Sunday, 27 August 2017

Sunday, August 27, 2017 16

Fake Account, Haus Perhatian?

Dari kecil saya suka banget mengkhayal. Mungkin kalo teman-teman pernah baca postingan Mentor Kehidupan, sudah tau hal ini hehe. Iya, dulu saya suka ngomong sendiri 😂 Tapi pas SD cuma sebatas itu aja dan semua khayalan itu cuma saya pendam sendiri. 

Setelah SMP saya mulai ngerti komputer, saya tulisin semua khayalan itu di komputer. Mungkin sejenis fiksi jadinya. Fiksi yang berisi semua hal yang benar-benar saya inginkan, tapi mungkin nggak bisa tercapai di dunia nyata. Yaa dengan kata lain saya mencoba mewujudkannya dalam bentuk tulisan. Yang setelah saya baca lagi, ternyata bisa bikin senyum-senyum sendiri hehe 🙈

Hal itu berlangsung sampai saya kuliah. Saya selalu menuliskan semua khayalan itu. Dan, ya udah sih cuma sampai di Ms. Word aja. Nggak pernah saya publish dimana-mana. Bahkan memang nggak ada satupun orang yang tahu tulisan-tulisan itu. Da malu saya mah 🙈
via Pixabay
Now... saya baru tau kalau ternyata ada yang seperti saya. Hanya saja bedanya dia berani mempublish keinginan (khayalan.red)nya itu di postingan media sosialnya. Jadi dia bercerita, seolah itu nyata dan bisa meyakinkan banyak orang bahwa itu memang kenyataan. Padahal sebenarnya itu nggak terjadi! Bahkan dia membuat akun palsu, pun kalau ada foto, bisa jadi itu foto yang dia curi dari akun orang lain hiks. 

Yap, itulah salahnya! Mereka tidak menyebutkan bahwa itu semua hanya cerita fiksi alias hanya khayalan belaka. Dan kejadian seperti ini sudah terjadi di beberapa akun media sosial. Bahkan pernah ada yang mengaku bahwa hal ini sudah sering terjadi. Huhu. Hmm entah fenomena apa namanya. Ada yang bilang kritis identitas alias seolah butuh pengakuan. 

Setelah diingat, rupanya saya pernah bertemu dengan orang seperti ini. Coba baca di Pria Palsu di Dunia Maya deh. Mungkin kejadiannya mirip. Dulu dia mengaku anak kuliahan di sekolah tinggi ternama. Bicaranya selalu tinggi dan yang bagus-bagus. Pokoknya segalanya terasa bisa dipercaya (buktinya saya kena dibohongin 😑). Sampai akhirnya saya tahu kalau ternyata semua yang dia katakan adalah BOHONG! Dia masih anak sekolah rupanya haha. Miris 😑

Haus perhatian? 

Saya mencoba memahami, kenapa orang-orang seperti ini ada? Bisa jadiiii, mungkin mereka kurang mendapat perhatian di sekitarnya, di dunia nyatanya. Jadi mereka mencari (semacam) pelampiasan untuk 'minta diperhatikan' dengan cara menulis atau mempublish hal yang terlihat WOW. Kemudian postingannya menjadi viral, dan dishare banyak orang. Memang, mungkin mereka tidak dapat apa-apa (materi.red), tapi rasa diperhatikan itulah yang jadi kepuasan terbesar mereka. 

Saya bukan ahli psikologi. Ini hanya analisa saya aja. Karena percaya atau tidak, kalau mau diakui, setiap manusia memang sejatinya mengharapkan perhatian. Perhatian itu bisa membuat kita merasa ada,  dihormati, dihargai, atau bahkan dibutuhkan. 

Kembali lagi, orang-orang yang 'berbohong' di medsos itu, bisa jadi tidak mendapatkan rasa perhatian itu di dunia nyatanya. Atau bisa juga mereka mengharapkan sesuatu yang lebih. Atau lagi hanya keisengan 'berhadiah' semata dan mereka puas sudah mendapat perhatian orang banyak. 

Ya gitu sih menurut analisa sotoy saya 😂

Sampai sini, poin yang bisa kita ambil, apapun yang terjadi di medsos tidak perlu semua kita percaya. Karena hoax memang sudah merajalela. Pun semua perilaku orang-orang tidak perlu kita seriusi. 

Dan satu yang pasti. Yang juga sering saya katakan. Bahwa kendali itu ADA di tangan kita sendiri. Khusus dalam kasus ini, kita mungkin nggak bisa membedakan mana yang asli dan palsu, mana yang benar dan bohong, maka waspada itu selalu perlu (dalam artian tidak percaya berlebihan pada manusia). Dan lagi yang terpenting, kita BUKANLAH pelaku dari pembohong-pembohong atau penyebar berita-berita hoax itu 😊 Karena siapa sih pembohong yang hidupnya bakal tenang? *eh. 

Ya intinya mah yang wajar-wajar ajalah. Nggak usah neko-neko. Toh media sosial itu semu kok. Karena balik lagi, kehidupan sesungguhnya ya memang di dunia nyata ini. Ye kan 😁

Friday, 25 August 2017

Friday, August 25, 2017 7

Sungguh, Kematian Begitu Dekat

Saya ingat sekali, kejadiannya waktu SD kelas 6. Saat itu bulan puasa dan masih masuk sekolah. Kebiasaan saya habis sahur dan sholat subuh tidur lagi (yaa, ini memang kebiasaan yang buruk -_-). Dan biasanya ayah ibu membangunkan saya jam 6 untuk mandi. Tapi entah kenapa waktu itu saya tidak dibangunkan. Entah mereka lupa atau memang karena mereka harus ke pasar.

Singkat cerita, karena tidak dibangunkan, saya baru bangun jam 6.45! Sungguh panik luar biasa. Cepat-cepat saya ambil handuk, mandi dan pakai seragam dengan tergesa-gesa. Rasa kesal pada ayah ibu dalam hati berkecamuk. Saat mereka baru pulang dari pasar, saya marah pada mereka karena tidak membangunkan saya.

Buru-buru saya ambil sepeda dan meninggalkan mereka tanpa pamit dan salam. Saya kebut sepeda dengan kecepatan tinggi. Begitu sampai di jalan raya dan mau nyebrang, tiba-tiba saja bunyi "tiiiiiiiiiiiiiinnnnn" dengan sangat keras. Sampai-sampai orang di sekitar langsung berhenti. Saya nyaris tertabrak! Tinggal sedikit saja mobil itu bisa mengenai sepeda saya dan mementalkan saya ke kejauhan. Tapi sungguh, Allah masih menolong saya. Untungnya pengemudi mobil itu dengan cepat menekan pedal remnya.

Dalam kekalutan, saya segera minta maaf dan kembali jalan ke sekolah. Hati saya benar-benar tidak karuan. Deg-deg jantung masih terasa. Wajah saya pucat pasi. Sampai-sampai wali kelas bertanya apa saya sakit atau tidak.

Sungguh menyesal rasanya. Pertama, saya meninggalkan rumah dalam keadaan marah dan tidak pamit pada ayah ibu. Kedua, akibat ulah tergesa-gesa, saya nyaris saja terserempet mobil dan bisa saja terpental. Ketiga, ngebutnya saya ternyata tidak berarti,  pasalnya begitu tiba di sekolah, ternyata murid-murid - baru berbaris dan belum masuk kelas, hiks.
via Pixabay
Saya tidak tahu apa jadinya kalau Allah tidak menolong saya saat itu. Apakah saya masih hidup sampai saat ini atau tidak. Yang jelas itulah kali pertama (dan semoga yang terakhir) saya merasa nyawa saya di ambang batas. Sungguh,  kalau dipikir sekarang, mati itu rasanya benar-benar dekat. Saya juga merasakan itu saat melahirkan. Rasanya sakit luar biasa. Saya hanya memohon pada Allah, bila sesuatu terjadi pada saya, Allah masih menyelamatkan anak saya. Masya Allah 😢

Belum lagi dengan beberapa kejadian di lingkungan terdekat sungguh menusuk nurani. Pagi terlihat sehat. Kemarin masih menyapa. Tiba-tiba esoknya dikabarkan sudah tidak ada. Subhanallah.

