buzzer

Buzzer dan Terpengaruhnya Manusia-manusia Awam

Sekarang saya lagi menjalani sebuah kampanye. Ya, bisa juga disebut buzzer. Atau mungkin influencer (?) Tapi bukan dalam ranah politik. Karena sampai kapan pun, rasanya saya nggak akan bermain dengan bidang yang satu ini.

Dalam menjalani profesi buzzer, hal yang paling membahagiakan saya adalah ketika ada orang-orang yang terpengaruh pada postingan kampanye saya. Dan tentu saja, memang itu tujuan dari kampanyenya sendiri. Tujuan dan maksud tercapai. Orang terpengaruh, lantas jadi ikutan ‘melakukan’ atau ‘membeli’.

Tidak perlu berpikir negatif dulu. Karena toh saya sendiri sangat selektif dalam memilih pekerjaan. Jadi tentu saja apa yang saya kampanyekan PASTI hal yang baik. Dan BUKAN hal yang merugikan untuk dibeli atau dilakukan.

Saya pun tak memungkiri kok. Beberapa kali saya sendiri terpengaruh pada kampanye-kampanye buzzer di media sosial terkait produk atau layanan. “Wah itu beneran bagus ya? Wah beneran enak ya? Ah beli ah. Ah pengen deh jadi ikut melakukan.”

via GIPHY

Tidak punya prinsip, mudah terpengaruh

Tapi sayangnya, arus informasi tak selamanya positif. Termasuk dalam hal buzzer. Buzzer-buzzer yang membicarakan, yang mengompori hal-hal negatif pun tak sedikit jumlahnya. Dan apa masih ada yang terpengaruh? BANYAK.

Sorry to say, bahwa orang-orang yang terpengaruh adalah karena orang ini TIDAK PUNYA PRINSIP. Itu sebabnya dia mudah terpengaruh. Karena dia tidak berusaha untuk mencari lebih jauh. Dia hanya ‘memakan’ informasi berdasarkan arus yang ada. Atau dia memang belum menentukan tujuan hidupnya sehingga mudah limbung.

Ada satu sorotan yang selalu dikatakan suami, buzzer sekarang menyerang sisi emosional manusia. Manusia kalau sudah disinggung sisi ini, pasti mudah terpengaruh. “Beli ini maka Anda akan bahagia. Lakukan ini maka Anda bisa tenang.”

“Kata guru blablabla. Kata ulama blablabla. Kata orang pintar blablabla. Kata orang hebat blablabla.” Padahal siapa sih guru, ulama, orang pintar, orang hebat itu? Malaikat? Nabi? Jelas bukan. Mereka hanyalah manusia biasa yang sama seperti kita. Yang kodratnya punya salah.

Tapi ya itulah, seringkali kita seakan-akan bangga mengikuti para petinggi yang bukan malaikat itu. Tapi jika kita sendiri punya prinsip, yakinlah bahwa kita takkan mudah terpengaruh oleh siapa pun.

via GIPHY

Sudah sejauh mana tabayyun kita?

Ya ya ya, bukan berarti kita tak boleh meneladani orang yang mungkin kita anggap pantas untuk diteladani. Tapi siapkah kita jika ternyata apa yang sudah dipilih teladan kita ternyata salah?

Berapa banyak sih dari kita yang benar-benar melakukan tabayyun? Mencari informasi sampai ke akar-akarnya? Bahkan bila perlu bertanya langsung pada sumbernya? Kita hanya bicara berdasar kata A, B, C. Kita sendiri tidak tahu arah tujuan kita sendiri sebenarnya ke mana?

Terberkatilah mereka yang punya prinsip

Maka dari itu, terberkatilah orang-orang yang dirinya sendiri punya prinsip. Dia sudah tahu apa yang akan dia lakukan dalam hidupnya. Dia punya motto yang harus selalu dia pegang. Dan dia tahu apa yang hendak dia pilih. Serta tahu kemana dia harus melangkah.

Tidak peduli kanan mencecar, tidak peduli kiri mencaci, dia tetap teguh pada pilihannya. Dia tidak peduli kanan bicara A. Kiri mengiming-imingi B. Dia tetap pada pendiriannya.

via GIPHY

Arus informasi yang deras ada di tangan kita. Jika nyatanya kita seperti muak. Kita mudah goyah. Mungkin sudah saatnya kita berdiam sejenak. Menyelami diri. Bertanya pada diri sendiri, akan ke mana hidup kita. Apa yang kita inginkan selama hidup.

Prinsip serupa iman yang menolong kita

Yang ingin dibongkar dalam tulisan ini adalah sering kita tidak tahu bahwa ada tim-tim di belakang yang sedang merencanakan sebuah rancangan besar. Mereka tak kelihatan. Tapi mereka bekerja. Jika kita mudah terpengaruh, betapa senang hati mereka. Dan pundi-pundi rupiah pun semakin berlipat-lipat jumlahnya.

Sementara kita di sini bertengkar. Kita saling merasa benar. Termakan berita-berita para buzzer. Termakan postingan-postingan yang sebetulnya hanya omong kosong. Oh, betapa miris bukan? Kita justru menderita di bawah orang yang senang melihat kita terpecah belah.

Prinsip. Prinsiplah yang akan menolong kita. Prinsip serupa iman. Tahu bahwa kebenaran hanya milik Allah. Bukan manusia.

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

Leave a Reply

Your email address will not be published.