Malam Rabu kemarin, timeline Facebook saya lagi ramai berita tentang Selmadena yang menikah dengan Haqy Rais. Yang bikin viral, bukan karena sang pria seorang anak dari pejabat. Tapi karena Selma meninggalkan pacarnya, lantas menikah dengan pria yang baru dikenalnya.

http://plus.kapanlagi.com/berawal-dari-buzzer-cewek-ini-berhasil-jadi-menantu-amin-rais-df5e50.html

Hmm, inilah sudut pandang pribadi saya.

Dislaimer: ini hanyalah sudut pandang saya. Setuju tidak setuju, itu hak Anda 😊 Semua berhak punya pandangan berbeda kan 😊

1. Apakah sudah ada pembicaraan pernikahan dengan pacarnya? 

Berdasarkan postingan IG Selma yang tersemat di artikel Hipwee, Selma mengaku kalau beliau punya impian untuk menikah muda. Nah, apakah masalah impian menikah muda ini sudah dibicarakan dengan pacarnya? Selma hanya menulis, “Dan posisi pada waktu itu, pacarku sedang dalam masa pendidikan dan belum bisa mengajakku menikah.” Maka berarti kemungkinannya mereka sudah membicarakan soal impian menikah muda, tapi sayangnya pacarnya harus menyelesaikan pendidikannya. Karena itulah pacarnya belum bisa mengajak Selma menikah. 
Lalu apakah Selma salah karena sudah menerima lamaran pria yang lebih dulu datang melamar? Tidak. Kenapa? Lanjut ke poin 2.


2. Karena pacaran hanya komitmen TANPA ikatan yang sah.

Bahkan kalau mau dengan kasar, saya bisa bilang bahwa pacaran sebelum menikah itu bukan komitmen. Karena yang namanya komitmen, itu artinya ikatan yang kuat. Sedangkan pacaran bukan ikatan yang kuat karena memang belum ada catatan sah secara agama dan negara.
Mungkin ini sebabnya Islam melarang aktivitas pacaran. Sebab bukan hanya karena bisa terjadi zina, tapi ada hati yang pasti dikorbankan. Dua orang sama-sama merasa terikat, padahal ikatan itu tidak dibenarkan selama mereka belum mengajukannya dalam catatan agama dan negara yang artinya menikah. Dan inilah yang paling ditakutkan dari pacaran. Tidak ada yang tahu apakah pacar kita saat ini akan menjadi orang yang kita nikahi atau menikahi kita. Sementara jika hati sudah merasa terikat, maka ketika salah satunya ditinggalkan, pasti ada hati yang sakit. 
Kembali pada kasus Selma. Saya bisa memahami, mengapa Selma mengambil keputusan menikah dengan pria yang melamarnya duluan sementara ia punya pacar. Karena ia butuh kepastian. Apakah pacar sebelumnya sudah memberikan kepastian itu? 

Pacarku, aku putuskan dengan sebuah kejujuran. Maaf, aku gak bisa lanjutkan hubungan dengan kamu, karena aku sudah dilamar orang. Maaf, aku gak bisa lanjutkan mimpi-mimpi yang kita rancang, karena itu hanya sebuah ANGAN-ANGAN, ini memang menyakitkan, tapi sudah ada orang yang menawarkan mimpi lain yang sesuai dengan mimpiku.. Maaf, aku memang cinta sama kamu, tapi aku tidak bisa hidup hanya dengan dasar cinta. Maaf, aku harus mengatakan ini.. Aku harus memilih orang yang berani mengajakku untuk menikah. – Selma

Ya, Selma punya impian menikah muda. Ketika ada pria yang maju lebih dulu dan memberinya kepastian, maka wajar kalau Selma memilih pria itu.
Bagaimana dengan pacarnya? Maka kembali ke poin tadi. Bahwa pacaran bukan ikatan yang kuat. Maka tidak ada larangan untuk meninggalkan terlebih juga secara baik-baik.

3. Apa itu berarti Haqy merebut Selma dari pacarnya?

Tidak. Karena kembali ke poin 2. Pacaran itu sesungguhnya bukanlah ikatan yang sah. Maka boleh saja memilih kalau memang ada yang berniat lebih dulu serius untuk menikahi. Apalagi dalam kasus ini memang Haqylah yang menjadi pilihan Selma. Maka tidak bisa juga dibilang Haqy merebut pacar orang. Beda lagi ceritanya jika sudah menikah lantas memilih orang lain dan meninggalkan pasangannya, itu baru yang dilarang sebab sama saja dengan menyakiti pasangan dan berzina.

So, kesimpulannya semua sudah jadi resiko. Pacarnya mungkin bisa marah, kecewa, atau bahkan sakit hati. Tapi memang itulah resikonya dari hubungan pacaran. Ketika dia belum bisa memberi kepastian, maka dialah yang harus berlapang dada untuk membiarkan wanitanya memilih untuk menikah dengan orang lain. 
Well, belajar dari pernikahan Selma dan Haqy ini, ada dua pelajaran yang bisa kita ambil:
1. Kalau kau seorang pria, jangan membuat wanitamu menunggu. Semua harus dibuktikan dengan keseriusan. Kalau ingin menikah, katakan kapan akan melamar. Bila perlu sebutkan tanggal bulan tahunnya. Bila kau sedang berjuang, pastikan perjuangan itu kau jalani dengan serius agar kau bisa cepat melamar wanitamu. Karena sekali lagi, seorang pria yang serius takkan membuat wanitanya menunggu terlalu lama. Pilihannya hanya ada dua. LEPASKAN DIA atau NIKAHI DIA. Bukan berjalan santai seperti tidak ada beban. Ingat, karena secara tidak langsung, kau sedang mengikat seorang wanita. Maka jangan biarkan atau menyuruh dirinya menunggu apalagi tanpa kepastian.
2. Untuk wanita. Saya paham bahwa hati kita memang sensitif. Tapi kalau kita punya impian, maka impian itu yang harus kita perjuangkan. Sebab dia sejatinya memang bukan siapa-siapa sebelum ada akad sah terucap. Kalau ada seorang pria baik datang melamar, maka pertimbangkan baik-baik dengan istikhoroh. Karena hanya Allah yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita. Jangan sampai kita membiarkan diri menunggu, lalu menolak pria baik, tapi selanjutnya kita tidak tahu masa depan kita mau dibawa kemana. Naudzubillah.

Sebab pria yang baik akan tahu konsekuensinya bahwa cinta bukan sekedar kata. Tapi komitmen untuk membawa wanitanya menuju jalan kebaikan yakni hanya dengan satu jalan, yaitu menikah 😊

38 thoughts on “Belajar dari Pernikahan Selmadena dan Haqy Rais, Lepaskan atau Nikahi”

  1. Saya pro terhadap keputusan mbak Selma. Benar mbak.. karena ini masih pacaran ya gpp dia nerima lamaran pria lain. Beda kasus kalau dia sudah menikah atau sudah dalam lamaran pria lain. Kalau pacaran mungkin 'jalanin aja dulu' tanpa kepastian. Mungkin sih πŸ™‚

  2. Setujuu yang poin 1. Jangan membuat wanita menunggu. Kalau udah serius banget, mesti deh dia maunya ya cepet2 nikah. Beneran LEPASKAN DIA atau NIKAHI DIA. Kalau serius ya milih yang kedua, gak akan menggantungkan

    Jadi pengen nulis ini juga, jahaha

  3. Sah sah saja menurut saya, apalagi yg melamar juga sudah serius dan "berkepribadian" #lol

    Dan mudah – mudahan mantan pacar bisa menerima, bisa menjadikan dia lebih semangat untuk lebih baik lagi πŸ™‚

  4. sebagai lalaki itu sikap yang berani,,,

    benar juga pacarmu belum tentu yang akan menikahimu begitu pula yang kamu nikahi..

    sebagai bujang ini adalah referensi untuk ku hohoho πŸ˜€

  5. Terimakasih banyak buat blognya, nyindir saya secara pribadi. Dan d balik itu smua ada org sholeh/ulama sholeh yg kasyaf yg mendawuhi beliau laki2 dr mulut k mulut utk mencontohkan. Smoga bisa menjadi inspirasi bagi saya pribadi utk mengubah hidup saya dan benar2 hijrah meneladani haqy sbg laki2.skali lg trima kasih banyak.

  6. Kalau aku juga milih yang pasti-pasti sajalah. Ada pria datang ke rumah, siap untuk berkomitmen, berani melamar, mengkhitbah dan menyetujui pacaran setelah menikah, so, apalagi yang ditunggu? Apalagi si pria memang baik-baik. Baik agamanya, nasabnya, pendidikannya, keluarganya. So, what are you looking for, girl? πŸ™‚

  7. Maaf mbak bukannya senna (mantan pacar selma) sdg menempuh pendidikan kepolisian bukan universitas pada umunya (yg bisa menikah pd saat kuliah), yg mana kdua pasangan pasti mengetahui konsekuensi dr pendidikan kepolisian yaitu tdk bisa menikah slm pendidikan.kalo memang niat menikah (red:selma) hrsnya dia memutuskan dr awal sebelum senna sekolah. Komitmen dan kesetiaan yg dia bangun dr awal pacaran saja dngan senna, dia tepiskan dng frasa "laki2 yg siap berkomitmen (menikah)".kalo dr sisi saya pelajaran yg saya ambil adalah nilai kesetiaan, disinilah selma diuji. antara laki2 yg baru dikenal sebulan dengan segala kepintaran, materi, dsb dng laki2 yg telah ia kenal lama, ya ia tau betul kepribadiannya. Sy pikir dengan selma mau diajak nonton, dinner walaupun ada pihak ketiga sdr haqy (ada di ig selma),tnp ada ikatan resmi, padahal selma sdg menjalin hub dengan senna, ehm menurut sy krg pantas aj. Dn mengajak ntn, dinner sj sdh bisa dikatakan PDKT.. Realita aja mbak kesetiaan itu harga mati tidak bisa dinilai, komitmen itu dibentuk/dibangun dr kesetiaan kemudian diwujudkan bukan langsung diwujudkan.hehehe maaf ya mbak dah corat coret.

    1. Terima kasih Mas pendapatnya πŸ™‚ Kita punya pandangan yang berbeda ya. Kalau dari sisi saya, kesetiaan dalam pacaran itu ya nggak bisa jadi alibi juga. Karena pacaran sendiri memang bukan komitmen yang mengikat. Jadi sah-sah saja untuk berubah di tengah jalan. Walaupun nilai kesetiaan memang mahal, tapi sekali lagi kalau kesetiaan itu masih dalam tahap pacaran, boleh saja diubah. Apalagi jika keputusan yang diambil adalah untuk menikah. Bukan untuk pacaran lagi dengan orang lain πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *