Saya tadinya menghindari banget untuk bahas politik di blog. Tapi pas baca tulisan Mak Umi yang judulnya Sambel Politik, saya jadi agak tercerahkan. Sebetulnya bahas politik nggak masalah, HANYA SAJA HARUS dalam keadaan hati lagi adem. Dan bukan yang menimbulkan perang atau perdebatan. Khususnya pemilihan pemimpin daerah, atau negara. Kita boleh punya pilihan, TAPI kita TIDAK perlu menyalahkan orang yang berbeda pilihan dari kita. Ya, got poin! Semua kembali lagi ke masing-masing orangnya. 

Hingar bingar itu hanya sudut pandang kita saja menanganinya

Hal-hal yang selama ini kita lihat di media sosial, dengan segala ribut-ribut yang sepertinya nggak kelar-kelar. Bukan saling mendukung saja, tapi justru saling menjatuhkan pihak lawan. Itulah yang keliru. Tapi kita di sini, sangat bisa untuk tidak masuk ke dalam hingar-bingar itu. Bukan karena kita tidak punya pilihan, tapi karena kita tahu bahwa ada masalah lain kita yang lebih penting daripada hanya sekedar mengurus pemilihan pemimpin, yang pada ujungnya bukan diambil dari keputusan di media sosial, tapi ada di bilik pemilihan suara.
Kalau kata Mak Umi, semua hingar-bingar itu hanya sambel kok. Tergantung bagaimana kita ‘meracik’ dari semua bahan yang beda-beda hingga hasilnya bisa jadi enak. Dalam artian, semua itu kembali lagi dari bagaimana sudut kita memandang. Kita bisa memilih untuk ikut ‘ribut’ atau justru kita lebih fokus ‘berjalan’ ke dalam diri sendiri.

Keputusan (perubahan) itu ada di tangan kita sendiri

Toh memang seperti itu kan. Akhir keputusan pemilihan tidak bisa kita gugat. Kita hanya bisa menerima. Lantas untuk lebih baik kita berpikir langkah selanjutnya agar pemimpin yang terpilih bisa menjalankan amanahnya dengan baik. Yang salah satunya tentu saja dimulai dari diri kita sendiri. Ya, segala perubahan apapun bukan dimulai dari orang lain, bukan dimulai dari pergantian pemimpin, melainkan pada akhirnya, kita jualah yang bertanggung jawab untuk perubahan itu sendiri.
Hmm, tarik nafas dulu.

Tidak ada langkah besar jika tidak dimulai dari diri sendiri.

Well, tidak ada gunanya kita teriak-teriak untuk mengganti pemimpin. Apalagi kalau diri kita sendiri masih bersikap sama seperti kemarin, a.k.a tidak menjadi lebih baik, tidak berkontribusi bagi orang banyak, dan hanya mementingkan kepentingan pribadi. Karena sesungguhnya, bukan pemimpin atau orang lain yang memulai perubahan, tapi diri kitalah yang bisa mengubahnya.
Banyak hal dalam hidup ini takkan
selesai hanya dengan mengeluh. Keluhan justru akan memberatkan hidupmu
sendiri. Tuhan juga tak suka dengan makhluk yang tidak optimis. Bukankah
kita sudah diingatkan, Aku takkan mengubah nasib suatu kaum, jika ia tak mengubahnya. 

Mungkin kita hanya perlu keluar untuk sekedar menatap udara segar.
Memandang tanaman-tanaman hijau di depan rumah. Sejenak melupakan
sulitnya kehidupan. Melupakan sesaknya beban hati. Karena diam di rumah
seringkali membuat kekotoran hati berceceran kemana-mana.

Keputusan Ada di Tanganmu

6 thoughts on “Bukan Pemimpin yang Harus Berubah, Tapi Diri Kita Sendiri”

  1. Sebenarnya sebagai masyarakat kita harus lihat dari dua sisi sih mba terhadap pemimpin kita. Baik dan buruknya. Tinggal kita timbang yang mana yang paling banyak. Itu bisa jadi pertimbangan ketika ada pemilihan kepala daerah lagi. Kita boleh menuntut, tapi kita juga harus berkontribusi. Intinya berusaha mengimbangi. (:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *