Karena bisa lahir dari biasa,
maka terkadang harus ada pemaksaan.

Karena bisa lahir dari biasa, 
maka rindu yang semula sakit, menjadi makanan sehari-hari.
Mungkin seperti ini rasanya para perantau. Jauh dari rumah, orang tua, sanak keluarga dan saudara. Jangan tanya seberapa rindu pada mereka, sebab kuyakin mereka akan menjawab menggunakan kata “banget” atau “sekali.” Ya kecuali jika mereka tidak mencintai rumah dan keluarga mereka. Upzh. Tidak. Aku tidak sedang merantau. Hanya melepas (sementara) seseorang yang amat kusayang setelah Allah dan Rasul-Nya.
Untuk pertama kalinya perpisahan itu terasa begitu menyedihkan. Aduhai, padahal ini bukan perpisahan yang lama! Hanya empat puluh hari. Iya hanya empat puluh hari. Tapi lambaian tangan itu, lambaian yang tak sanggup aku melihatnya. Tapi ah, sungguh tega jika aku tak meridhoinya. 
Jangan terpaku pada rindunya,
Lihat mereka yang harus kau jaga.

Benarlah jika dikatakan hal paling berat dalam hidup ini ialah memegang amanah. Seberapa besar kita bisa memegang amanah, seberapa tangguh kita menjalankannya dan seberapa kuat kita sanggup menampungnya.
Ibu, do’akan kami di sana ya.
Smoga kami di sini dan ibu di sana selalu sehat.
Tidak sakit dan selalu kuat.
Ibu kuat beribadah, kami kuat bekerja dan menjaga Ayah di sini.
Semoga Allah meridhoi dan memberkahi kita semua.
Allah, jagalah beliau,
tuntun beliau,
kuatkan dan berilah slalu beliau kesehatan.
Aamiin.

4 thoughts on “Karena Bisa Lahir dari Biasa”

  1. Semoga ibadahnya dimudahkan dan dilancarkan ya mak. Orang tuaku kebetulan jg berangkat tahun ini tgl 15 kemarin. Kebetulan ibuku ada masalah kesehatan. sebenarnya tak tega rasanya kami melepasnya, tapi ya Bismillah saja … Semoga dimudahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *