Siapa bilang hanya lidah yang mampu menghujam hati, nyatanya sebait kata yang ia kirimkan mampu memanaskan hatinya.
Sebelum membuka pesan kau masih percaya bahwa tidak ada yang salah dalam dirimu.

“Mungkin ada seseorang yang memanfaatkannya.” Begitu katamu.

Sampai kata-kata itu keluar, rupanya kau mulai percaya. Mencoba membelalakkan mata berkali-kali. Menampar-nampar pipi dan mencubit tanganmu. Dan yah, toh kenyataannya memang begitu.

Amarah menyeruak dalam dadamu. Kau coba sabar dalam rasa panasnya. Berusaha berpikir jernih dalam menghadapinya.

“Kenapa baru sekarang, tapi kenapa juga harus aku? Apa salahku ya Tuhan.”

Tuhan? Kau tidak sedang menyalahkan Tuhan bukan? Ya. Kuharap kau hanya berpikir bahwa itu semua karena Tuhan punya urusan. Bukankah Dia Yang Maha Membolak-balikkan Hati? Kapan dan apa yang Ia kehendaki, kun fayakun. Jadi, maka jadilah. 

Manusia tak pernah tahu sampai kapan batas umurnya. Bahkan manusia kesayangan-Nya pun tak pernah tahu kapan malaikat maut menjemputnya. Dan seperti itu jualah rasa yang ada dalam hati. Pun itu rasa sayang yang kau damba. Ia berfluktuatif layaknya iman. Kapan saja bisa berubah sesuai kehendakNya. Mudah bukan? Lalu untuk apa kau sesali masa lalu yang sudah tercipta dan kini menjadi seratus delapan puluh derajat berbanding terbalik dengan apa yang dulu kau rasakan.

Kau benar. Bahwa sebenarnya rasa indah itu bisa bertahan lama jika terus dipupuk dan disiram dengan usaha. Tapi lagi-lagi Tuhan punya urusan. Kenapa kau tidak berpikir saja bahwa Tuhan sedang menyiapkan rencana yang lebih indah untukmu? Ah. Mungkin itu terdengar klise. Tapi itu benar lho. Kadang kitalah sebagai manusia yang sok tahu. Menerka, merencanakan dan berharap masa depan akan seperti yang kita inginkan. Oh ya, ada satu yang kau lupa. Usaha tak bisa berjalan sendiri. Sebab, ia akan menjadi kesombongan. Ia akan indah manakala ada pendampingnya. Apakah itu? Do’a. 

Bukan, bukan do’a untuk sekedar membuatnya kembali atau mengubah suasana layaknya sedia kala. Tapi berdo’a demi kebaikan dirimu. Jugaaa.. Ya juga untuk dirinya. Kalaupun tak kembali, itu karena Tuhan punya urusan. Ingat saja kata-kataku ini.
“Hidup ini Tuhan yang mengatur. Dan segalanya, karena Tuhan punya urusan.”

credit

8 thoughts on “Tuhan Punya Urusan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *