Dia yang Penuntut, Berubah Menjadi Penuntun

Kalau ditanya siapa orang yang bikin saya tidak berpindah hati, jawabannya adalah suami saya 😊 Bukan karena dia memang sudah jadi suami. Tapi karena saya benar-benar jatuh hati padanya. Faktanya saya sudah bersedia menunggunya selama tiga tahun. Silakan baca pertemuan awal saya di postingan ini.

Saya nggak akan cerita bagaimana saya bisa menunggunya selama itu. Yang jelas dulu dia benar-benar menyebalkan membuat saya merana sepanjang tiga tahun. Saya yakin, itu semua karena dia orangnya.

Begini. Sebelum bertemu dia, saya bukan orang yang susah move on. Saya mudah saja berpindah hati kalau tidak suka pada satu hal dari seseorang. Tapi dia, ya suami, malah bisa membawa hati saya selama tiga tahun. Untung saja Allah menjodohkan saya juga dengan beliau hingga tepislah semua rasa merana saya 😁

Dia yang penuntut

Tapi apa sih sebetulnya yang bisa membuat dia begitu pintar mengambil hati saya? Saya juga tidak tahu. Tapi yang jelas, hanya dialah, laki-laki pertama yang bisa mengatur-ngatur saya. Dalam artian positif tentunya. Sebelumnya saya paling malas sekali untuk diatur ini itu. Tapi ketika ada dia, saya jadi berubah 180 derajat.

Disuruh wirausaha

Ini yang paling kentara. Suami seorang pengusaha. Dia berharap istrinya nanti juga pengusaha. Makanya awal 2013, dia mulai membicarakan tentang wirausaha – yang-saya-tahu-tidak-secara-langsung beliau ingin saya bisa berwirausaha juga.

Awalnya dia memberi saya pinjaman modal untuk membeli aksesoris kerudung. Di situlah saya jadi belajar berani. Menawarkan kesana kemari. Berani ambil resiko dengan keluar modal. Berani tahan malu karena saya perlu bertemu dengan orang-orang baru untuk menawarkan dagangan saya. (FYI, saat itu saya belum aktif di dunia internet. Jadi saya memang menawarkannya secara offline).

Tapi saya tidak bisa. Wirausaha bukan jiwa saya. Saya tidak istiqomah. Makanya, kami jadi sempat menjauh hehe.

Disuruh berbakti sama orang tua

Satu hal yang saya yakini dari suami adalah pesonanya berbakti pada orang tua. Ia adalah orang pertama yang selalu mewanti-wanti saya untuk berbakti pada orang tua. Menurut apa kata orang tua. Bersegera ketika disuruh orang tua. Itu bukan karena saya tidak berbakti, tapi menurut dia (seperti yang pernah diperbincangkan dulu) bahwa berbakti pada orang tua adalah modal awal untuk berumah tangga yang baik.

Jadi ya istilahnya kalau perempuannya berbakti pada orang tua, maka akan dengan otomatis dia juga akan berbakti pada suaminya 😁

Disuruh rajin-rajin makan wortel

Saya doyan wortel. Tapi saya nggak suka kalau harus dijus. Tapi suami, suka perempuan tidak berkacamata. Ya bisa ditebak, saya MAU minum jus wortel demi dia! Setiap hari saya beli wortel dan dijus. Diminum sebelum sarapan. Dan entah kenapa kok jus itu terasa enak? Ah dasar cinta.

Minum susu supaya gemuk

Dulu badan saya kurus banget. Suami menganjurkan saya minum susu. Setidaknya supaya badan saya berisi katanya. Ya sudah, saya beli susu kental manis kalengan dan minum setiap hari. Lagi-lagi padahal aslinya saya tidak suka susu apalagi kental manis. Tapi demi dia, semua jadi tidak masalah.

Ya, itulah suami saya dengan segala tuntutannya. TAPI ITU DULU. Sebetulnya saya tahu hal-hal di atas itu tidak ada salahnya. Dan semuanya baik. Tapi saya tidak bisa memaksa. Berwirausaha contohnya. Saya sama sekali tidak berminat di sana.

Bukan menuntut, tapi menuntun

Dan setelah tiga tahun berlalu, tepat Juli 2015, dia malah datang lagi pada saya tanpa embel-embel apapun. Dia bilang, dia mau saya bahagia dengan dirinya. Maka tanpa waktu lama, dia melamar dan menikahi saya.

Sekarang, saya bukan seorang wirausaha. Masih berkacamata. Dan berbadan kurus. Tapi suami, tidak pernah minta itu semua lagi dari saya. Ya, dia menerima saya sebagaimana saya ingin menjadi diri saya. Hanya satu yang mungkin dia lakukan, dia selalu menuntun saya untuk berubah menjadi baik setiap harinya 😊

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

Leave a Reply

Your email address will not be published.