Sunday, 12 March 2017

'Kampanye' Nikah di Media Sosial?

Entah kenapa, sekarang banyak akun-akun dakwah yang sepertinya 'mengampanyekan' nikah. Bahkan ada beberapa akun yang secara khusus dibuat untuk full membahas nikah. Bagus sih, mungkin niatnya untuk menyadarkan para remaja supaya tidak pacaran. Terlebih di zaman yang semakin mengerikan seperti sekarang. Saat pacaran di usia sekolah sudah bukan hal yang tabu lagi. Saat mengungkapkan kemesraan pacaran di depan keramaian atau media sosial sudah jadi hal yang lumrah. Saat banyak akun yang justru mencontohkan bagaimana pacaran itu terasa menguntungkan. Naudzubillah. Maka menikah, dirasa lebih baik.
via Pixabay
Tapi, mengapa di sisi lain saya jadi khawatir ya....

Khawatir kalau anak muda jadi terhasut untuk cepat menikah sementara kesiapan belum matang. Apalagi jaman sekarang media sosial tidak hanya diisi dengan orang-orang dewasa, melainkan juga anak-anak yang masih sekolah. Lalu, kalau anak-anak sekolah itu memfollow akun tersebut, apa tidak jadi kepikiran nikah? Belum lagi dengan foto-foto yang menggambarkan "nikah itu asyik lho." Serta dibuatnya puisi-puisi nan romantis yang ditujukan untuk sang calon imam kelak. Bisa-bisa mereka bukannya mikir setelah lulus sekolah nanti mau kuliah dimana, mau kerja atau usaha apa, yang ada malah terbayang-bayang, "wah nikah itu enak ya." Alhasil lulus sekolah fokusnya malah mencari jodoh, aduh.

Menikah bukan hanya tentang itu

Padahal, menikah bukan tentang perkara menghindari zina saja. Seperti yang sudah saya tuliskan panjang lebar di sini. Menikah adalah menyatukan dua orang, dua keluarga besar, dan memasuki fase berumah tangga yang sangat complicated. Jadi bukan sekedar berhaha-hihi setelah resepsi. Bukan sekedar bermanja-manja dengan pasangan. Atau ya pokoknya bukan happily ever after lah. Nikah itu perlu belajar memahami perbedaan karakter. Belajar bagaimana jadi suami istri yang baik. Belajar bagaimana jadi menantu dan ipar yang baik. Bahkan belajar caranya mengurus anak dari hal sepele kayak cara menggendong bayi misalnya. Intinya menikah butuh banyak belajar.

Yeah, ini pendapat saya aja sih. Nikah itu tidak perlu dikampanyekan kok. Tapi cukup memberi masukkan untuk tidak pacaran aja. Tidak pacaran juga bukan hanya untuk menikah dan mendapatkan jodoh yang baik nantinya. Tapi juga membuat remaja jadi lebih fokus untuk mendalami bakatnya. Menggapai cita-citanya. Suatu hari, saya yakin remaja-remaja ini akan paham mengapa pacaran itu tidak baik. Terlepas dari ayat tentang zina, si remaja yang tidak pacaran juga akan menyadari bahwa mereka beruntung tidak mengotori dirinya dengan hal-hal yang semu.

Baca: Keuntungan Jika Kamu Tidak Pacaran

Pacaran dan zina memang semakin merebak, tapi bukan berarti kita bisa gegabah dengan memposting berbagai hal tentang pernikahan apalagi jika yang ditampilkan hanya 'enaknya' saja. Karena pernikahan bukan sekedar sah dan menghapus kata zina, melainkan juga untuk menguji kesanggupan dan menyempurnakan agama. Yang artinya tidak boleh asal-asalan karena kita juga harus mendalami agama dan ilmu pernikahan itu sendiri :)

10 comments:

  1. Menikah memang g kudu nunggu mapan tapi ada baiknya dipersiapkan dengan baik

    ReplyDelete
  2. Saya juga berpikir begitu, Mbak. Saya khawatir mereka menikah cuma karena termotivasi dengan status-status yang dibuat dari bagian 'kampanye' ini.

    Semoga kita semua terhindar dari hal yang tidak baik, dan hanya kebaikan yang selalu bersama kita. Amin..

    Salam hangat dari Bondowoso..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas, itulah yang ditakutkan.
      Aamiin

      Salam dari Surabaya

      Delete
  3. Wah aku barubtau, ada kampanyenya segala toh. Hmmm pdhl ya menikah itu ga semudah bilang i do ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan kampanye si Mbak, tapi secara tidak langsung seperti kampanye hehe

      Delete
  4. Terima kasih infonya mbak, benar banget apa yang mbak bilang, kampanye nikah di medsos tu juga banyak yang maksa-maksain diri untuk nikah, padahal sebenarnya belum siap, lain lagi yang bikin sakit hati ngelihat photo2 umbaran kemesraan pasca nikah, bikin yang lain urut-urut dada mengucapkan kata sabar, hingga sampai tiba pada waktunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, sayang banget kalau menikah jadi kehilangan esensinya :)

      Delete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.