Tuesday, 16 January 2018

Tuesday, January 16, 2018 16

Buku Bekas, Kenapa Tidak?

Kesukaan saya menulis mungkin karena didikan orang tua juga. Dari kecil orang tua saya suka sekali membelikan buku. Hingga akhirnya kesukaan membaca itu pun mengalir begitu saja. Dan kini menghasilkan saya yang sangat suka baca buku dan menulis. 

Orang tua saya mungkin bukan tergolong kalangan atas. Makanya buku-buku yang dibelikan pun kebanyakan hanya buku bekas. Tak apa, Ade kecil juga tak mengerti. Yang ia tahu buku itu masih bagus. Layak sekali untuk dibaca. Bahkan cerita-ceritanya pun seru. 
via Pixabay
Saya tidak tahu pasti mereka mendapatkan buku-buku itu dari mana. Karena saya hanya menerima dan membacanya tanpa pernah mempertanyakannya. 

Tapi suatu kali saya pernah diajak ke sebuah tempat. Aduh lupa namanya. Kwitang di Senen mungkin? Ah entahlah. Yang jelas waktu itu saya minta buku paket sekolah pada ayah ibu. Bukan dibelikan di sekolah, ayah ibu justru mengajak saya ke tempat perbelanjaan buku-buku murah. Ya, di sanalah saya mendapatkannya. Bahagia rasanya. Karena bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah daripada yang dijual di sekolah. 

Buku bekas, kenapa tidak? 

Makanya hingga kini saya masih suka tergiur dengan harga buku yang lebih murah. Bahkan saya tidak pernah mempedulikan apakah itu baru atau bekas. Selama masih layak dibaca, kenapa tidak? 

Saya pernah disuruh suami untuk beli buku yang judulnya 60 Second Manajemen Stres. Karena sudah lama sekali, buku itu sudah jarang dijual. Alhasil saya cari-cari di toko online. Dan ketemulah di sebuah marketplace. Ternyata bukunya bekas. Tak apa. Toh kondisinya masih bagus. Alhamdulillah dapat juga. Dan sekarang bukunya masih tersimpan rapi di rumah.

Beberapa kali saya juga diberikan buku oleh teman-teman. Kadang lewat giveaway, kadang juga diberi secara cuma-cuma. Walaupun kondisinya sudah tidak baru, Alhamdulillah masih layak sekali untuk dibaca.

Ya, bagi saya esensi sebuah buku tidak dinilai dari baru atau bekasnya. Selama itu buku asli, buku itu akan terus berharga sepanjang perjalanannya. 

Buku bajakan? BIG NO

Yang justru lebih menyedihkan adalah jika itu buku baru tapi bajakan. Ya, saya pernah terjebak pada harga murah.

Ceritanya saya kepingin beli sebuah buku. Tapi terbentur harga yang cukup mahal bagi saya saat itu. Alhasil saat saya menemukannya secara online dan harganya jauh dari harga buku aslinya, tanpa pikir panjang saya langsung tergiur.

Begitu sampai di rumah, saya mulai curiga, kenapa sampulnya seperti pudar dan tidak timbul layaknya buku biasa? Benar saja, pas dibuka isinya, tinta tulisannya sangat pudar bahkan beberapa nyaris tak terbaca. Dan setelah dibaca, kertasnya mudah robek. Sampulnya pun nyaris robek. Ah dua kali saya tertipu seperti itu. Sungguh jahatnya si pembuat buku bajakan. Semoga ia diampuni, hiks.

Ternyata, saya belum tahu bahwa jika buku apalagi buku baru terbit dan dijual jauh dari harga normal, kita harus waspada. Sebab bisa jadi itu buku bajakan. Alias buku yang dibuat tanpa izin. Cetakkannya pun menggunakan cetakan murah, hiks.

So, jika ditanyakan apa saya suka buku bekas? YA, selama itu BUKAN buku bajakan. Warna kuning, terlipat, ada sedikit coretan, tidak mengurangi esensi sebuah buku. Karena yang lebih penting adalah buku itu masih bisa dibaca dan bermanfaat sepanjang hayat. 

Kalau teman-teman bagaimana? Apa pendapatmu tentang buku bekas?

Monday, 15 January 2018

Monday, January 15, 2018 10

Kebaikan Kecil yang Semoga Membekas

Sering tersiar kalimat, "kasih anak sepanjang gala, kasih orang tua sepanjang jalan. Orang tua bisa membiayai anak 10, tapi anak 10 belum tentu bisa membiayai orang tua."

Hiks sedih dengernya. Semua kalimat tentang orang tua rasanya memang seperti bikin melow. Apalagi sekarang saya sendiri sudah jadi orang tua. Jadi benarlah kalau dikatakan, "kita belum bisa melihat orang tua sesungguhnya selama kita belum jadi orang tua." 
via Pixabay
Ya, saya merasakan sekali ternyata beginilah rasanya jadi orang tua. Memberi segala yang terbaik untuk anak. Selalu mengusahakan apapun untuk anak. Dan memiliki setulus-tulusnya cinta pada anak. Perasaan ini dimulai ketika saya hamil dan melahirkan dua orang anak. 

Semoga kebaikan kecil itu membekas

Sekarang saya jauh dari orang tua. Tapi karena jauh inilah rindunya jadi lebat. Membuat kebaikan-kebaikan kecil yang bisa saya lakukan dari jauh, selalu saya upayakan. Sebab untuk membalas mereka memang tidak mungkin. Tapi semoga kebaikan kecil saya bisa sedikit membahagiakan mereka. 

Pernah suatu hari saya memberi uang pada mereka yang barangkali jumlahnya tidak seberapa, tapi balasan mereka masya Allah. Do'a yang cukup menyentuh buat saya. 

De, Ayah selalu doain siang dan malam semoga Ade dimudahkan melahirkan anaknya dan dikaruniai anak yang sehat dan soleh. Sampaikan salam buat Siddiq semoga usahanya tambah maju dan lancar dan menjadi bapak yang penyayang dan sabar. Aamiin. 
Makasih banyak ya mudah-mudahan rumah tangganya makin harmonis. Panjang umur. Panjang jodoh. Emir juga mudah-mudahan panjang umur sehat makin cerdas. Salam sayang Emiir. 
Itu balasan dari ayah dan ibu saya. Doa mana yang paling diijabah selain doa orang tua pada anaknya? 

Saya merasa itu bukanlah apa-apa dibanding apa yang mereka beri untuk saya. Tapi mungkin saya tidak tahu kalau hal kecil yang saya beri ternyata berarti besar bagi mereka. 

Ya, barangkali seperti itulah orang tua. Anak merasa biasa-biasa saja saat melakukan sesuatu. Tapi tidak disangka bahwa kebaikan kecil dari anaknya ternyata amat berharga dan membekas di hati mereka.
Kabulkanlah doa mereka Ya Allah.
Lindungi selalu mereka dimana pun berada.
Aamiin ya Rabbal alamin. 
Dari anak yang penuh dosa, tapi di lubuk hatinya selalu ingin orang tuanya bahagia. 

Sunday, 14 January 2018

Sunday, January 14, 2018 8

Menumbuhkan Minat Menanam

Waktu SMP seorang temen saya pernah ngomong, "kalo mau ke rumah Ade tuh pokoknya cari aja yang rumahnya nggak kelihatan. Haha abis ketutupan tanaman."
via Pixabay
Haha ada benarnya sih. Depan rumah orang tua saya itu banyak tanaman. Dari dulu ibu saya emang suka banget bercocok tanam. Ditambah punya suami yang mendukung. Cocok deh mereka 😄 Makanya nggak heran kalau di depan rumah dipenuhi tanaman dan pot dengan pemandangan yang hijau 😍

Dan ini ditulari ke kakak-kakak saya. Di rumah mereka pun, ibu dan ayah selalu menanam di pekarangan mereka. Tujuannya ya membuat rumah mereka juga asri. Dan sampai saat ini rumah mereka pun jadi hijau.

Sayangnya ini belum tertular ke saya huhu. Dulu saya pikir bakal bisa kayak kakak-kakak yang juga suka menanam. Lahdalah pas punya rumah sendiri kok malah belum kesampean 🙈

Suami udah pernah beli tanaman jeruk nipis dan ditaro di pot sih. Tapi seringnya saya lupa nyiram. Begitu pun suami. Akhirnya sama suami ditaro di halaman lantai atas, biar disiram sama karyawannya. Lah piye iki? 😂

Sampai-sampai saya berpikir jelek, apa iya saya nggak bakat bercocok tanam? Selain saya nggak ngerti caranya menanam, saya pun bukan orang yang care dengan tanaman *aih. Iya, dulu pas gadis saya memang nggak terlalu peduli sama tanaman-tanaman punya ibu. Nyiram aja kalau disuruh aja sama ibu 😑

Duh maafkan Baim ya Allah 🙈

Meski begitu, saya ini sebenernya suka lihat yang hijau-hijau (bukan duit lho yaa walaupun juga sih haha). Soalnya ngerasain banget pas di rumah lihat banyak tanaman tuh rumah jadi asri dan adem. Selain itu bagus juga kan buat relaksasi mata. Apalagi tanaman yang ditanam ibu juga ada yang bermanfaat. Kayak pandan, lidah buaya, sirih, daun jeruk, dan buah mangga.

Jadi saya mulai kepikiran pengen nyoba bertanam. Apalagi di rumah saya juga punya halaman belakang yang masih kosong. Bakalan lebih bagus kalau diisi dengan yang hijau-hijau. Dan dulu sempat kepengen kayak halaman-halaman yang dishare di Instagram dengan pemandangan hijau dan bunga warna-warni. Di pikiran saya tuh bakal menanam tanaman yang bermanfaat. Kayak buah, sayuran, atau tanaman apapun yang pokoknya bisa dimanfaatkan. Kan bagus buat meminimalisir pengeluaran 😍

Niatnya sih mungkin kalau anak-anak udah mulai bisa diatur. Karena seru kayaknya kalau bisa ngajak mereka buat kotor-kotoran sambil ngajarin caranya bercocok tanam 😍

Semoga yaa. Nanti berguru dulu deh ke ibu 😁

Kamu gimana, punya tanaman nggak di rumah? Atau jangan-jangan malah suka banget bercocok tanam? Boleh dong sharing juga tipsnya 😍

Saturday, 13 January 2018

Saturday, January 13, 2018 14

2018 Mau Liburan Kemana Kita?

Desember kemarin rasanya puas banget liburan selama tiga minggu 😍. Saya, suami, dan anak-anak bisa pulang ke Bekasi dan main-main ke rumah kakak-kakak. Di sana juga kami semua sempat jalan ke tempat-tempat hiburan kayak alun-alun Purwakarta, dan Waduk Jatiluhur yang juga ada di Purwakarta. 
Waduk Jatiluhur Purwakarta
dok. pribadi
Memang nggak banyak tempat yang kami kunjungi sih. Tapi cukuplah untuk sekedar lihat pemandangan baru. Karena fokus saya memang lebih ke kumpul keluarganya. Ya sebab saya hanya bisa satu tahun sekali untuk kumpul sama keluarga di sana. 

2018, mau liburan kemana kita? 

Lalu kalau ditanya tahun 2018 ini mau kemana? Ya maunya sih kemana-mana haha. 

Saya itu sebenernya seneng jalan-jalan. Tapi sayangnya jarang hehe. Sekalinya jalan yang bisa dikategorikan liburan (bukan sekedar nge-mall lho ya), itu bisa sekalian jauh. Kayak bulan Agustus kemarin jalan-jalan ke Batu, September ke Madura, dan Desember kemarin ke Bekasi dan Purwakarta. 

Keluarga suami sempet guyon pengen liburan sekeluarga ke Lombok. Ya nggak tahu gimana nanti lihat aja. Saya sendiri sih kalo diajak mau aja hehe. Apalagi saya emang belum pernah ke Lombok atau luar Pulau Jawa. Jadi bisa dibilang tahun ini saya belum ada rencana apa-apa. Tapi kemarin sempet sih ada bau-bau omongan kalau tahun ini bakal pulang kampung ke rumah ibu saya di Kuningan, Jawa Barat kayaknya. 

But, misalkan ditanya kepengennya kemana? Sama seperti yang selalu saya jawab, pengennya bisa menjelajahi pantai-pantai di Indonesia. Nggak usah semua deh, cukup beberapa aja. Walaupun udah ke beberapa pantai di Jawa, tapi rasanya belum cukup memuaskan hasrat 🙈

Cinta banget deh sama pantai. Buat saya bisa melihat pantai apalagi yang baru dikunjungi tuh semacam bisa memberikan angin segar. Terlebih kalau pantainya bener-bener bersih dengan hamparan pasir yang lembut 😍 *langsung ngebayangin bisa telanjang kaki 😍

Ditambah melihat postingan teman-teman pas liburan kemarin yang pergi ke pantai. Duh makin kepengen rasanya. Sembari ajak anak-anak dan mengenalkan mereka ke dunia air laut yang nyata. 

Kalau gini mungkin saya harus bikin proposal dulu ke suami hihi. Kalau nggak ke pantai, ya bolehlah sekedar ke air terjun, atau pegunungan atau tempat-tempat yang punya pemandangan indah pokoknya. 

Aamiin aamiin. Semoga keturutan ya 😁

Kalau kamu, mau rencana liburan kemana tahun ini? 

Friday, 12 January 2018

Friday, January 12, 2018 11

Mau Serius Ngeblog Lagi

"Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat."
Kata sebuah hadits. Bahwa belajar itu tidak pernah mengenal kata putus sampai kita kembali ke pangkuanNya. 
via Pixabay
Termasuk saya sendiri. Banyak yang ingin saya pelajari khususnya di tahun 2018 ini. Belajar mengendalikan diri, menjadi orang tua yang baik, sampai yang kelihatan adalah belajar dalam hal ngeblog. 

Serius ngeblog lagi

Ya, sekarang saya kepingin serius lagi untuk ngeblog. Setelah Desember kemarin hanya bisa menghasilkan satu tulisan di blog ini. Dan itu menyedihkan buat saya hiks. Entahlah bulan kemarin rasanya benar-benar nggak ada gairah untuk nulis. Mungkin efek liburan juga.

Di tahun kemarin pun tidak ada pencapaian yang berarti. Job masih bertebaran sih *ups*. Tapi semangat kontes saya yang menurun. Padahal pengen gitu icip-icip lagi rasanya menang lomba blog 😆

Karena itu sekarang saya coba lagi memacu semangat lewat One Day One Post yang diadakan oleh Komunitas Indonesian Social Blogpreneur. Hitung-hitung sebagai permulaan dan supaya saya nggak mati ide. Yes faktor nggak ada ide juga yang bikin gairah menulis saya di bulan kemarin menurun 😞

Jadi tak apalah walau lagi-lagi harus keluar jalur dari jadwal yang sudah saya buat di blog ini 🙈

Mengikuti perkembangan blog dan kembali baca buku

Salah satu cara saya untuk mendalami blog adalah terus melihat perkembangan blog lewat ilmu-ilmu yang tersebar di lini masa media sosial, grup-grup komunitas blogger, sampai berlangganan news letter pada blog-blog atau website yang secara khusus membahas blog. Juga mulai melihat statistik untuk melihat seberapa besar pembaca saya dan dimana minat mereka.

Selain itu saya juga mulai mengasah kemampuan nulis saya dengan kembali lagi baca buku. Tentu saja agar pengetahuan dan kosakata saya bisa bertambah. Dan ingatan saya tentang cara menulis yang baik dan benar tak pudar hehe 😁

Terkesan ribet memang. Apalagi perkembangan blog sama saja seperti teknologi yang berpacunya sangat cepat. Tapi ketika memutuskan bahwa saya ingin serius di dunia ini dan bisa menghasilkan, mau tidak mau saya pun harus mengikuti. 

Untung saja saya juga punya seorang suami yang juga berprofesi di bidang teknologi. Jadi beliau sedikit banyak mengerti tentang blogging dan seluk beluknya dan mau membantu saya. 

Inginnya sih ke depannya saya bisa ikut kursus, workshop, seminar atau sejenisnya tentang ngeblog secara offline. Karena saat-saat ini belum sempat huhu. Padahal sering dapat undangan. Sebab iri rasanya melihat blogger-blogger lain sudah lebih maju dan bisa menghasilkan pengunjung blognya lebih tinggi.

Ya, semoga saja ya. 

Kalau kamu sendiri, apa yang ingin kamu pelajari di tahun 2018 ini? 

Thursday, 11 January 2018

Thursday, January 11, 2018 6

Mudah Dibentuk

Pertanyaan yang paling saya takuti untuk saya jawab adalah, "apa kelebihanmu?" Bukan tidak bersyukur, barangkali saya hanya memang tidak menyadarinya. Atau lebih tepatnya sih karena saya takut menjadi tinggi hati. Eh tinggi hati atau memang tidak percaya diri? Bisa jadi 😂
via Pixabay
Lantas saya nanya aja ke suami. Orang yang menurut saya paling tahu bagaimana saya saat ini. Jawaban suami cuma, "dirimu masih bisa dibentuk."

Dibentuk gimana? Dibentuk untuk jadi penurut maksudnya. 

Saya akui, saya tipe orang yang keras kepala. Ngeyelan. Dan kadang akan tetap ngeyel kalau 'belum kena getahnya'. Masalahnya kadang ngeyelan saya itu justru bisa berdampak negatif buat saya sendiri. Inilah yang disebut 'kena getahnya.'

Kesabarannya membimbingku

Tapi semenjak nikah, dapet suami yang sabarnya duh Masya Allah. Beliau mau membimbing saya pelan-pelan. Meski kadang juga harus dengan cara yang tegas - tapi tidak kasar untuk membuat saya mau mendengarkan kata-katanya. Agar saya mau mendengarkan bahwa saya memang harus berubah (menjadi lebih baik). 

Nggak cuma permasalahan rumah tangga. Tapi juga masalah anak, keluarga, sampai ke lingkungan sekitar. Saya merasa suami itu bisa banget baca pikiran dan isi hati saya. Dan apa yang dikatakannya memang benar. Makanya mungkin karena keahliannya itulah saya jadi merasa setiap masukkan yang diberikan suami itu selalu pas buat saya. 

Walau ya jalannya sangat tidak mudah. Yes, merubah orang yang keras kepala itu sulit kalau nggak banyak-banyak sabar *duh 🙈

Nah barangkali suami ngerasa kalau saya itu sebenernya BISA kok dibentuk untuk jadi penurut. Hanya perlu kesabaran dan ketekunan. Karena menurut suami, istri yang bisa 100% nurut ke suami (tentu saja nurut dalam hal kebaikan ya) itu jaraaaang sekali. Padahal bagi seorang laki-laki (lagi-lagi ini pengakuan suami) istri yang nurut itu bisa bikin bahagia suami lebih dari apapun. 

Well, sekarang saya berniat untuk belajar lebih mendengarkan. Intinya nggak mau 'kena getahnya' dulu baru berubah. Apalagi punya suami yang pengalaman hidupnya jauh di atas saya. Itu yang mungkin bisa menjadikan dia untuk bijak membimbing saya. 

Semoga ya Kak, semoga aku tetap mudah dibentuk 🙈 Dan semoga Kakak selalu diberi kesabaran tak terhingga oleh Yang Maha Kuasa 😇

My Community