Friday, 24 February 2017

Undzur Ma Qal, wa Laa Tandzur Man Qal

"Dia kan masih jomblo, tau apa tentang pernikahan?"

"Duh ibu baru kok sok tau banget, ibu yang anaknya 7 kan lebih berpengalaman."

"Pengantin baru kok sok-sok nulis tentang pernikahan."

Tuweewwww. Pernah nggak kita dengar kalimat-kalimat di atas? Atau kalimat lain yang serupa yang intinya, "kalau kita belum berpengalaman nggak usah ngomong deh, atau nggak usah nulis deh."? Memang sih, nyatanya kita pun sering kesal kalau ada orang yang 'di bawah' kita tapi kelihatan 'sok', dan menasihati kita. Tapi apa iya harus orang yang 'di atas' kita atau berpengalaman saja yang boleh berbicara dan menulis yang benar?
Undzur Ma Qal, wa Laa Tandzur Man Qal

Undzur ma qal, wa laa tandzur man qallihat apa yang dibicarakan, jangan lihat siapa yang berbicara.

Ada baiknya seperti itu. Kita memang dianjurkan untuk berbicara sesuai kapasitas dan keahlian kita, supaya terhindar dari berbicara yang kita belum ahli di dalamnya. Tapi saya jadi teringat satu ungkapan "Undzur ma qal, wa laa tandzur man qal" yang artinya, "lihat apa yang dibicarakan, jangan lihat siapa yang berbicara." Ya, tidak penting siapa yang berbicara, tapi yang kita lihat seharusnya "apa yang dibicarakan".

Seringkali kita masih melihat siapa yang berbicara. Kalau kita rasa dia pantas, kita anggap layak. Tapi kalau kita merasa dia belum pantas, kita justru menganggap kita hanya sedang 'dinasihati' oleh orang yang sok tahu dan bukan apa-apa. Padahal, kalau saja kita mau melapangkan hati sedikit, kita bisa mengambil pesan yang orang sampaikan walau mungkin 'derajat' usia dan pengalamannya belum di atas kita.

Terlebih di zaman serba canggih ini, ilmu dan teknologi sudah jauh lebih berkembang. Maka wajar jika kita menemukan banyak informasi, termasuk di internet. Maka untuk menimba ilmu pun sekarang sudah tidak perlu jauh-jauh. Bertebaran artikel tentang pernikahan, bertebaran artikel parenting, dan bertebaran artikel-artikel lainnya, yang semuanya bisa dibaca secara bebas. Bebas inilah yang membuat semua umur bisa membacanya.

Pertanyaannya, apakah selalu yang berpengalaman yang membaca? Tidak kan. Ada single yang rajin membaca artikel tentang pernikahan dan parenting, ada ibu baru yang rajin baca tentang tips-tips parenting bahkan sebelum anaknya lahir. Ketika si single menikah, maka wajar jika ia sudah tahu beberapa hal yang ada dalam pernikahan. Ketika anaknya lahir, wajar si ibu mengerti tentang cara mengasuh dan mendidik anak yang benar. Ya kira-kira seperti itu contohnya. Ditambah jika si single dan ibu tadi baca buku juga, maka semakin bertambahlah informasinya.

So, ketika misalnya si single dan si ibu tadi berbicara atau menulis tentang pernikahan dan parenting, tidak bisa juga dibilang 'sok tahu'. Mungkin mereka memang baru memasuki biduk rumah tangga dan menjadi ibu, tapi ketika mereka hanya menyampaikan informasi, sepertinya tidak ada yang perlu disalahkan. Karena biar bagaimana pun, informasi yang mereka sampaikan tidak mutlak salah, walaupun mereka memang belum berpengalaman.

Bayangkan saja bila yang terjadi sebaliknya. Mungkin pernah juga kita dianggap anak kecil atau orang yang belum mengerti apa-apa oleh orang yang lebih tua atau lebih berpengalaman di atas kita, itu saja pasti kita sudah merasa kesal. Kita berbicara kan juga berdasarkan apa yang kita tahu walau mungkin kita belum berpengalaman. Maka dari itu, kalau sampai kita mengeluarkan kata-kata yang merendahkan orang lain, bukan tidak mungkin orang yang direndahkan pun akan merasa kecil hati dengan pembicaraan kita.

Well, dari sini ada dua sisi yang bisa kita ambil. Pertama, walaupun kita belum berpengalaman, kita tetap harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang kita katakan. Menyebutkan sumber misalnya. Atau bisa juga dengan menerapkan semua yang sudah kita katakan alias membuktikannya. Agar orang yang kita beri informasi bisa lebih menghargai kita dan tidak menganggap kita hanya 'sok tahu' belaka.

Yang kedua, undzur ma qal wa laa tandzur man qal. Jangan sampai kita jadi tidak menghargai orang hanya karena merasa bahwa usianya di bawah kita atau belum berpengalaman. Sebab, siapa yang berbicara terkadang tidak begitu penting. Tapi bisa jadi apa yang dibicarakannyalah yang bisa memberikan kita informasi atau pengetahuan baru untuk kita :)

Wallahu a'lam bishshawab

5 comments:

  1. siapapun yg bicara, apapun yg disampaikan harus sesuai kenyataan dan fakta yg ada... kecuali ngarang2 hi2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu, makanya harus bisa dipertanggung jawabkan :)

      Delete
    2. Nah itu, makanya harus bisa dipertanggung jawabkan :)

      Delete
  2. Kadang hal itu yang membuat yang "muda" itu minder mbak... kurang asam garam katanya. Hehe. Saya sih lebih memilih menjalani dulu, dan bicara sesuai yang saya jalani, walau misal saya tau sesuatu yang belum saya jalani dr "pengalaman" di buku, tp lebih memilih keep silent, bicara kalau dimintai pendapat aja. Hahaha

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.