Untuk kali ini saja. Biarkan aku menahan diri untuk tidak lagi mengirimimu kata-kata setiap malam. Bukankah itu yang kau mau? Aku berhenti mengganggu dan membiarkanmu berjalan seperti biasanya. Tanpa aku. Sepertinya kau sudah bahagia bukan?
Teringat memori setahun lalu. Dimana kita masih bebas bersua. Berjalan berdua beriringan, bergandeng tangan kemanapun kita mau. Kau dan aku tertawa. Mengeluhkan segala keluh kesah. Katamu, “Tetaplah di sini, bagaimanapun aku, tetaplah di sini. Aku akan selalu setia untukmu.” Kala itu aku hanya tersenyum. Menyeruput kembali janjimu. Menyimpannya dalam hati rapat-rapat. Berharap semua yang kau katakan benar adanya.
Kau suka setiap kali aku bertandang ke rumahmu. Meski seringnya bukan kau yang menyambutku. Tapi ibumu. Dengan ramah ibu menyapaku. Seolah kau membiarkan aku bercengkrama dengan ibumu sembari menunggu urusanmu selesai. Ah ya, kau tahu apa yang ku rindukan? Ayunan depan rumahmu! Bukan pilihan tempat lain. Hanya ayunan sederhana yang menemani kita menghabiskan waktu.
“Sudah puaskan?”
Itu yang setiap kali kau ucapkan sebagai bahan ledekkan, karena aku seperti anak kecil yang selalu minta naik ayunan. Bukan. Bukan semata ayunan yang kurindukan, melainkan bahan ceritamu yang tak pernah habis. Seringkali aku hanya menjadi pendengar. Cukup saja bagiku mendengar segala ceritamu. Kesedihan, kebahagiaan, katamu hanya aku yang tahu itu semua. Cukup saja sorot matamu menunjukkan bahwa kau memberi kepercayaan sepenuhnya padaku.
Kini, mungkin sudah saatnya. Sudah saatnya aku berhenti mengungkit ini semua. Cerita-cerita kita. Kebahagiaan kita, keluh kesah kita. Cukup. Cukup saat kau perlahan-perlahan menyuruhku mundur dan memilihnya. Aku yang dulu selalu kau agung-agungkan, kini tak ada artinya lagi. Entah pula apa kau masih ingat padaku atau tidak. Terima kasih untuk hari-hari yang lalu. Karenamu, aku tersenyum. Karenamu, aku mengerti cinta yang sesungguhnya. Sesederhana kata klise, aku bahagia, bila kau bahagia. Dan aku merasakannya saat ini!
Lupakan
bahwa aku mengenang masa lalu.
Aku
hanya mengeluhkan rindu
yang
tak kunjung usai dengan caraku.
Ya
ini.

Cerpen ini diikutkan dalam giveaway #QuizDy

2 thoughts on “Ingatan Lalu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *