Wednesday, 23 November 2016

Balada Kesalahan Kontes

Maraknya dunia media sosial dan blog saat ini, membuat banyak brand atau suatu produk mengadakan kontes atau lomba. Entah membuat suatu tulisan, atau foto. Dan biasanya, hadiah yang ditawarkan pun tidak tanggung-tanggung. Mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah! Wajar saja jika peserta yang mendaftar seringkali membludak. Tapi sayangnya, tidak sedikit yang menjadi kasus tidak mengenakkan. Dan kasusnya jadi cukup ramai.
via https://pixabay.com/id/piala-podium-emas-perak-perunggu-1615074/
Apa yang membuat jadi ramai, karena ya itu tadi, yang mengadakan brand besar. Atau hadiah kontesnya terlalu besar. Karena sadar untuk memperebutkan hadiah dibutuhkan usaha yang lebih besar. Ya harus meluangkan waktu, mengambil foto-foto produk, beli pulsa listrik online, mengisi kuota dengan isi pulsa Smartfren online sampai memikirkan kata-kata untuk menulis dengan bagus dan membuat ilustrasi-ilustrasi atau pun infografis untuk menunjang postingannya. Maka wajar saja jika kemudian hasilnya tidak sesuai harapan, pastilah banyak yang merasa kecewa.

'Salah pilih pemenang'

Ini yang cukup banyak terjadi akhir-akhir ini. Ya, pemenang yang terpilih dirasa 'terlalu biasa'. Walaupun saya belum pernah mengalami dan semoga tidak akan pernah mengalaminya, tapi membaca 'protes' dan komentar dari para pengikut kontes membuat saya juga ikutan berpikir, "ada apa dengan brand tersebut?" "Apakah sudah diteliti benar pemenangnya?" Karena saya juga lihat banyak yang effortnya lebih besar. Banyak yang postingannya lebih bagus. Banyak yang fotonya lebih bagus. Lebih kreatif. Ah pokoknya banyak yang lebih baik! Lalu kenapa pemenangnya malah yang 'biasa saja'?

Setidaknya mungkin saya bisa merasakan, bagaimana jika seandainya saya ada di posisi yang melakukan effort lebih besar tadi. Postingan atau foto saya sudah semaksimal mungkin, lalu saat tiba pemenang diumumkan, yang saya lihat justru postingan atau foto yang 'terlalu biasa?' atau kasarnya tidak lebih bagus dari saya. Pastilah saya juga mempertanyakan. Dan biasanya, pertanyaan ini juga akan dirasakan oleh peserta-peserta lainnya. Karena saat ini kebanyakan kita sudah pintar kok untuk melihat mana yang bagus, dan mana yang biasa. Makanya, kembali ke juri atau penyelenggara, sebenarnya apa standar menangnya? Mengapa seperti ada ketidak-konsistenan dari syarat dan aturan yang sudah ditulis?

Belum lagi ketika pemenang yang dipilih ternyata 'fiktif'. Pernah ada satu kontes brand terkenal dengan kasus seperti ini. Media sosial atau blognya seperti baru dibuat. Wajar saja jadi banyak yang protes, apakah ini hanya akal-akalan juri? Apakah brand tersebut sebenarnya tidak punya hadiah, dengan kata lain hanya 'kontes bohong-bohongan'?

Lalu masih ada kasus lainnya. Seperti pemenangnya adalah teman dekat atau saudara si juri. Ah, banyak kasus-kasus yang 'salah pilih pemenang' seperti ini.

Hadiah tidak diberi atau dikirim-kirim

Kesalahan dari kontes selanjutnya, hadiah yang tidak diberi atau dikirim-kirim. 

Saat pengumuman kita dinyatakan menang, sudah pasti yang kita harapkan kita menerima hadiah. Tapi ternyata tidak sedikit pula yang pernah mengalami hadiahnya tidak diberi atau dikirim-kirim. Bukan hanya satu dua bulan, melainkan berbulan-bulan! Email demi email, pesan demi pesan dikirimkan pada penyelenggara, tapi hasilnya nihil. Atau kalau pun dikirim, hadiah tidak sesuai harapan. Huh 😐

Lagi-lagi meskipun saya tidak pernah mengalami, cukuplah membuat saya melihatnya saja sedih dan kecewa. Bisa jadi kepercayaan pada brand tersebut jadi menurun hanya karena masalah seperti ini. Karena terlihat sangat tidak profesional.

Banyak-banyakkan like? Oh no...

Selanjutnya, lomba yang menerapkan aturan banyak-banyakkan like. Sejujurnya saya kurang suka. Bukan hanya karena like bisa dimanipulasi, tapi terlihat seperti tidak profesional. Bisa jadi yang postingan atau fotonya bagus tidak sempat meminta dukungan. Tapi justru yang biasa saja, meminta dukungan sebanyak-banyaknya pada semua orang. Ini jadi tidak terlihat mana yang sebenarnya bagus dan tidak. Yang me-like pun bisa jadi karena 'cuma diminta' bukan karena keinginan murni karena yang dilihatnya memang bagus. 

Makanya, saya lebih suka dengan lomba yang dinilai langsung oleh penyelenggara atau juri. Karena penyelenggaralah yang punya hadiah, wajar jika dia punya hak untuk memilih pemenangnya. Atau juri yang sudah ketahuan berkompeten dan bisa menilai lebih objektif. Tentu saja ini terlepas dari kasus 'salah pilih pemenang' tadi.

Yeah, mungkin itu baru segelintir dari balada kesalahan kontes yang terjadi selama ini. Menurut saya, wajar jika banyak yang kesal sampai menumpahkannya di media sosial atau blog. Karena beberapa terbukti, akhirnya dari 'protes' kekesalan yang ditulislah, brand yang mengadakan kontes jadi punya perhatian lebih terhadap kontes yang diselenggarakannya. Jangan sampai banyak yang merasa brand hanya ingin mendapatkan promosi gratis dengan mengadakan kontes 'abal-abal' atau sembarangan.

Tapi tentu saja, masih banyak kok lomba yang profesional, benar, dan pemenangnya dipilih secara tepat. Hadiahnya pun dikirim tepat waktu. 

Ya semoga saja tidak berlanjut lagi kesalahan-kesalahan di atas. Karena peserta yang mengikuti lomba, tidak sekedar berharap menang, tapi juga berharap adanya keadilan. Kalau pun tidak menang, karena memang ada yang lebih baik. Dan menang atau kalahnya, itu karena memang juri yang menilai dan sudah profesional 😊

18 comments:

  1. Jika brand besar main akal-akalan dalam mengadakan lomba blog tentu sangat memalukan dan bisa menjatuhkan nama, harkat, dan martabat brand tersebut ya.
    Terima kasih pencerahannya
    Hal-hal yang kurang baik sebaiknya jangan ditiru, memalukan ach.
    Saya juga tidak suka jika lomba blog pemenangnya dituntukan oleh banyak-banyakan Like. Kurang gaya tuh.
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pakde jadi aware kalo mau ngadain atau ikut lomba :)

      Delete
  2. Makanya aku jarang mbak ikut lomba yg diselenggarakan brand besar. Cm sekali doang, pas mizan ngadain lomba utk cerita horor ttg Ho(s)tel, nah aku ikit tuh, dan alhamdulillah 2 cerita terpilih jd buku antology. Trs ga prnh ikutan lg apalagi kalo lombanya berkaitan ttg foto, biasanya pasti kalah :p.

    Aku lbh milih ikutan giveaway yg diadain ama blogger2. Walo hadiah kdg kecil, tp mnrtku malah lebih fair :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, kalo brand besar juga syarat dan aturannya banyak banget :D

      Delete
  3. Ini mba yang bener. Jangan pake like. Konten berbobot yang ga sempet dipromosikan jadi kalah sama konten Abal yang dishare dimana-mana. Pernah kejadian nih. Bukan saya sih tapi temen saya. Nice post mbaa bermanfaat banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayang banget ya kalo bagusnya jadi ga keliatan :(

      Delete
  4. Aku pernah mengikuti sebuah kontes menulis. Hadiahnya nggak tanggung2. Laptop. Tapi ternyata pemenangnya fiktif. :( Bahkan ada yang bilang kalau ternyata pemenangnya owner sendiri. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh nyesek banget -_- Trus ada kelanjutannya nggak tuh?

      Delete
  5. Mungkin kudu lebih teliti aja, ya? Biar nggak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.

    ReplyDelete
  6. Banyak2 an like yang nyebelin. Padahal kan yang like banyak belum tentu yang berkualitas. :(

    ReplyDelete
  7. Saya pernah ngrasain di php in ama, penyelenggara lomba giveway, uda capek nulis n mikir tpi ternyata tidak ada juntrungnya. Ditanyain pemenangnya gk pernah di bales akhirnya kontesnya nguap gitu ajah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah yang ini lupa saya tulis. Di php in gini juga kejadian ya :(

      Delete
  8. Rezeki ga akan kemana mba kalau memang ga menang meski effortnya maksimal dibdg orang lain karena klo saya selalu yakin ada yang lebih baik lagi menanti dan itu saya alamin sendiri. Makanya sekarang lagi rajin ikutan GA sama lomba2 hahaha *malah curhat :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huum mbak. Balik lagi sih ya ke rezeki. Tapi mudah"an jangan sampe ada kasus salah pilih pemenang aja hihi

      Delete
  9. kalo saya pilih-pilih dalam ikut lomba Mba, dalam hal ini mengukur kemampuan diri juga sih, walau hadiahnya besar tapi kalo saya gak mampu ikut yah gak bakalan ikut :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes. Saya juga slalu begitu. Ikutin kata hati aja hehe

      Delete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.