Seperti janji
saya kemarin. Di postingan kali ini saya akan cerita bagaimana bisa saya, suami dan keluarga menyiapkan pernikahan hanya kurang dari tiga minggu.

Tanggal 04 Juli setelah mendapatkan telepon
dari dia, saya masih nggak percaya. Apalagi dia bilang berniat menikah
setelah lebaran ini. Berkali-kali saya tanyakan padanya apakah benar-benar
sudah yakin. Saat dia bilang sudah, saya bilang agar dia telepon ibu dan ayah
saja. Jika mereka berkata “ya”, maka insya Allah saya juga “ya”. Walaupun sebenarnya
saat itu saya masih super ragu dengan diri sendiri. Apakah saya benar siap. Menikah kan bukan sehari dua hari. Mana saya
belum terlalu bisa masak dan kadang masih ceroboh serta kekanak-kanakkan.
Tapi dengan
mengucap bismillah, ya sudah saya pasrahkan pada orang tua. Dan ternyata
keputusan orang tua adalah “ya”! Tinggal saya yang kelimpungan. Oke, dengan mengucap bismillah lagi,
saya maju. Apapun yang terjadi nanti, pasti akan ada hikmah *tsah.

Setelah berbagai rapat dilakukan serta dengan masih
jarak jauh, maka diputuskanlah tanggal 10 Juli 2015 lamaran dan menikah pada
tanggal 22 Juli 2015. Dan itu semua dilakukan di kampung saya di Kuningan, Jawa
Barat. Kenapa di kampung? Ya balik lagi, karena jarak kami jauh, dan momen
kumpul bersama hanya ada pada hari besar yakni hari lebaran Idul Fitri, maka
kita ambil lokasi tengah-tengah.

Sejak pengumuman tanggal 04 Juli juga dengan waktu yang serba mepet, mulailah saya dan keluarga di Bekasi repot dengan berbagai hal. Mulai dari urusan seserahan, lamaran hingga konsep penikahan. Belum lagi menghubungi keluarga di kampung yang juga sama terkejutnya. Saya nggak lepas do’a mudah-mudahan dengan waktu yang mepet ini tetap dilancarkan Allah SWT. Saya juga minta do’a dari temen-temen yang lagi-lagi juga terkejut. Bagaimana tidak, mereka bilang selama ini hanya tahu – saya sedang sendiri dan tidak pernah ada cerita apa-apa, lalu tiba-tiba memberi tahu akan menikah, mana di kampung pula. Alhasil, banyak teman yang agak kecewa. Hiks maafkan daku ya semua.


Tanggal 09 Juli berangkatlah saya dan keluarga ke Kuningan. Esoknya 10 Juli 2015 langsung lamaran yang hanya dihadiri sebagian keluarga saya serta dia dan bapak (hanya berdua.red). Setelah lamaran, urus segala surat-surat nikah di KUA. Dan selanjutnya mengurus segala urusan untuk hari pernikahan. Seharian itu benar-benar langsung selesai semua! Lelah tapi Alhamdulillah lancar. Siangnya, dia dan bapak langsung kembali ke Surabaya karena masih ada urusan lain. Memang super deh.
prosesi lamaran
Satu hari sebelum hari H, seluruh keluarga suami dari Lamongan (keluarga suami memang tinggal di Lamongan) tiba di Kuningan. Esoknya, 22 Juli 2015 Alhamdulillah dengan prosesi
yang sederhana, akhirnya pernikahan kami sah. Dia sudah mengucapkan akad seriusnya
di hadapan Allah, ayah dan banyak saksi. Pernikahan juga sangat sederhana dan lebih
banyak tamu dari keluarga. Bukan kami tak mengundang teman-teman, tapi karena
kami tahu bahwa jarak pasti menjadi kendala.

akad nikah
Terkadang masih nggak percaya kalau ternyata saya
sudah menikah. Saya juga kepikiran, mungkin inilah cara Allah membaikkan diri
saya. Saya yang aslinya cuek dan terkesan masih belum peduli dengan sekitar,
dengan menikah barangkali saya jadi lebih peduli. Selain itu bisa dibilang iman
saya tahun ini sedang turun, nah menikah ini bikin saya jadi lebih hati-hati. Saya
nggak mau pernikahan saya tidak dilandasi berkah dari Allah. Saya kepingin
pernikahan ini nggak sesingkat persiapannya. Tapi justru bisa sampai ke
jannah-Nya. Insya Allah, dengan adanya suami, jadi bisa saling mengingatkan
untuk terus bersyukur dan nggak lepas dari ibadah.
Alhamdulillah sah dan punya buku terbaik sepanjang hidup hehe
Ya itulah, lagi-lagi memang rencana Allah. Meskipun sempat
menulis target menikah tahun ini, namun karena berbagai keraguan akhirnya
mundur jadi usia 23. Dan ternyata di usia 22 tepat tanggal 22 Juli 2015 Allah
menyiapkan rencana besar yang sungguh tak pernah saya duga. Semoga Allah terus
memberkahi pernikahan ini. Bisa mencapai sakinah, mawaddah warahmah hingga ke
jannah-Nya. Aamiin 🙂

26 thoughts on “Jodoh yang Tak Pernah Terduga (2) – Prosesi Pernikahan”

  1. masyaAlloh.. keren mba.
    Klo saya ketemu 3kali, setelah 10taun ndak ketemu, lalu yg ke4 nikahan mba.
    Alloh maha adil dengan rencanaNya buat kita.
    Barokalloh mba…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *