Friday, 28 October 2016

Kebaikan dan Membangun Ekspektasi Berlebihan

Membaca tulisan Mak Indah, tentang Membangun Reputasi, saya jadi ingat kasus-kasus pesohor dalam negeri yang dikenal baik dan sempat tersandung masalah. Akhirnya kesalahan mereka membuatnya nyaris atau bahkan 'diblacklist' dari manusia yang baik. Ibarat nila setitik, rusak susu sebelanga. Padahal kesalahan yang mereka lakukan, barangkali tidak lebih besar dari kebaikan-kebaikan yang sudah mereka berikan dan dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.

Kita menganggap bahwa para pesohor itu munafik. Padahal pada dasarnya, siapapun manusia pasti ingin dikenal baik. Bahkan orang jahat sekalipun mungkin sebenarnya ingin dikenal baik. Tapi sayangnya, kita memang manusia. Yang memiliki keterbatasan dan tidak lepas dari salah dan khilaf.

Belum lagi di dunia media sosial sekarang. Saat kita bisa menulis apa saja di dalamnya. Tidak mungkin kita mau terus-terusan mengeluh, menjelek-jelekki diri sendiri atau mengumbar masalah pribadi kita. Itu semua karena kita ingin dikenal baik. Kita membangun agar reputasi kita tidak buruk. Munafik? Tidak. Karena kita tahu, bahwa keburukan yang kita tampakkan hanya akan membuat kita dipandang sebelah mata.


Ekspektasi berlebihan, menganggap manusia sempurna

Mungkin memang kita juga yang terlalu mudah dan cepat percaya pada orang. Sampai kita lupa memberikan ruang kekecewaan di dalam hati kita. Kita larut dalam kebaikan-kebaikan yang diberikan orang lain. Bahkan dengan suami atau istri kita sendiri. Yang sebelum menikah, terlihat begitu sempurna baiknya. Tapi setelah menikah, kita akan dikejutkan dengan banyak hal yang sebelumnya tidak kita tahu. Kalau kita tidak bijak, bukan tidak mungkin rasa cinta yang sebelumnya tumbuh, hanya akan menjadi benci karena kita tidak mau menerima kekurangannya.

Mungkin memang kitalah yang terlalu memasang ekspektasi berlebihan. Memandang kebaikan-kebaikan yang dilakukan orang lain membuat orang itu sempurna. Sampai kita melihat bahwa mereka tidak memiliki celah. Akhirnya kita lupa, bahwa mereka juga manusia, yang hakikatnya punya salah dan khilaf.

Di dunia ini, tidak ada yang kebetulan

Seorang wanita yang saya kagumi selalu bilang, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua karena Allah punya maksud. Termasuk dengan kebaikan-kebaikan orang yang diperlihatkan pada kita, barangkali dari situlah ada pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil.

Maka ketika seseorang melakukan kesalahan, kekecewaan kita adalah hal yang wajar. Tapi jika rasa benci yang tumbuh, sesungguhnya kitalah yang rugi. Kita membiarkan diri tersiksa dengan tumpukkan perasaan yang memberatkan langkah kita.

Terakhir, ada kutipan bagus:
“Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapa pun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. Karena sebenarnya yang tahu persis kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.
Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.”
― Tere Liye, Rindu

16 comments:

  1. Setuju sama Ade, jangan terlalu berlebihan atau membuat ekspektasi yang berlebihan, kalau nggak sesuai bisa bikin kecewa. Kalau kecewa trus move on sih nggak apa, kadangan ada juga yang akhirnya bikin penyakit buat diri sendiri :)

    Terima kasih banyak sudah menanggapi tulisanku ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu dia Mak, kadang ada yang dipendem terus-terusan akhirnya jadi penyakit deh.

      Sama-sama Mak Indah :*

      Delete
  2. Aku belum beres baca novel rindu jadi reminder mau selesaiin krn kehaling buku yang lain dari tahun kapan tau :p
    Klo aku ngaca ke diri sendiri si mba kalau ada yg posting keluhan, gerutu, kesel, provakasi aku sendiri yang baca aja sebel luar biasa makanya aku ga mau begitu walaupun prakteknya emang tak semudah teori hahahah..nice reminder

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca mbak. Aku dulu cuma kelar 3 hari. Saking asyiknya hehe.

      Delete
  3. sentilan yang menarik mbak. terutama dalam menilai pasangan.

    ReplyDelete
  4. setuju....
    yg penting berbuat sebaiknya.. ga perlu bilang baik sana sini..

    karena kebaikan itu gak butuh penilaian..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Sama seperti tangan kanan memberi, tangan kiri ga perlu tau :)

      Delete
  5. secara gak sadar, kita sering menuntut orang lain bak malaikat, sehingga saat ia berbuat salah kita gak terima, padahal manusiawi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap. Padahal kita bukan malaikat yang tak punya dosa :(

      Delete
  6. Kalau saya mah lebih baik dipuji oleh allah swt daripada harus menunggu pujian dari orang lain karena lebih muantappp juga mbak kalau dapat pujian dari allah swt mah. ahi hi hi.

    ReplyDelete
  7. Kutipannya panjang 😄
    Tp setuju dg tidak berekspektasi berlebihan.

    ReplyDelete
  8. Jangan melulu menilai kualitas diri kita melalui kacamata orang lain. Percaya diri saja, bahwa kita sudah melakukan yg terbaik bagi hidup kita, tidak peduli bagaimana pun hasilnya. Gagal itu wajar, yg penting kita mau belajar dari kesalahan, dan berani mencoba lagi. Kali ini, dengan cara yg lebih cerdas.

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.