Lovers VS Haters

Saya pernah terlibat di sebuah percakapan antara lovers dan haters yang berujung menjadi perdebatan. Ya bahasa kitanya mah pencinta dan pembenci. Saya yang tidak memihak bahkan tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, jadi mikir, ‘buat apa sih mereka sampai ngotot-ngototan seperti itu? Saling tarik urat dengan pendapatnya masing-masing? Padahal sebelumnya mereka ngobrol biasa. Tiba-tiba saja mulai masuk dalam ranah kecintaan masing-masing, tapi kenapa juga sampai harus memaksakan pendapat sendiri?’

via Pixabay

Kemudian melihat fenomena akhir-akhir ini yang tidak jauh berbeda. Lovers dan haters saling adu argumen. Kuat-kuatan pendapat. Kuat-kuatan nyari bukti bahwa apa yang dicintainya lebih baik daripada yang dicintai orang lain alias yang dibencinya. Kalau mereka dipertemukan, ujung-ujungnya jadi berdebat. Haduh. Apa sih gunanya? Fiewh.


Baca: Berdebat? Jangan Sampai Jadi Masalah
Well, buat apa sih begitu? Apa gunanya? Apakah dengan kuat-kuatan, ngotot-ngototan, orang akan berbalik untuk mencintai apa yang kita cinta? Apakah dengan berdebat, lantas kita merasa menang bahwa apa yang kita cinta memang benar? Pada akhirnya, apa yang kita dapatkan? 

Lihat segalanya lebih dekat

Dua orang yang saling bersaudara, bersahabat, bisa rusak karena saling berdebat. Padahal rasa cinta itu tidak bisa dipaksakan. Pun dengan rasa benci. Kita tidak bisa memaksa orang untuk berbalik mencintai apa yang kita suka.

Orang suka dengan drama Korea, ya biar saja. Tidak perlu memaki-maki bahwa yang suka drama Korea itu begini dan begitu. Kan tidak enak juga kalau misal kita suka drama Jepang lantas dicap macam-macam oleh orang yang tidak suka dengan drama Jepang. Ya itu contoh sederhana aja. Tapi bisalah ditangkap maksudnya bagaimana ya hehe.

Dibanding fokus melihat kekurangan dari kecintaan orang lain, masih banyak hal-hal positif yang bisa kita lihat di sekitar kita. Salah satunya cerita inspiratif ini misalnya. Seorang suami istri yang bisa pulang ke tanah air karena tidak putus asa untuk terus menabung. Hingga akhirnya mereka bisa pulang ke Indonesia dan bertemu dengan keluarganya.

Lagi pula kita sudah diingatkan kan, untuk mencinta dan membenci sewajarnya. Karena bisa saja suatu saat perasaan itu akan berbalik. Cinta menjadi benci, benci menjadi cinta. Naudzubillah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kamu benci sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR. At-Tirmidzi)

So, mari melihat segala sesuatunya lebih dekat *eh kayak lagu Sherina ya :))

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

3 comments to “Lovers VS Haters”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. non inge - Maret 28, 2017 Balas

    Klo dah jadi lovers atau haters… Sepertinya sama saja kelakuannya… Sama2 berlebihan hehe

    • adedelina - Maret 29, 2017 Balas

      Yes, segala sesuatu yang berlebihan ga baik 🙂

  2. adedelina - Maret 29, 2017 Balas

    Iya jadi pengamat lebih baiklah hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.