan obat-obatan merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan untuk janin yang dikandung. Dari segi makanan pun menentukan.  Makanan yang mengandung Omega 3 atau DHA sangat baik untuk perkembangan otak bayi, terutama pada usia kehamilan 7 bulan sampai masa menyusui.


Saat bayi lahir

Lebih dari 100 miliar sel otak sudah dimiliki bayi sejak lahir. Sel-sel ini membantu mengontrol fungsi-fungsi utama dalam tubuh misalnya pernafasan sampai dengan fungsi yang lebih kompleks misalnya fungsi intelektual.

Koneksi antar 100 miliar sel ini akan terjadi sepanjang masa pertumbuhan anak. Koneksi terjadi saat anak mengalami sesuatu yang baru dengan melibatkan indera mereka. Seperti menimang, berbicara, senyum, serta memperkenalkan bayi pada pandangan, bau, dan rasa baru. Semakin banyak pengalaman ini diulang, maka semakin kuat koneksi yang terbentuk. Tentu saja hanya pengalaman positif yang membantu perkembangan otak anak, sedangkan pengalaman negatif dapat menyebabkan masalah emosional, perilaku, dan pembelajaran. Pada sekitar umur 3 tahun, koneksi antar sel ini paling banyak terjadi.


Tahap-tahap perkembangan otak anak

Inilah masa-masa perkembangan otak anak yang bisa kita manfaatkan untuk memaksimalkan perkembangan kecerdasannya:
  • Perkembangan motorik : selama kehamilan sampai dengan 5 tahun
  • Perkembangan emosional : sejak lahir sampai 2 tahun (paling sensitif adalah antara 10-18 bulan)
  • Penglihatan : sejak lahir sampai 2 tahun (terutama antara 2-4 bulan dan 8 bulan)
  • Kosa kata : sejak lahir sampai 3 tahun (terutama antara 6-12 bulan)
  • Bahasa kedua : antara 6-10 bulan
  • Logika / matematika : sejak lahir sampai 4 tahun
  • Musik : sejak lahir sampai 10 tahun

Nah kalau sudah mengetahui masa-masa perkembangan otak anak, kita bisa memberikan pengaruh positif pada setiap tahap tersebut supaya anak menjadi lebih cerdas. Misalnya, untuk mengajarkan banyak kosa kata dan kemampuan bahasa, lakukan pada usia 6-12 bulan dengan mengajak anak bicara walaupun mungkin ia belum mengerti. Ini  cara paling ampuh untuk merangsang perkembangan bahasanya.


Pun saat memilih mainan untuk anak. Kita bisa memilih yang sesuai dengan setiap tahap perkembangannya agar bisa merangsang perkembangan kecerdasannya, motorik, emosional, serta logika.

Monday, 16 October 2017

Monday, October 16, 2017 10

5 Tips Memilih Sepatu Pria yang Tepat dan Nyaman

Dua tahun lalu saya bingung milih kado buat ulang tahun suami. Pas saya ingat sepatu sandalnya sudah agak kusam, jadi kepikiran deh belikan dia sepatu sandal aja. Sayangnya begitu sampai department store pun masih bingung haha. Karena banyak banget sepatu sandal yang tersedia dan bagus-bagus. Sembari mengingat-ingat selera suami, saya pilih salah satu sepatu sandal warna hitam.

Begitu hari H, dan dia menerima kadonya... Jeng jeng ternyata dia kurang suka! Mana ukurannya nggak pas. Hiks sedih. Untungnya sih bisa ditukar. Jadi begitu tahu dia nggak suka, ya saya langsung tukar dong. Dan suami minta ditukar sepatu kerja aja haha.Ya sudah saya belikan dia sepatu kerja warna hitam. Alhamdulillah, dia suka. Karena sebelumnya sempat saya tanya-tanya dulu mana yang dia sukai kekekek 😂
credit: MatahariMall

Meskipun sepatu pria kadang terlihat sama a.k.a gitu-gitu aja, tapi ternyata ada tipsnya lho, bagaimana memilih sepatu pria yang nyaman.

