muslimah swimming squad surabaya

Trauma Itu Hilang Berkat Muslimah Swimming Squad

Dulu waktu SMP, saya pernah punya pengalaman buruk dengan kolam renang. Ceritanya saya memang tidak bisa berenang, tapi saat itu karena pelajaran olahraga mengharuskan, mau tidak mau saya harus ikut. Sesudah pengambilan nilai (yang tentu saja tidak perlu ditanyakan, karena saya berenang seadanya haha), saya diam di pinggir. Masih di kolam, tapi saya tidak berani ke tengah.

Saat saya sedang mengamati teman-teman lain bermain di kolam renang, tiba-tiba saja teman dekat saya mendorong saya dari belakang, “Ayo, De renang. Ngapain di pinggir aja.” Alih-alih berenang, saya gelagapan. Saya nyaris tenggelam. Kolam itu dalamnya 1,5 meter. Di dalam kolam saya teriak-teriak, tidak ada yang menolong. Dalam hati, “Ya Allah, kalau memang ini akhir hidup hamba, ya sudah hamba ikhlas.”

Tapi untunglah, saat itu ada teman yang menolong. Saya tidak tahu apa jadinya kalau tidak ada orang yang lihat saya sama sekali. Sungguh sejak itu saya benar-benar trauma.

Saat SMK pun saya sudah tidak mau lagi nyemplung kolam renang. Lebih baik saya bayar saja walau tidak ikut berenang. Saya hanya akan ikut masuk kolam kalau berenang dengan keponakan. Itu pun hanya di kolam yang dangkal.

Trauma itu perlahan hilang berkat Muslimah Swimming Squad

Bulan Februari lalu, saya baca info di sebuah grup WhatsApp tentang komunitas Muslimah Swimming Squad. Rupanya komunitas ini hadir untuk mengajarkan para muslimah untuk belajar berenang tanpa membayar sepeser pun. Ada gurunya yang akan mengajar sukarela yang juga seorang muslimah. Anggota hanya bayar tiket masuk kolam renang saja. Dan sedekah sukarela yang akan dialokasikan pada yang membutuhkan.

Entah keberanian dari mana, tanpa pikir panjang saya ikut bergabung di sana. Saya bahkan sampai sengaja beli baju dan kacamata khusus renang. Karena memang diharuskan.

Begitu benar-benar tiba hari H kami janjian untuk belajar, melihat kolam rasanya masih ada getaran menakutkan di dada saya. Tapi dengan Bismillah, saya bertekad untuk menghilangkan trauma ini.

Saat masuk kolam pun, saya bisa dibilang rileks. Pelajaran awal menarik hela nafas, saya lewati dengan baik. Tapi awal-awal saya masih takut untuk berenang dari tengah. Walhasil saya masih tidak mau jauh dari pinggir kolam.

Pelatih terus saja memotivasi. Tapi trauma nyaris tenggelam itu masih saja membayangi. Di saat teman-teman sudah ke step akhir, saya masih di pinggir saja.

Sampai ada salah satu teman lain yang menghampiri saya dan memegang tangan saya, “Ayo Mbak, kamu pasti bisa. Saya ada di sini. Ayo.” Beliau terus saja mengulang-ulang kalimat itu. Akhirnya saya berani mencoba dari tengah. Walau awal-awal tertatih-tatih dan nyaris tenggelam, tapi teman saya selalu memegang tangan saya.

Mungkin itu yang dinamakan motivasi dengan tindakan nyata. Finally, saya bisa berenang dari tengah! Bahkan ketagihan nyoba terus. Andai saya tidak ingat anak-anak di rumah, rasanya sudah bablas sampai sore haha. Sungguh saya berterima kasih pada teman komunitas kala itu. Yang sayangnya lupa saya tanya namanya siapa hiks.

Keberanian itu mulai muncul

Di latihan ke dua pun, kemampuan saya semakin meningkat. Dan keberanian serta kepercayaan diri saya mulai muncul. Saya tidak takut lagi pada air! Bahkan rasanya berenang menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Muslimah Swimming Squad Surabaya
Dari saya yang sudah bisa tersenyum di kolam renang

Memang kalau tekad dalam diri sudah kuat, trauma pun bisa dihadang. Saya juga kagum pada diri sendiri, ternyata saya bisa mengalahkan rasa takut itu.

Kalau tidak ada pandemi, mungkin sampai sekarang saya masih akan latihan terus bersama Muslimah Swimming Squad. Mereka benar-benar baik hati sekali, sebab target utama mereka memang sampai semua anggotanya bisa basic berenang. Bahkan yang sudah bisa pun akan ikut mengajari yang belum bisa. Jadi ibarat rantai kebaikan yang terus berjalan.

Semoga setelah pandemi berakhir, keberanian itu masih ada di dalam diri saya. Karena sebetulnya saya memang ingin sekali bisa berenang :’) Terima kasih Muslimah Swimming Squad. Semoga para guru dan teman-teman yang sukarela mengajarkan bisa menjadi amal jariyah di kemudian hari 🙂

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

Leave a Reply

Your email address will not be published.