Mudah Dibentuk

Pertanyaan yang paling saya takuti untuk saya jawab adalah, "apa kelebihanmu?" Bukan tidak bersyukur, barangkali saya hanya memang tidak menyadarinya. Atau lebih tepatnya sih karena saya takut menjadi tinggi hati. Eh tinggi hati atau memang tidak percaya diri? Bisa jadi 😂
via Pixabay
Lantas saya nanya aja ke suami. Orang yang menurut saya paling tahu bagaimana saya saat ini. Jawaban suami cuma, "dirimu masih bisa dibentuk."

Dibentuk gimana? Dibentuk untuk jadi penurut maksudnya. 

Saya akui, saya tipe orang yang keras kepala. Ngeyelan. Dan kadang akan tetap ngeyel kalau 'belum kena getahnya'. Masalahnya kadang ngeyelan saya itu justru bisa berdampak negatif buat saya sendiri. Inilah yang disebut 'kena getahnya.'

Kesabarannya membimbingku

Tapi semenjak nikah, dapet suami yang sabarnya duh Masya Allah. Beliau mau membimbing saya pelan-pelan. Meski kadang juga harus dengan cara yang tegas - tapi tidak kasar untuk membuat saya mau mendengarkan kata-katanya. Agar saya mau mendengarkan bahwa saya memang harus berubah (menjadi lebih baik). 

Nggak cuma permasalahan rumah tangga. Tapi juga masalah anak, keluarga, sampai ke lingkungan sekitar. Saya merasa suami itu bisa banget baca pikiran dan isi hati saya. Dan apa yang dikatakannya memang benar. Makanya mungkin karena keahliannya itulah saya jadi merasa setiap masukkan yang diberikan suami itu selalu pas buat saya. 

Walau ya jalannya sangat tidak mudah. Yes, merubah orang yang keras kepala itu sulit kalau nggak banyak-banyak sabar *duh 🙈

Nah barangkali suami ngerasa kalau saya itu sebenernya BISA kok dibentuk untuk jadi penurut. Hanya perlu kesabaran dan ketekunan. Karena menurut suami, istri yang bisa 100% nurut ke suami (tentu saja nurut dalam hal kebaikan ya) itu jaraaaang sekali. Padahal bagi seorang laki-laki (lagi-lagi ini pengakuan suami) istri yang nurut itu bisa bikin bahagia suami lebih dari apapun. 

Well, sekarang saya berniat untuk belajar lebih mendengarkan. Intinya nggak mau 'kena getahnya' dulu baru berubah. Apalagi punya suami yang pengalaman hidupnya jauh di atas saya. Itu yang mungkin bisa menjadikan dia untuk bijak membimbing saya. 

Semoga ya Kak, semoga aku tetap mudah dibentuk 🙈 Dan semoga Kakak selalu diberi kesabaran tak terhingga oleh Yang Maha Kuasa 😇

6 komentar

  1. Jd inget pas interview kerja pertama kali dulu :p. Bukan interview aku, tapi suamiku. Kita kerja di bank yg sama. Pas ketemu hrd, dia ditanya, apa kelebihan kamu? Dan suami dengan PD ngejawab, "senyum. Saya mudah tersenyum dengan orang batu sekalipun". Trus dia mamerin senyumnya yg pake lesung pipit. Hahahahaha, HRD nya lgs ketawa, dan suami lolos :p. Mungkin krn dulu awal2 kerja, posisinya jd front liner yg lgs bertemu nasabah, jd memang dibutuhkan org yg ramah kepada nasabah :p.

    Aku sendiripun, kalo sedang interview staff baru, aku jg pengennya yg mudah dibentuk mba. Bukan yg keras kepala, ato ngeyelan.. Membentuk staff baru yg penurut, menjadi staff yg nantinya berpengalaman, itu seperti kebanggan tersendiri buatku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena menghadapi orang penurut lebih enak dan mudah ya Mbak. :)

      Delete
  2. Kalo aku basicnya mirip kayak Mbak juga. Makanya pas baca ini, kok berasa liat diri sendiri... Hahaha. Aku anak pertama, suami juga anak pertama. Tau sendiri kan kalo anak pertama ketemu anak pertama. Keras kepalanya sama. Tapi biarpun sama keras kepala, kami orangnya saling mengalah juga

    Kalau kata orang-orang yang kenal aku dari lama. Mereka bilang sekarang aku lebih kalem. Mungkin pengaruh sabar suami juga kali ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya Mbak bisa berubah ke arah lebih baik :)

      Delete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

My Instagram