Maka benarlah jika dikatakan, apa yang paling dekat dengan kita bukan bayangan diri sendiri, melainkan ialah kematian. Sungguh, malaikat pencabut nyawa itu selalu ada di sekitar kita. Ia tinggal menunggu perintah dari Yang Kuasa. Kun fayakun. Dan sungguh, kematian adalah sebaik-baik pelajaran bagi kita.
اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِØ­ُسْنِ الْØ®َاتِمَØ©ِ
“Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah”

Wednesday, 16 August 2017

Wednesday, August 16, 2017 26

Gimana Sih Cara Menyikapi Media Sosial Saat Ini?

👧 "Yang, mobil Daihatsu yang kecil itu apa namanya ya?"
👨 "Ayla?"
👧 "Ah iya. Trus kalo bahasa inggrisnya pemandangan apa?"
👨 "View."
👧"Nah kalo mobil Daihatsu tadi sama bahasa inggrisnya pemandangan digabung jadi apa?"
👨 "Aylaview."
👧 "I love you too ayang."

Haha mungkin teman-teman udah nggak asing ya dengan gombalan yang lagi in tadi. Lucu nggak sih? Kalau menurut saya sih lucu 😂 Lebih lucunya banyak istri yang mencoba gombalan itu ke suaminya, lalu discreenshot dan diupload ke media sosial. 

Tapi beberapa hari kemudian ada yang menggelitik saya. Yakni salah seorang yang mengatakan bahwa tidak seharusnya percakapan suami istri tersebut diunggah ke media sosial. Karena dikatakan bisa-bisa memancing rasa cemburu akhwat (perempuan) lain. Bahkan bisa-bisa si akhwat minta dipoligami karena melihat suami dari si istri tersebut yang nampak kebaikannya. 

Aduh buyuuuung, kok saya malah jadi geli sendiri ya. Terlalu jauh nggak sih mikirnya? 😂 Apa lelucon receh kayak gitu harus banget ditanggapi serius? Bahkan nyasar-nyasar ke poligami segala? Okelah, kita memang nggak bisa membaca hati orang lain. Nggak bisa tahu dari postingan kita yang mana yang bisa menimbulkan rasa iri atau cemburu orang lain. Tapi cobalah untuk lebih rasional. Lebih santai memandang hidup *halah. Maksudnya, ini kan hanya media sosial dan sudah era nya orang banyak yang kreatif. Jadi, nggak perlu serius bangetlah ya 😊 
via Pixabay
Jadi, sebenarnya kita harus gimana sih menyikapi media sosial saat ini? Ini poin-poin menurut saya: 

💁Nggak perlu baperan

Si A posting status tentang blablabla. Lalu si B baca, dan merasa bahwa blablabla itu ditujukan untuk dirinya. Akhirnya merasa tersindir, lalu klarifikasi ke si A. Ternyata kata A, dia sama sekali tidak menyinggung B. Wah berapa banyak kejadian kayak gini? Atau mungkin kita sendiri pernah mengalami?  Kita merasa bahwa status dia menyindir kita, padahal tidak sama sekali. Artinya apa? Artinya memang kitalah yang seharusnya menjaga perasaan. Media sosial luas. Bukan hanya untuk kita saja. Kita tidak perlu merasa bahwa apa yang diposting orang lain hanya untuk membuat kita tersinggung, cemburu, iri, atau apapun.
Maka jika perasaan kita tiba-tiba kacau saat membaca suatu postingan, lebih baik alihkan perhatian pada hal lain dibanding hanya memikirkan media sosial yang sebenarnya tidak ada gunanya. Alih-alih peduli, malah bisa-bisa kita jatuh suudzon kepada orang lain. Duh, naudzubillah deh. 
Begitu pula dengan urusan follow, like, comments, add friends, tak perlulah diambil perasaan jika itu semua tidak kita dapatkan. Toh media sosial hanyalah dunia yang semu. Takkan kiamat jika kita tidak eksis di media sosial 😁


🙅 Nggak perlu membandingkan kehidupan kita dengan orang lain

"Hidup tak seindah instagram Andien dan Nia Ramadhani." Pernah dengar kalimat itu? Semoga kita bukan termasuk di dalamnya ya, bukan orang yang menganggap kehidupan para artis atau orang lain itu sempurna apalagi HANYA berdasarkan postingan-postingan di media sosialnya. Karena ya siapa juga sih yang mau menampilkan masalah pribadinya di media sosial (kecuali orang-orang yang pendek pikiran). Tentu saja lebih banyak orang yang memilih untuk posting sesuatu yang bahagia-bahagia saja. Jadi kita tidak perlu membandingkan bahwa hidup kita ternyata tidak sesempurna para artis atau orang lain. Tidak sesempurna orang yang bisa travelling kemana-mana dari postingan instagramnya. Karena percayalah, hidup itu punya nikmat dan ujiannya masing-masing. Dan media sosial hanyalah yang tampak karena kita tidak tahu kehidupan mereka sesungguhnya. So, bersyukur saja dengan hidup kita saat ini. Karena bisa jadi nikmat bagi orang lain, belum tentu nikmat bagi kita 😊


😂 Nggak perlu terlalu serius menanggapi sesuatu 

Ini yang saya bilang di awal tadi. Nggak perlulah kita jauh-jauh mengaitkan antara AylaView dan poligami. Duh. Jangan-jangan jika kita yang kaitkan, malah memancing rasa penasaran orang lain. Kok bisa ada yang minta poligami? Emang suaminya sebaik apa sih? Ih naudzubillah. Humor-humor receh yang sekarang banyak bertebaran saya rasa semata supaya hidup kita nggak tegang-tegang amat. Jadi sepanjang humor itu tidak melanggar syari'at, tidak mengandung kekerasan, SARA, dan pornografi, sepertinya sah-sah saja. Lagi pula kalau memang humor itu tidak sesuai prinsip kita, kita tinggal klik hide, unfollow, unfriend, atau blokir. Yap, sesimple itu dibanding ngajak orang mikir berat karena kita terlalu menanggapi serius segala postingan di media sosial. 


😉 Pikirkan setiap apa yang kita posting

Pada akhirnya sudah hukum media sosial bahwa kita sulit mengatur orang lain. Jadi yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri sendiri. Pikirkan setiap apa yang akan kita posting. Bagaimana positif negatifnya. Apa suatu postingan layak dishare atau tidak. Bagaimana dari segi manfaatnya. Intinya kendali itu ada di tangan kita, bukan orang lain 😊 Menasihati boleh, sepanjang kata-kata yang kita gunakan sopan, tidak menyindir dan tidak memaksa.

Well, bermedia sosial boleh. Hanya saja kita tetap harus bijak. Selalu ingat bahwa kita punya kehidupan nyata yang lebih penting. Jika kita merasa lelah bermedsos, mungkin saatnya kita taruh gadget, dan menghampiri orang-orang yang ada di sekitar kita 😊

Sunday, 6 August 2017

Sunday, August 06, 2017 12

5 Buah yang Paling Jadi Favorit Saya

Setelah dulu saya pernah post 5 Makanan yang Sulit Ditolak, sekarang saya mau cerita juga tentang 5 Buah yang sulit ditolak 😁  Yes, saya suka makan buah-buahan. Malah kalau bisa di rumah harus selalu sedia buah setiap hari. Selain bagus buat kulit, nambah asupan serat dan cairan, buah kan juga cemilan yang paling sehat ya 😊

Sebenarnya sih pada dasarnya saya suka semua buah, kecuali durian aja yang nggak suka sama sekali. Tapi untuk buah yang lain, terbilang biasa aja. Beda dengan 5 buah di bawah ini yang paling jadi favorit saya. Dan kalau sudah ada buah ini pasti sulit banget buat saya tolak. Bahkan mungkin sekalipun di rumah orang, kalau disediakan buah ini, bisa jadi saya nggak akan nolak 😂 So, apa aja sih? 

5 buah yang paling jadi favorit saya

🍍 Nanas
via Pixabay
Yuhhu... Buah warna kuning ini selalu jadi nomor satu buat saya 😍 Kalau ada rujak buah pun yang pertama saya cari ya nanas. Dan rasa buah nanas di minuman atau makanan juga saya suka. Sulit deh buat nggak makan buah ini kalau lagi ada. Rasanya yang asam manis, euh bikin saya ketagihan 😆 
Makanya saya sedih banget pas nggak dibolehin makan nanas di awal-awal hamil karena katanya panas dan bisa menyebabkan keguguran. Padahal saya percaya kalau semua buah pada dasarnya boleh karena banyak vitaminnya. Barangkali yang nggak boleh itu kalau berlebihan ya. Tapi ada bagusnya sih saya dilarang, soalnya bisa habis satu buah sendiri kalau saya makan nanas 😂 Sebelum lidah gatal, terus aja ngunyah nanas 😂 

😋 Duku
credit: http://manfaatnyasehat.com/manfaat-buah-duku/
Kecil bentuknya, tapi rasanya 😍 Apalagi kalau Duku Palembang tuh yang manisnya kebangetan, beuh bisa-bisa habis 1 kg sendiri sama saya 🙈 Pokoknya favorit banget deh sama duku. Meskipun tangan jadi lengket setelah makan, tetap aja saya suka 😆

🍇 Anggur
via Pixabay
Bukan anggur yang difermentasi lho ya. Jelas itu haram kalau dalam agama saya. Tapi ini murni buah anggur. Mau itu anggur merah, anggur ungu, anggur hijau, semua saya suka 😍 Sayangnya harga anggur ini memang mahal, jadi walaupun suka, agak jarang saya belinya. Padahal mah kalau ada, ya bisa habis banyak sendiri tuh 😅

😋 Manggis
via Pixabay
Buahnya putih. Lembut. Ada yang bijinya besar, kecil, atau nggak ada bijinya. Apalagi kalau bukan buah manggis 😍 Kalau lagi musim, susah deh nolak untuk nggak beli buah ini. 
Saya inget banget, dulu waktu kecil kalau mau makan buah ini mesti dijepit dulu pake engsel pintu biar kebuka kulitnya. Tapi sekarang mah ya pakai tangan aja 😅 Sayangnya sih, saya belum pernah nyoba ekstra kulit buah manggis yang jadi kabar gembira itu 😅

😋 Mangga harum manis
via Pixabay
Meskipun agak malas ngupas buah ini, tapi tetap jadi favorit saya. Tapi saya hanya suka Mangga Harum Manis ya. Mangga jenis lain kurang suka. Dan biasanya kalau lagi males gitu, suka saya bikin tikar aja 😂 Maksudnya saya belah aja, baru dibelah lagi jadi kotak-kotak (seperti penampakkan gambar di atas), udah deh tinggal makan 😂 Tapi kalau begitu kan jatuhnya saya jadi rakus hehe. Karena memang biasanya buah ini untuk dimakan rame-rame 😆

Nah, kalau teman-teman sukanya buah apa aja? Apapun itu, yang penting jangan lupa makan buah setiap hari ya. Supaya tubuh tetap sehat, kulit tetap terjaga dan daya tahan tubuh juga kuat 😊

Friday, 4 August 2017

Friday, August 04, 2017 6

Allah Berkehendak Sesuai Kemauanmu

Dua minggu lalu saya sakit flu dan radang. Batuk-batuk nggak karuan. Hidung tersumbat, kepala pusing. Ah, nggak enak pokoknya. Saya jadi ngedumel sendiri, ini kenapa saya jadi sering sakit begini ya. Soalnya beberapa waktu sebelumnya saya juga masuk angin. Sampai nggak kuat buat ngapa-ngapain saking badan nggak enak dan kepala pusing. Ditambah harus menyusui dua bayi. Duh badan rasanya pegel-pegel banget. Mau istirahat pun nggak bisa, ya karena harus tetap menyusui 😥

Akhirnya saya curhat ke ibu, ibu cuma bilang gini, "itu kan yang kamu mau (menyusui dua bayi). Allah kan berkehendak sesuai kemauan kita." Nah lho. Jegreeenggg! Saya berasa dicubit hiks.

Hmm... Ya ada benarnya sih *eh 😪. Setelah diflashback, kan saya juga yang mau menyusui dua bayi. Tandem nursing kan memang keinginan saya setelah anak kedua lahir (baca: 6 Wishlist Paling Pokok Tahun Ini). Saya tetap ingin memberikan Emir ASI sampai dua tahun. Lah ngapain saya ngeluh? Begitu pikir saya. Itu kan emang kemauan kamu, De. Ya kalau badan pegel, ya udah nikmatin aja. Huhu. Sampai saya menyerah karena merelakan Emir diberi susu formula. Walaupun cuma sebagai pendamping aja karena dia tetap mau ASI.

Allah berkehendak sesuai kemauanmu

via Pixabay
Kata-kata ibu itu bikin saya teringat sama salah satu hadits:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,
Ø£َنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى
Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).
Sumber : https://rumaysho.com/2298-sesuai-persangkaan-hamba-pada-allah.html
Dan apa yang terjadi sama saya, mungkin sudah dinilai sama Allah. Sejak hamil anak kedua, saya sudah berdoa banget sama Allah supaya tetap bisa memberikan Emir ASI. Yang itu artinya, saya sudah tahu akan tandem nursing kalau anak kedua lahir. Dan YES, finally Allah mengabulkan keinginan saya.

Nah, yang jadi poin saya sebenarnya bukan masalah lelah karena menyusuinya, tapi tentang prasangka itu tadi. Dalam kasus saya, karena saya niat banget mau tandem nursing, mungkin Allah melihat tekad kuat saya. Saya nggak kepikiran kalau ternyata bakal capek. Toh, ini kemauanmu kan, De. Barangkali begitu yang Allah lihat. Ya, apa yang dilihat Allah adalah kemauan awal yang kuat yang ada dalam hati saya. Saya optimis bakal bisa menyusui dua bayi, maka karena pikiran positif itu Allah mau mengabulkan. Bisa aja akan beda jadinya jika sejak hamil saya sudah pesimis bisa tandem nursing.

Well, saya dapat pelajaran dari sini. Kalau Allah sesuai prasangka hambaNya, itu artinya segala sesuatu ada di tangan kita. Dalam artian, kita bisa menentukan apa yang kita mau. Kita bisa berusaha. Kita bisa berdo'a. Kita bisa menanamkan dengan kuat apa yang ingin kita lakukan. Dengan tekad yang keras itu, maka Allah akan melihat dan menilai usaha dan do'a kita. Jadilah Allah bisa mengabulkan keinginan kita. Kun fayakun. Kalau pun nantinya kenyataan berbeda, misalnya tidak sesuai dengan kehendak kita, barangkali di situlah Allah ingin kita belajar.

Lagi, misalnya dalam kasus saya. Mungkin lelahnya saya menyusui bikin saya jadi belajar kalau orang-orang terdekat yang mendesak supaya saya ikhlas memberi Emir sufor, itu karena mereka sayang. Mereka tahu bahwa menyusui dua bayi itu tidak mudah dan pasti akan makan banyak tenaga. Tapi karena saya keukeuh, Allah membiarkan saya untuk merasakan sendiri bagaimana rasanya menyusui dua bayi. Ternyata capek ya haha.

Hehe ribet nggak sih? Semoga nggak ya. Inti poinnya sih, kalau punya keinginan, kita hanya tinggal menguatkan keinginan itu di dalam pikiran dengan diiringi usaha dan do'a. Meski ya, pada akhirnya kuasa terbesar tetap ada di tangan Allah 😊 Kalau nantinya kenyataan berbeda, percayalah itu pelajaran yang sungguh berharga buat kita 😊 Dan slalu ingat, bahwa Allah sesuai prasangka hambaNya 😇