Trauma Membuat Saya Belajar, Kapan Harus Terbuka dan Berhati-hati

Namanya hidup dan bersosialisasi, pasti kita pernah yang namanya berburuk sangka dengan orang. Atau malah sebaliknya, niatnya nggak pernah berpikiran buruk, yang ada kita malah ketiban apes dibohongin. Dua-duanya pernah saya alami.

Dulu waktu masih zaman kerja, kalau lihat ada orang tampilannya mencurigakan di angkot, saya langsung curiga dia kenapa-napa. Pernah juga ketika dipuji sama orang, yang ada saya malah suudzon mereka nggak tulus. Tapi yang saya dapatkan, justru saya nggak kenapa-napa tuh. Dan soal dipuji, dari mana saya tahu kalau orang yang muji saya itu nggak tulus? Padahal mereka memang tidak meminta apa-apa dari saya setelah memuji? Astagfirullah *maafkan hamba ya, Allah.

Tapi lebih tidak enak ketika kita mengalami yang ke dua. Saya pernah dekat dengan seseorang. Ah baca saja ceritanya di Pria Palsu di Dunia Maya deh. Saya tidak pernah berpikiran buruk tentang dia. Dengan segala yang dia bicarakan, saya percaya semuanya. Tidak pernah ada sebersit pun pikiran bahwa dia akan membohongi saya. Tapi ternyata, Allah Maha Baik, menunjukkan “wajah” aslinya. Dan Alhamdulillah, saya dijauhkan dari orang tersebut.

Kita tahu kapan harus terbuka dan berhati-hati

Dalam hidup ini semua memang harus seimbang. Kapan kita harus berhati-hati dan waspada, kapan kita harus terbuka dan berpikir baik pada orang.

Sebetulnya tak rugi jika kita ‘dibohongi’ atau dicurangi, karena kasarannya kita tidak akan “berdosa”. Tapi kalau kita yang berpikir buruk duluan, kita bisa-bisa malah terjerumus ke dalam dosa karena orang yang kita pikirkan pada kenyataannya, baik-baik saja.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [QS. Al-Hujurat : 12]

Jadi, atas dasar pengalaman-pengalaman masa lalu, saya mencoba berusaha untuk bersikap seimbang. Tidak berburuk sangka, tapi juga tetap berhati-hati.

Lihat background atau track record orang tersebut

Ini untuk orang yang sudah lama kita kenal ya. Misalnya saja ada orang yang meminjam uang, kita bisa lihat bagaimana track record orang tersebut. Baikkah orangnya. Kalau punya janji ditepatikah. Kalau memang semuanya oke, ya boleh saja meminjamkan. Atau ketika misalnya dia berjanji, lihat apakah dia pernah mengecewakan kita atau tidak. Kalau kita bisa melihat track record orang, kita akan lebih mudah untuk berpikir baik atau berhati-hati saat bersikap.

Tapi kalau memang orangnya baru kita kenal, sebaiknya memang harus berhati-hati. Apalagi orang di dunia maya. Sebaik apapun, kita tetap tidak bisa melihat secara langsung ekspresi dan gelagat orang tersebut. Jangan mudah terpancing terlebih jika itu sudah menyangkut urusan materi. Tapi selama dia masih bersikap baik dan tidak berbuat yang aneh-aneh, ya kita tetap harus bersikap baik juga.

Buka mata buka hati

Maksudnya jangan menjadi orang yang tertutup. Kita mungkin pernah punya trauma masa lalu dibohongi, tapi jangan juga itu menjadikan kita untuk terus-menerus berburuk sangka pada orang. Karena tidak semua orang sama seperti orang yang pernah mengecewakan kita. Biar bagaimana pun hidup harus terus berjalan. Tidak mungkin kita kuat menghadapinya sendirian. Maka buka hati, agar kita tetap bisa punya teman.

Jangan juga menjadi orang yang gampangan. Misal baru ketemu dengan orang yang dikenal, langsung mau diajak ke rumahnya. Atau langsung mau memberinya uang dalam jumlah yang banyak. Kita tetap harus bisa menilai, mana yang sekiranya bisa dilakukan, dan lebih baik ditunggu dulu sampai kita betul-betul mengenalnya.

Pikirkan positif dan negatifnya

Ingin membantu orang, apakah itu akan berguna untuk dia atau tidak. Kalau saya membantu dia, kira-kira ada dampak buruk atau tidak. Semacam itu. Jadi kita bisa menilai, apakah orang yang kita hadapi ini betul-betul baik atau tidak. Apa positifnya jika kita bersikap seperti ini. Dan apa negatifnya jika kita bersikap seperti itu. Dengan demikian, kita masih bisa bersikap baik, namun tetap berhati-hati.

Belajar membuka hati dan pikiran

Saya juga pernah punya trauma, saya pernah mengalami krisis diri yang membuat saya selalu mencurigai semua orang. Tapi saya sadar, tidak mungkin selamanya saya akan begitu. Karena sebenarnya saya tahu, yang kesulitan pasti nanti saya sendiri juga. Jadi lebih baik, saya mulai membuka hati dan pikiran, bahwa apa yang saya pikirkan terkadang tidak benar. So, sekarang saya lebih memilih untuk belajar berpikir baik saja pada semua orang, namun saya juga tetap berhati-hati menjaga diri.

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

Leave a Reply

Your email address will not be published.