Sunday, 11 December 2016

Perlunya Kesadaran Mengendarai Kendaraan Sendiri untuk Anak-anak di Bawah Umur

Setelah membaca tulisan Mbak Diah tentang Anak di Bawah Umur yang Naik Kendaraan Sendiri, ingatan saya langsung melanglang buana saat masih di Bekasi dulu. Setiap kali bertemu dengan anak SD yang sudah bawa motor sendiri, hati saya rasanya miris. Kemana orang tuanya, mengapa anak sekecil itu sudah dibolehkan bawa motor? 😒 Belum lagi ingatan tentang kasus-kasus kecelakaan yang menimpa anak-anak di bawah umur karena mereka mengendarai motor atau mobil sendiri 😢

Tapi eung... saya sendiri saat SD punya teman yang juga sudah bisa membawa motor. Dan orang tuanya tidak pernah mempermasalahkannya 😑 Belum lagi adik saya pun belajar motor kalau tidak salah saat dia masih SD. Tapi untungnya, dia  baru lancar saat SMP dan memang tidak diizinkan bawa motor sendiri. Beda saat masuk SMK, karena sekolahnya jauh dan agak susah angkutan umum. Tadinya sih dia diantar setiap hari oleh ayah, tapi karena kesini kami bisa beli motor lagi, alhasil bawa motor sendiri. Yah maafkeun, padahal dia juga belum 17 tahun 😓


Bisa mengendarai motor bisa jadi suatu kebanggaan

Well, dari pengalaman teman SD dan adik saya memang punya pro kontra. Ada orang tua yang tidak mempermasalahkan bahkan bangga anaknya sudah bisa mengendarai kendaraan sendiri. Barangkali karena orang tuanya merasa suatu saat jadi ada yang bisa mengantarkan mereka saat dibutuhkan. Atau kejadiannya seperti adik saya yang sekolahnya jauh dan susah angkutan. Semua kembali lagi pada kondisi masing-masing. Dan tidak bisa dipungkiri, sekarang juga sudah banyak anak di bawah umur yang sudah bisa mengendarai motor sendiri. Entah diajarkan oleh orang tuanya atau belajar sendiri dengan temannya, atau bagaimana tidak tahu. 

Memang, di kalangan anak sekolah, bisa mengendarai dan bawa motor sendiri itu bisa jadi suatu yang membanggakan. Saya sendiri pun merasakan saat SMK. Di saat teman-teman lain bisa bawa motor sendiri ke sekolah, saya hanya bisa naik angkutan umum karena tidak bisa mengendarai motor. Dan kalau bisa bawa motor sendiri itu bisa bebas kemana saja dalam artian tidak merepotkan orang tua atau orang lain. 


Perlunya kesadaran mengendarai kendaraan sendiri untuk anak-anak di bawah umur

Maka benar kata Mbak Diah, yang perlu digaris bawahi di sini adalah tentang kesadaran. Barangkali bisa dengan mengadakan penyuluhan tentang adab berkendara. Dan bagaimana caranya mengajarkan budaya malu pada anak untuk menekan jumlah anak di bawah umur yang mengendarai motor sendiri. Karena yang seringkali bikin saya miris adalah anak-anak di bawah umur terkadang tidak terkontrol mengendarai motornya. Padahal kaki juga belum napak tanah 😑 Belum lagi kalau mereka boncengan bertiga, duh motor kelihatannya sudah goyang-goyang tapi masih dipaksakan. Mana seringnya tidak pakai helm pula 😫

Lalu tentang budaya malu, mungkin ini seharusnya sudah timbul dari budaya di rumah. Yang artinya, kembali lagi pada orang tua masing-masing. Ibu saya sendiri selalu menekankan pada adik saya agar tidak ngebut saat bawa motor dan harus selalu pakai helm. Selain itu tidak pernah juga memperbolehkan adik saya untuk pergi jauh-jauh membawa motor. Jadi motor hanya untuk ke sekolah atau ke rumah teman yang sudah dikenal. Tujuannya tentu saja untuk melindungi adik saya. Kalau memang adik saya mau pergi jauh, lebih baik naik angkutan umum saja.

Yah, mungkin hal ini jadi PR kita bersama. Bagaimana caranya bisa mendidik anak-anak di bawah umur untuk memiliki kesadaran tentang adab mengendarai motor sendiri yang tertib, patuh lalu lintas, atau kalau perlu tidak usah memperbolehkan mereka mengendarai motor sendiri. Tapi sebelum mendidik anak orang lain, barangkali kita bisa memulainya dari rumah. Yakni mendidik anak-anak kita sendiri tentang mengendarai motor. Dan lebih utama dari itu semua adalah bagaimana caranya kita bisa memberi contoh pada anak-anak agar lebih beradab dan patuh peraturan lalu lintas dalam mengendarai motor. 😇

5 comments:

  1. semuanya dimulai dari rumah ya mbak. terutama ibu. dan orang tua juga wajib memilihkan lingkungan yang baik untuk anak-anaknya.

    sayangnya orang tua ada juga yang malah bahagia anaknya bisa ke mana-mana nganterin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak. Karena faktor lingkungan juga berpengaruh

      Delete
  2. Kalau di Pontianak sedang ada razia motor bagi pelajar sekolah. Beberapa pelanggaran sudah ditindak termasuk tindakan untuk merantai atau menggembok kendaraannya sampai orang tuanya datang

    ReplyDelete
  3. Nah, itu, kadang gengsi di kalangan ortu ini yang susah diatasi. Bangga bila anak bisa naik motor.

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.