Saturday, 19 April 2014

Media Sosial dan Berbagi

Bagi pengguna social media pasti sedang tak asing dengan Dinda. Gadis yang satu ini membuat banyak pihak geram dengan status di salah satu jejaring sosialnya. Sama kayak saya -___-


Maafkan jika ibu itu merepotkanmu. Bukan maksudnya membuatmu susah. Tapi ia harus menanggung dua beban dalam perutnya. Seandainya kau berada di pihaknya, bagaimana, apa yang kau harapkan?
Kalaupun kau keluhkan perasaanmu pada media sosial, adakah keadaanmu berubah?

Masih ada saja kasus update status yang berujung pada 'sensasi' nasional. Inilah yang akhirnya membuat saya mulai belajar bahwa tak semua wajib dibagikan dalam media sosial. Terlebih urusan perasaan pribadi. Benar. Rasanya sekarang saya rada males untuk update status jika tak begitu perlu. Sampai-sampai salah satu teman berseru, "Apa sih gunanya update status?" Kalau dipikir-pikir, iya juga ya. Buat apa. Etz tapi justru kita bisa menjadi manfaat jika status yang kita bagikan mengandung pesan moral. Paling tidak, jangan mengeluh saja. Kalaupun kita mengeluh, memangnya ada yang peduli pada kita? Iya sih peduli. Paling-paling pedulinya pada nanya doang lagi kenapa, selebihnya? Emang gue pikirin! Hati-hati. Salah-salah kita mengeluh, yang ada kita malah terkesan minta dikasihani dan perhatian, kita juga diblokir oleh teman kita sendiri. Naudzubillahimindzalik.


Maafkan jika kami terkesan menjudge. Sebagai manusia biasa yang sering melihat segala sesuatu yang nampak.
Jika kau berkata tulang kakimu bergeser, itu masih menjadi bebanmu sendiri. Bersyukurnya kau masih bisa jalan :) Bagaimana dengan seorang ibu yang harus menanggung dua beban dalam perutnya?

Tak hanya itu, marah-marah di media sosial juga rasanya kurang sopan. Itu media sosial bukan diary yang hanya dikonsumsi pribadi :) Ada baiknya jika marah, lebih baik tak usah berbicara. Berbicara pada saat kondisi marah, sungguh bisa mengeluarkan kata-kata yang amat menyakitkan. Mudah-mudahan kiat-kiat di sini bisa membantu.


Astagfirullah, kalau ibu itu pemalas, maka ia lebih memilih di rumah. Tapi ia rela keluar naik kendaraan umum sekaligus membawa anaknya!

Paling anti bagi saya untuk menyindir seseorang dalam media sosial. Baru saja kemarin saya menegur seorang teman yang menyindir temannya. Apa sih gunanya? Berharap dia lihat? Berharap dia merhatiin? Kalau berharap dia sadar, sampaikanlah langsung pada orangnya dengan cara sopan. Itu jauh lebih baik bukan :) Dibanding kalau kata anak-anak sekarang, "Sukanya main belakang." :) Hati-hati, kata-kata jauh lebih berbahaya daripada pedang paling tajam sekalipun. Benar bahwa sakit hati tidak ada obatnya. Tapi luka fisik, masih banyak obat tersedia.


Pada akhirnya, kita sering menyesalkan kata-kata yang keluar dari mulut kita sendiri. Oleh karenanya, sebelum menyesal, maka pikirkan dulu sebelum berbicara. Bukankah terkadang diam adalah emas :)

Sebelum kita menyesal, ada baiknya dipikirkan matang-matang. Kira-kira apa manfaat dari kita berbagi di media sosial? Jika dirasa kurang atau bahkan tidak ada manfaatnya maka lebih baik kita diam. Dengan diamnya kita justru kita lebih terselamatkan. 

Tulisan ini bukan untuk menjudge atau mengangkat isu itu kembali. Melainkan hanya menjadi renungan bagi saya pribadi dan mungkin untuk semua supaya lebih bijak dalam penggunaan media sosial. Bukankah sebuah pisau tergantung pemiliknya? Baik jika digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Mudhorot untuk sesuatu yang membahayakan :)

Wallahu'alam bisshowab.
Maafkan sgala kesalahan diri ini.

10 comments:

  1. berita ini memang banyak beredar mak akhir2 ini bahkan di radio lokal. ya semoga aja dia benar2 menyesali perbuatannya ya mak, bukan cuma pura2 agar tidak dikomentari bnyk orang...

    Saya jg ada postingan baru mak, mungkin berkenan menyimak hehe
    http://mieagoblog.blogspot.com/2014/04/sembuhkan-tb-tanpa-bayar-alias-gratis_18.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Mudah-mudahan. Yang saya harapkan jg gitu mak :)

      Siap! Meluncuur :D

      Delete
  2. Kebetulan tadi siang menyimak talkshow tentang menulis. Disinggung oleh pembicaranya: tulisan, meski sekadar status, tidak hilang meski orangnya meninggal. Bayangkan jika anak-cucu kita kelak baca status-status sosmed kita yang isinya galau melulu, ngeluh melulu. Duh, apa lagi kalau isinya negatif...

    Semoga kita bisa lebih bijaksana menggunakan sosmed

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yapz setuju banget, jangan sampe deh. Naudzubillah

      Aamiin :)

      Delete
  3. benar sekali... kata2 yg selalu jadi prinsipku, "senjata tergantung pada penggunanya"
    begitu pula dengan sosmed, itu juga senjata, senjata yg bisa menjadikan seantero dunia ricuh tetapi juga bisa membuat sebuah pesan kedamaian...
    maka... benar... bijaklah dalam menggunakan segala sesuatu... :)

    ReplyDelete
  4. iya mak aku juga ngikitin ni info... hmmm memang ya kalo di sosmed itu harus hati2

    ReplyDelete
  5. makasih mak sharenya, saya jadi baru tahu kisah sebenarnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Smoga kisah ini bisa diambil pelajarannya :)

      Delete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...