5 tips memilih sepatu pria yang tepat dan nyaman:

1. Pilih sepatu yang tepat sesuai keperluan.

Kalau kata suami sih, sepatumu mencerminkan jiwamu. Jadi misal lagi pakai sepatu yang casual, jiwanya terasa lebih santai. Tapi kalau sepatu pantofel, jiwanya terasa gagah. Haha iya emang ya? Tapi di balik itu, seorang pria pun harus menyesuaikan penampilannya dengan keperluan. Kalau kerja di tempat formal, ya pakailah sepatu kerja atau pantofel. Kalau acara santai, pakailah sepatu casual. Demikian pula saat olahraga, pakailah sepatu yang memang khusus untuk olahraga. Jangan terbalik-balik yaa 😁

2. Harus pas dengan ukuran dan kenyamanan. 

Kaki termasuk salah satu anggota tubuh yang penting. Maka memilih alas kaki yang pas dengan ukuran dan kenyamanan adalah suatu keniscayaan. Agar aktivitas kita tetap berjalan dengan lancar. Tanpa merasa kesakitan dengan ukuran sepatu yang sempit atau kelonggaran karena kebesaran. Pun tidak nyaman. Jadi singkirkan dulu deh yang namanya gaya-gayaan. Kalau gaya tapi tidak pas dan nyaman, buat apa?

3. Pilih warna netral.

Ada warna yang kadang tidak cocok untuk dipakai sesuai warna kulit atau untuk pakaian tertentu. Mau main aman? Pilih saja warna netral 😁 Seperti hitam dan cokelat. Mau dipakai untuk warna kulit dan pakaian apa saja, kedua warna ini pasti masuk deh.

4. Material harus bagus.

Apapun jenis sepatunya, material yang dipilih harus berkualitas. Ya meskipun kadang memang harus merogoh kocek yang agak dalam. Tapi demi kenyamanan, nggak ada salahnya juga kan ya 😊 Kualitas ini juga akan berpengaruh pada awet dan tidaknya sepatu. Kalau berkualitas dan mahal tapi awet, lebih bagus kan. Daripada murah, tapi kualitasnya kurang yang membuat kita harus beli sepatu lagi.

5. Setiap jenis sepatu memiliki cara perawatan masing-masing.

Setelah memilih sepatu yang tepat, maka langkah selanjutnya adalah merawat sepatu tersebut agar tetap awet.  Semakin sering kita gunakan sepatu, maka harus lebih sering merawatnya. Seperti membersihkan sneaker cukup mudah karena bahannya dasarnya terdiri dari karet, dan kulit sintetis.

Lalu merawat sepatu kulit maka yang kita butuhkan sikat yang terbuat dari karet dan cairan pembersih khusus karena tidak boleh dibesihkan dengan air.  Bila ada kotoran yang membandel kita bisa memakai semacam kapur khusus untuk mengangkat kotoran tersebut. Dan perawatan ini harus dilakukan secara rutin agar tetap terjaga kelenturan kulitnya. Bila sedang tidak dikenakan, kita bisa menggunakan shoe tree, semacam penyumpal berbahan kayu/plastik yang di masukkan ke dalam sepatu.


Nah, itulah 5 tips memilih sepatu pria yang tepat dan nyaman. Bagaimana? Jadi, mau sepatu yang seperti model apa nih? 😊

Wednesday, 11 October 2017

Wednesday, October 11, 2017 20

5 + 1 Alasan Mendadak Susah Menulis

Akhir-akhir ini saya ngerasa apa banget deh. Pengennya blog update terus, tapi kok ya susah banget buat nulis. Entah apa yang saya pikirin. Padahal di rumah udah nggak sibuk-sibuk banget karena ada asisten. Lagi nggak ada problem yang berarti juga. Jadi harusnya kalau disimpulkan sebenarnya saya baik-baik aja kan. 
via Pixabay
Akhirnya Jum'at minggu lalu, saya bikin survey kecil-kecilan lewat status Facebook. Karena saya banyak berteman dengan teman-teman blogger atau penulis, saya iseng tanya ke mereka, "apa yang biasanya menyebabkan mereka mendadak susah menulis?" Ternyata dari jawaban yang terkumpul sebagian besarnya itu emang bener banget. Bahkan pernah saya alami juga. Jadi deh, dari sini saya malah dapat inspirasi buat nulis hehe. Makasih teman-teman 😁

Nah kira-kira apa aja sih yang bikin blogger atau penulis suka mendadak susah nulis?

5 + 1 alasan mendadak susah menulis

1. Malas, tidak mood.

Ini kayaknya sih udah jadi alasan klasik bin nomor wahid ya. Rasa malas atau tidak mood itu memang pengaruh banget kemana-mana. Termasuk untuk urusan menulis. Kalau lagi mengalami keduanya tuh, kayak seakan susah banget mau nuangin kalimat yang ada di otak ke tulisan. Alhasil, karena susah, timbulnya jadi nggak nulis. Bilangnya, "ah ya udahlah lagi males, nggak mood. Ntar aja nulisnya." Hayo, siapa yang begitu? 😁

Saya pernah dikasih tahu, orang-orang yang memang kerjaannya atau pencarian nafkahnya lewat nulis, nggak bisa tuh mengandalkan rasa malas atau mood buat nulis. Malas nggak malas, mood nggak mood ya mereka harus tetap menulis. Kalau mereka nggak nulis, mau dapat penghasilan dari mana? Nah mungkin kita bisa belajar dari orang-orang ini. Ya semacam menanamkan pikiran "lu harus tetap nulis apapun keadaannya." *ketok kepala sendiri* 

Tapi kalau kita merasanya ya nulis itu cuma suka-suka alias buat having fun atau sampingan aja ya sah-sah aja sih buat malas atau nggak mood hehe. Tapi jangan kelamaan juga, kasihan nanti keahlian nulisnya jadi berkurang *eeh - ngomong ke diri sendiri 😞

2. Urusan anak dan domestik rumah tangga.

Ini terkhusus untuk emak-emak yaa. Seringkali mendadak susah nulis gara-gara kerjaan rumah belum kelar. Cucian masih menunggu, setrikaan menumpuk, lantai belum dipel, dan segudang kerjaan lainnya. Eeh belum lagi anak masih menyusu, masih main dengan riangnya, bikin emaknya jadi senewen kalau dipaksa nulis *hihi. 

Ya udah terpaksa kalau udah begitu harus nunggu si anak tidur dulu. Tapi kalau soal kerjaan rumah ya tinggal dilihat aja konteksnya. Lebih penting mana nulis dengan urusan rumah? Kalau sekedar nulis buat sampingan ya urusan rumah aja dulu kelarin. Tapi kalau nulis emang penting apalagi buat cari nafkah ya tunda aja dululah, atau delegasikan kerjaan yang bisa didelegasikan *eeh 😁

3. Beban hidup: stres, capek.

Mana enak sih nulis dalam keadaan lagi stres atau capek? Nggak enak ya kayaknya. Jadi rasanya wajar aja kalau ide kita jadi mandeg. Kemudian rasa malas jadi menjelang. Kalau udah begitu bawaannya pengen istirahat aja, piknik ke tempat-tempat liburan yang seru, atau menenangkan pikiran dengan cara lain. 

Tapi sebenarnya kalau stres itu, malah bisa kita terapi dengan nulis lho. Karena nulis seringkali juga bisa menenangkan pikiran 😁

4. Kurang bahan riset.

Apalagi nulis buat hal yang penting. Kayak job, nulis buku, atau pun lomba misalnya. Tentu saja nggak bisa sembarangan. Harus riset dulu supaya tulisannya bisa lebih matang. 

Nah kalau bahan riset kurang, wajar kalau jadi merasa mendadak susah nulis. Karena pasti kita kepikiran kalau tulisan banyak kekurangannya, otomatis tulisan yang dihasilkan pun jadi nggak maksimal kan. 

5. Terlalu banyak yang dipikirkan dalam artian: bagaimana ya kata-katanya, ada yang baca nggak ya, dll. 

Kalau ini bisa dibilang semacam kekhawatiran yang berlebihan kali ya 😁 Duh kira-kira tulisanku bakal bagus nggak ya? Ada yang baca nggak ya? Gimana nih merangkai kata-katanya? Gini atau gitu? Endebrei endebrei. Akhirnya nggak jadi nulis deh *eeh 😂

Padahal kalau kata Bunda Asma Nadia, "tulis aja dulu, edit belakangan." Saya pernah praktekkin nih. Apa yang ada di kepala, saya tuangin aja terus. Tanpa lihat gimana rangkaian kalimatnya. Apa ada yang typo atau enggak. Pokoknya nulis sampai selesai. Ya bener sih, hasilnya tulisan jadi berantakan haha. Tapi lebih baik begitu. Karena akhirnya kita menghasilkan sebuah tulisan. Dibanding kita terlalu memikirkan editing sejak awal, justru bikin tulisan jadi tertunda-tunda. 

Kalau soal ada yang baca atau enggak sih, woles aja. Balik lagi, lihat dulu konteksnya, nulis buat apa. Kalau penting ya memang harus diperiksa berulang-ulang. Tapi kalau sekedar buat curhat di blog personal, ya publish aja dulu hehe. Karena percayalah, setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri *uhuk. 

6. Alasan-alasan lainnya: koneksi buruk, sudah lewat deadline, perangkat (laptop, hp, dll) rusak, kurangnya baca buku, dsb.

Sinyal jelek, deadline udah lewat, laptop rusak, hp nggak bisa diharapkan yauda kelar hidup lo euh jadi mendadak susah deh buat nulis. Ujung-ujungnya malas lagi, ketunda lagi 😂

Saya juga pernah mengalami tuh. Lagi enak-enak nulis di blog, eh WIFI di rumah mendadak mati. Ya udah alhasil tutup laptop, tulisan nggak kelar. Padahal kalau niat ya bisa kan dilanjutkan via handphone pakai paket data, tapi ujung-ujungnya ya apalagi kalau bukan MALAS karena sayang kuota 😂

Dan kurang baca buku itu juga pengaruh banget deh. Saya ngerasain, pas kurang baca, jadi seperti kurang peka, perbendaharaan kata pun seperti nggak ada perkembangan. Makanya, sekarang saya mau mulai rutin baca buku lagi. Setidaknya supaya ingatan saya juga tidak melemah 😁 Memang sih, seorang blogger yang kerjaan utamanya menulis ya tentu saja harus tetap rajin baca buku. Supaya tulisan yang dihasilkan pun tidak monoton.

Selanjutnya alasan-alasan yang nggak bisa diprediksi. Situasi yang tidak mendukung.  Kayak misal lagi enak-enak nulis, eh anak bangun, eh tetangga manggil minta tolong, eh hujan - cucian belum diangkat, mendadak ada amanah baru yang lebih penting dan harus ditunaikan, atau segudang alasan lainnya yang nggak bisa ditunda 😂 Ya sudah pekerjaan menulis pun harus dikalahkan dulu deh untuk sementara waktu 😂


Yah begitulah hidup *eh. Ada aja halangannya bahkan dalam urusan tulis menulis. Jadi harus dilihat dulu, apa alasan yang bikin kita mendadak susah nulis? Apakah alasan itu penting atau tidak? Apakah hanya karena ego pribadi atau karena urusannya memang urgent? Dan mau sampai kapan kita berhenti menulis? Itu juga bisa dipikirkan. Intinya sih, kembali lagi pada urgensi menulis kita 😊

So, mana nih alasan susah menulis yang pernah kamu alami? Kalau saya kayaknya hampir semua pernah mengalami alasan-alasan di atas 😂

Sunday, 8 October 2017

Sunday, October 08, 2017 10

Sahabat Terbaik

Sohibunnisa, sahabat wanita. Terjemahan yang sebenarnya agak asal-asalan kayaknya 😂 Tapi ya nggak beda jauh juga sih dengan di Al-Qur'an. Karena di Al-Qur'an sendiri ada kata Sohibbah, yang kalau diterjemahkan artinya istri. So, mari kita samakan saja persepsi bahwa Sohibunnisa itu memang Sahabat Wanita. Bukan istri lho ya. Lebih ke ya "sahabat buat wanita" gitulah ceritanya 😂

Mungkin saya udah berkali-kali cerita tentang Sohibunnisa. Jadi nggak perlu saya ceritain lagi lah ya. Intinya nama Sohibunnisa ini adalah semacam nama 'genk' antara saya dan salah satu sahabat. Yang mana eeeuuung... sekarang kayaknya kami sudah tidak layak disebut sahabat lagi hehe 😊

Gini, jadi sebenernya saya terinspirasi dengan postingannya Mbak Annisast tentang Pertemanan Orang Dewasa. Yang kalau kata Mbak Annisa tuh semakin dewasa, semakin dikit teman-teman kita. Ya emang bener sih. Saya juga ngerasain banget! 

My husband is my BEST friendship

via Pixabay
Sahabat saya sekarang ya cuma suami tok. Udah. Bahkan keluarga kayak misal orang tua, kakak-kakak, adik pun, ngerasanya nggak gimana-gimana banget. 
Karena definisi sahabat versi saya adalah sahabat itu ada di dalam segala suka duka dalam waktu 24 jam. Yang kalau kita mau cerita ya cerita aja. Tanpa harus takut dimarahi, tanpa harus takut dihakimi, tanpa harus dibuat malu, tanpa mikir waktunya, tanpa mikir dimananya, ya or all about it lah pokoknya. Dan semua itu ada di SUAMI aja.
Kalau keluarga kan beda ya. Ada kalanya masih ada hal-hal yang nggak perlu kita omongin hehe. Kayak misalnya masalah dengan suami atau keluarga kecil kita. Pasti nggak semualah bisa diomongin karena nggak layak juga. Jadi balik lagi kan, setelah menikah, siapa lagi yang bisa jadi teman setia kita selain suami dan anak (mungkin?)

Itu saya lho ya nggak tau Mas Anang 😂

Jadi kalau ditanya apakah saya benar-benar nggak punya sahabat selain suami? Ya iya. Saya nggak punya sahabat wanita apalagi laki-laki di luar. 

Kita hanya 'teman biasa'

Trus masa lalu, semisal masa sekolah atau kuliah, yang dulu pernah saya sebut sebagai sahabat gimana? Ya sorry to say, kalau sekarang saya hanya menganggap mereka teman biasa aja. Karena lihat lagi paragraf di atas arti sahabat versi saya hehe. 

Yes, yang bisa jadi teman-teman saya mungkin banyak. Tapi sahabat saya cuma satu. Saya mau ngapain lagi cerita ke orang, kalau di rumah sudah ada yang bisa menampung segala cerita dan keluh kesah saya *uhuk. Buat apa lagi saya punya sahabat di luar, sementara saya punya orang yang selalu siap menyediakan pundaknya untuk bersandar *ciye. 

Maka jujur, salah satu alasan dulu saya ingin menikah muda adalah karena saya kepingin itu semua. Saya kepingin punya sahabat yang bisa jadi segala-galanya buat saya 🙈🦎

Kalau saya mengandalkan orang luar, itu sangat tidak mungkin karena mereka pasti juga punya kesibukan. Yang sewaktu-waktu bisa aja mereka tidak bisa hadir untuk saya atau ada perpisahan yang mendadak misalnya. 

So, apakah saya menyesalkan kalau 'nggak punya sahabat' dari luar? Ya enggak sama sekali. Sebab saya sudah paham sekali. Bahwa ini memang sudah fasenya. Saya sudah dewasa sekarang. Sudah menikah. Sudah beda dengan saya yang dulu dari mulai penampilan sampai topik pembicaraan. 

Well, pada akhirnya saya bersyukur karena punya suami yang nggak hanya berperan sebagai imam, pencari nafkah, atau ayahnya anak-anak saya. Tapi beliau juga bisa menjadi sahabat TERBAIK bagi istrinya. 

Oh, thankyou my husband :*

Kalau kamu, siapa sahabatmu? Cerita dong! 😊

Sunday, 1 October 2017

Sunday, October 01, 2017 13

Liburan ke Tempat Wisata Alam dan Edukasi

Happy weekend teman-teman! 🙆 

Pada jalan-jalan kemana hari ini? Ke mall, ke kebun binatang, ke tempat-tempat seru di kota kalian, atau ke mana? Wah seru yaa.  Atau jangan-jangan lagi di rumah aja? Nggak apa-apa juga kok. Kalian bisa memanfaatkannya dengan baca postingan blog saya hehehe 😁

Yang bingung mau ngapain lagi kalau weekend, baca aja postingan Mak Utie tentang Weekend Bersama Keluarga. Emang sih nggak ada yang bisa menandingi bahagianya liburan bareng keluarga. Mau kemana aja, asal sama keluarga kayaknya asyik aja *tsah. 
Emir dan ayah naik gajah 😁
Saya sendiri hari Sabtu minggu kemarin liburan ke Kebun Binatang sama suami dan anak-anak. Hitung-hitung sekalian mengenalkan binatang-binatang ke Emir. Secara memang di rumah, kami sudah sering ngajarin nama-nama binatang ke dia. Dan kebetulan saya pun belum pernah ke Kebun Binatang Surabaya hehe. 

Saya memang lebih seneng jalan-jalan di tempat terbuka gini. Selain murah, suasananya lebih alami. Plus nambah pengetahuan karena biasanya di tempat hiburan semacam kebun binatang gitu dipasang plang yang menjelaskan asal usul atau perkembangbiakan hewan-hewan. Yaa meskipun seusia Emir dan adiknya belum ngerti. Tapi minimal dengan mengajak mereka ke tempat terbuka, mereka jadi punya pemandangan baru.


Liburan alam dan edukasi, perluas pandangan dan pengetahuan

Selain kebun binatang, wisata yang bisa nambah pengetahuan biasanya museum, tempat-tempat bersejarah, atau wisata alam seperti kebun buah, air terjun, taman-taman yang mana biasanya mereka juga menyediakan plang berisi tulisan yang bisa nambah pengetahuan kita. 

Dengan begitu, liburan jadi nggak sekedar hiburan. Tapi kita juga bisa mengajarkan anak-anak terutama untuk mengenalkan mereka untuk menambah pengetahuan baru. Nah dengan cara bermainlah biasanya pengetahuan itu lebih mudah masuk untuk anak-anak. 

Ini saya pelajari dari orang tua saya. Nggak sekali dua kali mereka sering ngajak saya, kakak-kakak dan adik ke tempat-tempat yang emang cocok buat wisata anak-anak. Biasanya kami dibawa ke museum, tempat-tempat terbuka, atau pun tempat bersejarah. Bahkan waktu zaman SMK saya dan teman-teman juga suka main ke Kota Tua di Jakarta 😁

Makanya, nggak heran kalau sampai dewasa sekarang, saya jadi kebawa suka sama tempat-tempat yang berbau edukasi dan alam 😁 Alhasil, saya juga pengen menurunkan itu ke anak-anak saya 😁

Bersyukurnya, semakin ke sini semakin banyak wisata yang berbau edukasi dan alam gitu. Kayak di Surabaya aja, selain Kebun Binatang misalnya ada Tugu Pahlawan, Monumen Kapal Selam, Taman Mangrove, Kebun Bibit, dan masih banyak lainnya 😊 

Jadi deh, kita nggak perlu bingung lagi mau kemana. Karena tempat wisata sekarang sudah menjamur di setiap kota 😁

Nah kalau teman-teman, sukanya liburan kemana nih? 

Wednesday, 20 September 2017

Wednesday, September 20, 2017 30

Dari Ngeblog, Aku Belajar 5 Hal Tentang Kehidupan

Dari ngeblog, aku belajar 5 hal tentang kehidupan. Judul yang sebenarnya nggak jauh beda dan terinspirasi dari postingannya Mbak Carra tentang 5 Pelajaran tentang Hidup yang Saya Pelajari dari Aktivitas Blogging.
via Pixabay
Kadang nggak nyangka kalau saya bisa bertahan ngeblog sampai sekarang. Padahal dulu sempat ragu, apakah setelah menikah dan punya anak, saya masih bisa tetap ngeblog? Ternyata, ya ini. Saya masih bisa ngeblog! 😊 Bahkan setelah punya dua anak.
Tapi tekad memang tekad, kalau sudah kuat rasanya sulit dipatahkan. Kecuali diri sendiri yang membuatnya putus asa.

Suka duka ngeblog, yang memberi aku 5 pelajaran tentang kehidupan

Selama hampir 5 tahun ngeblog, tentu saja banyak suka dukanya. Suka karena lancar menulis, banyak inspirasi bertebaran, menang lomba, dapat job, bisa kenal banyak teman, dan sebagainya. Duka karena tidak ada ide, kalah lomba, dan sebagainya yang saya lupa.

Makanya, berulang saya bilang kalau saya bersyukur banget bisa kenal blog. Sebab ia bukan sekedar tempat menulis, mencurahkan hati, atau apapun. Tapi juga memberi makna yang lebih dalam pada saya. Dan darinya saya banyak mendapat pelajaran yang berkaitan dengan kehidupan.

1. Konsistensi

Semula saya tidak pernah meniatkan untuk rutin menulis dan memasang motto one month min. one post. Tapi lupa kapan tepatnya, begitu melihat setiap bulan saya menulis, saya jadi bertekad untuk konsisten supaya setiap bulan bisa menulis walaupun hanya satu tulisan.

Saya pernah main ke blog orang - yang sebenarnya tulisannya bagus - tapi sayang dia tidak konsisten, disitu saya merasa ada yang kurang. Entahlah, seperti ada yang aneh saja kalau bolong-bolong. Apalagi kalau dia memasang hirarki bulan di blognya (yang otomatis akan ketahuan kapan saja dia menulis). Yaa meskipun blog buku saya juga bolong sekarang huhu 🙈 Makanya, saya masih punya tekad, untuk blog ini dan Celoteh Bunda harus tetap rutin. Apalagi kan temanya keseharian banget. Beda dengan blog buku yang harus mereview dan itu butuh waktu yang nggak sebentar.

Konsistensi kedua adalah terkait event blogging dan sponsored post. Saya itu menanamkan banget dalam diri supaya jadi orang yang nggak plin plan. Maksudnya, misal kalau saya sudah milih ikut suatu event blog entah online seperti kolaborasi blog, lomba, atau offline seperti hadir di acara, saya harus konsisten sampai akhir. Konsisten mengikuti aturan yang dibuat sejak awal. Sama halnya dengan sponsored post. Kalau saya sudah memilih menerima suatu job, ya harus konsisten buat nulis. Tepati deadline, jangan molor. Patuhi brief, dan syarat ketentuan. Pokoknya ya begitu. Intinya ikuti aturan yang telah disepakati dan jangan sampai putus di tengah jalan.

Sebab, bagi saya pribadi konsistensi ini juga sebagai bentuk rasa percaya orang lain akan kredibilitas kita. Tidak peduli itu dari brand besar atau bahkan teman-teman blogger sekalipun. Karena sekali kita menghilangkan rasa kepercayaan orang lain, orang bisa jadi akan kesulitan untuk bekerja sama dengan kita lagi. Dan sungguh, membangun kepercayaan itu mudah. Tapi ketika kita tidak bisa mempertahankannya, jangan harap orang bisa percaya seperti sedia kala *uhuk.

Baca: Menjadi Blogger yang Bisa Dipercaya

2. Tanggung  jawab

Nggak beda jauh dengan poin pertama dan masih terkait dengan rasa kepercayaan. Selain konsistensi, seorang blogger pun harus punya rasa tanggung jawab. Ya itu tadi, kalau kita sudah menentukan pilihan dan menyepakatinya, maka ya harus tanggung jawab dengan kesepakatan itu. Jangan tiba-tiba mundur di tengah jalan apalagi tanpa alasan yang jelas. Kecuali ada alasan udzur yang benar-benar udzur dan tidak terhindarkan. Tapi selama kita mampu, jangan sampai kita melepaskan kewajiban itu.

Sama seperti hidup kan. Segala sesuatunya kelak akan dimintai pertanggung jawaban 😇

3. Tidak bisa menyenangkan semua orang 

Ada kalanya orang suka dengan postingan saya. Ada kalanya juga tidak suka. Kadang setuju, kadang tidak. Memang begitu adanya. Sesempurna apapun kita berusaha, selamanya kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.

Sebab kita ini hanya manusia. Yang sudah pasti berbeda pemikiran. Yang banyak juga celahnya. Jadi kalau ada satu dua orang, atau satu dua kali postingan kita tidak disukai atau disetujui, ya sudah terima aja. Memang sudah alamiahnya begitu 😁

4. Berbagi itu indah

Dulu saya nggak pernah mikir statistik setiap mau nulis. Nulis ya nulis aja. Karena memang saya senang. Tapi justru dari beberapa tulisan yang menurut saya ala kadarnya itulah orang jadi banyak yang mengucapkan terima kasih. Banyak yang mendadak curhat. Sampai akhirnya saya tahu, oh berbagi itu indah ternyata. Kita nggak mikir apa-apa saat mau mengeluarkan, ikhlas aja kita nulisnya. Eh tapi ternyata orang malah berkesan. Orang malah terbantu masalahnya.

Jadi kalau sekarang saya kepikiran statistik, saya langsung ingat saat-saat itu. Kalau mau nulis ya nulis aja. Nggak ada yang ngelarang. Selama yang saya tulis tidak merugikan pihak lain dan melanggar aturan, ya tulis aja. Apalagi kalau itu memang sekiranya dibutuhkan banyak orang. Karena saya juga nggak mau jadi terbebani dengan statistik yang membuat saya sampai harus bingung mau nulis apa.

5. Sabar dan ikhlas

Kalau Mbak Carra bilang ngeblog harus ikhlas, itu benar sekali. Tapi tambahan dari saya, kalau ngeblog itu juga harus sabar. Apalagi kalau kita memang berniat benar-benar serius dan ingin mencari materi. Karena ngeblog itu juga nggak ada yang instan. Semua berproses. Ya proses membuat, menulis, sampai proses untuk mendapatkan penghasilan itu sendiri.

Sama halnya dengan kesuksesan, kita tidak bisa hanya melihat keberhasilan orang lain dari hasilnya, tanpa kita tahu prosesnya. Barangkali sebelumnya banyak hambatan, kegagalan, tapi karena bersabarlah maka mereka mau berproses sampai akhirnya berhasil.

Yang terakhir, ikhlas. Apapun yang kita harapkan, tidak semua bisa kita dapatkan. Demikian pula dalam dunia blog. Tulisan kita kalah lomba, kita tidak terpilih untuk mengikuti event atau job blogger tertentu, dan lain-lain. Maka di sinilah kita dituntut untuk bisa ikhlas. Karena hanya dengan ikhlaslah hidup jadi lebih tenang. Saat hidup tenang, kita tidak punya alasan untuk menyerah 😊

Ngeblog itu memang luar biasa. Mampu membantu meringankan beban dengan menulis. Mampu mendapatkan banyak relasi. Serta mampu mendapatkan penghasilan *eh. Dari kemampuan itulah, maka blog banyak memberi pelajaran yang berharga. Karena ia selalu berproses 😊

Kalau kamu sendiri bagaimana? Pelajaran hidup apa saja yang sudah kamu dapatkan dari ngeblog? Sharing yuk!