Kalo kemarin aku yang mencoba ikutan lomba nulis, kali ini adikku yang diminta sekolah untuk ikutan lomba dari salah satu produk *sensor* :D. Dengan tema “Sayangilah Bumi”. Yang diminta adalah menggambar atau membuat cerita pendek bertemakan itu. Ya sayangnya adikku agak sedikit manja, alhasil dia minta dibuatkan. Berhubung aku kakak yang baik, hehe akhirnya aku bantu. Tapi berhubung aku juga ngga pinter gambar, jadi memilih untuk membantu membuatkan cerpen..
And u know?
Harus 1 lembar HVS bertulis tangan, dan ngga boleh lebih -_- memakan waktu untuk berpikir tentang cerita apa, karena biasanya aku nulis paling ngga 3 lembar 😀
Yowis diringkas-ringkas, disingkat-singkat ceritanya dan dipadetin.
Ini dia ceritanya..
Cekidot 😀
Aku
Bukan Tempat Sampah
            “Mengapa
ya semua orang tega membuang sampahnya disini? Padahal aku bisa menjadi sumber
air bagi mereka, ya seandainya saja mereka mau merawatku?” gerutu si Sungai.
            Dua
orang remaja yang sedang berjalan, “Hmm enak banget ya snack nya. Yah habis
lagi.” Plak, sampailah bungkus snack itu ke dalam si Sungai. “Aah jahat sekali
mereka.” Lagi-lagi si Sungai hanya bisa menggerutu tak berkutik. “Lihat saja suatu
saat, jika aku sudah marah, kalian akan merasakannya sendiri.” Kali ini si
Sungai benar-benar kesal.
            “Sampai
kapan kesabaranku diuji, tak taukah mereka bahwa aku diciptakan untuk keindahan
mereka juga, membantu mereka, memberi mereka sumber air. Aku kan diciptakan
bersih, tapi karena sikap mereka yang tak peduli padaku, aku menjadi keruh. Aku
tak bisa lagi membantu mereka. Siapa yang rugi? Bukankah mereka sendiri?”
Sungai mulai meneteskan air matanya.
            Suatu
ketika..
            “Ibu,
ibu, ayo kita mengungsi, banjir sudah mulai mendekat kesini.” Bapak panik.
            Ibu
yang masih berada di dalam rumah, “Iya Pak, tunggu sebentar.”
            “Sudahlah Bu, bawa saja yang penting-penting. Kita tak punya waktu lagi. Ayo kita
mengungsi.” Bapak semakin panik.
            Kali
ini kemarahan si Sungai benar-benar meluap. Ia sudah tak tahan dengan tumpukkan
sampah yang terus menjejalnya.   
            “Banjir
lagi.. banjir lagi..” Ibu dan bapak yang melihat dari kejauhan di tempat
mengungsi.
            “Ya
bagaimana tidak, banjir itu kan bukan kesalahan alam. Kita tak bisa menyalahkan
alam, atau sungai yang tiba-tiba meluap. Kitalah sebagai manusia yang
seharusnya sadar. Bapak jadi ingat, dulu sungai itu masih jernih, masih bisa
dijadikan tempat untuk mencuci baju, mencuci piring, bahkan mandi bersama
teman-teman kecil Bapak. Namun sekarang banyak orang yang memanfaatkannya untuk
membuang sampah. Sungguh sangat disayangkan.” Bapak merenungkan kisahnya pada
masa kecil dulu.
            Ibu
melihat wajah Bapak yang nampak sedih.
            Bapak
melanjutkan, “Padahal, sungai itu bisa menjadi tampungan air jika ia dibiarkan
mengalir dengan lancar. Namun sampah manusia lah yang membuatnya tak bisa
mengalir lagi. Airnya juga jadi tak sejernih dulu.”
            Si
Sungai yang mendengarnya, sedikit terharu, ternyata masih ada manusia yang
memperhatikannya.
            “Bu
kita harus melakukan perubahan. Bagaimanapun, ini adalah untuk kepentingan kita
juga. Jika banjir sudah surut kita ajak warga untuk bergotong royong
membersihkan sungai. Mulai mendisiplinkan diri untuk tidak lagi membuang sampah
di sungai.” Bapak bangkit, ada gurat harapan di wajahnya.
            Ibu menyetujuinya.
            Tiga
hari kemudian banjir mulai surut. Warga kembali ke rumahnya masing-masing.
Membersihkan rumahnya dari sisa-sisa kotoran tanah bekas banjir.
            Esok
harinya, bapak yang merupakan ketua RT setempat mengajak warganya untuk
bergotong royong membersihkan sungai.
            Meski
sungai itu belum benar-benar jernih, akibat sampah yang sudah terlalu banyak
hingga mengubah warnanya, namun sungai itu kini bisa mengalir dengan lancar.
            Warga
pun bersyukur. Dan berjanji tak kan membuang sampah lagi di sungai.
            Si
Sungai pun kini senang. Karena warga akhirnya sadar bahwa dirinya diciptakan
memang untuk menjaga keseimbangan alam. Mengalirkan air yang sebenarnya bisa
dimanfaatkan warga, namun bukan untuk membuang sampah.
            “Terima
kasih untuk seluruh warga.” seru Sungai riang.
Bagaimana kira-kira? Hihiihi,,, ^^

2 thoughts on “Sayangilah Bumi: Aku Bukan Tempat Sampah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *