Saya punya dua orang sahabat di masa kecil. Yang keduanya saat ini masih bertahan tinggal di dekat rumah orang tua saya. Kami bertiga bersahabat sejak belum sekolah. Ya, teman mainlah dengan yang lain juga. Tapi karena kami bertiga seumuran, jadi kami bertiga lebih dekat. 
Persahabatan kami sama layaknya anak-anak lain. Bermain, sekolah, dan tambahannya mengaji bersama. Sayangnya, meski begitu, kami bertiga pun tidak melulu akur. Ada kalanya berselisih. Ya mungkin kalau dipikir sekarang, permasalahan ‘sepele’ anak-anak. Seperti berebut mainan, dan ehm apalagi ya, lupa juga haha. Yang jelas saling egois khas anak-anaklah.
via Pixabay

Egois dan musuhan

Tapi kami yang kecil dulu mana mengerti egois itu salah. Nah di saat egois itu biasanya akan ada satu yang menjauh alias musuhan. Jadi sebut saja ada saya, dua orang teman saya N dan Y. Kalau saya dan N bermusuhan, maka saya akan dekat dengan Y. Dan N akan dekat dengan Y. Kalau N dan Y bermusuhan, maka keduanya akan dekat dengan saya. Ya seperti itulah. Saling selang-seling saja. Ngertilah ya intinya 😂
Suatu ketika, saya lupa berawal dari masalah apa. Yang jelas saya dan N terlibat permusuhan yang cukup tajam. Dibanding dengan Y, persahabatan saya dengan N ini memang dikategorikan lebih dekat lagi. Bahkan kami sering disangka anak kembar. Sampai-sampai seorang guru yang dekat dengan rumah saya, tahu kalau saya dan N itu memang sangat dekat. 

Disuruh pelukan di depan kelas

Singkat cerita, karena saya dan N tidak saling tegur cukup lama, gelagatnya akhirnya tercium oleh guru dekat rumah saya tadi. Pas sekali beliau menjadi wali kelas kami saat kelas 4 SD. Akibatnya, tiba-tiba saja di sela-sela pelajaran, saya dan N disuruh maju ke depan kelas. Shock dong. Ada apa gitu dipanggil ke depan kelas? Padahal kan bukan pelajaran praktek juga. 
Lhadalah, kami malah ditanya, maaf lagi-lagi saya lupa detailnya. Yang jelas kami ditanya kenapa kami bermusuhan dan tidak saling tegur. Ya kami diam saja. Wong kami masih musuhan. Sejujurnya saya malu sekali. Kenapa bisa sampai harus maju di depan kelas begini. Tidak ada sejarahnya sepanjang ingatan saya, kalau guru tahu ada muridnya yang bermusuhan bahkan sampai disuruh maju ke depan kelas. 
Karena saya dan N diam terus, sementara waktu juga bergulir. Mendadak guru saya menyuruh saya dan N berpelukan. Lagi-lagi kami tidak mau. Saling menatap pun tidak mau. Walau dalam hati saya, ada rasa nyess juga. Sahabat dekat gitu lho. Rasa ingin berdamai mah ya ada. Tapi karena saya merasa tidak ada etiket baik dari N, saya juga malas jadinya. 
Lantas endingnya, setelah berkali-kali dipaksa berpelukan dan kami tidak mau, kami disuruh bersalaman saja. Ya finally untuk mempersingkat waktu, saya mau salaman dengan N. Walau ya gelagat kami masih ogah-ogahan. Barulah setelahnya kami disuruh duduk. 

Tidak indah, tapi itu manis

Barangkali ini bukan pengalaman yang indah. Tapi menurut saya manis. Persahabatan saya dengan N sejak permusuhan itu memang membuat kami jadi menjauh. Tidak sedekat sebelumnya. Tapi seiring waktu, dengan sendirinya kami bisa berdamai. Walau ya, kami tidak bisa balik lagi untuk dekat apalagi menjadi sahabat seperti dulu.
Saat SMP pun kami beda kelas. SMA beda sekolah. Kuliah, apalagi. Dia kuliah di luar kota. Dan saya masih di Bekasi.
Tapi saya akan selalu berterima kasih pada wali kelas saya dulu. Saya sangat terharu sebenarnya karena kami berdua begitu diperhatikan. Rasanya malu memang waktu di depan kelas. Tapi entah kenapa saya sama sekali tidak merasa dipermalukan. Justru ya itu tadi, saya merasa kekuatan persahabatan saya dengan N begitu nyata. Buktinya wali kelas kami sampai tahu kalau kami tidak saling tegur. 
Mungkin juga kalau N baca tulisan ini, dia akan ingat kenangan ini. Awas ya, kalo kamu lupa! 😜
Dan N, sungguh saya, eh pakai aku saja deh biar lebih akrab, minta maaf kalau aku dulu salah. Bahkan dengan jahilnya membocorkan ban sepedamu supaya kamu tidak bisa pulang, hiks. Sungguh, dari lubuk hati terdalam, aku minta maaf.

Semoga, tidak ada lagi dendam di hati kita. Semoga, masa depan kita lebih cerah. Aku dan kamu mungkin tidak bisa bersahabat lagi. Tapi ketahuilah, bahwa aku ingin selalu berteman dengan kamu. Karena aku juga tidak pernah melupakanmu yang pernah jadi sahabat kecilmu 😊

7 thoughts on “Tidak Indah Tapi Manis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *