Wednesday, 22 February 2017

Ketika Tombol Share Lebih Mudah

Jangan Kebanyakan Share
👧: "Masa aku share gini aja, responnya nggak enak."
👦: "Emang ngeshare apa?" 
👧: "Share artikel parenting biasa kok. Nih baca deh." 
**Setelah dibaca... 
👦: "Nggak usah kebanyakan share."
👧: "Lho, aku kan ngeshare yang bagus - bagus aja. Ga pernah ngeshare postingan-postingan atau berita hoax." 
👨 "Bukan masalah hoaxnya, masalahnya orang itu udah kebanyakan informasi. Cukup setahun sekali aja ngeshare, atau sebulan sekali."
👧: "Aku ngeshare kan juga buat reminder ke diri sendiri." 
👦: "Kalo buat diri sendiri kan bisa disave." 
👧: "Ah, masa kayak gitu aja jadi masalah. Kalo ga suka ya skip aja. Ngapain dibaca." 
👦: "Ya sekarang dibalik. Apa susahnya buat Ade ga usah ngeshare?"
via Pixabay
Itu sekilas obrolan saya dengan suami minggu lalu. Saat saya tiba-tiba saja merasa 'diserang' karena 'salah ngeshare' di sebuah grup. Saya merenung. Salahnya dimana ya ngeshare yang bagus? Kan maksudnya juga baik, supaya orang juga bisa ambil manfaatnya. Kalau hanya saya simpan sendiri bukankah itu artinya saya egois? 

Tapi kemudian saya paham, media sosial ini memang bebas. Kita bisa berbagi apa saja di sini, tapi satu yang harus dipahami, bahwa tidak semua orang akan sepemahaman kita. Sekalipun itu baik menurut kita, belum tentu sama baiknya di mata orang lain.

Di sisi lain, tidak semua yang kita bagikan itu memang benar adanya. Katakanlah kasus yang baru kemarin mencuat tentang buku yang dikatakan buku anak dan memuat konten kurang pas untuk anak. Padahal, kalau mau diteliti lebih jauh, buku itu memang untuk dipelajari anak, TAPI HARUS dengan pendampingan orang tua. Sayangnya memang belum dicantumkan label bimbingan orang tua, dan untungnya buku itu sudah ditarik. Tapi sangat disayangkan, sebelumnya banyak orang yang keburu 'termakan' postingan dengan halaman buku yang sepotong, lalu tanpa pikir panjang langsung dibagikan begitu saja dimana-mana hiks.


Ketika tombol share lebih mudah

Memang tidak semua orang punya waktu untuk menelaah lebih jauh apa yang dibacanya di media sosial. Kebanyakan orang, atau mungkin juga termasuk saya (?) lebih cepat menekan tombol share ketimbang mencari tahu dulu benar atau tidaknya segala hal yang ada di sebuah postingan. 

Maka ketika tombol share lebih mudah, jadilah kita kebanjiran arus informasi. Apapun yang menurut kita bagus, apapun yang menurut kita informasi tersebut bermanfaat, langsung kita bagikan begitu saja. Tapi pertanyaannya apakah informasi yang kita bagikan sudah bisa dipertanggung jawabkan? Apakah orang-orang benar membutuhkan atau lebih tepatnya membaca semua informasi yang kita bagikan? 

Pernah kejadian, seorang teman suami membaca postingan yang dibagikan temannya. Setelahnya, teman tersebut mencoba memastikannya dengan bertanya langsung pada narasumber yang disebutkan di postingan tersebut, lhadalah ternyata narasumber malah mengaku tidak pernah berkata seperti apa yang sudah dikatakan di dalam postingan tersebut. Inilah yang tidak jarang terjadi. Kalau memang kita tidak bisa memastikan postingan dengan kata-kata "menurut penelitian, menurut dokter ini itu, menurut pakar, menurut siapa siapa" apakah benar yang dikatakan penelitian atau dokter seperti itu atau tidak apalagi dari sumber yang belum jelas, sebaiknya tahan dulu untuk membagikan.
Maka barangkali, sebelum menyuruh orang untuk menjaga, mungkin ada baiknya kita sendiri dulu yang menjaga. Menjaga jari untuk tidak cepat mengetik, menjaga jari untuk tidak cepat membagikan sesuatu. Dan menjaga diri agar tidak mudah terbawa perasaan atau emosi dengan postingan orang lain. 😁

Ya ya ya. Akhirnya kembali lagi, diri sendirilah yang jadi pengendalinya. Dan pada dasarnya memang kita tidak bisa menyenangkan semua orang alias tidak bisa menyamaratakan pemikiran orang.

So, jangan gegabah. Berpikir panjang. Dan akan lebih baik jika kita mau menelaah dulu apa yang kita bagikan. Bukan sekedar manfaatnya, melainkan setidaknya kita bisa mempertanggung jawabkan apa yang kita bagikan 😉

6 comments:

  1. Bener mbak..
    Saya juga jarang ngeshare2..apalagi klo nggak tau sumber tulisan dari mana. Biasanya yang sering jadi sasaran empuk grup WA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya. Grup WA itu banyak banget yang dishare hiks

      Delete
  2. aku pernah kliru share di grup. Yg di share bener sih, tapi tetep piye gitu rasane Mbak. Mulai skr jarang banget share2 yg nggak jelas. HArus yg bener2 valid

    ReplyDelete
  3. aku sudah mulai mengurangi share sekarang mbak, kalaupun mau share biasanya aku telaah dulu ini beneran apa cuma hoax, seperti khasus buku kemarin itu sayang sekali yah, langsung pada ngeshare tanpa tabyyun dulu

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.