Kalau dulu saya ngeblog cuma sebatas curhat, sekarang Alhamdulillah sudah bisa menghasilkan hehe. Ya ini juga karena pernah dapat tawaran dari salah satu e-commerce besar sih buat bikin tulisan bebas yang mengarah ke link e-commercenya, lalu saya diberikan imbalan berupa voucher belanja. Dari situ deh baru saya tahu kalau ternyata blog itu bisa menghasilkan lho 😁
via Pixabay
Ada beberapa jenis job biasanya. Ada yang mereview produk atau website, menulis tema bebas dengan backlink, dan content placement alias konten yang sudah disediakan dan kita tinggal mengedit saja. Semuanya tergantung permintaan dan ada juga yang bisa disesuaikan.
Dihitung-hitung dari 2014 penghasilannya cukup lumayan. Saya bisa nabung atau beli barang-barang rumah tangga kayak sekarang. Alhamdulillah 😁 Makanya saya juga mulai belajar buat monetisasi blog. Sebab tidak dipungkiri, saya juga kepingin punya tabungan dan ‘uang jajan’ sendiri hehe. Dan harus belajar karena pertimbangan klien mencari blogger yang bisa menerima job adalah berdasarkan beberapa persyaratan teknis. 
Tapi walaupun saya ketagihan menerima job, ada kalanya juga saya nggak mau nerima job karena berbagai alasan. Biasanya sih 4 alasan ini yang bikin saya menolak job review:

4 alasan saya menolak job review

1. Tidak sesuai prinsip
Blog ini memang gado-gado. Apapun bisa saya tulis di sini. Kecuali tema buku, parenting, pernikahan dan soal rumah yang sudah saya bikinkan blog sendiri (Baca: Tips Mengurus Banyak Blog). Tapi walaupun gado-gado, saya juga punya prinsip untuk tidak menulis yang berlawanan dengan prinsip saya. Misalnya tentang kampanye rokok, pinjaman kredit dan kartunya, judi, miras, narkoba, SARA, pornografi, atau hal-hal yang berbau kejahatan dan menjelek-jelekkan pihak lain (black campaign). Kalau ada jenis tawaran job dengan tema-tema ini, otomatis langsung saya tolak tanpa pikir panjang. 
2. Waktu tidak tepat
Seperti yang saya katakan kemarin di postingan Menjadi Blogger yang Bisa Dipercaya, waktu juga menjadi salah satu pertimbangan saya dalam menerima job. Kalau waktunya cocok, dan saya bisa, ya saya sanggupi. Tapi kalau waktunya terlalu mepet tapi saya sedang ada halangan, atau waktunya terlalu berdekatan dengan sponsored post lain, biasanya akan saya nego dulu untuk minta diundur. Kalau tidak bisa diundur, ya lebih baik saya tolak saja. Jujur bilang tidak bisa. Karena saya tidak mau molor dari deadline yang ditentukan. Itu sama saja menghilangkan kepercayaan klien pada saya.

3. Backlink terlalu banyak
Dulu sebelum ngerti hal-hal teknis tentang monetisasi blog, saya enak aja ngasih link keluar banyak. Nggak ngerti kalau ternyata itu bisa bikin blog kita jelek di mata Google. Jadi sekarang setelah mengerti, saya jadi tidak mau asal menerima job yang meminta backlink lebih dari 2. Apalagi kalau dia minta linknya harus dofollow alias link yang sangat berpengaruh untuk dibaca Google fiewh. Kalau dia keukeuh nggak bisa dinego, ya saya tolak aja. Dua link aja menurut saya udah cukup banyak. Dan tentu saja harga harus menyesuaikan 😊

4. Harga tidak sesuai
Lagi-lagi dulu saya nggak mikirin ini. Harga yang ditawarkan mentah-mentah saya terima saja. Tapi semenjak belajar pada blogger-blogger yang lebih berpengalaman, saya mulai melihat apa saja kelebihan blog saya. Lalu apa isi jobnya? Apakah harga yang diberikan sesuai dengan yang harus saya lakukan atau tidak? Meskipun standar harga pasti untuk setiap blogger memang tidak ada. Karena saya lihat masih ada saja yang blognya lebih bagus tapi mau menerima job dengan harga yang terbilang murah dan rasanya tidak sesuai. Yaa tapi balik lagi sih, kita tidak tahu urusan dapur orang. Mungkin ini pilihan masing-masing kali ya.
Well, menolak job review bukan berarti menolak rezeki. Tapi sebagai blogger, kita juga harus punya prinsip. Kalau memang tidak sesuai dengan yang kita inginkan atau standar teknis sponsored post yang harus dipatuhi, ya harus berani menolak. Jangan sampai kita asal terima begitu saja, tapi jatuhnya kita malah menjatuhkan diri sendiri dan blog kita. Pasti kita tidak ingin kan, kalau blog kita jadi jelek di mata pembaca 😊
Nah kamu sendiri, apa saja sih alasan atau pertimbangan dalam menolak job review?

59 thoughts on “4 Alasan Saya Menolak Job Review”

  1. saya ada satu lagi nih mba, klo yg nawarin kyk asal2an dan ogah2an gt di emailnya wkwkw
    suka baper dan males jg ngeladeninnya.
    yg model gini suka ga jelas juntrungannya setelah kita kasih rate card sih

  2. Aku sbnrnya blm ada niat utk bikin blogku menghasilkan.. Tapiiii, prnh jg nerima lah job review begitu, itupun krn sesuai ama tema blogku traveling dan kuliner.. Prinsipku 1 tapi mba, aku ga mau nulis review 2x. Jd kalo kmrn aku udh nulis ttg 1 brand tas, walopun aku sukaaa bgt ama tasnya dan memang koleksi, tp cukup sekali itu aja aku nulisnya.. 🙂 .. Jgn sampe berulang walopun mungkin beda produk, tapi msh sama merk, aku udh ga mau 🙂

  3. Untuk poin no 4 sebenarnya kalau merasa harga yang ditawarkan kekecilan bisa nego, mbak. Awalnya saya gak tau, tapi setelah coba jadi lumayan pede juga hehehe. Berarti artinya blog kita memang punya nilai yang lebih 🙂

  4. untuk review game sama perjudian, seks, kekerasan tidak sesuai dengan niche serta tidak sesuai dengan keilmuan juga biasana menjadi penyebab tidak sanggup menerima job review ya mba..

  5. Poin ke 3 dan ke 4 selalu yang utama saya pertimbangkan saat menerima dan akan mengerjakan job review. Yang ke 3 nasib blog dan yang ke 4 nasib kantong. 😀

    Terimakasih sharenya, Mbak.

    Salam bahagia dari Bondowoso..

  6. Kalau masih bisa nego rate, lumayan siy biasanya aku ambil. Asal kontennya masih nyambung sama isi blogku. Tapi kalo udah banyak permintaan apalagi backlink lebih dari 2, aku milih mundur aja.

  7. setujuh banget, menolak job review kalau memang tidak sesuai dengan isi dari blog, atau di suruh nulis sesuai keinginan pemberi job, karena bakalan beda dengan gaya penulisan kita, jadi menurut saya harus tetap punya prinsip.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *