Baru-baru ini kejadian menggemparkan datang dari dunia kepenulisan. Seorang perempuan memplagiasi lebih dari 24 tulisan. Wow cukup mencengangkan bagi saya. Pasalnya saya juga baru ini dengar kasus plagiarisme sampai segitu banyaknya 😥 Menyedihkan memang. Semoga kejadian ini tidak pernah terulang lagi.
Kasus plagiasi: menodai literasi. Saya setuju sekali dengan kalimat dari Mak Siti Nurjanah ini. Biar bagaimana pun plagiasi tidak pernah dibenarkan. Bukan hanya dalam prakarya lain. Tapi juga di dalam kepenulisan.

via Pixabay
Jangan sekali-kali meremehkan kepenulisan ya. Karena menulis juga butuh pemikiran yang jauh dan matang. Bahkan bisa jadi panjang prosesnya. Makanya saya rasa wajar kalau banyak penulis jadi marah setiap ada kasus plagiarisme terjadi. Saya merasakan sendiri kok bagaimana proses menulis dari awal sampai bisa terbit ke publik.

Mempersiapkan plagiarisme itu sendiri

Belum lagi di zaman sekarang di saat arus informasi semakin cepat lajunya. Sangat mudah kita dapat informasi dari sana-sini. Memang ada oknum yang tidak mau ambil pusing berpikir untuk menulis. Toh tinggal cari, salin, beres. Kalau perlu kirim ke media atau diikutkan lomba supaya dapat tambahan materi, hiks.

Kalau boleh saya bilang, di zaman dunia maya booming sekarang, hal ini mungkin seharusnya sudah dipersiapkan. Sulit juga bagi kita untuk terhindar dari kasus ini. Karena satu kasus selesai, akan ada kasus-kasus plagiarisme lainnya.
Saya sendiri sering mengalami. Banyak tulisan saya yang disalin. Bahkan sampai saat ini kalau mau dicari, mungkin masih ada saja yang menyalin. Tapi saya tidak ambil pusing lagi. Sudah lama kekhawatiran dan ketakutan disalin itu saya hempaskan jauh-jauh. Bukan karena saya sudah sepenuhnya tidak peduli, tapi saya lebih memilih untuk melangkah ke depan. Menulis terus apa yang bisa saya tulis.
Dengan begitu, harapan saya semoga orang-orang bisa mengenal saya dari tulisan saya. Jadi kalaupun ada yang menyalin, saya sudah tidak perlu berkoar-koar lagi bahwa tulisan saya diplagiat. Toh sudah banyak yang tahu bagaimana ciri tulisan saya.

Ikhlas itu berat, Dilan. Tapi mau bagaimana lagi?

Jadi satu-satunya jalan adalah kita harus IKHLAS kalau tulisan kita apalagi tayang di dunia maya dan dipublikasi, lantas diplagiat orang.
Kok enak banget, De ngomongnya? Iya, kenyataannya susah kok. Enak aja ikhlas. Kita udah capek-capek mikir. Capek-capek nulis pagi siang malam. Capek riset sana-sini. Eh orang seenaknya nyalin gitu aja. Iya nyatanya tetap saja sebal diplagiat. Tetap saja sebal kemengkel dicopas sana-sini.

Yang bisa kita lakukan hanya EDUKASI dan membuat PERSONAL BRANDING

Tapi lagi-lagi kita TIDAK bisa menghindari. Kita tidak bisa mengendalikan orang lain terus-terusan. Yang bisa kita lakukan hanya EDUKASI. Edukasi bahwa plagiasi itu selamanya tidak pernah dibenarkan. Tapi kembali lagi, pemahaman tentang plagiarisme itu haruslah timbul dari dalam diri sendiri.

Jadi, mungkin ada baiknya kita lebih fokus pada diri sendiri. Untuk TIDAK menjadi pelaku plagiasi. Sehingga ke depannya kita LEBIH FOKUS untuk membuat karya yang bisa diingat orang. Yang kelak melekat di diri kita atau bahasa kerennya, menjadi  PERSONAL BRANDING kita.
Kelak ketika kita sudah punya branding, kita tidak perlu lagi khawatir soal plagiasi. Karena orang pasti sudah bisa menilai, mana yang asli, dan mana yang palsu 😛
Dan pada akhirnya, kita juga tidak perlu memikirkan hukuman bagi plagiator. Karena percayalah, hukum akan berjalan sendiri tanpa kita perlu susah payah melakukannya. Kalau bukan hukum meja hijau, maka hukum sosial akan terjadi dengan sendirinya 😊

8 thoughts on “Ikhlas, Edukasi, Membangun Personal Branding untuk Kasus Plagiarisme”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *