Terlampau mudah memberi harapan. Impian-impian manis yang terdengar menjanjikan. Ringan tanpa beban mengucapkan. Tak peduli yang mendengar punya rasa atau tidak. Melompati jalan yang suatu saat bisa melukai.
Senyum sumringah terlalu cepat tercipta di raut wajah. Sayang, ia tak tahu bahwa Tuhan sedang merangkai jalan lain, yang kapan pun bisa diubah olehNya.

Benar apa yang dikatakan petuah lama, “Berpikirlah sebelum berbicara.”
Mudah untuk sekedar berbicara, lidah memang tak bertulang. Bukankah kita sudah bosan mendengarnya? 
Mendengar terkadang lebih berat. 
Sejenak mari berpikir: Sudah benarkah apa yang kita katakan? Sudah yakinkah dengan apa yang kita katakan? Apa dampak dari ucapan kita? 
*edisi renungan diri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *