Tak Pintar Tak Apa, Tapi Jangan Pernah Tinggalkan Agama

Sampai Emir 2 tahun sekarang, saya masih terhitung protektif dengan dia. Dalam artian, dia tidak bisa keluar tanpa orang tua, atau orang-orang terdekatnya. Jujur aja saya masih belum bisa sepenuhnya nitipin dia ke orang lain. Pernah pakai asisten di rumah, yang ada saya malah cemburu haha. Dan takut kalau dia jadi lebih dekat ke asistennya. Jadilah nggak bertahan lama. Mau nitipin ke daycare, belum nemu yang sreg juga. Dan mikir, ngapain juga dititipin, wong saya di rumah. Ya walaupun konsekuensinya repot, tapi paling nggak, saya bisa pantau dia 24 jam. Dan mengurus segala keperluannya dengan baik. Karena belum tentu di daycare nyaman seperti di rumah.

Tapi sebetulnya bukan itu yang saya khawatirkan sekarang. Saya khawatir kelak ketika dia sudah masanya main sendiri dengan teman-teman. Bisakah saya menjamin bahwa lingkungannya baik? Jujur saja sering terbersit kekhawatiran kalau dia terbawa pengaruh lingkungan yang tidak baik. Tapi saya juga selalu meyakini bahwa nilai-nilai positif yang ditanamkan orang tualah yang pasti lebih sangat berpengaruh untuk anak. Dengan kata lain, mau lingkungannya tidak baik pun, jika nilai positif yang tertanam di anak sudah kuat, insya Allah dia tidak mudah terpengaruh. Aamiin.

Tidak pernah memaksakan kehendak

via Pixabay
Sama halnya kayak saya. Nilai-nilai norma dan agama yang ditanamkan orang tua sejak kecil, jadi terbawa hingga saya dewasa sekarang. Saya sudah nggak perlu lagi diajari mana yang harus dilakukan, mana yang boleh, dan mana yang tidak boleh. Termasuk dalam hal sekolah. Orang tua saya nggak pernah menuntut bahwa anak-anaknya harus pintar, dapat nilai yang bagus, tidak. Tapi yang terpenting bagi orang tua adalah kami sekolah setiap hari dan tidak membuat ulah di sekolah yang merepotkan orang tua.

Nah berkaitan dengan sekolah, setiap kali ujian orang tua saya bukan tipe orang tua yang repot setiap kali anaknya mau ujian. Iya, mereka dikasih tahu kapan kita ujian. Tapi kami harus mengurus segalanya sendiri. Kecuali kalau harus ada yang dibayar atau dibeli untuk keperluan ujian, baru orang tua jalan. Tapi urusan belajar, ayah ibu saya sudah paham bahwa anak-anaknya mengerti sendiri. Tanpa disuruh pun kami belajar dengan sendirinya.

Ketika ujian selesai, kami sendiri yang menunjukkan hasil nilainya pada orang tua. Kalau bagus ya paling dibilang, "Wah pintar." Tapi kalau merah, "Kok bisa salah? Belajar lagi dong yang bener." Nggak masalah sih. Kami paham. Biar bagaimana pun orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Psst, tapi kalau pun kami dapat ranking yang bagus, ya sudah cukup bersyukur dengan mengucap Alhamdulillah 😅 Tidak ada perayaan atau penghargaan dengan memberi hadiah misalnya, atau penghargaan lainnya.

Yang terpenting tidak meninggalkan agama

Saya jadi mikir, ada positifnya juga cara mendidik seperti orang tua saya. Dari luar, mungkin mereka terlihat cuek. Tapi saya yakin sesungguhnya dalam hati mereka bangga pada anak-anaknya, bahkan semua bisa berhasil mandiri seperti sekarang. Dan yang terpenting, didikan mereka tidak pernah memaksakan kami. Baik tentang nilai atau tentang keharusan menguasai mata pelajaran tertentu. Karena bagi orang tua saya satu, jangan pernah tinggalkan norma dan nilai-nilai agama. Karena itulah yang akan menyelamatkan kita. Seperti juga yang sering ibu bilang pada anak-anaknya.
Kalau kejar dunia, akhirat belum tentu ikut. Tapi kalau kejar akhirat, pasti dunia ngikut.
Kalau teman-teman, orang tuanya gimana nih dulu pas mau ujian? Cerita dong 😃

10 komentar

  1. Ya memang begitulah seharusnya mbak. Jadi meski musim ujian pun belajar ngaji dan sholat jamaah di masjid ga libur. Kalau anakku malas ngaji aku nyuruh dia belajar (karena aku tau dia lebih memilih ngaji hahaha) maka cusss mending berangkat ngaji daripada belajar hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul mau ujian ya ngaji dan sholat ga boleh tinggal dong :))

      Delete
  2. Kalo jaman aku dulu seingatku ortu nggak pernah ngoprak2 untuk belajar, kami anak2nya sdh mengerti tanggung jawab untuk belajar maupun mengerjakan tugas rumah yang ringan seperti menyapu atau cuci piring.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ortuku dulu juga ga nguprak-nguprak begitu :D

      Delete
  3. Dulu jaman sekolah, kala mau ujian tetep santai aja. Main tetap, belajar juga tetap kayak biasanya. Ortu juga nggak ikut ribet ngajari maupun kasih instruksi untuk nambah waktu buat belajar.
    Bapak saya guru, jadi pasti tahulah kapan jadwal anaknya ujian. Tapi nggak pernah tuh nyuruh saya buat belajar untuk ngadepin ujian. Pas mau UMPTN barulah bapak "turun tangan" kala melihat saya tetap saja nggak mau belajar, malah makin rajin bekerja sebagai buruh batik di rumah tetangga. Beliau nggak nyuruh saya belajar, cuma bilang "Kalau kamu nggak bisa masuk PTN, bapak nggak bisa mbiayai kuliahmu"

    ReplyDelete
  4. Jadi ingat kata nenekku bahwa memang kita harsu ikutin akhirat ya biar dunia mengikuti

    ReplyDelete
  5. Lain dulu lain sekarang mba.
    Zaman aku dulu, godaan teknologi juga tidak sekuat saat ini.

    Bukankah kebanyakan memang kita dipengaruhi lingkungan?

    Tapi aku setuju, kita orang tua lah yang paling bertanggung jawab menjadikan anak kita kelak seperti apa, dan keluarga adalah "akarnya".

    Setiap orang tua juga punya kiat sendiri mendidik buah hati, karena setiap anak itu unik.

    Suka banget sama ini:

    "Kalau kejar dunia, akhirat belum tentu ikut. Tapi kalau kejar akhirat, pasti dunia ngikut"

    Afdolnya memang 50-50 ya... biar imbang :).






    ReplyDelete
  6. Belajar ilmu agama itu wajib hukumnya,, anak yang rajin belajar agama dan beribadah rata-rata juga memiliki kepintaran yang di atas rata-rata,, karena dapat kebarokahan kali yaa..

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

My Instagram