quarter life crisis

#LoQLC: Kendali Terbesar Ada di Diri Kita Sendiri

Mood nulis lagi parah banget. Entahlah kayak nggak ada ide aja. Tapi lama-lama saya kangen juga ngeblog. Kangen dapet job *eh. Ya mungkin karena kemarin-marin saya juga masih merasakan quarter life crisis. Tapi karena kangen ngeblog, akhirnya saya memutuskan untuk membuka lagi Facebook dan Twitter. Ya supaya saya juga bisa ngeshare tulisan saya lagi haha 😆

Yah, saya nggak bisa bilang bahwa quarter life crisis sudah selesai. Karena toh saya merasa masih mencari-cari akan ke mana saya nanti. Tapi minimal sekarang saya dapat banyak sekali pelajaran dari fase quarter life crisis ini.

Kayaknya mau saya tulis satu-satu deh. Sementara sudah ada 7 pelajaran hidup yang saya dapatkan. Dan saya berniat mau bikin semacam seri #LoQLC alias Lessons of Quarter Life Crisis. Biarin deh gaya namanya. Intinya seri #LoQLC ini akan ada beberapa part. Yang saya beri judul #LoQLC: (poin pelajaran yang akan saya ceritakan). Dan akan saya bikin kategori sendiri biar kalau mau dicari lagi gampang.

via GIPHY

Pelajaran ini kita bahas ringan saja. Harapan saya biar pelajaran yang saya dapatkan ini juga merasuk ke pikiran dan hati pembaca. Yang ya, semoga juga bisa jadi pengingat. Khususnya buat diri saya sendiri. Dan tulisan ini mungkin nggak akan panjang-panjang. Jadi lebih enak buat dibaca *uhuk.

Baiklah, sebelum mukadimahnya semakin panjang, kita masuk ke pelajaran pertama.

Lessons of Quarter Life Crisis #LoQLC: Kendali terbesar ada di diri kita sendiri

Semakin ke sini saya semakin sadar bahwa kita tidak bisa menyalahkan orang lain dalam keadaan apapun. Even itu kita dikecewakan atau disakiti sekalipun, semua kendali ada di diri kita sendiri.

Saya nggak bilang bahwa orang yang mengecewakan dan menyakiti kita itu tidak salah. Tapi kita sendirilah yang BISA memutuskan untuk mengizinkan apakah hati kita MAU terus-menerus terluka atau memilih untuk memaafkan.

via GIPHY

Kenyataannya memang nggak mudah kok. Dikecewakan, disakiti sudah pastilah hati kita akan terluka. Tapi kita bisa apa?

Kita nggak mungkin mengulang waktu. Kita tidak bisa memaksakan kehendak pada orang lain. Dan kita juga tidak bisa terus-terusan mengendalikan orang lain. Orang lain dan kita itu diciptakan berbeda. Maka dari itu isi pikiran pun pasti akan beda. Kalau kita terus-terusan berharap pada orang lain, dan hasilnya selalu jauh dari harapan, mau sampai kapan kita terus begitu?

Mengendalikan orang itu capek banget

CAPEK. Iya capek banget mengendalikan orang lain itu. Sekali dua tiga kali its ok kita masih mengingatkan. Keempat kelima keenam dan seterusnya jika orang itu masih berperilaku yang sama, better go away. Atau bantu doa. Dan lebih baik kita menjalani hidup kita sendiri. Mengendalikan diri supaya jalan hidup kita sendiri bisa lebih mudah.

Sesederhana kita muak dengan perdebatan-perdebatan di media sosial. Mau kita bikin status bijak seribu kali pun, pasti akan selalu ada orang yang tetap saja berdebat. Daripada muak karena mereka nggak ngerti-ngerti kata bijak kita, atau jangan-jangan malah nggak dibaca mereka (?) lebih baik kita blokir aja orang-orang itu. Tinggalkan yang menurut kita mengganggu. Selesai. Kita jauh lebih aman dan nyaman.

via GIPHY

Lagi, ini bukan berarti kita apatis. Toh kita sudah berusaha untuk mengingatkan. Tapi keputusan untuk berubah, tetap saja mereka yang menentukan sendiri. Tugas kita hanyalah apa yang bisa kita lakukan dari dalam diri. Selebihnya kita takkan pernah bisa mengendalikan orang lain sepenuhnya.

So, ini pelajaran pertama yang menurut saya berharga banget. Saya sendiri jadi paham bahwa “ya sudah tidak usah berharap pada manusia dalam hal apapun.” Iya, andalkan Allah sajalah. Kekuatan saya cuma semampu saya. Selebihnya, biarlah saya meminta pada Allah. Karena hanya Allah yang mampu membolak-balikkan hati manusia 😊

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

Leave a Reply

Your email address will not be published.