Apa Kabarmu Sahabat?

Kau masih ingat pesan itu? Sebuah pesan yang mampu membuatku beruraikan air mata. Sebuah permintaan sederhana untuk menjadi sahabatmu. 
Barangkali, dulu, kau masih ingat. Tapi aku ragu jika kau masih mengingatnya sekarang. Kau, kini kau sudah jelas jauh berbeda. Atau bahkan kau sudah tak ingin mengenalku.
“Anggap gue sahabat lu.”
Itu katamu. Dulu. Aku tidak habis pikir. Mengapa ada orang yang meminta temannya untuk dianggap sebagai sahabat. Bukankah sahabat itu selalu – seperti kata orang – mengalir apa adanya? Ataukah saat itu kau memang benar-benar kesepian dan susah mempercayai orang lain? Entahlah. Satu yang pasti, aku senang menerima pesan itu.
Sejak saat itu, kita menjadi semakin dekat. Meski setiap bertemu langsung, selalu saja ada pertengkaran-pertengkaran kecil. Pertengkaran yang tidak penting. Hanya lucu-lucuan. Namun kita tahu, pada dasarnya kita saling menyayangi. Terbukti karena kau selalu memperhatikan aku sampai ke hal-hal terkecil. 
“Gue seneng banget bisa gandeng tangan lu.”
Saat itu pelajaran olahraga. Seharusnya kita disuruh berlari, tapi kita memilih jalan kaki biasa. Aku sengaja mensejajarkan diriku di sampingmu. Karena pada dasarnya aku memang senang berada di sampingmu. Lalu, tanpa kuduga, kau justru menggandeng tanganku. Dan kita tertawa sepanjang jalan.
“Hujan, ran!”
“Ayolah, kan kamu bisa naik angkot. Pokoknya aku tunggu kamu di rumahku!”
Hujan baru saja turun deras. Tiba-tiba aku menerima SMS darimu yang memintaku untuk datang ke rumahmu. Mana bisa aku menolak kalau kau sudah memohon dengan sangat. Kubuka payung, dan menuju angkutan untuk ke rumahmu.
Ah, terlampau banyak hal-hal yang masih aku ingat hingga saat ini. Lihat saja, aku bahkan masih mengingat semua hal-hal kecil yang pernah kita lewati. Mungkin, hingga selamanya, aku takkan pernah lupa. Entah kenapa, aku juga selalu meyakini bahwa aku masih ada dalam dirimu, masih hidup dalam hatimu. Ya meski aku tidak tahu bagaimana kenyataan yang sebenarnya.
Aku tidak akan pernah bisa lupa bagaimana detik-detik kita mulai menjauh. Hingga saat ini aku tidak pernah paham apa alasannya. Namun sekarang, aku tidak tahu bagaimana kabarmu. Semoga, kau selalu baik-baik saja, dan bahagia seperti dulu.
Flashfiction: 328 kata

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

12 comments to “Apa Kabarmu Sahabat?”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. momtraveler - Januari 18, 2016 Balas

    Jd inget temen lama yg udah hilang kontak

    • adedelina - Januari 18, 2016 Balas

      Smoga suatu saat bisa ketemu lagi ya Mak 🙂

  2. Elrani - Januari 18, 2016 Balas

    Iya nih, sahabat-sahabat waktu sekolah udah banyak yang ga bisa dihubungi

    • adedelina - Januari 18, 2016 Balas

      Hehe coba cari di medsos mbak, nyaris smua skrg pny medsos 😀

  3. Tira Soekardi - Januari 18, 2016 Balas

    sahabat itu kaadng bikin rindu apalagi kalau hilang kontak

  4. Anisa AE - Januari 19, 2016 Balas

    Aku malah ingat sag mantan -,-

  5. Lidha Maul - Januari 19, 2016 Balas

    aduh, setiap hari saya ingat temen yang sudah nggak mau disapa, padahal temenan di socmed, tiap hari berharap bisa tegur sapa seperti dulu

    • adedelina - Januari 19, 2016 Balas

      Semoga kelak hubungannya menjadi baik lagi ya mbak 🙂

  6. Rohma azha - Januari 24, 2016 Balas

    Emang spt itu mbk. Klo udh jadi shbat sklipun ga brtgur sapa slalu ada rasa rindu yang melanda akan kebersamaan. Hhee

Leave a Reply

Your email address will not be published.