Saya mungkin sudah beberapa kali cerita di blog ini tentang buku-buku yang berkesan bagi saya. Yang kalau ditangkap sebagian besarnya membuat saya mendapat pencerahan yang menarik. Di sinilah seringkali saya bersyukur bahwa saya punya hobi membaca buku.
Kalau Mak Sugi pola pikirnya terpengaruh dari buku-buku sejarah, maka saya lebih banyak terinspirasi dari buku-buku fiksi dan non fiksi yang cenderung santai dan tidak memiliki pembahasan yang terlalu berat. Ya, gini-gini saya agak lemot juga kalau baca buku yang bahasanya terlewat tinggi haha.
Sejujurnya, saya orang yang mudah sekali terpengaruh. Jadi tidak sulit untuk sebuah buku bisa memengaruhi pola pikir saya. Tapi tetap saja tidak semua buku. Buku-buku yang bernilai muatan positiflah yang biasanya paling berpengaruh. Dan saya memang mencari buku yang seperti ini. Harapannya supaya kegiatan baca buku saya setidaknya ada hasil. Tidak kosong tanpa makna negitu saja. 
Jadi, buku apa yang berhasil mengubah pola pikir bahkan juga sikap saya?

‌Chicken Soup for the Soul: Kekuatan Memaafkan

Saya akan taruh buku ini di posisi paling favorit saya sepanjang masa. Berlebihan sih, tapi faktanya memang begitu. Saya sudah pernah cerita di post tentang betapa saya ternyata membutuhkan buku ini. Ya, setelah membaca buku Kekuatan Memaafkan, entah kenapa saya merasa terpanggil untuk mengingat luka-luka lama. Bukan untuk mengoreknya dan menambah pedih, tapi lebih kepada merenung: luka mana yang belum saya maafkan?
Di buku Kekuatan Memaafkan tersebut, hampir sebagian besar kisah menuturkan bahwa mereka butuh waktu bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun untuk memaafkan. Betul, karena memaafkan memang tidak mudah. Maka dari kisah semua penulis di buku inilah saya mulai merenung lagi. Mau sampai kapan saya terus memendam kesalahan orang lain bahkan kebencian? 
Ternyata tidak peduli orang yang berbuat salah tidak pernah minta maaf, nyatanya kita memang harus menyelamatkan diri sendiri. Itulah cara yang diajarkan buku ini.

Memaafkan bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri agar bisa menjalani hidup lebih bebas.

‌Totto Chan

Setiap anak itu baik. Kutipan terbaik inilah yang paling saya tangkap dari buku Totto Chan. Jadi kalau saya mulai habis kesabaran dengan anak, buku ini langsung merasuk di pikiran saya. Ingat, De. Bahwa setiap anak itu baik! 
Fitrah anak-anak itu baik. Maka orang dewasa dan lingkunganlah yang bisa memengaruhinya. Seperti yang selalu dikatakan kepala sekolah Totto Chan:

Dia yakin, setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah
bisa rusak karena lingkungan mereka atau karena pengaruh-pengaruh buruk
orang dewasa. Mr. Kobayashi berusaha menemukan “watak baik” setiap anak
dan mengembangkannya, agar anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa dengan
kepribadian yang khas. (hlm. 251)

Jadi saya bisa bilang kalau ini juga termasuk buku parenting. Meskipun tidak secara khusus mengajarkan ilmu parenting, tapi kisah nyata Totto Chan bisa menjadi pelajaran yang baik untuk kita para orang tua.

‌Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Belum lama saya menamatkan buku ini. Tertarik dengan judulnya, membuat saya tidak ragu untuk membelinya. Sebab saya kira, saya juga butuh buku ini. Mengingat kalau saya terlalu peduli pada banyak hal bahkan yang remeh sekalipun, sehingga membuat saya sering stres sendiri, hiks.
Buku ini bukan mengajarkan kita untuk bodo amat dalam artian tidak peduli. Tapi justru mengajarkan kita untuk peduli. HANYA SAJA, apa yang harus kita pedulikan? Hal-hal yang pentinglah jawabannya. Abaikan omongan orang selama kita benar. Abaikan persepsi orang lain tentang diri kita selama kita baik-baik saja. Kurang lebih seperti itulah yang diajarkan buku ini.

Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh; masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda. (hlm. 16)

Walaupun bahasanya nyeleneh dan beberapa terkesan kasar, saya tetap merekomendasikan buku ini pada siapapun. Ini buku motivasi. Tapi kita tidak akan bosan karena buku ini antimainstream dari buku motivasi yang biasanya banyak beredar.
Mungkin tiga buku di atas yang paling berpengaruh bagi saya. Walaupun sebetulnya banyak, tapi cukup tiga itu saja yang perlahan-lahan mampu mengubah pola pikir dan sikap saya. Khususnya untuk saat ini.
Kalau teman-teman, buku apa yang sudah memengaruhi pola pikirmu? Boleh sharing ya 😊

21 thoughts on “Tiga Buku yang Paling Memengaruhi Pola Pikir Saya”

  1. Suka banget sama ini:

    "Ternyata tidak peduli orang yang berbuat salah tidak pernah minta maaf, nyatanya kita memang harus menyelamatkan diri sendiri. Itulah cara yang diajarkan buku ini"

    Apalagi ini:

    "Memaafkan bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri agar bisa menjalani hidup lebih bebas"

    Dan mencapai puncaknya di sini:

    "Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh; masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda"

    Aku terberkati bisa berkunjung ke sini.

    Terima kasih, telah begitu banyak menginspirasi…:).

  2. hmm.. belum nemu sih buku yang benar-benar mempengaruhi pola pikir saya.. secara saya baca buku juga jarang dan random banget, kadang sejarah, kadang fiksi dan non fiksi, kadang biografi, tapi lebih sering komik sih.. hahaha..

  3. Wah kayaknya selera buku kita mirip deh mbak. Dari tiga buku itu, totochan & beberapa seri chikecn soup sudah pernah aku baca dan aku suka. Kalo buku ketiga masih jadi wishlist, buku versi aslinya mahal sih hahaha ^^;
    Thank you for sharing, mbak!

  4. Buku Totto Chan itu buku yang 'must-read' bagi para guru dan Ibu. Supaya punya perspektif yang pas tentang mendidik anak-anak…
    Sudut pandang Pak Kobayashi tentang anak yang (dianggap) nakal juga sangat menarik. Salah satu inspirator saya jika berhadapan dengan anak2 sejenis..hehe. Salam kenal, mbak Ade Delina..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *