Lagu Galau, Awas Merusak Pikiran dan Perasaan

Sejak kecil saya punya hobi mendengarkan musik a.k.a lagu. Entah dari radio ataupun televisi. Bahkan ketiga kakak sayapun memiliki hobi yang sama. Sampai-sampai kaset lagu anak-anak saya pernah dipakai kakak yang pertama untuk merekam lagu dewasa -_- Dari situ pula saya mulai mengenal berbagai lagu dewasa. Maka tak heran kalau ada generasi yang lebih senior dari saya menyetel lagu dewasa era 80-90an saya bisa tahu itu lagu siapa. Bahkan bisa juga saya menyukainya. 

Beranjak kelas 4 SD saya tidak lagi mendengarkan lagu anak-anak, saat itu bisa dibilang memang sudah jarang penyanyi anak-anak. Maklum, Trio Kwek-kwek, Joshua ataupun penyanyi cilik lainnya tenar di saat saya belum masuk sekolah. Saat kelas 4, TV sudah menyiarkan berbagai lagu dewasa. Dan sayapun hobi menonton TV. Jelas sudah efeknya saya jadi ikut-ikutan menyanyi lagu dewasa. Hanya saja saat itu masih sebatas suka karena nada. Saya tidak paham maksud liriknya. Meski bila didengar lagi sekarang, padahal liriknya galau karena cinta. 

Mulai SMP, saya mulai sedikit paham lirik-liriknya, hingga masuk SMK pun saya tetap menyukai lagu-lagu dewasa. Ah saya jadi teringat, sekalipun saya menyukai musik, namun saya sama sekali tidak menyukai karaoke. Mau tau kenapa? Itu karena teman saya saat SMP. Ceritanya hari Minggu sehabis pulang olahraga sekolah, saya dan kedua teman saya pergi ke sebuah mall. Mereka mengajak saya karaoke. Saya mau mau saja. Setelah berada di dalam tempat karaoke dan pilih-pilih lagu, mulailah menyanyi. Lagu yang dipilih teman saya adalah lagu yang cukup galau. Sialnya, saat itu teman saya baru saja putus dari pacarnya. Maka entah bagaimana, dia hanyut dalam lagu itu,  dia menyanyi sambil menangis. Dan itu membuat saya yang melihatnya muak, tidak suka dan ingin cepat-cepat keluar dari tempat karaoke. ‘Lebay amat sih’ pikir saya. Sejak itulah jangan coba-coba ajak saya karaokean, karena sudah bisa dipastikan 100% saya menolak he he.
Mungkin ini sebabnya ada salah satu larangan untuk mendengarkan musik. Meski larangan itu masih khilafiyah, tapi bila direnungkan saat ini dan di tengah maraknya lagu-lagu galau, bisa jadi memang benar. Jika sebuah kata saja bisa mempengaruhi psikologis manusia, maka tak ada bedanya dengan lirik lagu-lagu galau tersebut. Apalagi bila didengar seseorang yang sedang dalam keadaan sedih ataupun galau, bisa saja ia terhanyut seperti teman saya dan menambah rusak perasaannya.

Karenanya, semenjak hijrah dan meskipun saya masih suka mendengarkan musik hingga kini, saya menghapus semua lagu yang kiranya bisa merusak perasaan saya. Saya hanya menyisakan beberapa lagu yang memiliki lirik positif atau islami yang bisa membuat saya ingat Allah SWT dan Rasul-Nya.

Semoga orang tua dan remaja sekarang mulai berpikir pintar. Pihak orang tua bisa mengawasi tayangan TV atau apa yang didengar dan dilakukan sang anak. Dan bagi remaja, pintar-pintarlah memilih lagu. Lagu yang katanya cinta itu, bila liriknya galau dan ‘memuja’ manusia, hanya akan merusak perasaan dan pikiranmu.

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

17 comments to “Lagu Galau, Awas Merusak Pikiran dan Perasaan”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. D A R I D A N - Juni 19, 2015 Balas

    Bener banget mba ade, lagu galau memang merusak pikiran bawaannya pengen ngayal mulu ujung-ujungnya ada sedikit perasaan yang bikin orang jadi sulit menerima takdir 🙁

    • Ade Delina Putri - Juni 20, 2015 Balas

      Setuju mbak. Bila sering didengarkan bisa menimbulkan efek yg buruk. Wallahua'lam

  2. Lidya - Juni 23, 2015 Balas

    berarti jangan terlalu di hayati ya lagunya 🙂

  3. pungky prayitno - Juni 24, 2015 Balas

    kalau kata anak sekarang, malah jadi baper yaa.. Bawa perasaan. hihihi

  4. pungky prayitno - Juni 24, 2015 Balas

    kalau kata anak sekarang, malah jadi baper yaa.. Bawa perasaan. hihihi

  5. Nia Haryanto - Juni 24, 2015 Balas

    Beneran, Mak. Lagu-lagu galau lawas bikin hati gimana gitu, ya. Kalo kata orang sunda mah, bikin kasuat-suat. Deuh… jadi terbuai. Aku ngindar banget sama lagu galau lawas….
    Btw, aku sudah follow blogmu, mak. Yuk #salingfollow 🙂

    • Ade Delina Putri - Juni 25, 2015 Balas

      Hihi iya Mak. Bahaya kalo sering didengerin 🙂
      Sip aku follback ya 🙂

  6. Santi Dewi - Juni 25, 2015 Balas

    berarti harus bisa pilih2 lagu ya…. 🙂

  7. Harie Khairiah - Juni 25, 2015 Balas

    Nggak ada yaa lagu galau yg positif

  8. noniq - Juni 25, 2015 Balas

    Kadang saya mengapresiasi lagu lebih ke arah "kok dia pintar ya bisa nulis lirik kayak gini"
    jadi memujinya lebih ke proses penciptaannya.

    Kalo dulu semasa muda (duh sekarang tuak wkwkwk) memang gampang banget itu galau gara-gara lagu doank. Haiss..

    Salam kenal ya, sudah difollow ^^ ditunggu folbeknya.

    • Ade Delina Putri - Juni 26, 2015 Balas

      Iya syukur ya kalau menganggapnya ke arah yang positif, karena yang muda emosinya juga belum stabil kali ya haha 😀

  9. Aya Murning - Juni 25, 2015 Balas

    Saya pribadi lebih suka dengerin musik instrumen yang mellow daripada lagu galau. Interpretasi dari musik instrumen lebih luas karena ia tanpa lirik. Lebih cocok untuk suasana apa aja tergantung melodinya.
    Kalau lagi ke tempat karaoke sama teman-teman, kami lebih sering pilih lagu dangdut, padang, batak, jawa, india & korea (yang ga ngerti apa artinya) sebagai 'national anthem' nya kami atau lagu up beat lainnya yang bisa buat jingkrak-jingkrak. :))

    • Ade Delina Putri - Juni 26, 2015 Balas

      Yups, musik instrumen bisa buat meditasi juga ya Mbak. Karaoke memang sebenernya kan buat seneng-seneng ya. Jadi nggak banget kalo pilih lagu galau 😀 hihi

Leave a Reply

Your email address will not be published.