Bukan, saya ingin berhenti menulis bukan karena tulisan saya telah dicopas. Bukan juga karena blog saya dihack atau dikloning orang lain. Walaupun memang pernah terjadi tulisan saya dicopy paste -_- Melainkan karena sering terpikir oleh saya, mengapa rasanya hidup menjadi berat setelah saya menulis. Terlebih menulis tentang hal-hal yang baik.
Sama seperti Mak Liza yang dalam tulisannya bercerita mengalami trauma dalam menulis. Percaya atau tidak, bukan sekali dua kali saya mengalami hal serupa. Beberapa kali saya pun mendapat ujian setelah menulis sesuatu.

https://pixabay.com/id/kantor-catatan-notes-pengusaha-620817/

Katakanlah saat menulis tentang Kesabaran dan Pengingat Diri misalnya. Esoknya saya langsung diuji dengan kesabaran tingkat tinggi. Lalu setiap kali saya ingin marah, saya seperti ditegur oleh diri sendiri. Baru saja kemarin kamu menulis tentang kesabaran, lalu mana sabarmu? Apa kau tidak malu? Sontak saja rasanya saya ingin marah. Ya marah pada diri sendiri. Pada seseorang yang berada di dalam diri saya. Tapi saat marah itu berhasil saya keluarkan, lantas saya malu. Sangat malu pula pada diri sendiri. Lebih tepatnya karena saya sudah menulis.

Lantas saya bertanya, apakah seorang penulis lain pernah mengalami hal serupa? Kata-kata yang ditulisnya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri? Wallahua’lam. Hanya mereka yang tahu. Maka itu sebabnya, tidak jarang saya nyaris putus asa. Apa yang saya tulis, ternyata telah mempengaruhi diri saya sendiri.

I’m not perfect

Kita dicintai, tersebab Allah yang menutupi aib kita. Ya, kebaikan semua orang yang nampak di hadapan kita adalah yang hanya kita lihat. Tapi kita tidak tahu apa yang terjadi di belakang mereka. Maka begitu halnya saya. Percayalah bahwa saya ini tidak sempurna. Allah masih menutupi aib-aib saya. 
http://www.salingsapa.com/artikel/read/kajian/8332/selagi-allah-menutupi-aib-kita.html
Mungkin ini pula yang membuat kita dilarang untuk percaya 100% pada orang lain. Bahkan mencinta makhluk 100% saja tidak boleh. Sebab sebagai manusia, kita akan selalu memiliki titik kesalahan. Tidak terhindar dari melakukan suatu keburukan. Sesungguhnya hal ini juga untuk menghindari kita dari rasa kecewa karena merasa dibohongi. Padahal jika mau jujur, tidak ada yang dibohongi. Hanya kita yang terlanjur sering terlalu percaya pada orang lain.

Kembali ke menulis. Layaknya suami yang sering bercerita, bahwa alasan ia tidak lagi menulis adalah karena ia takut. Takut tidak sesuai dengan tulisannya. Memang, berat kadang menulis itu. Apalagi menulis tentang hal-hal kebaikan. Sebagai penulis, kita dituntut untuk menjadi pengamal pertama dalam tulisan kita sendiri. 

Terus menulis

Menulis sama saja dengan berbicara. Semakin kita banyak bicara, maka semakin banyak pula salahnya. 

Lantas apa saya benar-benar ingin berhenti menulis? Tidak 🙂 Karena saya ketagihan untuk diingatkan. Saya merasa punya asisten pribadi yakni tulisan-tulisan saya. Saat saya ingin marah, saya harus ingat bahwa saya pernah menulis tentang sabar. Saat saya ingin menyerah dari masalah, saya harus ingat bahwa saya pernah menulis cara menghadapi masalah. Dan seterusnya. 

Sebenarnya, saat saya menulis pun itu sudah berdasar pengalaman. Tapi seringnya, setelah menulis saya diuji sedemikian lebih hebatnya. Tapi barangkali dengan cara inilah Allah ingin menegur saya. Apakah saya bisa konsisten dengan apa yang saya tulis.
Demikian. Berat memang. Tapi kapan lagi saya bisa menyampaikan apa yang saya tahu, bila harus menunggu diri saya benar-benar sempurna. Jika seperti itu, barangkali selamanya saya tidak akan pernah menulis. Lagi pula bukankah ilmu harus diikat dengan menulis?
Sekarang, saya semakin mengerti dengan satu pepatah Arab yang pernah diceritakan oleh seorang teman. Undzur ma qal, wala tandzur man qal. Lihat apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan. Bicara ini saya juga teringat dengan Tere Liye, salah satu alasan beliau tidak pernah mencantumkan identitasnya adalah karena beliau ingin pembaca melihat tulisannya, bukan siapa dirinya :’) Maka begitu pula pembaca sekalian. Semoga yang dilihat isi tulisan saya. Bukan siapa diri saya 🙂

14 thoughts on “Ada Suatu Masa Saya Ingin Berhenti Menulis”

  1. Kalau saya pribadi simple saja sih. Menulis itu mengikat ilmu dan memperbaiki diri, dengan menuliskannya itu kita jadi lebih tahu kita itu sperti apa, minat kita apa, sehingga bisa menjadi indikator diri menuju kesempurnaan. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *