Friday, 17 February 2017

Berdebat? Jangan Sampai Jadi Masalah

Saya paling tidak bisa berdebat. Atau mungkin lebih tepatnya saya tidak suka berdebat. Sebenar apapun saya, saya tidak akan memperpanjang pendapat saya kalau berulang kali disanggah. Buat apa juga? Hehe. Menghabiskan waktu hanya untuk menguatkan pendapat kita sendiri di hadapan orang yang sulit menerima, rasanya jadi hal yang sangat percuma.
via Pixabay
Mungkin inilah yang membuat saya punya tipe plegmatis. Plegmatis sendiri adalah orang yang suka kedamaian, tidak suka kekerasan, dan cenderung menghindari konflik. Nyatanya memang begitulah saya :D Ya, saya adalah tipe orang yang tidak senang bermasalah. Saya cenderung menghindar kalau saya rasa situasi sudah tidak bisa dikendalikan. 

Memang, ada kalanya kita harus ngotot kalau kita benar. Tapi entah mengapa, tetap saja saya tidak bisa seperti itu hiks. Buat saya, sesuatu yang justru memunculkan konflik baru akan jadi hal yang sangat merepotkan. Apalagi kalau itu pada orang terdekat. Bukan tidak mau meluruskan yang salah, tapi kalau yang salah terus-terusan merasa benar, buat apa saya ngotot? Malas rasanya bertemu dengan orang yang paling merasa benar. Saya lebih baik mengalah untuk saat itu. Untuk kemudian kalau esok situasi dan hati orang yang merasa benar sudah lebih baik, barulah obrolan bisa dilanjutkan. Dan ini biasanya akan lebih sejuk dan bisa diterima. 

Ini pernah kejadian saat saya berdebat dengan ibu soal biang keringat pada bayi saat Emir masih sebulan dua bulan. Saya bilang jangan dipakaikan bedak atau bubuk apapun supaya biang keringatnya tidak bertambah parah. Tapi ibu tetap ingin memakaikan Emir bedak merek tertentu. Padahal bedak tersebut juga untuk anak di atas 3 tahun. Alhasil saat saya bawa ke bidan, benar saja. Bidan menyuruh untuk jangan dipakaikan bedak apapun. Barulah ibu bisa terima. 

Makanya, saya heran sekali dengan orang yang bisa kuat berdebat :D Kalau dalam acara debat atau lomba debat sih ya wajarlah ya. Tapi tidak wajar kalau berdebat hanya untuk sesuatu yang sesaat atau bahkan semu. Katakanlah soal hobi. Orang yang tidak suka nonton drama Korea tidak bisa menghakimi orang yang suka nonton drama Korea sebagai suatu hal yang negatif. Demikian pula sebaliknya. Orang yang suka nonton drama Korea, tidak bisa memaksa orang yang tidak suka untuk punya pandangan yang sama dengan dirinya. Sebab kalau sudah masuk ranah hobi, menurut saya tidak bisa digeneralisir karena semua pasti punya pendapat masing-masing. Intinya jangan sampai menghakimi atau masuk ke ranah perbedaan orang lain karena setiap orang punya pemikirannya sendiri-sendiri. 

So, sekali lagi, bagi saya debat tidak ada gunanya :) Kalaupun kita merasa benar dan sudah mengucapkan kebenaran, kebenaran itu akan terungkap dengan sendirinya tanpa perlu kita perpanjang. Karena semakin kita ngotot dengan pendapat kita, alih-alih kita sedang meluruskan orang yang salah, justru kebenaran itu akan jadi kabur karena cara penyampaiannya yang tidak baik. Yang lebih bahaya, kalau perdebatan tersebut hanya akan menimbulkan masalah baru dan malah merepotkan kita. Apalagi kalau sampai merusak persaudaraan atau persahabatan. Hiiy naudzubillah. Jangan sampai ah :)

10 comments:

  1. Setuju, Mbak. Aku paling nggak betah sama perdebatan. Ujung2nya diam, terus menangis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe kalo sampe nangis, udah kelewatan kali ya :(

      Delete
  2. Berdebat suh sah2 aja, asal nggak sampai bikin darah naik ke ubun2. :p

    ReplyDelete
  3. Iya ya, ngapainjuga debat kalo jadi masalah. Tapi sering di grup wa pada debat lama gitu gatau juntrungnya. Akhirnya biasanya ada satu yg keluar

    ReplyDelete
  4. saya lebih cenderung mengalah dan menghindari perdebatan. saya pikir debat ga ada untungnya, cuma bikin capek. mendingan kita duduk bersama, cari jalan keluar permasalahan. :)

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.