Kalau waktu senggang, kadang saya pakai untuk menelusuri tulisan-tulisan saya di Facebook dengan keyword nama blog saya. Seperti yang hari Minggu kemarin saya lakukan. Saya cari di kolom pencarian Facebook dengan keyword celotehbunda.com. Bukan apa sih, saya cuma ingin tahu seberapa banyak orang yang baca blog Celoteh Bunda.
Dan betapa terkejutnya saya saat menemukan tulisan saya sudah dishare ratusan bahkan terbaca sampai ribuan share 😱 SAYANGNYA, hiks pakai sayangnya nih. Sayangnya yang dishare adalah hasil COPY PASTE. Jadi tulisan di blog saya itu dicopas semua, lalu dishare oleh banyak orang 😩
via Pixabay
Iya sih mereka tetap menyantumkan sumber, tapi menurut saya agak kurang etis aja. Karena pertama, mereka nggak izin ke saya. Kedua, sumber ditaruh setelah tulisan selesai. Yang mana biasanya akan menimbulkan persepsi lebih dulu bahwa yang membuat statuslah yang menulis. Setelah tulisan selesai, baru deh kena ZONK karena yang menulis ternyata orang lain, huhu. Ketiga, mereka copas di fanpage. Artinya, bisa jadi mereka hanya memanfaatkan tulisan saya untuk mendongkrak fanpage mereka. Iya, karena saya ketemu dengan fanpage yang berhasil mendapatkan 500 lebih like dan ribuan share. Haduh, sedih sedih sedih.
Okelah mungkin saya senang kalau tulisan saya pesannya bisa sampai ke pembaca. Tapi kalau saja orang-orang yang membagikan tulisan saya itu mau sedikit menghargai saya, tentu saja mereka akan izin ke saya. Atau ya, colek-colek saya kek dengan tag atau mention biar setidaknya saya tahu. Atau minimal mereka kasih kata pengantar satu dua paragraf, dan paragraf selanjutnya bisa dialihkan ke blog saya. Jadi tidak copas PLEK semua.
Jadi wajar saja kalau saya membatin, “yo pantes traffic blogku segitu-gitu aja, wong tulisanku sudah dicopas semua. Yang baca tinggal ngeshare dari yang copas itu deh.” 😞
Saya jadi teringat status Facebook saya beberapa waktu lalu.
Ya, di atas itu cerita nyata. Nah itulah yang saya takutkan. Ketika si pembaca sudah berekspektasi tinggi bahwa yang punya statuslah yang menulis. Padahal bukan 😞 Dan kasus seperti cerita saya itu bukan sekali dua kali, tapi sudah sangat banyak dan sering 😞

Etika membagikan tulisan

So, menurut saya membagikan tulisan pun ada etikanya.
✔️ Izin pada penulis
Izin pada penulis, apakah tulisannya boleh dibagikan atau tidak. Boleh dicopy paste atau tidak. 
Pekerjaan penulis itu tidak bisa diremehkan lho. Mereka bisa menulis karena ada buah pemikiran. Nah buah pemikiran itulah yang harganya mahal. Maka wajar kalau seharusnya kita bisa menghargai para penulis. Dan wajar juga kalau penulis buku marah karena tulisannya diplagiat atau bukunya dibajak. 
Misalnya penulis tidak bisa dimintai izin karena terkendala tidak bisa dihubungi, next langkah kedua.
✔️ Share lebih baik
Media sosial itu punya pilihan share atau bagikan. Lebih baik pakai pilihan itu dibanding kita copy paste. Bahkan website atau blog pun banyak yang sudah tersedia pilihan share kok (biasanya ada di bagian bawah tulisan). Dengan begini, penulis masih dihargai.
Kalau kita masih mau tambahan, ya tinggal tambahkan caption aja pas membagikan.
✔️ Alihkan ke linknya
Ini berlaku untuk tulisan di website atau blog. Kalau tidak ada pilihan share, kita bisa copas linknya. Tinggal kita kasih kata pengantar satu dua paragraf, dan paragraf selanjutnya bisa dialihkan ke linknya. 
Dengan begitu, kita masih menghargai penulis dengan menyantumkan website atau blog mereka.
✔️ Tulis sumber di atas
Kalau memang terpaksaaaa banget harus copas karena takut nggak ada yang klik linknya misalnya. Taruhlah sumber atau penulisnya di bagian atas seperti kata status saya di atas tadi. Ini lagi-lagi untuk menghindari zonk.  
Termasuk kalau ada tulisan yang kita tidak tahu siapa penulisnya. Tetap taruh sumbernya di bagian atas. Dengan kata-kata by: NN (No Name) misalnya. Supaya pembaca tahu lebih dulu kalau itu bukan tulisan kita.
Yayaya, penulis mungkin senang tulisannya dibaca bahkan pesannya bisa sampai ke pembaca. Tapi mari kita coba untuk mulai menghargai mereka dengan langkah-langkah di atas. Yakinlah, langkah di atas itu akan membuat penulis lebih senang. Bukan semata demi keuntungan penulis, tapi juga untuk kita sendiri yang bisa lebih beretika karena sudah menghargai orang lain.

Ya kan? Gadget sudah pintar, kitanya juga harus lebih pintar dong 😊


Nah, menurutmu sendiri, bagaimana tentang etika membagikan tulisan ini? 

21 thoughts on “Membagikan Tulisan Pun Ada Etikanya Lho”

  1. Lalu lintas via medsos ini memang begitu ramai. Sehingga, etika bagaimana baiknya ketika berbagi tulisan yang bukan miliknya, entah dipahami atau tidak, menjadi hal yang kurang diperhatikan. Saya juga pernah mendapati tulisan saya beredar di grup WA, yang sudah tidak tercantum lagi siapa penulisnya. Maka, edukasi sebagaimana yang Mbak ini perlu terus-menerus dilakukan, oleh kita semua yang peduli akan pentingnya hal ini. Betapa ulama kita sejak zaman dahulu kala sudah mengenal dan memegang teguh prinsip yang nama sanad, yakni menelusuri sumber informasi dari mana, dari mana, terus hingga ke sumber pertama.

  2. Aku belun pernah cek tulisan aku di media sosial. Tapi kalau bikin quotes Dilan kemarin, dipasang banyak pihak tanpa colek akunya. Ya uda mau gimana lagi ya? Memang sudah antisipasi, di gambarnya aku kasih tulisan alamat blogku www vindyputri com. Cuma yaa agak kesel sih ketika yg repost justru dapat apresiasi lebih banyak ketimbang pembuat aslinya huhu… tp di balik itu, aku sudah siap diaku2in orang.

    1. Iya Mbak kejadian kayak gini memang nggak bisa dihindari, dan kita pun ya emang harus siap kalau-kalau tulisan atau gambar kita dicopas orang meskipun sebetulnya untuk betul2 ikhlas agak susah hiks

  3. Saya juga sering begitu bun
    tulisan di copas, tapi tidak sebanyak itu
    namun ada beberapa yg izin nge DM saya dulu untuk di tulis ulang di blognya dengan sedikit perubahan
    yg bikin dongkol itu kalo di copas terus d rubah2 dan gak ada sumber jg..

  4. Halo mba…

    Nice thought nih.. Hahaha… banyak orang di kita yang belum paham etika berbagi. Sekedar share langsung klik. Nggak mikir itu tulisan siapa…, punya siapa… hajaar… sikat… hahahah

    Malah kadang lucunya, yang hoax juga langsung klik share.

    Jedaaaar… Semoga orang-orang bisa lebih dewasa ke depannya…

    Salam,
    Mona 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *