Friday, 17 March 2017

Gunakan Kacamata Orang Lain

Saya tergabung dalam suatu grup, dimana anggotanya ada puluhan orang. Sering kita saling berbagi, saling bertanya atau sekedar berbincang santai.

Semakin kesini, saya mulai terganggu dengan satu orang. Di mata saya, dia selalu berkata-kata yang tidak enak. Sering sekali kata-katanya terasa menghakimi anggota lainnya. Oke, fine, saya masih berpikir bahwa hanya saya saja yang merasa. Dalam pikiran saya, barangkali memang begitu sifatnya. Dan anggota lain sudah memakluminya.

Baca: Ketika Tombol Share Lebih Mudah

Tapi ternyata ada beberapa anggota lain yang saya lihat sering tersindir dengan perkataannya. Oh, rupanya memang bukan saya saja yang merasa. Sampai-sampai ada satu orang yang selalu berani mengingatkan dia supaya lebih berhati-hati dalam berucap. Sayang, pada kenyataannya dia tidak pernah merasa dirinya bersalah. Artinya apa? Dia MASIH MENGGUNAKAN KACAMATANYA SENDIRI. Dia selalu merasa bahwa orang lainlah yang mudah tersindir, mudah baper. Astagfirullah.
via Pixabay
Di sinilah kalau kita tidak pernah menggunakan kacamata orang lain. Tidak pernah memosisikan diri kita sebagai orang lain. Seterusnya kita akan selalu merasa benar, meskipun sudah ada yang mengingatkan bahwa sikap kita salah. Begini jadinya kalau kita SELALU MENGGUNAKAN KACAMATA DIRI SENDIRI.

Memang, bahasa tulisan itu rawan salah paham sekalipun sudah ada emoticon. Dan semua dikembalikan lagi ke diri sendiri bagaimana menanggapinya. Tapi, tidak semua orang bisa berpikir sama. Wajar kalau kita berbeda. Pun soal hati dan pikiran yang juga tidak bisa disamakan.

Maka sesekali, cobalah untuk menggunakan kacamata orang lain. Apakah yang kita katakan sudah baik? Apakah yang kita katakan tidak menyinggung perasaan orang lain? Sekali lagi, coba posisikan diri kita sebagai orang lain. Karena ketika kita mencoba untuk menjadi orang lain, maka kita lebih bisa merasa, menimbang, apakah semua yang kita katakan sudah tepat atau belum? Atau minimal tidak menyakiti hati orang lain?

Jangan sampai kita keasyikan memakai kacamata sendiri, sampai lupa memikirkan orang lain. Percayalah, kita ini masih makhluk sosial. Makhluk yang akan selalu membutuhkan orang lain. Bila orang lain sudah tergores hatinya, lantas ia berdo'a, maka sama saja dengan do'a orang terzalimi. Kita tahu bahwa do'a orang terzalimi adalah salah satu do'a yang mudah dikabulkan. Bagaimana jadinya bila yang mendo'akan bukan satu dua tiga orang? Naudzubillah.
Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

اِتَّقِ دَعْوةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”. [Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38]
Dari Abu Hurairah bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah bersabda. 


دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ مُسْتَجَابَةُ وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا فَفُجُوْرُهُ عَلَى نَفْسِهِ
“Doanya orang yang teraniaya terkabulkan, apabila dia seorang durhaka, maka kedurhakaannya akan kembali kepada diri sendiri”. [Musnad Ahmad 2/367. Dihasankan sanadnya oleh Mundziri dalam Targhib 3/87 dan Haitsami dalam Majma’ Zawaid 10/151, dan Imam ‘Ajluni No. 1302]

Sumber: https://almanhaj.or.id/97-orang-orang-yang-dikabulkan-doanya.html
Mari, belajar menjadi bijak. Belajar menggunakan kacamata orang lain. Agar diri tidak menjadi jemawa, juga tidak merendahkan dan menyakiti orang lain 😊

2 comments:

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.